Saturday, November 22, 2008

Pertanian

KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang. Alhamdulillah saya telah selesai menyusun sebuah Makalah yang berjudul “Pertanian”.
Makalah ini sengaja saya susun, dengan maksud agar kita semua bisa mengetahui tentang pertanian yang lebih dalam.


LATAR BELAKANG
Mengetahui tentang pertanian merupakan salah satu ilmu pengetahuan bagi manusia dan akan kita bahas dalam makalah ini, dengan maksud agar kita dapat mengetahui tentang pertanian lebih mendalam.

PETANI DAN POHON INDUSTRI PADI

Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu nasib petani dari dulu sampai sekarang. Pada masa kolonial petani jatuh miskin karena surplus ekonomi diisap pemerintah kolonial. Saat ini petani miskin karena mereka tidak diuntungkan keadaan dan kondisi makreokonomi yang melingkupinya.
Hasil sementara sensus pertanian (SP) 2003 awal Januari 2004 membuktikannya. Dari seluruh indikator, kelompok bahan makanan harganya cenderung turun. Sepanjang 2003, kelompok ini mengalami deflasi 1,72 persen dan menyumbang deflasi 0,36 persen pada inflasi 2003. Sumbangan itu terutama berasal dari komoditas padi dan beras. Kestabilan harga pangan itu yang membuat inflasi sepanjang 2003 hanya 5,06 persen. Akan tetapi, stabilitas harga pangan yang terjaga baik itu harus ditebus dengan penderitaan petani.
Petani jatuh miskin karena tanaman padi hanya dimanfaatkan secara terbatas, yaitu berupa beras. Padahal, jika dapat dikembang¬kan secara menyeluruh, terbuka luas peluang memperbaiki kesejahteraan petani.
Dalam ilmu teknologi industri pangan dikenal luas konsep pohon industri, yaitu hasil turunan (olahan jadi) yang dapat dikembang¬kan menjadi produk industrial dari sebuah komoditas. Misalnya, untuk menghasilkan beras, bulir padi harus digiling, yaitu proses peme¬cahan kulit padi menjadi beras pecah kulit dan dilanjutkan dengan penyosohan untuk men¬dapatkan beras berwarna putih yang disukai konsumen. Secara umum, proses penggilingan padi menghasilkan 55 persen biji beras utuh, 15 persen beras patah, 20 persen kulit, dan 10 persen dedak halus atau bekatul (Hariyadi, 2003).
Dari proses penyosohan itulah lapisan kecokelatan yang menyelimuti biji beras dile¬paskan. Lapisan ini disebut dedak atau bekatul padi (rice bran). Mengapa dedak ini dilepas dari biji beras? Tidak lain dedak mengandung enzim lipase yang membuatnya tengik sehingga tidak cocok untuk konsumsi manusia.
Padahal, jumlah dedak yang dihasilkan ber¬limpah. Rata-rata produksi gabah kita lebih dari 50 juta ton setahun, yang berarti jumlah dedaknya mencapai lebih 5 juta ton. jumlah ini dibuang sia-sia karena tidak dapat dikonsumsi manusia.
Sebenarnya, dedak mengandung paling tidak 65 persen dari zat gizi mikro penting yang ter¬dapat pada beras. Dedak banyak mengandung komponen tanaman bermanfaat yang disebut fitokimia, berbagai vitamin (thiamin, niacin, vita¬min B-6), mineral (besi, fosfor, magnesium, potasium), asam amino, asam lemak esensial, dan antioksidan (Hariyadi, 2003).
Kandungan kaya gizi itu, membuat dedak menjadi bahan pangan fungsional penting yang mengurangi risiko terjangkitnya penyakit dan meningkatkan status kesehatan tubuh. Dedak juga merupakan bahan bersifat hipoalergenik dan sumber serat makan (dietry fiber) yang baik. Dedak berpotensi dikembangkan dalam industri pangan, farmasi, dan pangan suplemen (termasuk dietry supplement).
Dedak padi dapat digunakan sebagai bahan baku produk sereal. Seperti yang dilakukan Ribus Inc. (www.ribus.com) yang mengembangkannya menjadi bahan dasar produk minuman fungsional yang mengandung vitamin B kompleks, gamma orizinol, tokoferol, tokotrienol, kolin, inositol, kalsium, dan potasium.
Peluang lain adalah tepung beras yang mempunyai sifat fisik dan sensor yang khas sehingga berpotensi sebagai bahan baku pangan. Salah satu sifat penting itu adalah nonalergenik sehingga secara khusus dapat dimanfaatkan sebagai substitusi tepung lain, terutama tepung terigu untuk orang yang alergi terhadap gluten dan produk lainnya. Selain itu, tepung beras dapat diproses secara ekstrusi menjadi berbagai produk pasta, keripik, sereal sarapan, dan makanan ringan lainnya.
Betapa luas dan terbukanya peluang kita untuk mengembangkan industri berbasis padi. jika saja berbagai peluang industri dari pohon industri padi ini dapat dikembangkan di pede¬saan, kegureman petani yang identik dengan kemiskinan dan kemelaratan akan dapat di¬kurangi.

No comments: