Wednesday, February 25, 2009

Resensi Novel: Tembang Lara

Ketegaran Hati




Judul Novel : Tembang Lara
Penulis : Pipiet Senja
Penerbit : Gema Insani
Cetakan : PErtama, Juli 2003
Tebal : 264 halaman


Thallassemia merupakan penyakit kelainan darah bawaan, maksudnya penyakit keturunan. Mungkin karena penulisnya Pipiet Senja adalah seorang wanita yang juga memiliki kelainan darah bawaan yaitu penyakit Thallassemia. Diapun harus ditransfusi darah secara berkala 2-3 bulan sekali seumur hidupnya. Sama persis seperti yang diceritakannya dalam novel ini. Novel yang berjudul “Tembang Lara”.
Novel ini bercerita tentang sebuah keluarga yang semuanya menderita penyakit kelainan darah bawaan atau thallassemia. Anak perempuan berumur 12-an itu berperawakan kurus, kecil, mungil. Perutnya buncit, wajahnya pucat dengan tulang pipi menonjol dan hidung kecil. Penampilan yang khas dari seorang anak penderita thallassemia(hal:7). Walaupun Ratnani sudah berjuang keras melawan penyakitnya. Namun Tuhan berkehendak lain. Ratnani pun meninggal tepat pada hari ulang tahun Arestia, adiknya. Arestiapun menderita Thallassemia dan berperawakan persis Ratnani, kakaknya.
20 tahun kemudian Arestia sudah tumbuh menjadi seorang gadis manis dan cantik dengan postur tubuh sedang 155 cm dengan berat badan yang sesuai. Perutnya yang dulu buncit kini tak begitu terlihat, apa;agi karena dia rajin bersenam. Hidungnya yang dulu mungil sekarang tampak bangir dengan tulang-tulang pipi yang sesuai dan susunan gigi yang rapi. Sempurna bagi seorang Thallassemia(hal:89).
Arestia seorang wanita yang sejak kecil hingga dewasa bergelut dengan Thallassemia. Gen Thallassemia yang dibawa oleh kedua orang tuanya itu pula yang sudah merenggut nyawa kakaknya, Dewi berumur 1 tahun, Ratih berumur 2 tahun dan Ratnani berumur 12 Tahun.
Ketika merayakan ulang tahun yang ke 25, ayah dan ibu Arestia mengajaknya makan malam. Dari situlah pertama kalinya Arestia bertemu Binsar, yang merupakan sopir taksi yang sudah dikirim ibunya untuk menjemput Arestia. Binsar merupakan sopir Taksi yang selalu mengantar Arestia kemanapun pergi.
Ternyata Arestia menaruh perasaan suka pada Binsar yang umurnya lebih tua 15 tahun darinya. Sampai suatu hari Binsar melamar Arestia dan orang tua Arestia pun menerimanya(hal:105). Namun ada suatu hal yang disembunyikan oleh Binsar dibalik pernikahan itu. Pesta pernikahan itu digelar sangat meriah.
Pesta pernikahanpun selesai, sekarang Aresia sudah menjadi ibu rumah tangga. Dari sinilah terbuka semua tujuan Binsar menikahi Arestia. Binsar yang dulunya sangat lembut kepada Arestia, sekarang menjadi sangat kasar. Ternyata Binsar menikahinya hanya untuk balas dendam. Balas dendam ayahnya dia kira dihilangkan oleh Mayor Bayu Pamungkas, paman Arestia, saudara ayahnya Arestia. Ayah dan ibu Arestia meninggal dalam kecelakaan ketika pulang dari seminar di Surabaya.
Ayah dan ibu Arestia meninggal karena mobil yang mereka kendarai bertabrakan dengan kereta api malam. Arestia sangat sedih dengan peristiwa tersebut. Belum 40 hari kepergian orang tuanya, Arestia dan Binsar kedatangan beberapa orang yang mengaku petugas dari Bank. Arestia hampir pingsan, mengetahui bahwa rumah yang ditempatinya itu sudah lama tergadai dan seluruh harta orang tuanya. Binsar sangat kesal mendengar hal itu. Pasalnya sehari sebelum menikah dengan Arestia, orang tua Arestia Masayu dan Faris dating ke rumahnya. “Kami ingin bikin kesepakatan denganmu, anak muda. Kalau kamu mau memperistri putrid kami, kamu akan mendapatkan kesenangan”. Kata Faris. “Ini kunci sebuah rumah dan mobil. Dan kamu akan mendapatkan banyak uang, bahkan seluruh harta keluarga kami”. Kata Fariz.
Namun sialnya Binsar, karena sebelum surat-surat berharga itu diberikan pada Binsar, orang tua Arestia telah meninggal. Dari situpun Arestia tahu bahwa orang tuanya membelikan suami untuknya.
Arestia terus menerus disiksa oleh Binsar baik fisik maupun bathinnya. Bahkan Arestia dituduh membunuh ibu Binsar, mertuanya sendiri. Penderitaannya yang bertubi-tubi itu belum juga membuka hati Arestia untuk memahami makna hidupnya. Memahami apa rencana Allah dibalik penderitaan yang tiada hentinya itu, hingga akhirnya dia tinggal di sebuah pesantren untuk menenangkan diri, dan di sana ia mulai mengerti arti kehidupan. Mulai rajin beribadah dan bertawakkal pada Allah agar diberikan kekuatan serta kesabaran untuk menjalani hidupnya.
Pada akhirnya diapun memakai jilbab. Dia hamil tanpa ada perhatian dari suaminya. Meskipun begitu, dia tetap sabar setelah berbagai kejadian yang menimpanya, mulai dari harus transfuse darah 2-3 bulan sekali karena penyakitnya. Suaminya yang kejam, dituduh membunuh mertuanya dan lain sebagainya, dia mendapat hikmah dari semua itu.
Hingga pada akhirnya, suaminya sadar akan kesalahannya selama ini dan sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan selama ini dengan Asteria. Dia pun menjadi tahu bahwa bukan Asteria yang membunuh ibunya, tapi Netty sepupu Asteria, yang menjadi selingkuhan Binsar. Bahkan dia berhutang budi pada ibu Asteria yang telah membrikan darah kepada adikny Imelda saat I sakitdahulu.
Kemudian Asteria melahirkan seorang bayi perempuanyang cantik tepat pada hari raya Idul Fitri. Suaminya, Binsar masuk penjara karena kasus kerusuhan. Saat ia di penjara Asteria dan anakya sering mengunjunginya. Meskipun Asteri telah mengizinkan Binsar menggendong anaknya, tapi Binsar tidak mau karena dia malu. Karena anaknya belum mempunyai nama, maka Asteria pun meminta Binsar memberinya nama, dan Binsar menamai anaknya itu “Fitri boru sitepu”.
Novel ini sangat menyentuh hati. Banyak pelajaran dan pengalaman yang yang dapat diambil dari novel ini. Bahasany tidak kaku sehingga enak dibaca dan mudah dimengerti. Dalam cerita, penulis juga menyisipkan beberapa bahasa daerah Sunda dan Batak.
Namun, pada awalnya novel ini agak sedikit tidak nyambung karena penulisnya menggabungkan cerita keluarga Asteria dengan Binsar. Jika pembaca tidak teliti membacanya, mungkin akan merasa bingung dengan jalan ceritanya.

Saturday, February 14, 2009

ADAB BERPAKAIAN ISLAM

Adab merupakan cara dalam melakukan sesuatu yang sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian, adab berpakaian dan berhias yang sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat. Aturan tersebut lebih mengarah pada nilai kesopanan, akhlak, atau kebaikan budi pekerti.
Sebagai mana Firman Allah dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 26, yaitu sebagai berikut :
          •           
Artinya :
“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa[531] Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat”.

Selain itu Allah juga berfirman dalam surat Al-A’raf (7) ayat 31 berikut :
                 
Artinya :
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[534], Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

1. Fungsi Pakaian
a. Penutup aurat
Fungsi utama berpakaian, yaitu menutup aurat. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menutup aurat.
b. Perhiasan
Yaitu sebagai perhiasan hal inilah yang mendorong manusia untuk mengembangkan kreasinya sehingga bermunculan berbagai mode pakaian.
c. Pelindung
Yaitu sebagai pelindung tubuh dari berbagai hal yang dapat menyebabkan tubuh menjadi sakit misalnya melindungi tubuh dari udara dingin atau sengatan matahari, gigitan serangga bahan sebagai pelindung dari senjata tajam atau peluruh (baju anti peluru)

2. Adab Berpakaian
Antara lain membaca do’a sebagai berikut :


“Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian dan rezeki kepadaku tanpa jerih payahku dan kekuatanku.
Syarat berpakaian
1. Harus tertutup aurat
- Aurat bagi perempuan adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.
- Bagi laki-laki (muslimin) adalah dari pusar hingga lutut
2. Jangan terlalu ketat
Bagi seorang perempuan, pakaian yang terlalu ketat mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya akan kelihatan, tentunya akan mengundang pikiran kotor dan sangkaan buruk (suuzan) yang melihatnya.
3. Tidak berlebih-lebihan
Berpakaianlah secara sederhana tetapi menarik simpai orang lain. Allah SWT tidak menyukai orang yang selalu berlebih-lebihan.



4. Harus bersih dan rapi
Pakaian yang kita pakai harus bersih dan rapi. Sebab Allah SWT menyukai orang-orang yang senantiasa menjaga kebersihan, baik kebersihan badannya maupun pakaiannya.
5. Sesuai dengan situasi dan kondisinya
Dalam berpakaian, kita harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Ketika sekolah, pakailah pakaian seragam sekolah. Ketika bermain, pakaian bermain dan lain-lain


Kesimpulan
Adab berpakaian adalah sesuatu pakaian yang sesuai dengan aturan mengenakan pakaian untuk menutupi aurat yang berlaku di masyarakat.

Pembesaran Ayam Kampung

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan nikmatnya penulis dapat menyusun makalah ini, agar pembaca dapat memahami isi ringkasan makalah ini dan diharapkan dapat mempraktekkan teori makalah ini dalam kehidupan sehari-hari.
Di samping itu, dalam penyusunan makalah ini, penulis berusaha mendekatkan konsep-konsep Pembesaran Ayam Kampung pada aplikasinya dalam bidang teknologi dan industri, yang didasari dengan pengetahuan penulis.
Dalam makalah ini, konsep Pembesaran Ayam Kampung dibahas secara ringkas dengan ilustrasi dan contoh-contoh yang mudah dicerna para pembaca, dengan maksud agar konsep-konsep itu dapat ditelusuri dan dipelajari pembaca sendiri pada setiap konsep atau sub-konsep, diberikan penjelasan yang singkat.
Dengan selesainya penyusunan Makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pencetak buku yang isinya dapat kami dalami makalah ini yang banyak memberikan masukan-masukan yang cukup berharga sehingga makalah ini dapat terwujud.
Namun, tetap disadari bahwa makalah ini masih memiliki beberapa kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya kritik, saran dan komentar dari guru pembimbing maupun pembaca untuk menjadi bahan perbaikan pada pembuatan makalah berikutnya.



Sekayu, Februari 2009
Penyusun,


Agus Brata

DAFTAR ISI


Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab 1
Pendahuluan 1
Perumuan masalah 1
Tujuan 2
Bab 2
Uraian 3
Bab 3
Penutup 10
Kesimpulan 10
Saran-saran 10
Daftar Pustaka



BAB 1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Di zaman sekarang ini, yang penting dalam hidup ini adalah sehat, dengan sehat manusia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, maupun untuk hari-hari yang akan datang. Jika manusia dalam kondisi sakit, berarti manusia tersebut banyak kekurangan zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh terutama zat karbohidrat, protein, mineral dan vitamin.
Oleh karena itu, supaya tidak kekurangan zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, biasakanlah mengkonsumsi makanan dan minuman 4 sehat dan 5 sempurna. Dengan mengkonsumsi makanan dan minuman 4 sehat 5 sempurna, maka kemungkinan kecil penyakit akan menyerang.
Salah satunya adalah ayam, ayam merupakan salah satu pangan 4 sehat. Mengapa dikatakan begitu, karena ayam merupakan bagian pangan 4 sehat yang banyak mengandung zat-zat yang sesuai dengan tubuh manusia. Salah satunya ayam banyak mengandung zat karbohidrat yang berfungsi menghasilkan energi.
Di samping itu, ayam tidak sulit didapati dalam kebutuhan sehari-hari, karena ayam cukup banyak dijual dipasaran. Salah satunya adalah ayam kampung, cukup banyak juga masyarakat yang mempunyai ternak ayam, tapi ayam yang lebih bagus untuk dikonsumsi adalah ayam kampung pedaging. Selain zat-zatnya yang cocok untuk tubuh manusia ayam ini juga memiliki badan yang sehat karena perawatannya yang intensif dan dagingnya yang padat.

2. Perumusan Masalah
1. Kenapa ayam tidak bisa terbang ?
2. Apakah perbedaan ayam kampung pedaging dengan ayam buras ?
3. Mengapa lokasi pemeliharaan ayam kampung pedaging harus ditentukan ?
4. Mengapa pakan ayam harus ditentukan ?
5. Mengapa ayam kampung pedaging digolongkan kedalam bangsa Galliformes (Unggas) ?
6. Mengapa umur induk ayam kampung pedaging harus berumur 1-2 tahun ?



3. Tujuan
1. Dapat memenuhi pangan 4 sehat masyarakat
2. Sebagai sumber pekerjaan
3. Meningkatkan kualitas pasar
4. Sebagai sarana berbisnis
5. Pelestarian ayam
6. Sebagai dua sumber manfaat
7. Sebagai dua sumber penghasilan
8. Sebagai lapangan kerja
9. Melengkapi sarana pasar
10. Meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia)



BAB II
URAIAN

1. Yang Perlu Diketahui Tentang Ayam Kampung
A. Mana yang disebut ayam kampung
Jika dibandingkan, memilih ayam kampung diantara sekumpulan ayam-ayam lain bisa dikatakan lebih mudah dari pada menyebutkan definisi ayam kampung itu sendiri. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ada yang menyamakan pengertian ayam kampung dengan ayam buras (bukan ras) sementara, ada juga yang mengatakan antara keduanya berbeda.
Ayam kampung memiliki tubuh yang kecil, produktivitas telurnya rendah, pertumbuhan tubuhnya lambat, dan tak pantas dijadikan ayam hias, baik dari segi suara atau penampilan meskipun ayam ini banyak dibudidayakan tetapi pemeliharaannya lebih banyak dipercayakan kepada alam.

B. Burung yang tak bisa terbang
Dalam dunia hewan, ayam kampung digolongkan ke dalam bangsa Galliformes (unggas). Meskipun mempunyai sayap, jenis ungga yang satu ini tak bisa terbang. Kepakan sayapnya tak mampu mengangkat tubuhnya ke udara, aktivitas gerak lalu dipercayakan pada kaki yang memang bisa digunakan untuk berlari cepat. Sekalipun fungsi kakinya lebih banyak digunakan untuk berjalan dan berlari, tetapi kaki tersebut juga bisa digunakan untuk bertengger.
Seperti jenis unggas lainnya, ayam kampung berkembang biak dengan bertelur dalam setiap periode bertelur, ayam kampung menghasilkan rata-rata Sembilan butir telur. Pada akhir periode bertelur ayam betina akan mengeram telurnya. Telur akan menetas setelah dierami selama 21 hari.

2. Merencanakan Peternakan Ayam Kampung Pedaging
A. Potensi pasar ayam kampung
Meskipun daging ayam kampung sudah akrab di lidah masyarakat, tetapi usaha peternak ayam ini tidak terlalu banyak peminatnya. Karena itu, tidak mengherankan jika peminatnya konsumen terhadap daging ayam kampung belum bisa terpenuhi.
Dapat dikatakan sampai sekarang masih jarang peternak yang dapat memasak ayam kampung dalam jumlah tertentu dan kontinu dalam keadaan seperti ini pedagang pengumpullah yang paling berperan. Mereka mengumpulkan ayam kampung dari berbagai daerah untuk dibawa ke kota besar.
B. Menentukan lokasi usaha
Lokasi usaha sering kali diabaikan dalam usaha peternakan ayam kampung. Jika peternak ayam kampung pedaging akan dijadikan sebagai usaha yang benar-benar menguntungkan, penentuan lokasi usaha harus dipikirkan secara matang.
Selama pemliharaan ayam kampung dilakukan secara ekstensif, usaha ini sepertinya tak menimbulkan masalah bagi lingkungan. Pencemaran udara, air dan tanah akan segera merebak dilingkungan sekitar untuk itu calon pengusaha perlu mengetahui rencana pengembangan wilayah didaerah yang akan dijadikan lokasi usaha, keterangan tentang hal ini dapat ditanyakan kepada pemerintah daerah setempat. Selain itu, lokasi usaha juga harus dapat menjamin kemudahan mendapatkan pakan dan memasarkan produk.

C. Menentukan Sistem Pemeliharaan
1. System pemeliharaan ekstensif, dilakukan oleh masyarakat di dusun-dusun
2. Sistem pemeliharaan semi intensif, yaitu kebutuhan ayam terhadap pakan sebagian disediakan oleh pemelihara.
3. Sistem pemeliharaan intensif, yaitu sistem pemeliharaan intensif pantas dipilih, dalam pemeliharaan ini, semua kebutuhan ayam disediakan oleh pemeliharaannya.

3. Bibit dan Cara Mendapatkannya
A. Mengusahakan Bibit Ayam
Ciri-ciri fisik diantaranya berbadan sehat dan tegap, berbulu mengkilat, tidak cacat dan sakit, serta produktivitas telurnya baik (rata-rata 115 butir per tahun). Umur induk yang baik berkisar antara 1 – 2 tahun. Umur tersebut berlaku untuk induk betina maupun jantan. Secara khusus sifat-sifat fisik induk bibit, baik jantan maupun betina, dapat dilihat sebagai berikut :
1. Tidak ada bagian tubuh yang rusak atau cacat, misalnya kaki utuh dan leher lurus. Otot kebal dan kuat, terutama dibagian paha dan dada.
2. Susunan bulunya teratur, saling menghimpit, dan tampak mengkilap
3. Mata cerah dan pandangannya tampak tajam
4. Gerakannya gesit, yaitu mudah berontak jika dipegang
5. Ukuran badannya sedang, tidak kurus dan tidak gemuk
6. Induk pejantan mempunyai jengger yang berwarna merah cerah, kepala tampak kokoh, paruh pendek, tajam dan kuat.


B. Membeli Bibit Ayam
Cara membedakan anak ayam :
1. Leher anak ayam dijepit diantara jari tengah dan jari manis tangan kiri.
2. Badan dan kepalanya diarahkan ke bawah, kemudian perut bagian bawah di kaba dengan ibu jari dan kelingking jari.
3. Punggungnya diketuk hingga kotorannya keluar
4. Bagian bawah anus ditekan, kemudian lubang anus dibuka hingga bagian dalamnya menonjol.
5. Bagian bawah kloaka diamati, jika terlihat ada titik pertanda anak ayam itu jantan dan jika tidak ada titik petanda betina.

4. Memilih pakan yang efisien
1. Mengandung karbohidrat
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang dibutuhkan oleh tubuh ayam untuk menghasilkan energi.
2. Mengandung lemak
Lemak merupakan senyawa organik yang berfungsi sebagai penghasil energy dan juga berfungsi sebagai pelarut Vitamin A, D, E dan K.
3. Mengandung protein
Protein berfungsi vital sebagai pengganti sel-sel tubuh yang rusak dan sebagai pembangun tubuh.
4. Mengandung mineral
Meskipun dibutuhkan hanya sedikit, mineral mempunyai peran yang sangat penting bagi fungsi fisiologi tubuh ayam.
5. Vitamin
Vitamin yang dibutuhkan oleh ayam dapat digolongkan menjadi dua golongan. Vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak ialah vitamin A, D, E dan K, sedangkan yang larut dalam air ialah kelompok Vitamin B (B1, B2, B6 dan B12) dan vitamin C.
6. Air
Meskipun air tidak mengandung gizi dan juga tidak dapat menghasilkan energi, tetapi keberadaan sangat dibutuhkan oleh ayam.





5. Menyusun Ransum Ayam Kampung Pedaging
Karena belum ada kepastian tentang susunan ransum untuk ayam kampung maka penyusunan ransum berdasarkan teori bahwa ayam dalam masa pertumbuhan memerlukan kadar protein yang tinggi dalam pakannya. Berdasarkan pengalaman beberapa peternak, kadar protein sekitar 20% dapat diterapkan pada ransum ayam kampung pedaging umur 1-8 minggu. Setelah ayam berumur 9-12 minggu atau siap jual, kandungan protein dalam ransum dikurangi menjadi sekitar 16%.

Kandungan Protein dan Energi Metabolis
Beberapa Jenis Pakan
Jenis Bahan Kandungan
Protein (%) Energi Met. (KKal/kg)
1. Jagung guling
2. Bekatul
3. Bingkai kedelai
4. Tepung ikan
5. Tepung daun lamtoro 9
10,8
44,4
61,8
23,2 3.360
2.800
2.850
2.910
1.140

Contoh Penyusunan Ransum untuk Ayam Kampung
Pedaging Umur 1-8 Minggu
Bahan Ransum Persentase Bahan Energi Metabolis Persentase Protein
1. Jagung
2. Bekatul
3. Bungkil kedelai
4. Tepung ikan
5. Tepung batu
6. Rhodiamix 22
7. Garam dapur
8. Vit B12 58
12
16
11
1
0.5 (500 g/100 kg makanan) 0,58 x 3.360 =1.948,8
0,12 x 2.800 = 336
0,16 x 2.850 =456
0,11 x 2.910 = 320,1
Tidak dihitung
Tidak dihitung
Tidak dihitung
Tidak dihitung 0,58 x 9 = 5,22
0,12 x 10,8 = 1,296
0,16 x 44,4 = 7,104
0,11 x 61,8 = 6,798
Tidak dihitung
Tidak dihitung
Tidak dihitung
Tidak dihitung

Jadi peternak yang berpendapat bahwa ayam kampung dapat juga diberi pakan ayam ras (buras) untuk anak ayam kampung pedaging maka jenis yang dapat diberikan berupa pakan broiler starter pada umur 1-4 minggu. Selanjutnya, pada umur 5-8 minggu pakan yang diberikan berupa pakan broiler finisher.


Contoh Penyusunan Ransum untuk Ayam Kampung
Pedaging Umur 9-12 Minggu
Bahan Ransum Persentase Bahan Energi Metabolis Persentase Protein
1. Jagung
2. Bekatul
3. Bungkil kedelai
4. Tepung ikan
5. Tepung batu
6. Rhodiamix 22
7. Garam dapur
8. Vit B12 60
20
10
7
1
0,5(500g/100kg makanan)
0,25
1,25 0,60 x 3.360 =2.016
0,20 x 2.800 = 560
0,10 x 2.850 = 285
0,07 x 2.910 = 203,7
Tidak dihitung
Tidak dihitung
Tidak dihitung
Tidak dihitung 0,60 x 9 = 5,4
0,20 x 10,8 = 2,16
0,10 x 44,4 = 4,44
0,07 x 61,8 = 4,326
Tidak dihitung
Tidak dihitung
Tidak dihitung
Tidak dihitung

Ransum ini perlu ditambah dengan hijauan segar, kangkung, bayam, selada air, atau kecambah yang telah di Rajang sebagai tambahan vitamin dan mineral. Hijauan segar diberikan kurang lebih 1,5 kg tiap 100 ekor ayam. Hijauan ini mulai diberikan ketika ayam telah berumur satu bulan.

Kebutuhan Pakan Untuk Ayam Kampung Pedaging
Umur ayam
(minggu) Konsumsi pakan
(g/ekor/hari) Perkiraan berat badan
(g)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11 9
18
27
34
41
45
46
47
48
49
52 45
65
95
130
180
240
310
360
450
550
650
12 55 750

6. Pembesaran Dengan Sistem Intensif
A. Kandang
Kandang untuk pembesaran ayam kampung pedaging ada tiga macam :
1. Kandang Sapih
Anak ayam yang baru menetas dari telur sangat peka terhadap perubahan suhu. Suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin dapat menganggu kesehatannya, gangguan terhadap kesehatan anak ayam biasanya beresiko sangat besar, yaitu kematian.
Kandang untuk anak ayam yang barus menetas dibuat dari bahan kayu, tripleks, dan kawat kasa dengan lubang berukurang 1,5 cm x 1,5 cm. Setiap kandang dapat dibuat dengan ukurang panjang 100 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 75 cm. Tinggi kaki kandang sekitar 25 cm, kandang dengan ukuran seperti ini dapat diisi sekitar 50 ekor anak ayam yang baru menetas.
Agar tempat pakan dan minuman mudah dimasukkan, atap kandang dapat difungsikan sebagai pintu. Caranya salah satu sisi atau diberi engsel, bisa juga atap hanya ditumpangkan diatas kandang.

2. Kandang untuk anak ayam berumur 5-8 minggu
Anak ayam kampung berumur 5-8 minggu masih memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, tetapi sudah memiliki toleransi agak besar terhadap perubahan suhu lingkaran.

3. Kandang untuk anak ayam berumur 9-12 tahun
Anak ayam yang telah berumur Sembilan minggu kelihatan lebih aktif dari pada umur sebelumnya, pertumbuhan otot atau dagingnya juga mulai tampak jelas, ayam seumur ini selanjutnya dipelihara di kandang liter atau baterai hingga berumur dua belas minggu.
a. Kandang liter
Kandang liter ialah kandang dengan lantai dari tanah atau semen dengan lapisan sekam, gergaji, atau bahan sejenis lainnya diatasnya.
b. Kandang baterai
Ada dua jenis kandang baterai yang dikenal secara umum. Jenis pertama adalah kandang baterai yang atapnya bersatu dengan kerangka kandang. Jenis kedua adalah kandang yang atapnya terpisah dengan kerangkanya karena terletak pada suatu bangunan yang permanen.

B. Pemeliharaan
1. Pemeliharaan DOC hingga berumur empat minggu
a. Pemasangan pemanas atau induk buatan
Pemanas atau induk buatan berfungsi untuk melindungi tubuh DOC dari pengaruh dingin pada awal pemeliharaan, induk buatan sangat dibutuhkan oleh DOC karena bulu-bulu tubuh anak ayam belum mampu melindungi tubuhnya sendiri dari kedinginan.
b. Pemotongan paruh
Jika dikandangkan secara berkelompok, kadang kala ayam kampung memiliki sifat kanibal, mematuk sesamanya.

c. Mengurangi kepadatan kantong
Pada empat minggu pertama pemeliharaan, tubuh ayam mengalami pertumbuhan.

d. Vaksinasi
Anak ayam perlu diberi Vaksin ND agar terhindar dari penyakit ND (Newcastle disease) atau tetelo.

2. Pemeliharaan ayam yang berumur 5-8 minggu
Setelah berumur lima minggu atau lebih anak ayam tidak memerlukan induk buatan. Induk buatan hanya digunakan jika cuaca sangat buruk.

3. Pemeliharaan ayam yang berumur 9-12 minggu
a. Pemeliharaan anak ayam dalam kandang liter
Kandang liter sangat praktis untuk membesarkan anak ayam kandang ini tak perlu dibersihkan setiap hari.

b. Pemeliharaan anak ayam dalam kandang baterai
Pemeliharaan ayam dengan kandang baterai menuntut peternak menyediakan perlengkapan yang lebih banyak.



BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Kesimpulannya yaitu dalam melaksanakan / melakukan pembesaran ayam kampung pedaging harus diperhatikan dan diurus secara intensif agar ayam kampung tersebut tampak sehat, badannya padat dan bebas dari penyakit yang akan menyerang dan sesuai yang diinginkan.

2. Saran-saran
a. Pembaca dapat mempraktekkan teori dari makalah ini untuk kehidupan sehari-hari.
b. Pembaca dapat memahami bahwa dalam beternak ayam harus dilakukan prosedur sesuai dengan kebutuham ayam.
c. Pembaca dapat memperluas isi dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA


Mulyono, Subangkit. Memelihara Ayam Buras Berorientasi Agribisnis. (Jakarta : Penebar Swadaya, 1996)

Rohmah, Nur dan N. Thamrin Nawawi, Ransun Unggas (Surabaya Trubus Agrisarana, 1997)

Sudaryani, Titik dan Hari Santosa, Pembibitan Ayam Buras (Jakarta : Penebar Swadaya, 1996)

Hubungan Sosial

1. a. Pengertian Hubungan Sosial
Adalah : Suatu kegiatan yang menghubungkan kepentingan antarindividu, individu dengan kelompok atau antar kelompok yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat menciptakan rasa saling pengertian dan kerja sama yang cukup tinggi, keakraban, keramahan, serta menunjang tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.

b. Contoh hubungan sosial
Adalah gotong royong, kepekaan sosial.

c. Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial
1) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok sosial : Paguyuban, Patembayan.
2) Bentuk hubungan sosial berdasarkan klasifikasi
Antar kelompok : Fisiologis dan kebudayaan.
3) Bentuk hubungan sosial berdasarkan dimensi antar kelompok : demografi dan sikap.
4) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok mayoritas dan minoritas.
5) Bentuk-bentuk hubungan sosial berdasarkan ras, rasisme, dan rasialisme : ras & rasisme.
6) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok etnik.
7) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok dimensi sejarah : Etnosentrisme & persaingan.
8) Bentuk hubungan sosial berdasarkan pola hubungan sosial antar kelompok : Akulturasi.
9) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok sosial : Prasangka & Institusi.

2. a. Pengertian kebutuhan integrative
Adalah : kebutuhan manusia untuk menyalurkan kemampuannya sebagai makhluk pemikir & bermoral yang berfungsi untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan dan kebudayaan menjadi satu kesatuan sistem yang bulat dan menyeluruh serta masuk akal bagi para pendukungnya.

b. Contoh kebutuhan integrative
Adalah : rekreasi dan hiburan, perasaan benar / salah, perasaan adil / tidak adil, serta perasaan kolektif / kebersamaan.

3. a. Pengertian kebutuhan sosial
adalah : Kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan melibatkan diri dengan orang laut dapat hidup secara berkelompok.
b. Contoh kebutuhan sosial
Adalah : Kegiatan bersama, sistem pendidikan, berkomunikasi dengan sesama, keteraturan sosial dan kontrol sosial, serta kepuasaan batin dari suatu keberhasilan yang diperoleh.

4. a. Pengertian pranata sosial
adalah : Seperangkat aturan / tata cara dalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.

b. Fungsi pranata sosial
(1) Menurut Soebjono Soefanto, yaitu :
 memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat, bagaimana harus bersikap / bertingkah laku dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul dan berkembang dilingkungan masyarakat, terutama yang menyangkut hubungan pemenuhan kebutuhan.
(2) Menurut Horton dan Hunt, yaitu :
 fungsi Manifes / fungsi nyata :
yaitu : fungsi pranata yang disadari dan diakui oleh seluruh masyarakat.
 Fungsi Earten / terselubung :
Yaitu : fungsi pranata yang tidak disadari dan mungkin tidak dikehendaki, atau jika diakui dianggap sebagai hasil sampingan dan biasanya tidak dapat diramalkan.

c. Tipe-Tipe Pranata Sosial
1) Berdasarkan perkembangannya, yaitu :
* Crescive Institution
* Enacted institution
2) Berdasarkan sistem nilai yang diterima masyarakat, yaitu :
* Basic institution
* Subsidiary institution
3) Berdasarkan penerimaan masyarakar, yaitu :
* Approved / social sanctioned institution
* Unsactioned institution
4) Berdasarkan factor penyebabnya, yaitu :
* General institution
* Restricted institution
5) Berdasarkan fungsinya, yaitu :
* Operative institution
* Regulative institution


d. Tujuan pranata
• Menurut Koentjaraningrat, yaitu :
Untuk memenuhi kebutuhan sosial dan keberatan : untuk memenuhi kebutuhan sosial dan kekerabatan (domestic institutions). Contoh : perkawinan, keluarga, dan pengasuhan anak.

Resume Agama

BAB 1
AL-QUR’AN TENTANG TUGAS MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DIBUMI

A. Surat Al-Mukmin Ayat 67
                      •          
Artinya :
“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)”. (QS. Al-Mukmin : 67)

- Kandungan ayat
Ayat diatas menjelaskan proses penciptaan manusia yang terdiri dari beberapa tahapan. Manusia pertama, Nabi Adam as diciptakan dari tanah atau dalam ayat ini disebut debu.
Proses penciptaan manusia melalui beberapa tahapan Al-Qur’an menjelaskan ada empat tahapan proses penciptaan manusia. Tahap pertama berupa nuftah (sperma) hasil pembuahan dari sperma laki-laki dan perempuan selama 40 hari. Tahap kedua berubah menjadi “alaqah” (segumpal darah) juga dalam waktu 40 hari. Tahap ketiga berupa mudgah (segumpal daging) juga dalam waktu 40 hari. Tahap keempat Allah memberikan bentuk yang lain yaitu janin (dalam bentuk manusia) dan ditiupkan ruh ke dalam janin tersebut. Jadi Allah memberikan ruh ke dalam jasad janin dalam kandungan ketika berumur 120 hari (4 bulan).

B. Surat Al-Baqarah Ayat 30
                     •         
Artinya :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah : 30)

- Kandungan Ayat
Surat Al-Baqarah diatas menjelaskan tentang tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Pemahaman dan penghayatan diatas dapat membuktikan kesadaran kepada manusia bahwa sebagai khalifah dibumi, manusia memiliki beberapa tugas yang harus dilaksanakan.
1) Sebagai hamba Allah, manusia berkewajiban untuk menyembah dan mengabdi kepadanya, dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
2) Sebagai khalifah dibumi manusia berkewajiban sebagai memakmurkan bumi ini dan menjaga dari hal-hal yang merusak bumi. Misalnya penebangan hutan secara liar, sehingga menyebabkan banjir, atau mendirikan bangunan-bangunan di tanah resapan air yang dapat menyebabkan tanah longsor, dan sebagainya.
3) Sebagai khalifah dibumi ini berkewajiban untuk memajukan kehidupan dunia ini dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan ketentuan Allah.

C. Surat Az-Zariyat ayat 56
      
Artinya :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat : 56)

- Kandungan ayat
Tugas utama manusia hidup didunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Jadi apapun yang dilakukan manusia harus diniatkan untuk beribah kepada Allah SWT.
Para ulama membagi ibadah menjadi dua, yaitu ibadah mahdah (murni) dan ibadah gairu mahdah (tidak murni). Ibadah mahdah yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT, seperti salat, puasa, haji, dan sebagainya. Pada umumnya, tata cara ibadah ini sudah ditentukan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadisnya. Ibadah gairu mahdah yaitu ibadah yang berkaitan dengan kehidupan sesame manusia, misalnya silahturahmi, membantu saudara yang membutuhkan, membangun sarana untuk umum, dan sebagainya.



























BAB 2
AL-QUR’AN TENTANG PRINSIP-PRINSIP BERIBADAH


A. Surat Al-An’am ayat 162 – 163
 •                •  
Artinya :
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Al-An’am : 162 – 163)

- Kandungan ayat
Ayat di atas menjelaskan bahwa semua kehidupan kita ini hanyalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Salat yang kita dirikan, ibadah yang kita lakukan setiap saat, baik ibadah mahdah maupun ibadah gairu mahdah, hidup yang kita jalani di dalam dunia ini. Dan mati yang akan tiba menjemput kita, semuanya kita serahkan kepada Allah SWT. Artinya, apapun yang kita lakukan, tujuannya semata-mata untuk mendapatkan rida Allah SWT.

B. Surat Al-Bayyinah ayat 5
            •     
Artinya :
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

- Kandungan ayat
Ibadah yang kita lakukan harus disertai dengan niat iklas semata-mata karena Allah SWT bukan karena keinginan pujian manusia. Ikhlas adalah ruh (nyawa)dari seluruh amal. Amal ibadah yang tidak disertai dengan ikhlas tidak ada nilainya, ibarat jasad tanpa ruh, tidak berfungsi sama sekali.
Selain itu ayat diatas juga memerintahkan kita untuk menjalankan perintah agama dengan sebenar-benarnya. Pemahaman dan penghayatan ayat ini dapat memotivasi seorang muslim untuk selalu meniatkan seluruh ibadah dilakukan benar-benar ikhlas karena Allah semata.











BAB 3
IMAN KEPADA ALLAH SWT

A. Pengertian Iman kepada Allah SWT
Rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah SWT, iman kepada Allah SWT merupakan rukun iman yang paling pokok dan melandasi rukun iman yang lainnya. Sebab dengan memahami makna iman kepada Allah secara benar maka iman kepada yang lainnya akan dapat dengan mudah dilaksanakan.
Dengan demikian, makna beriman kepada Allah SWT yang sesungguhnya adalah meyakini dengan sepenuh hati, menyatakan dengan sepenuh jiwa dan mengamalkannya segala perintah dan larangan-Nya sebagai wujud pengakuan akan keberadaan-Nya. Jika hal itu tidak tampak dilakukan oleh seorang muslim yang beriman maka makna keimanan baginya belum dikatakan sempurna. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Artinya :
“Tidak sempurna keimanan seseorang yang tidak ta’at kepada Perintah Allah SWT” (HR. An-Nasai)

B. Ruang Lingkup Iman kepada Allah SWT
Iman kepada Allah SWT, terdiri dari tiga unsur keimanan yang harus terpenuhi, yaitu adanya pengakuan yang diucapkan dengan lisan, adanya keyakinan (pembenaran) yang dilakukan oleh hati, dan adanya perbuatan sebagai wujud pengamalan dari keyakinan dan pengakuan itu.
Selain itu, iman kepada Allah SWT juga memiliki tiga ruang lingkup keimanan yang hendaknya ditanamkan dalam hati dan jiwa seorang muslim, ketiga ruang lingkup yaitu sbb :
1. Iman dan meyakini bahwa tidak ada selain Allah SWT
Sebagaimana firman Allah SWT :
          
Artinya :
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 163)
Jelaslah sifat Allah SWT itu berbeda dengan sifat makhluk-Nya, termasuk manusia. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman-Nya :
        

Artinya :
“Maha suci Tuhan yang Empunya langit dan bumi, Tuhan yang Empunya 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.” (QS. Az-Zukhruf : 82)

2. Iman dan meyakini bahwa tidak ada yang membuat, mengurus, dan mengatur semua mahluk / alam semesta selain Allah SWT
Firman Allah SWT :
              •          
Artinya :
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], Padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 22)
3. Iman dan menyakini bahwa tidak ada yang berhak disembah dan mendapatkan penghambaan selain Allah SWT.
Firman Allah SWT :
                ••   
Artinya :
“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf : 40)

C. Sifat-Sifat Allah
Dalam ilmu aqidul iman yang ditulis oleh ulama besar Abu Hasan Al-Asy’ary dan Abdu Mansur Al-Maturidy mengemukakan bahwa sifat wajib bagi Allah aaa 20 yang mustahil bagi Allah ada 20 dan sifat jaiz bagi Allah hanya ada 1/13 sifat wajib, 13 sifat wajib mustahil dan 1 sifat jaiz bagi Allah.
Untuk jelasnya bahwa sifat 20 itu dapat digolongkan kedalam 4 bagian yaitu :
1. Sifat nafsiyah, artinya sifat mengenai zat Allah yang terdiri dari :
2. Sifat salbiyah, artinya sifat-sifat yang dapat meniadakan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat yang wajib bagi Allah. Sifat ini terdiri dari :
a) Qidam
b) Baqa
c) Mukhlafatul lil Hawadisi
d) Qiyamuhu bi Nafsihi
e) Wahdaniyyah

3. Sifat ma’ani artinya yang memiliki makna tentang perbuatan-perbuatan Allah yang terdiri dari:
a) Qudrat (Maha Kuasa)
b) Iradat (Maha Kehendak)
c) Ilmu (Maha Mengetahui)
d) Hayat (Maha Hidup)
e) Sama’ (Maha Mendengar)
f) Basar (Maha Melihat)
g) Kalam (Berfirman)

4. Sifat ma’nawiyah, merupakan pengaktifan dari sifat ke-7 sampai ke-13, yaitu :
a) Qadiran (Yang Berkuasa)
b) Muridan (Yang Berkehendak)
c) Aliman (Yang Mengetahui)
d) Hayyan (Yang Menghidupkan)
e) Sami’an (Yang Mendengar)
f) Basiran (Yang Melihat)
g) Mutakalliman (Yang Berfirman)

1) Wujud
Artinya ada hal ini mengandung arti bahwa Allah SWT itu ada dan mustahil tidak ada. Adanya Allah dengan sendiri-Nya, tidak boleh sebab lain yang menjadikan-Nya, tidak ada yang menciptakan Allah. Perhatikan firman Allah SWT :
                            
Artinya :
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (QS. AL-An’am : 73)

2) Qidam
Artinya terdahulu. Maksudnya Allah SWT itu pendahulu, dialah maha awal dan maha akhir, tidak ada sesuatu apapun yang mendahului dirinya, tidak ada pula yang paling akhir selain dari padanya. Perhatikan firman Allah SWT :
 •         
Artinya :
“Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Hadid : 3)

3) Baqa’
Artinya kekal abadi dengan baqa’nya Allah tidak akan pernah hancur waktu, sebab dia maha awal dan akhir artinya Allah maha kekal abadi. Firman Allah SWT :
           
Artinya :
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman : 26-27)

4) Mukhlafatul Lilhawadisi
Artinya Allah berbeda sifat dengan semua makhluk ciptaannya. Memang secara akal sehat dapat kita katakan, setiap yang diciptakan akan berbeda dengan penciptanya.

5) Qiyamuhu Binafsihi
Artinya berdiri sendiri. Maksudnya bahwa Allah SWT, tidak memiliki ketergantungan kepada sesuatu apapun. Allah tidak mengantungkan sifat, zat dan perbuatannya kepada pihak lain diluar diri-Nya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya :
                                                          

Artinya :
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (QS. Al-Baqarah : 255)

6) Wahdaniyah
Artinya satu atau esa. Maksudnya Allah maha esa, sifat, zat dan perbuatannya. Perhatikan firman-Nya :
                •  
Artinya :
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas : 1-4)

7) Qudrat
Artinya kuasa. Hal ini mengandung makna bahwa Allah maha kuasa atas apapun yang dikehendaki-Nya. Perhatikan firman-Nya :
                      •     
Artinya :
“Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali-Imran : 26)

8) Iradat
Artinya kehendak. Maksudnya segala sesuatu akan terjadi dengan kehendaknya tidak ada kekuatan apapun yang mampu menghalangi kehendaknya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya :
          
Artinya :
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia”. (QS. Yasin : 82)
9) Ilmu
Artinya pengetahuan. Maksudnya Allah SWT maha luas ilmunya. Semua ciptaannya mengandung ilmu pengetahuan yang tak terhingga, mulai dari kuman dan bakteri sampai gajah dan badak mengandung ilmu Allah jika dipelajari dan diteliti. Sebagaimana firman-Nya:
               

Artinya :
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra’ : 85)

10) Hayat
Artinya hidup. Maksudnya Allah SWT itu maha hidup, bahkan pemberi kehidupan kepada semua makhluk-Nya.
             • 
Artinya :
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Furqan ; 58)

11) Sama
Artinya mendengar. Maksudnya Allah SWT maha mendengar atas segala sesuatu, baik yang terucap maupun yang tidak. Firman-Nya :
         •  •    
Artinya :
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-Baqarah : 127)

12) Basar
Artinya melihat. Hal ini mengandung makna bahwa Allah Maha Melihat, dan mustahil Allah itu buta. Firman Allah SWT :
•           
Artinya :
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hujurat : 18)

13) Kalam
Artinya berfirman. Maksudnya Allah SWT maha pembicara, bahkan yang memberikan pembicaraan kepada setiap makhluknya. Firman Allah SWT :
               
Artinya :
“Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (QS. An-Nisa : 164)

D. Tanda-Tanda Penghayatan terhadap Sifat-Sifat Allah
Tanda-tanda penghayatan terhadap sifat-sifat Allah yang tampak dan dapat dikendalikan antaranya sbb :
1) Mencintai ilmu pengetahuan
Allah SWT memiliki sifat ‘Alim’ atau ‘Ilmu’, yang artinya Allah SWT maha mengetahui atas segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Mencintai ilmu pengetahuan, sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Bahkan Rasulullah saw menganjurkan umatnya agar mulai belajar dan mencintai ilmu sejak usia dini.

2) Berjiwa mandiri
Dengan memahami dan menghayati sifat Allah Qiyamuhu Binafsihi maka didalam diri seseorang akan terbentuk jiwa dan sikap mental yang mandiri. Sikap mandiri sangat dianjurkan dalam ajaran Islam, bahkan Rasulullah saw menganjurkan umatnya agar senantiasa hidup dan berusaha dengan tangannya sendiri.

3) Memiliki motivasi yang tinggi
Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa hidup penuh semangat, sehingga akan terus berupaya untuk bekerja dan beribadah kepada Allah SWT. Jika ada suatu pekerjaan atau tugas yang telah selesai, hendaknya pekerjaan atau tugas yang baru segera dipersiapkan untuk dikerjakan.


E. Al-Asmaul Husna
1. Pengertian Asmaul Husna
Asmaul Husna artinya nama-nama Allah yang baik dan agung atau sifat-sifat kesempurnaan. Karena itu, dianjurkan untuk berdo’a dengan menggunakan asmaul husna. Perhatikan firman Allah SWT.
                
Artinya :
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya[. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)

2. Jumlah Asmaul Husna
Asmaul Husna jumlahnya ada 99.

3. Makna lima Asmaul Husna
a. Al-Adlu
Artinya maha adil sesuai dengan namanya al-adlu berarti maha adil Allah tidak pernah membebani hambanya diluar batas kemampuan. Firman Allah :
 •                 
Artinya :
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl : 90)
b. Al-Gaffar
Artinya maha pengampun. Maksudnya Allah SWT itu maha pengampun atas segala dosa hamba-hambanya kecuali dosa syirik (menyekutukan-Nya). Firman Allah SWT :
       

Artinya :
“Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Sad : 66)

c. Al Hakim
Artinya maha bijaksana. Selain maha pengampun Allah juga maha bijaksana. Kebijaksanaan Allah dapat dirasakan oleh segenap makhluk-Nya.
Firman Allah :
            
Artinya :
“Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui”.

d. Al-Malik
Artinya yang menguasai atau raja maksudnya Allah adalah maharaja dari segala kerajaan langit dan bumi. Firman Allah SWT :
            
Artinya :
“Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia”. (QS. Al-Mukminun : 116)

e. Al-Hisab
Artinya yang membuat perhitungan maksudnya Allah adalah yang maha mengawasi atas segala yang terjadi dijagad raya ini untuk diperhitungkan di kemudian hari, termasuk amal perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk. Firman Allah SWT :
  •       •      • 
Artinya :
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. (QS. An-Nisa : 86)











BAB 4
SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM DAN PEMBAGIANNYA

A. Al-Qur’an
1. Pengertian dan kedudukan Al-Qur’an
Al-Qur’an menurut bahasa berasal dari kata dasar Qara’a – yaqra’u – Qira’atan – wa qur’anan, yang artinya bacaan. Menurut istilah Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang merupakan mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan disampaikan kepada manusia secara mutawatir yang diperintahkan untuk membacanya.
Allah SWT menetapkan Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama bagi hukum Islam. Sebagaimana firman-Nya :
       ••         
Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (QS. An-Nisa : 105)

2. Isi kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi pegangan bagi mereka yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Al-Qur’an terdiri atas 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat yang terbagi ke dalam ayat-ayat makkiyah dan ayat-ayat madaniyyah. Ayat-ayat makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah, sedangkan ayat-ayat madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.
Isi Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam tiga pembahasan pokok, yaitu sebagai berikut :
a. Pembahasan mengenai prinsip-prinsip aqidah (keimanan) yang meliputi :
1. Iman kepada Allah SWT dengan segala sifat-sifatnya
2. Iman kepada malaikat
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
4. Iman kepada rasul-rasul Allah
5. Iman kepada adanya akhirat
6. Iman kepada Qada dan Qadar

b. Pembahasan mengenai prinsip-prinsip ibadah yang meliputi
1. Kewajiban salat
2. Kewajiban zakat
3. Puasa di bulan ramadhan
4. Kewajiban melaksanakan haji

c. Pembahasan yang berkenaan dengan prinsip-prinsip syariat
1. Pembicaraan tentang manusia dan masyarakat
2. Sosial dan ekonomi
3. Musyawarah
4. Sejarah
5. Hukum-hukum seperti hukum perkawinan, hukum waris, hukum perjanjian dan hukum pidana.

2. Fungsi Al-Qur’an
a. Sebagai pedoman hidup manusia
Al-Qur’an berisi aturan-aturan yang seharusnya ditaati oleh orang yang beriman, baik aturan mengenai ibadah kepada Allah SWT. Firman Allah surat Al-Maidah ayat 48 :
         

Artinya :
“Dan kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)”

b. Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa
Firmannya :
         
Artinya :
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah : 2)

c. Sebagai mukjizat atas kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW
Hal ini dikarenakan banyak di antara orang-orang kafir Quraisy yang menuduh bahwa Al-Qur’an bukan wahyu dari Allah, tetapi hasil karya Muhammad. Allah membantah tuduhan mereka dengan firmannya :




d. Sebagai sumber hidayah dan syariah
Firman Allah :
             •  
Artinya :
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (Q.S. Al-A’raf : 3)

e. Sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil
       ••     
Artinya :
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah : 185)

B. Al-Hadist
1. Pengertian dan kedudukan Hadis
Menurut bahasa, hadis artinya baru, dekat dan berita. Menurut istilah hadis adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan (takdir) Nabi Muhammad SAW. Yang berkaitan dengan hukum. Hadis disebut juga sunnah yang menurut bahasa berarti jalan yang terpuji atau cara yang dibiasakan. Menurut istilah, sunnah sama dengan pengertian segala ucapan, perbuatan, ketetapan Nabi Muhammad SAW.
Firmannya :
       
Artinya :
“Apa yang diberikan rosul kepadamu terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr : 7)
Ayat diatas menunjukkan dengan tegas bahwa Al-Hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.

2. Fungsi Hadis
Sebagai sumber hukum Islam yang kedua, Al-Hadis mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting bagi ditegakkannya hukum Islam, diantaranya sebagai berikut :
a. Al-Hadis sebagai penguat hukum yang sudah ada didalam Al-Qur’an Firman Allah SWT :
          •     
Artinya :
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.
(QS. Al-Isra : 78)

b. Al-Hadis berfungsi sebagai penjelas atas hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ada tiga fungsi yang diperankan Al-Hadis.
1. Menjelaskan dan merinci hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’an secara global (ijmali)
2. Memberi batasan atas hukum-hukum dalam al-Qur’an yang belum jelas batasnya.
3. Mengkhususkan hukum-hukum dalam al-Qur’an yang bersifat umum.

c. Menetapkan hukum-hukum tambahan atas hukum-hukum yang belum terdapat didalam al-Qur’an.
Sabda rasululah saw.


Artinya :
“Tidak boleh seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita dengan bibinya (adik bapak/ibu) dan seorang wanita dengan uwaknya (kakak bapak/ibu)” (H.R. Bukhari Muslim)

3. Kualitas hadis
Al-Hadis memiliki beberapa macam kualitas, yaitu sebagai berikut :
a. Dari segi sedikit dan banyaknya Rawi (orang yang meriwayatkan) :
1. Hadis mutawatir, yaitu hadis yang merupakan hasil pengamatan panca indera, yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang menurut adat kebiasaan mereka mustahil untuk berdusta.
2. Hadis ahad, yaitu hadis yang tidak memiliki syarat-syarat hadis Mutawatir.

b. Dari segi diterima dan ditolak sebagai sumber hukum
1. Yang dapat digunakan sebagai sumber hukum ada dua
a. Hadis sahid, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, kuat ingatannya, sanadnya bersambung, tidak cacat, dan tidak janggal.
b. Hadis hasan, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, meskipun kurang kuat ingatannya, sanadnya bersambung, tidak cacat, dan tidak janggal.
2. Yang tidak dapat digunakan sebagai sumber hukum Islam adalah hadis Daif (hadis lemah), yaitu hadis yang kehilangan salah satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadis Mutawatir dan Hadis Hasan.

C. Ijtihad
1. Pengertian Ijtihad
Ijtihad adalah mencurahkan segenap kemampuan untuk memperoleh sesuatu. Menurut istilah Ijtihad ialah usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan akal pikiran semaksimal mungkin untuk menemukan suatu hukum yang tidak ditetapkan secara jelas dalam al-Qur’an dna al-Hadis.
Contoh ijtihad rasulullah saw yang mendapat pe mbenaran wahyu adalah ijtihadnya tentang pembebasan tawanan perang Badr.
Adapun contoh ijtihad yang salah ialah keputusannya tentang pemberian izin orang-orang munafik untuk tidak ikut dalam peperangan. Lalu turun surat At-Taubah ayat 43-45 yang menyatakan kekeliruan ijtihad Rasulullah SAW.

2. Kedudukan dan dalil ijtihad :
Selain itu, nas Al-Qur’an dan Al-Hadis sendiri juga mengharuskan kaum muslimin yang memiliki kemampuan pengetahuan dan pikiran untuk berijtihad. Perhatikan Firman Allah :

Artinya :
“Maka ambillah (kejadian) itu untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Q.S. Al-Hasyr : 2)
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sebagai berikut :
a. Harus memahami benar tentang Al-Qur’an dan Al-Hadis
b. Harus memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai tujuan hukum Islam
c. Memiliki kemampuan menggali (istimbat) hukum Islam dari dalil naqli untuk dikeluarkan menjadi hukum syari’i.
d. Harus memiliki ketetapan dari (istiqamah), agar mampu mengeluarkan hukum Islam dengan penuh keyakinan atas kebenarannya.
e. Memiliki akhlak yang mulia dan terpuji, sehingga hasil ijtihadnya dapat dipercaya oleh umat Islam lainnya.
f. Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Arab.

3. Fungsi Ijtihad
a. Sebagai upaya pembinaan dan pengembangan hukum Islam
b. Menjelaskan nas-nas yang masih bersifat zanni (keraguan / belum jelas)
c. Untuk menjawab tantangan zaman
d. Untuk menumbuhkan kreativitas berpikir umat Islam

4. Bentuk-Bentuk Ijtihad
Dilihat dari segi orang yang melakukan (mujtahid), ijtihad dapat dibagi menjadi dua yaitu ijtihad
Ijtihad dapat terbagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Ijtihad fardi (individual) yaitu ijtihad yang dilakukan oleh seorang mujtahid tanpa ada orang lain yang melakukan hal yang sama.
2. Ijtihad jam’i (kolektif) yaitu ijtihad yang dilakukan secara kelompok atau bersama-sama.
Dari segi caranya, ijtihad dapat dibagi menjadi beberapa bentuk antara lain :
1. Ijma
Ijma berarti menghimpun, mengumpulkan, dan menyatukan pendapat. Menurut istilah ijma adalah kesepakatan para ulama tentang hukum suatu masalah yang tidak tercantum di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.

2. Qiyas
Menurut bahasa Qiyas berarti mengukur sesuatu dengan contoh yang lain, kemudian menyamakannya. Menurut istilah Qiyas, adalah menentukan hukum suatu masalah yang tidak ditentukan hukumnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist dengan cara menganalogikan suatu masalah dengan masalah yang lain karena terdapat kesamaan ‘illat (alasan).

3. Istihsan
Menurut bahasa Istihsan, berarti menganggap baik terhadap suatu hal. Menurut istilah, Istihsan adalah menetapkan hukum suatu masalah ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam, seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain.

4. Masalihul mursalah
Menurut bahasa, Masalihul Mursalah berarti pertimbangan untuk mengambil kebaikan. Menurut istilah Musalihul Marsalah yaitu penetapan hukum yang didasarkan atas kemaslahatan umum atau kepentingan bersama.

D. Pembagian Hukum Dalam Ilmu Fiqih dan Rasul Fiqih
1. Pembagian hukum dalam ilmu fiqih
Adalah ketentuan atau ketetapan atas suatu masalah, baik dalam ibadah maupun muamalah yang mempunyai implikasi bagi pemeluknya, baik berupa pahala atau dosa.
Fiqih membedakan hukum tersebut ke dalam lima macam yaitu :
a. Wajib, menurut bahasa wajib berarti harus. Menurut istilah ilmu fiqih, wajib adalah suatu perbuatan yang apabila dilaksanakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan mendapat dosa.
Firman Allah SWT :
       •      
Artinya :
“Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisa : 14)

b. Haram, menurut bahasa berarti larangan. Menurut istilah, haram adalah sesuatu yang apabila dikerjakan berdosa, dan apabila ditinggalkan berpahala.
               
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 90)

c. Sunnat, menurut bahasa adalah kebiasaan. Menurut istilah adalah perbuatan yang apabila dilakukan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa.

d. Mubah, artinya boleh. Menurut istilah mubah yaitu perbuatan yang apabila dilakukan atau ditinggalkan tidak memperoleh dosa atau pahala. Perbuatan mubah ini boleh ditinggalkan dan boleh dilakukan, tergantung kebutuhan, misalnya makan, tidur, mandi dan sebagainya.

e. Makruh, artinya tidak disenangi. Menurut istilah, makruh adalah perbuatan yang apabila dilakukan tidak mendapat dosa, dan apabila ditinggalkan mendapat pahala. Pada umumnya, hal-hal yang dimakruhkan mengandung mudarat (bahaya) atau menjadikan orang lain kurang nyaman. Merokok misalnya, dapat menimbulkan berbagai penyakit bagi pengisapnya dan juga bagi orang lain yang terkena asapnya.

2. Pembagian hukum menurut Usul Fiqih
Ada dua macam hukum fiqih
a. Hukum taklifi
Adalah hukum yang menghendaki dilakukannya suatu perintah oleh seorang mukallaf, baik perintah melakukan, meninggalkan maupun perintah memilih antara melakukan dan meninggalkan.
Firman Allah SWT :
          •        
Artinya :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka”. (QS. At-Taubah : 103)
Hukum taklifi yang menuntut mukallaf meninggalkannya, seperti yang terdapat dalam nas-nas berikut :
Firman Allah SWT :
            
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka”.(QS. Al-Hujurat : 11)
Firman Allah SWT
         
Artinya :
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S. Al-Isra : 32)
Hukum taklifi yang menghendaki mukallaf memilih antara mengerjakan atau meninggalkannya, seperti yang terdapat dalam nas-nas berikut ini.
Firman Allah SWT :
               
Artinya :
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah : 10)

1. Wajib
Adalah suatu yang diperhatikan oleh syara’ agar dikerjakan oleh mukakif. Dari segi perintahnya, wajib dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu sebagai berikut :
a. Wajib dari segi waktu menunaikannya ialah suatu perintah Syara’ yang harus dilkerjakan oleh mukallaf pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Firman Allah SWT
•      • 
Artinya :
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Q.S.An-Nisa: 103)
b. Wajib dari segi sigat perintah. Dilihat dari segi sigat perintahnya, ada dua macam perintah, yaitu ada yang menunjuk pada individu (wajib ‘aini) dan ada pula perintah yang menunjuk pada kelompok (wajib kifayah)
Wajib aini ialah kewajiban yang diperintahkan syara’ untuk dikerjakan oleh masing-masing individu mukallaf, seperti kewajiban salat lima waktu, zakat fitrah dan mal, ibadah haji, menghindari khamar dan sebagainya. Wajib kifayah ialah kewajiban yang diperintahkan syara’ untuk dikerjakan oleh kelompok mukallaf, bukan oleh masing-masing individu. Misalnya, kewajiban mengurus jenazah.
c. Wajib dari segi ukurannya. Dalam hal ini wajib terbagi dua, yaitu muhadad (yang dibatasi ukurannya) dan gair muhadad (yang tidak dibatasi). Wajib muhadad, yaitu perintah syara’ yang menghendaki mukallaf melaksanakannya sesuai ukuran yang telah ditentukankannya. Wajib gair mahdad, ialah wajib yang diperintahkan syara’ dan tidak ditentukan batasan dan ukurannya.
d. Wajib dari segi ketentuan memilih. Dari aspek ini, wajib terbagi menjadi dua bagian, yaitu wajib mu’ayyan (tertentu) dan wajib mukhayyar (memilih).
Firman Allah SWT :
                                       
Artinya :
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar).” (QS. Al-Maidah : 89)

2. Mandub (Sunnat)
Menurut para ulama Ushul Fiqih, mandub ialah sesuatu yang diperintahkan oleh syara’ agar dikerjakan oleh mukalaf secara tidak pasti. Firman Allah SWT :
          
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al-Baqarah : 282)

Mandub dapat dibedakan tiga bagian yaitu :
a. Mandub (sunnat) yang mengandung perintah untuk menguatkan
b. Mandub (sunnat) yang dibolehkan oleh syara’ mengerjakannya
c. Mandub (sunnat) tambahan yaitu perbuatan yang dianggap sebagai pelengkap seorang muslim.

3. Haram
Adalah tuntutan yang tegas dari syara’ untuk tidak dikerjakan, dengan perintah secara pasti. Artinya, bentuk larangan tersebut tersebut berupa sigat yang tegas tentang haramnya sesuatu. Misalnya yang terdapat dalam beberapa nas berikut ini:
Firman Allah SWT :
       •       •                
Artinya :
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maidah : 3)
Firman Allah SWT :
                      

Artinya :
“Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan”. (QS. Al-An’am : 151)

Fiqih membagi haram menjadi 2 bagian yaitu :
1. Haram karena zat asalnya
2. Haram karena sebab-sebab yang baru

4. Makruh
Adalah suatu yang diperintahkan oleh syara’ agar mukalaf mencegah dari mengerjakan sesuatu, dengan perintah yang tidak pasti.
Firman Allah SWT :
       
Artinya :
“janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu”. (Q.S. Al-Maidah : 101)
Firman Allah SWT :
  
Artinya :
“Dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jum’ah : 9)

5. Mubah
Adalah suatu yang diperintahkan oleh syara’ agar seorang mukallaf dapat memilih diantara mengerjakan atau meninggalkannya. Artinya, Syara’ tidak memerintahkan mukallaf untuk mengerjakan sesuatu tersebut, namun juga tidak meminta untuk meninggalkannya.
Firman Allah SWT :
                          •            •         •    



Artinya :
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma'ruf. dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”.

b. Hukum Wad’i
Adalah hukum yang menghendaki diletakkannya sesuatu sebagai suatu sebab bagi yang lain, atau sebagai syarat bagi sesuatu yang lain (masyrut) atau sebagai penghalang (mad’i) bagi sesuatu itu.
1. Sebab bagi yang lain
Maksudnya sesuatu yang oleh syara’ dijadikan pertanda atau sebab atas sesuatu yang lain yang menjadi akibatnya. Jadi, sebab ialah sesuatu hal yang nyata dan pasti, yang oleh syara’ dijadikan pertanda atas terjadinya hukum yang lain sebagai akibatnya. Datangnya waktu sholat sebagai sebab diwajibkan mendirikan shalat.
Firman Allah SWT
   
Artinya :
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir”. (Q.S. Al-Isra : 78)

2. Syarat bagi yang lain
Maksudnya sesuatu yang ada dan tidak adanya sesuatu hukum sangat tergantung pada ada dan tidak adanya sesuatu tersebut. Artinya, adanya suatu yang menjadi syarat itu sangat berpengaruh pada ada dan tidak adanya hukum. Misalnya hubungan suami isteri menjadi syarat untuk menjatuhkan talak (cerai). Jika tidak ada hubungan suami istri maka tidak bisa dilakukan pertalakkan (perceraian).

3. Al man’i (penghalang)
Adalah sesuatu yang dengan wujudnya itu dapat meniadakan hukum atau membatalkan sebab. Man’i atau penghalang itu timbul setelah tampak dengan nyata dan syarat telah sempurna.

4. Ar-Rukhsah Wal Azimah
Rukhsah ialah keringanan yang telah disyariatkan oleh Allah atas orang mukallaf dalam kondisi-kondisi tertentu yang menghendaki keringanan. Rukhsah dapat berlaku karena adanya uzur, atau kondisi darurat tertentu. Firman Allah SWT :
                  •      
Artinya :
“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. An-Nisa : 101)
Sedangkan Azimah adalah hukum-hukum umum yang telah disyariatkan oleh Allah SWT sejak semula, yang tidak dikhususkan oleh kondisi dan oleh mukallaf. Perbedaan rukhsah dan azimah adalah jika rukhsah mengugurkan kewajiban atau larangan karena kondisi dan sebab tertentu, sedangkan azimah meskipun dalam kondisi darurat, kewajiban atau larangan tetap diberlakukan oleh mukallaf.
Dengan demikian, perbedaan rukhsah dengan ‘azimah adalah jika rukhsah menggugurkan kewajiban atau larangan karena kondisi dan sebab tertentu, sedangkan ‘azimah’ meskipun dalam kondisi darurat, kewajiban atau larangan tetap diberlakukan oleh mukallaf.

BAB 5
IBADAH SHALAT DAN HIKMAHNYA

A. Pengertian Shalat
Menurut bahasa shalat artinya doa, menurut syariat Islam, menurut Islam shalat adalah suatu ibadah yang terdiri atas ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam yang disertai niat dan syarat-syarat tertentu.
Dalam Al-Qur’an, perintah salat selalu menggunakan kata aqim atau aqimu yang artinya dirikan. Mengapa tidak menggunakan kata i'mal atau if’al yang artinya kerjakan? Sebab, salat tidak hanya cukup dilaksanakan, melainkan didirikan. Maksudnya salat dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan kekhusyukan serta dihayati seluruh gerakan dan bacaannya, sehingga memiliki dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

B. Isi Kandungan Shalat
1. Menunjukkan ketaatan dan penghambaan sebagai makhluk khalik (pencipta) Nya, agar senantiasa taat dan patuh mengabdi kepadanya. Sebagaimana Firman Allah SWT.
      
Artinya :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Az-Dzariyat : 56)

2. Sarana pendidikan jiwa bagi diri dan keluarga muslim
Salat dapat mensucikan hati dan pikiran dari kotoran-kotoran batin yang senantiasa melekat dalam kehidupan umat manusia. Firman Allah SWT :
              
Artinya :
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha : 132)

3. Media permohonan bagi seorang hamba kepada khaliknya.
Oleh sebab itu, salat menurut para ulama adalah doa yang artinya suatu permohonan. Kita dianjurkan untuk senatiasa memanjatkan doa dan permohonan, sedangkan doa yang paling utama adalah salat. Firman Allah SWT :
    •     

Artinya:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Q.S. Al-Baqarah : 45)

4. Menunjukkan jati diri seseorang mukmin
Salat adalah cirri pembeda antara orang yang beriman dan tidak beriman kepada Allah SWT. Keimanan seseorang memang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata, dan susah pula diukur dengan alat apapun. Firman Allah SWT :
                     
Artinya :
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”. (QS. Ibrahim : 31)

5. Membentuk sikap jiwa disiplin, tekun dan rajin.
Dengan kata lain, pelaku salat harus memiliki sikap disiplin dan taat asas, sebab dalam melaksanakan salat telah ditentukan waktu dan tata caranya.
Firman Allah SWT
•      •
Artinya :
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisa : 103)

C. Perlunya Shalat bagi Manusia
1. Mendatangkan ketentraman dan ketenangan jiwa
Salat yang didirikan dengan baik dan benar, serta dengan khusyuk dan dengan sepenuh hati mengingat Allah SWT akan menentramkan jiwa dan menenangkan hati pelakunya. Firman Allah SWT :
            
Artinya :
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d : 28)
2. Dilapangkan rizkinya dalam kehidupan
Bagi seorang muslim yang taat beribadah akan dilapangkan rizkinya dan jalan kehidupannya oleh Allah SWT sesuai dengan kehendak-Nya. Firman Allah SWT :
              
Artinya :
“(Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan Balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (QS. An-Nur : 38)

3. Terhindar dari penyakit hati dan kotoran jiwa
Seorang muslim yang rajin mendirikan salat, hidupnya akan tampak tenteram dan damai. Firman Allah SWT :
 •   •                    


Artinya :
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya” (QS. Al-Ma’rij : 19-23)

4. Terhapus dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil kecuali syirik.
Firman Allah SWT :
   •     •        
Artinya :
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Hud : 114)

5. Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar
Salat yang dilakukan seorang muslim dengan khusyuk dan benar, akan membimbing dirinya menuju jalan yang lurus, jalan yang di ridai Allah SWT. Firman Allah SWT :
                        
Artinya
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut : 45)

D. Sikap Manusia terhadap Kewajiban Shalat
1. Kelompok orang awam adalah tidak berilmu
Kelompok ini sebenarnya mengetahui bahwa salat lima waktu itu hukumnya wajib, namun pengetahuan mereka tentang salat tidak begitu banyak.
2. Kelompok orang lalai
Mereka ini sesungguhnya mengetahui tentang kewajiban salat lima waktu. Bahkan kadang-kadang mereka mengerjakan ilmu tentang ibadah salat dan ibadah-ibadah lainnya kepada orang lain melalui dakwah dan ceramah.
3. Kelompok pengikut hawa nafsu
Kelompok ini sesungguhnya mengetahui kewajiban shalat lima waktu, namun mereka lebih memperturutkan hawa nafsu daripada panggilan Allah SWT.
4. Kelompok orang munafik
Mereka adalah orang-orang yang mengetahui dengan baik tentang kewajiban salat, bahkan ada yang mengetahuinya langsung dari sumber Al-Qur’an dan hadis yang mereka baca dengan baik. Meskipun demikian, mereka selalu berpura-pura tidak mengetahui tentang kewajiban salat lima waktu.
5. Kelompok orang yang kufur nikmat kepada Allah
Mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang berkecukupan, harta mereka melimpah, hidup mereka bergelimang kebahagiaan, penuh dengan foya-foya dan penghamburan. Namun mereka tidak pernah bersyukur, hidupnya jauh dari ajaran agama dan cahaya Illahi.
6. Kelompok orang yang beriman
Mereka ini adalah orang-orang yang imannya kuat, dan menjalankan dengan khusyuk. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang mengerjakan salat dengan khusyuk.
Firman Allah SWT :
               
Artinya :
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”. (QS. Al-Mukminun : 1-3)

E. Kedudukan dan Fungsi Shalat
1. Kedudukan shalat
Salat termasuk rukun Islam yang kedua. Shalat mempunyai kedudukan yang amat penting dalam Islam sehingga shalat disebut tiang agama, sabda rasulullah saw :

Artinya :
“Pokok urusan ialah Islam, sedangkan tiangnya ialah shalat, dan puncaknya ialah shalat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah”. (H.R. Muslim)

2. Fungsi shalat
a. Sebagai alat penangkal yang mencegah dari seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, firman Allah SWT :
     
Artinya :
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (Q.S. Al-Ankabut : 45)
b. Sebagai alat pembeda antara seorang muslim dengan orang kafir.
c. Sebagai sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan. Firman Allah SWT :
   
Artinya :
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Mukminun : 1)
d. Sebagai alat untuk menumbuhkan sikap mental yang kuat dan rasa disiplin yang baik bagi orang yang taat mengerjakannya.
e. Sebagai bukti ketaatan hambanya kepada sang pencipta Allah SWT.
Firman Allah SWT :
 
Artinya :
Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (Q.S. Al-Alaq : 19)
f. Sebagai sarana untuk mengajak seseorang senantiasa mengingat Allah SWT dengan segala keagungannya
Perhatikan firman Allah SWT :
  
Artinya :
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”. (QS. Taha : 14)
g. Sebagai sarana komunikasi langsung antara hamba-Nya dengan sang pencipta, Allah SWT.

Fungsi shalat berjamaah
1. Sebagai sarana untuk mewujudkan persamaan diantara sesama muslim dan sekaligus mencegah diskriminasi.
2. Sebagai sarana untuk menciptakan suatu barisan yang kuat dibawah seorang pemimpin (imam)
3. Sebagai sarana untuk menciptakan suatu barisan yang kuat di bawah seorang pemimpin (imam).
4. Sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap tolong menolong dalam kebajikan, yaitu yang kuat membantu yang lemah dan yang kaya membantu yang miskin.
5. Sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap disiplin yang tinggi. Sebab, para jamaah dituntut harus selalu hadis ke masjid tepat pada waktunya, sebelum salat dimulai.

F. Tanda-Tanda Shalat yang Diterima
Para ulama mengatakan bahwa sekedar untuk mengetahui fenomena atau tanda-tanda salat yang diterima, dapat dilihat dari sikap perilaku kehidupan sehari-hari. Diantaranya dapat dilihat dari beberapa sikap perilaku berikut ini :
1. Selalu berbuat baik kepada orang lain dan alam lingkungannya
2. Menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar
3. Senantiasa bersikap tawadu’ (rendah hati) kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia.
4. Jauh dari sikap sombong, egois, dan besar kepala terhadap sesama makhluk Allah SWT.
5. Selalu taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangannya.
6. Selalu berzikir (ingat) kepada Allah SWT dalam setiap jejak langkahnya
7. Bersikap kasih saying kepada orang lemah, dan orang terlantar di perjalanan.
8. Mengasihi anak yatim dan janda yang ditinggalkan suami.
9. Bersedia membantu orang susah yang sedang terkena musibah.

G. Perilaku yang Mencerminkan Ajaran Shalat
Di antara sikap terpuji yang merupakan cerminan dari ibadah salat adalah sebagai berikut:
1. Sikap sabar
Salat mendidik seseorang yang melakukannya untuk senantiasa bersikap sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai problema kehidupan Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk melaksanakan salat dan sekaligus juga agar bersabar dalam menjalankan kehidupan.



2. Sikap istiqomah
Salat mengajarkan umat manusia agar memiliki sikap istiqomah, yaitu sikap teguh pendirian dalam beragama dan dalam menegakkan keadilan dan membela kebenaran.

3. Sikap jujur
Salat mengajarkan kita untuk senantiasa bersikap jujur dan terbuka. Sebab dalam mengerjakan salat tidak ada yang mengawasi selain Allah SWT dan dirinya sendiri. Karena itu, kejujuran memiliki peran penting dalam mengerjakan salat. Orang lain tidak tahu tentang salat yang kita lakukan itu benar sesuai dengan syarat dan rukunnya atau tidak, apalagi dalam salat munfarid (sendirian).

4. Sikap tawaduk
Orang yang rajin mengerjakan salat dalam kehidupannya, akan tampak dalam sikap perilakunya sebagai orang yang tawaduk. Tawaduk artinya rendah hati, tidak sombong dan angkuh, baik terhadap Allah SWT maupun terhadap sesama manusia.

5. Sikap ikhlas
Ikhlas artinya suatu keinginan atau kesadaran yang mendorong seseorang melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Ikhlas dalam beribdah, artinya melakukan suatu ibadah atas dasar mengharap rida Allah SWT.

BAB 6
IBADAH PUASA DAN HIKMAHNYA

A. Pengertian syarat rukun puasa dan hal-hal yang membatalkan puasa wajib

1. Puasa atau saum adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan disertai niat untuk berpuasa.
Puasa wajib adalah puasa yang harus dikerjakan dan akan berdosa bagi yang meninggalkannya.
2. Syarat-syarat puasa
a. Syarat wajib puasa
1. Beragama Islam
2. Sudah baligh (dewasa)
3. Berakal sehat
4. Sanggup berpuasa
5. Menetap (bermukhim)
b. Syarat syhah puasa
1. Islam
2. Mumayyiz artinya dapat membedakan antara yang baik dan tidak baik.
3. Suci dari darah haid dan nifas (bagi wanita)
4. Dalam waktu yang dibolehkan berpuasa kepadanya
3. Rukun puasa
a. Niat untuk melaksanakan puasa
b. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dan pahalanya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
4. Hal-hal yang membatalkan puasa
1. Makan dan minum secara disengaja
2. Muntah dengan sengaja
3. Sengaja melakukan persetubuhan disiang hari
4. Keluar dari haid
5. Sedang dalam keadaan nifas

PRAMUKA MENUMBUHKAN RASA CINTA TANAH AIR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada masa-masa ini, perkembangan lingkungan strategis seperti globalisasi, krisis ekonomi, penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS, bukan lagi merupakan kendala dan ancaman saja melainkan sudah menjadi permasalahan nyata serius proporsinya. Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi organisasi pendidikan di Indonesia sekarang jauh lebih besar dan lebih berat dari pada masa sebelumnya. Hal tersebut memang tidak dapat kita ingkari lagi. Kenyataannya pun dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari kelompok yang paling peka dalam hal ini adalah remaja.
Remaja sebagai kelompok individu yang sedang dalam masa mencari identitas diri, selalu cenderung mencari hal-hal baru, yang dapat membuat mereka menjadi orang modern. Mereka tidak ingin ketinggalan zaman, sehingga ada kecenderungan untuk muda menerima hal-hal yang berbau globalisasi, krisis ekonomi dan sebagainya.
Remaja perlu dibekali kemampuan untuk menanggapi dan mengatasinya agar menjadi arsitek-arsitek pengembangan dirinya sendiri untuk menjadi orang yang otonom dan mandiri, siap sedia membantu bertanggung jawab dan dapat diandalkan, sambil mengembangkan potensi-potensi mereka sepenuhnya sebagai pribadi dan sebagai masyarakat.
Gerakan pramuka merupakan gerakan pendidikan dengan tugas menumbuhkan tunas bangsa menjadi generasi yang lebih baik, sanggup bertanggung jawab dan mampu mengisi kemerdekaan nasional. Kurangnya pengetahuan remaja tentang gerakan pramuka, menyebabkan remaja kurang berminat untuk menjadi anggota pramuka. Oleh karena itu, karya tulis ini diharapkan bisa bermanfaat bagi para remaja dalam mengisi kemerdekaan nasional.



B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang masalah tersebut diatas maka diperoleh rumusan bahwa remaja kurang mengetahui secara detail apa yang dimaksud dengan kepramukaan, sejarah kepramukaan dan perkembangan kepramukaan serta peranannya.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mensosialisasikan bentuk dan kegiatan kepramukaan
2. Menambah wawasan remaja tentang pentingnya kegiatan kepramukaan

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk
1. Agar dapat menumbuhkan sifat cinta tanah air bagi para remaja
2. Menambah wawasan tentang gerakan pramuka
3. Menumbuhkan kesadaran bagi para remaja akan pentingnya pendidikan kepramukaan




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian
Gerakan pramuka adalah nama organisasi yang merupakan wadah proses pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan di Indonesia. Kata “Pramuka” merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti rakyat muda yang suka berkarya. Sedangkan yang dimaksud dengan “Kepramukaan” adalah suatu proses pendidikan dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan pemuda dibawah tanggung jawab orang dewasa yang dilaksanakan diluar lingkungan pendidikan sekolah dan diluar lingkungan keluarga dan dialam terbuka dengan menggunakan prinsip dasar dan metode kepramukaan.

B. Sejarah Lahirnya Gerakan Pramuka
Gerakan ini dimulai pada tahun 1907 ketika Robert Baden Powell, seorang Letnan jenderal angkatan bersenjata Britania Raya, mengadakan perkemahan kepanduan pertama (dikenal sebagai Jamboree) di kepulauan Brownsea, Inggris.
Ide untuk mengadakan gerakan tersebut muncul ketika Baden Powell dan pasukannya berjuang mempertahankan kota Mafeking, Afrika Selatan dari serangan tentara Boer. Ketika itu pasukannya kalah besar dibandingkan tentara Boer. Untuk mengakalinya, sekelompok pemuda dibentuk dan dilatih untuk menjadi tentara sukarela. Tugas utama mereka adalah membantu militer mempertahankan kota. Mereka mendapatkan tugas-tugas yang ringan tapi penting, misalnya mengantarkan pesan yang diberikan Baden-Powell keseluruh anggota militer dikota tersebut. Pekerjaan itu dapat mereka selesaikan dengan baik sehingga pasukan Baden-Powell dapat mempertahankan kota Mafeking selama beberapa bulan. Sebagai penghargaan atas keberhasilan yang mereka dapatkan, setiap anggota tentara sukarela tersebut diberi sebuah lencana. Gambar dari lencana ini kemudian digunakan sebagai logo dari gerakan pramuka internasional.
C. Perkembangan Gerakan Pramuka
Tak lama setelah buku dengan judul “Scouting For Boys” yang ditulis oleh Baden-Powell (yang saat ini dikenal sebagai buku panduan kepramukaan edisi pertama) diterbitkan, pramuka mulai dikenal diseluruh Inggris dan Irlandia. Gerakannya sendiri secara pertahan tapi pasti, mulai dicoba dan diterapkan diseluruh wilayah kerajaan Inggris dan koloninya.
Unit kepanduan diluar kerajaan Inggris yang pertama diakui keberadaannya, dibentuk di Giblartar pada tahun 1908 yang kemudian diikuti oleh pembentukan unit lainnya di Malto. Kanana ialah koloni Inggris pertama yang mendapat izin dari kerajaan Inggris untuk mendirikan gerakan kepanduan diikuti oleh Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Chili ialah Negara pertama di luar Inggris dan koloninya yang membentuk gerakan kepanduan parade pramuka pertama diadakan di Crystal Palace, London pada tahun 1910. Parade tersebut menarik minat para remaja. Tidak kurang dari 10.000 remaja putra dan putri tertarik untuk bergabung dalam kegiatan kepanduan. Pada tahun 1910 Argentina, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, India, Mexico, Belanda, Norwegia, Russia, Singapura, Swedia, dan Amerika Serikat tercatat telah memiliki organisasi kepramukaan.



BAB III
TUJUAN, PRINSIP, DAN METODE KEPRAMUKAAN

Landasan kepramukaan secara umum dinyatakan dalam tiga unsur, yaitu tujuan, prinsip dan metode. Landasan ini merupakan perumusan umum dan abstrak, yang tetap berlaku dengan sempurna sepanjang masa, tidak terkait dengan kurun waktu atau korteks tertentu.

A. Tujuan
Gerakan pramuka bertujuan mendidik dan membina anak muda Indonesia agar menjadi :
A.1 Manusia berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa kuat mental dan tinggi moral, tinggi kecerdasan dan mutu keterampilan yang kuat dan sehat.
A.2 Warga Negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara kesatuan Republik Indonesia, serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri, serta secara bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan Negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan, baik lokal, nasional, maupun internasional.

B. Prinsip Dasar
Prinsip dasar kepramukaan adalah
B.1 Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
B.2 Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya
B.3 Peduli terhadap diri pribadinya
B.4 Taat kepada kode kehormatan pramuka



C. Metode
Konsep dasar kepramukaan adalah pendidikan diri. Pendidik utama anak muda adalah dirinya sendiri, metode kepramukaan adalah perangkat yang telah dirancang untuk menuntun dan mendorong masing-masing anak muda pada jalan pertumbuhan pribadi ini yang berdasarkan sistem belajar progresif melalui :
C.1 Pengamatan kode kehormatan
C.2 Kegiatan yang menarik dan meningkat yang mengandung pendidikan yang sesuai dengan rohani dan jasmani peserta didik.
C.3 Sistem tanda kecakapan
C.4 Sistem Among
C.5 Belajar dan melakukannya
C.6 Satuan terpisah untuk putra dan putri
C.7 Kegiatan dalam alam terbuka



BAB IV
TINGKATAN KEPRAMUKAAN

A. Pramuka Siaga
Siaga adalah sebutan bagi anggota pramuka yang berumur 7-10 tahun disebut pramuka siaga karena sesuai kiasan masa perjuangan bangsa Indonesia yaitu ketika rakyat Indonesia menyiagakan dirinya untuk mencapai kemerdekaan dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908 sebagai tonggak awal perjuangan bangsa Indonesia.

B. Pramuka Pengalang
Penggalang adalah suatu tingkatan dalam pramuka setelah siaga biasanya anggota pramuka tingkat penggalang berusia dari 10-15 tahun.

B.1 Tingkatan dalam penggalang
Penggalang memiliki beberapa tingkatan dalam golongannya yaitu
a. Ramu
b. Rakit
c. Terap
d. Penggalang garuda
Tingkat penggalang jika memiliki Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kenaikan tingkat atau mendapatkan tanda kecakapan khusus (SKK).

B.2 Sistem kelompok satuan terpisah
Satuan terkecil dalam penggalang disebut regu. Setiap regu diketuai oleh seorang pemimpin regu (Pinru) yang bertanggung jawab penuh atas regunya tersebut. Dalam gugus depan penggolong yang dapat berisi lebih dari satu regu putra/putri terdapat peserta didik yang bertugas mengkoordinir regu-regu tersebut peserta didik itu disebut Pratama / Pratami.
Regu dalam penggalang mempunyai nama-nama untuk mengidentifikasi regu tersebut. Nama regu putra diambil dari nama binatang misalnya harimau, kobra, elang dan seterusnya. Sedangkan untuk putri diambil dari nama bunga, semisal anggrek, anyelir, mawar dan sebagainya.

C. Pramuka Penegak
Penegak adalah anggota gerakan pramuka yang sudah memasuki jenjang umur 16 – 21 tahun.

C.1 Tingkatan dalam pramuka penegak
Ada beberapa tingkatan dalam penegak yaitu :
* Bantara
* Laksana
* Garuda
Dimana tingkatan tersebut pramuka garuda ialah golongan tertinggi dalam golongan penegak. Sepuluh orang penegak disebut sangga, didalam satu sangga dipimpin salah seorang penegak yang disebut pimpinan sangga (Pinsa). Beberapa sangga terbentuklah yang namanya Ambalan, yang dipimpin oleh pradana untuk ambalan putra dan pradani untuk ambalan putri.
Di dalam ambalan terdapat struktur organisasi yang lengkap misal krani, juru uang, juru adat dan anggota. Setiap ambalan mempunyai bermacam-macam nama, bisa nama pahlawan tokoh pewayangan dan lain sebagainya.

C.2 Kegiatan-kegiatan penegak
Berikut ini merupakan acara-acara pertemuan penegak
• Lompat tali (kegiatan ini dilakukan diambulan masing-masing)
• Pelantikan penegak laksana dan bantara
• Gladian pemimpin sangga (DIANPINSA)
• Raimuna
• Perkemahan wirakarya
• Perkemahan bhakti

D. Pramuka Pendega
Pendega adalah golongan pramuka setelah penegak. Anggota pramuka yang termasuk dalam golongan ini adalah yang berusia dari 21-25 tahun, golongan yang ini disebut juga dengan Dewan Muda. Kegiatannya sama saja dengan kegiatan penegak sehingga di kwartir ditangani oleh Dewan Kerja, yang lebih dikenal dengan Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.




BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Gerakan pramuka adalah gerakan pendidikan yang mampu menjadi sesuatu kekuatan perubahan sosial nasional, walaupun tergolong pendidikan non-formal, kepramukaan sebagai suatu sistem pendidikan yang lengkap dan utuh bukan semata-mata organisasi kepemudaan.
Gerakan pramuka merupakan kesinambungan gerakan kepanduan dan tetap merupakan gerakan pendidikan dengan tegas menumbuhkan tunas bangsa menjadi generasi yang lebih baik sanggup bertanggung jawab dan mampu mengisi kemerdekaan.

B. Saran
B.1 Peranan gerakan pramuka perlu mendapatkan pengakuan yang dinyatakan dengan tegas dalam kebijakan pendidikan nasional.
B.2 Diharapkan adanya sosialisasi lebih lanjut tentang kepramukaan.