Monday, February 9, 2009

ADAB TERKENA MUSIBAH

ADAB
KETIKA TERKENA MUSIBAH

A. Pengertian Adab Ketika Terkena Musibah
Manusia adalah makhluk sosial atau makhluk yang bermasyarakat. Artinya, manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita di dunia ini tidak selamanya hidup dalam keadaan berkecukupan. Manusia ada kalanya sehat, ada kalanya sakit, adakalanya senang adakalanya susah. Kita sangat merasa membutuhkan bantuan orang lain. Jadi adab kepada orang yang kena musibah adalah membantu atau menolong mereka untuk meringankan penderitaannya, serta menghiburnya dalam kesusahan. Allah SWT akan senantiasa menolong hambanya yang suka memberi pertolongan kepada orang lain. Sebagaimana dalam suatu hadis Nabi Muhammad saw. bersabda:

Artinya :
“Allah senantiasa akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya sendiri.” (H.R Muslim)

Kita sering melihat ataupun menyaksikan bencana alam yang menimpa saudara kita, mulai dari banjir, angin puyuh, kemarau berkepanjangan, kecelakaan, sampai dengan peristiwa gempa bumi dan tsunami. Semua hal di atas menunjukkan bahwa betapa lemahnya manusia dalam, menghadapi segala peristiwa yang ada. Adapun orang yang kena musibah itu, harus sabar dan tawakkal dan menganggap bahwa apa yang menimpa mereka adalah takdir Allah SWT.
Dalam gambar pada halaman berikut, menerangkan bahwa manusia memang makhluk yang lemah, mereka masih bergantung kepada manusia lainnya. Tanga orang lain, kita tidak bisa hidup. Apalagi kalau kita sedang sakit atau kesusahan, mau tidak mau kita sangat membutuhkan bantuan orang lain. Dalam hal ini orang yang sangat kita harapkan bantuannya adalah orang yang paling dekat rumahnya dengan rumah kita, tetangga kita.
Misalnya saja, tengah malam salah seorang keluarga kita jatuh sakit, sedangkan di rumah tidak ada persediaan obat, maka biasanya kita minta tolong kepada tetangga kita, siapa tahu dia punya persediaan obat di rumahnya. Atau jika harus dibawa ke dokter, sedangkan kita tidak punya kendaraan, maka orang yang paling dekat dengan rumah kita sebagai tempat minta pertolongannya untuk mengantarkan kita ke dokter / rumah sakit. Ketika kita sekeluarga bepergian, kita menitipkan rumah kita kepada tetangga.
Dalam hal ini, bukan cuma orang dekat dari rumah kita, harus berbuat baik, tetapi lebih dari pada itu kita sepantasnya berbuat baik kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Agama kita menyuruh untuk saling tolong menolong antar sesama, sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 2:
          
Artinya :
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan………”
Agar kita terhindar dari segala bencana, sebaiknya setelah kita melaksanakan ibadah atau shalat lima waktu, kita memohon kepada Allah agar kita diberi keselamatan di dunia maupun di akhirat, sebagaimana doanya :


Artinya :
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkanlah kami dari siksa neraka”.

B. Sikap Terhadap Musibah
Jika seorang muslim tertimpa bencana atau cobaan, hendaknya ia bersikap sebagai berikut :
1. Agar mengerti, segala yang menimpa kepada manusia, baik itu sehat atau sakit, kaya atau miskin, senang atau susah semua itu datangnya dari Allah SWT, yang menimpakan taqdir dan ketentuan hanya Allah.
2. Menerima dan rela terhadap apa yang menimpanya, seraya mengucapkan :

Artinya :
“Segala puji bagi Allah, Allah yang menentukan dan apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi. (H.R. Bukhari)
3. Jika menimpa suatu musibah atas dirinya, ia tidak menyesalinya dan berkata: “Jika” (berandai-andai sesuatu yang sudah terjadi) termasuk dari perbuatan setan. Hal tersebut dijelaskan dalam Hadits Rasulullah saw :





Artinya :
".....Lobalah kamu terhadap apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu patch semangat. Bila sesuatu menimpamu, maka janganlah kamu mengatakan : Seandainya aku berbuat demikian dan seterusnya. Karena ucapan seandainya membuka peluang perbuatan setan. Tetapi ucapkanlah : Segala sesuatu atas kehendak dan kekuasaan Allah dan apa yang la kehendaki pasti terjadi. " (H.R. Muslim)
4. Berserah diri (bertawakakal) kepada Allah SWT seraya mengucapkan :
(Cukuplah hanya Allah SWT sebaik-baik tempat berserah diri), mudah-mudahan Allah SWT menggantikannya dengan yang lebih baik. Dan juga berucap : (Sesungguhnya segala sesuatu itu milik Allah SWT dan kepada-Nya semua kembali). Dan juga terucap :


Artinya :
“Ya Allah tolonglah aku dalam musibah ini dan gantikanlah dengan yang baik-baik” (H.R. Bukhari)
Semua do’a diatas merupakan do’a yang disunnahkan oleh Rasulullah saw.
5. Berusaha tabah menjalani hidup dan tidak menjadikan hal tersebut sebagai trauma yang selalu menghantui dalam menjalani kehidupan ini.

C. Contoh Sederhana
Sudah menjadi kebiasaan di rumah Arif, setelah mandi sore, Arif beserta kedua orang tuanya senang nonton berita dalam negeri di salah satu siaran televisi. Salah satu berita pada saat itu adalah terjadinya tanah longsor di daerah Banjarnegara yang mengakibatkan tewasnya puluhan orang dan hancurnya ratusan tempat tinggal. Mendengar berita itu, Arif spontan berucap, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun". Kemudian Arif mengungkapkan idenya kepada Ayahnya "Pak, bagaimana kalau Arif mengumpulkan bantuan untuk korban tanah longsor itu?", tanya Arif kepada Bapaknya. Bapaknya menjawab, "Waahh, itu ide yang bagus, tapi kamu harus 'mengajak teman-teman kamu untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini, dan bapak akan menyumbang 100 Kg beras". "Kalau ibu mau nyumbang apa?", tanya Arif kepada Ibunya. "Ibu akan menyumbang 100 dos makanan bayi, siapa tahu ada anak-anak yang ditinggal oleh ibunya dan memerlukan makanan itu". Terima kasih Ayah, terima kasih ibu, besok di sekolah Arif akan mengajak teman¬teman sekolah Arif untuk menyumbang bagi korban bencana tersebut, tandas Arif sambil mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke Mesjid untuk shalat berjama'ah Maghrib.
Dari cerita di atas, menggambarkan bagaimana cara kita dalam membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana atau musibah. Hal ini patut kita contoh, bukan saja untuk hal-hal seperti di atas, tetapi bisa jadi berpartisipasi dalam bidang pembangunan dan kebersihan lingkungan dan sebagainya.

No comments: