Monday, February 9, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

BAB.1
PRINSIP ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

1. PERAN DAN FUNGSI PERAWAT JIWA
mempertahankan perilaku pasien yang berperan pada fungsi yang terintegrasi.
System pasien atau klien dapat berubah individu, keluarga, kelompok, organisasi, atau komunitas.
American nurse’s association mendefenisikan keperawatan kesehatan jiwa sebagai:
Suatu bidand spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri yang bermanfaat sebagai kiatnya.

Asuhan yang kompeten
Tiga domain praktik keperawatan jiwa kontemporer meliputi(1)aktifitas asuhan langsung(2)aktifitas komunikasi, dan (3)aktifitas penatalaksanaan fungsi penyuluhan, koordinasi,delegasi, dan kolaborasi pada peran perawat ditunjjukan dalam domain praktik yang tumpang tindih ini.
Aktifitas tetap mencerminkan sifat dan lingkup dari asuhan yang kompeten oleh perwat jiwa walaupun tidak semua perawat berperan serta pada semua aktifitas.selain itu, perawat jiwa mampu melakukan hah-hal- berikut ini.
-membuat pengkajian kesehatan biopsikososial yang peka terhadap budaya.
-merancang dan meimplementasikan rencana tindakan untuk pasien dan keluarga yang mengalami masalah kesehatan kompleks dan kondisi yang dapat menimbulkan sakit.
-berperan serta dalam aktifitas manajemen kasus, seperti mengoorganisasi, mengakses,menegosiasi, mengkoordinasi, dan mengintregasikan pelayanan dan perbaikan bagi individu dan keluaraga.
-memberikan pedoman perawatan kesehatan kepada individu, keluarga,dan kelompok untuk menggunakan sumber kesehatan jiwa yang tersedia dikomunitas termasuk pemberi perawatan, lembaga, teknologi, dan system social yang paling tepat.
Meningkatkan dan memelihara kesehatan jiwa serta mengatasi pengaruh gangguan jiwa melalui penyuluhan dan konselling.
-memberikan asuha kepada pasien penyakit fisik yang mengalami masalah psikologis dan pasien gangguan jiwa yang mengalami yang mengalami masalah fisik.
-mengelola dan mengoordinasi sitem asuhan yang mengintregasikan kebutuhan pasien, keluarga,stafmdan pembuat kebijakn.

2.HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT-PASIEN.
Hubungan terapeutik perawat-pasien merupakan pengalaman belajar timbal balik dan pengalaman emosional korektif bagi pasien.dalam hubungan ini, perawat menggunakan diri (self) dan teknik-teknik klinis tertentu dalam menangani pasien untuk meningkatkan pemahaman dan peruahan perilaku pasien.

Fase hubungan
Terdapat empat fase berurutan dalam hubungan perawat-pasien,(1)fase prainteraksi, (2)fase orientasi atau perkenalan, (3) fase kerja ,dan(4) fase terminasi.
Tingkat komunikasi
Komunikasi verbal terjadi melalui media kata-kata, lisan atau tulisan, dan komunikasi verbal mewakili segmen kecil dari komunikasi manisia secara menyeluruh.
Komunikasi non verbal meliputi panca indra dan mencakup segala hal selain kata yang tertulis atau diucapkan.ada lima kategori komunikasi nonverbal,yaitu:
1. Isyarat vocal yaitu suara dan bunyi paralinguistic atau extraspeech
2. Isyarat tindakan yaitu semua gerakan tubuh, termasu ekspresi wajah dan postur
3. Isyarat objek yaitu objek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang seperti pakaian dan benda pribadi lainnya
4. Ruang yaitu jarak fisi antara dua orang
5. Sentuhan yaitu kontakfisik antara dua orang dan merupakan komunikasi nonverbal yang paling personal.

Model struktural komunikasi mengidentifikasi lima komponen fungsional berikut ini:
1. pengirim-penyampai pesan
2. pesan-unit informasi yang disampaikan dari pengirim kepada penerima
3. penerima-yang memersipka pesan, yang perilakunya dipengaruhi oleh pesan
4. umpan balik-respons penerma pesan kepada pengirim pesan
5. konteks-tempat komunikasi terjadi

Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi dengan menggunakan lima elemen structural ini, masalah sfesipik atau kesalahan yang potensial dapat diidentifikasi.

3.MODEL ADAPTASI STRESS PADA ASUHAN KEPERAWATAN JIWA MENURUT STUART.
Report of the surgeon on mental health adalah laporan dokter bedah umum yang pertama kali membicarakan topic kesehatan jiwa dan gangguan jiwa. Laporan ini berdasarkan kajian literature ilmiah yag cukup banyak dan konsultasi dengan pemberi dan penerima layanan kesehatan jiwa.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa:
- kesehatan jiwa adalah dasar kesehatan
- gangguaan jiwa adalah kondisi kesehatan yang nyata
- keefektifan terapi kesehatan jiwa telah didokumentasikan dengan baik
- ada rentang terapi untuk semua gangguan jiwa

hal-hal berikut ini telah diidentifikasi sebagai criteria kesehatan jiwa.
- sikap positif terhadap diri sendiri
- pertumbuhan, perkembangan, dan aktualisasi diri
- integrasi dan ketanggapan emosional
- otonomi dan kemantapan diri
- persepsi realitas yang akurat
- penguasaan lingkungan dan kompetensi social

Gangguan Jiwa
hipotesis berikut ini telah diusulkan sebagai penyebab gangguan jiwa
- hipotesis biologis mengusulkan disfugsi an-fis
- hipotesis pembelajaran mengusulkan pola perilaku maladaftif yang dipelajari.
- Hipotesis kognitif mengusulkan ketidaksesuaian atau deficit pengetahuan atau kesadaran
- Hipotesis psikodinamik mengusulkan konflik intrapsikis dan deficit perkembangan
- Hipotesis lingkungan mengusulkan stressor dan respons terhadap penolakan lingkungan

Model adalah suatu cara mengorganisasi kumpulan pengetahuan yang kompleks seperti konsep yang berhubungan dengan perilaku manusia.

Model adaptasi stress pada asuhan keperawatan jiwa menurut stuart,mengintegrasikan aspek biologis,psikologis, sosiokultural, lingkungan dan legal-etik keperawatan kedalam kerangka praktik yang utuh.
Modl yang utuh terdiri atas kompenen berikut ini.
1. faktor predisposisi-faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat digunakan individu untuk mengatasi stress.
2. stressor presipitasi-stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan dan yang membutuhkan energi ekstra untuk koping
3. penilaian terhadap stressor-evaluasi tentang makna stressor memiliki arti, intensitas, dan kepentingan.
4. sumber koping-evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi individu
5. mekanisme koping-tiap upaya yang ditujukan untuk penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan ego yang digunakan untuk melindungi diri
6. rentang respons koping-rentang respons manusia yang adaptif sampai maladaptive
7. aktifitas tahap pengobatan-rentang fungsi keperawatan yang berhubungan dengan tujuan pengobatan, pengkajian keperawatan, intervensi keperawatan, dan hasil yang diharapkan

4.KONTEKS BIOPSIKOSOSIAL ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
Praktik keperawatan jiwa kontemporer mengharuskan perawat menggunakan suatu model asuhan yang mengitregasikan aspek biologis, psikologis, dan sosiokultural individu dalam pengkajian, perencanaan, dan implementasi intervensi keperawatan.

Teknik pencitraan saraf
Teknik pencitraan otak memungkinkan untuk melihat langsung struktur dan fungsi otak yang utuh dan hidup. Teknik tidak hanya membantu mendiagnosis beberapa gangguan otak tetapi juga memberikan peta bagian otak dan menghubugkan bagian-bagian tersebut dengan fungsi otak.teknik tersebut memberi gambaran otak yang bekerja.

Irama sirkidian seperti suatu jaringan jam internal yang mengatur waktu dan mengoordinasi kejadian didalam tubuh sesuai siklus 24 jam.

Psikoneuroimunologi
Psikoneuroimunologi merupakan bidang yang mengkaji interaksi antara system sarf pusat, system endokrin, dan system imun;pengaruh prilaku/stress terhadap interaksi tersebut;serta bagaimana intervensi psikologis dan parmakologis dapat mengatur interaksi tersebut.
Konteks psikologis asuhan
Pemeriksaan status mental merupakan dasar dalam evaluasi setiap pasien yang mengalami gangguan medis, neurology,atau pskiatri, yang mempengaruhi pikiran ,emosi, atau prilaku.
Pemeriksaan status mental merupakan contoh represetatif kehidupan psikologis pasien dan sejumlah observasi dan kesan perawat pada saat itu.pemeriksaan tersebut merupaka evaluasi keadaan pasien saat ini.elemem pemeriksaan bergantung pada keadaan klinis pasien serta latar belakng pendidikan dan budayanya.

Penampilan
Pada pemeriksaan status mental perawat mencatat penampilan umum pasien.

Yang harus diobservasi adalah:
- penampilan sesuai usia
- cara berpakaian
- kebersihan
- postur
- cara jalan yang ganjal
- ekspresi wajah
- kontak mata
- dilatasi atau konstriksi pupil
- status kesehatan dan gizi secara umum

Kewaspadaan perawat.dilatasi pupil kadang berkaitan dengan intoksikasi obat, sedangkan konstriksi pupil dapat menunjukkan adiksi narkotik. Postur membungkuksering terlihat pada individu yang depresi.pasien manik dapat berpakaian penuh warna atau tidak lazim




Cara Berbicara
Cara berbicara biasanya digambarkan dalam hal frekuensi , volume, dan karateristik. Frekuensi adalah kecepatan pasin berbicara,dan volume merupakan seberapa keras pasien berbicara.
Yang harus diobservasi pada saat berbicara diuraikan sbb:
- frekuensi-cepat atau lambat
- volume-keras atau lembut
- jumlah-sedikit,membisu,ditekan
- karateristik-gagap, kata-kata yang tidak jelas, atau aksen yang tidak wajar
Kewaspadaan perawat.gangguan bicara sering disebabkan oleh gangguan otak tertentu. Misalnya, menggumam mungkin terjadi pada pasien yang mengalami kore Huntington, dan wicara dengan kata-kata tertelan dan tidak lengkap(slurring of speech) biasa terjadi pada pasien intoksikasi. Pasien manik sering menunjukan logorea dan pasien defresi sering kali sedikit bicara.

Konteks sosiokultural asuhan.
Factor resiko sosiokultural pada gangguan jiwa meliputi:
1. usia
2. suku bangsa
3. gender
4. pendidikan
5. penghasilan
6. system keyakinan

Faktor predisposisi ini dapat secara bermakna meningkatkan potensi berkembangnya gangguan jiwa, mengurangi potensi penyembuhan, atau keduanya. Satu atau dua dari factor ini sendiri tidak dapat menggambarkan secara adekuat konteks sosiokultural asuhan keperawatan jiwa. Walaupun demekian, secara bersamaan factor-factor tersebut memberikan gambaran sosiokultural pasien yang penting untuk praktik keperawatan jiwa yang bermutu.

5.KONTEKS LINGKUNGAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
Managed care
Managed care adalah realitas lingkungan perawatan kesehatan saat ini.dalam system managed care yang berfungsi dengan baik, kelompok individu mendapatkan pelayanan pengobatan yang diperlukan secara klinis dan tepat secara medis, memeliki parameter keuntungan yang jelas, diberikan selama waktu yang ditentukan, memenuhi standar kualitas, dan memeliki hasil yang dapat diantisipasi dan dapat diukur.
Saat, ini istilah managed care yang diterapkan pada gangguan jiwa dan gangguan penyalahgunaan zat, telah diganti dengan managed behavioral health care, yang mengacu pada gangguan tersebut secara bersama-samamenjadi satu set masalah kesehatan.

System managed care menggunakan tiga mekanisme pembayaran utama sbb:
1. rencana pembayaran biaya pelayanan dengan potongan harga,klinisi dibayar untuk semua pelayanan yang diberikan kepada konsumen dan menjadi kewenangannya. Angka pembayaran diberi potongan harga atau kurang dari daftar biaya standar klinisi dan sering kali mencakup pemberian untuk copayment yang harus dikumpulkan dari konsumen setiap kali kunjungan.
2. system penilaian kasus, klinisi dibayar dengan biaya standar untuk episode perawatan yang telah ditetapkan sebelumnya.
3. system kapitasi, konsumen membayar biayayang telah ditetapkan premium peranggota, perbulan (per member, per month,PMPM).sebagai gantinya, perusahaan managed care yang menerima biaya PMPM setuju untuk memberikan semua perawatan kesehatan yang diperlukan secara medis oleh semua konsumen yang ditanggung dalam kelompok tersebut.

Masalah akuntabilitas didorong oleh kebutuhan untuk menunjukkan kualitas dan mengurangi biaya, lingkungan pelayanan-kesehatan perilaku dihadapkan dengan masalah akuntabilitas yang baru.

Peran perawat dalam managed care
Perawat membawa pengaruh yang besar dalam lingkup managed care karena berbagai keahlian dan ketrampilan mereka. Meskipun aktifitas keperawatan sangat bervariasi berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman,sertifikasi, tatanan pelayanan, serta wilayah geografik, perawat jiwa memainkan banyak peran dalam managed care yang meliputi:
- klinisi kesehatan jiwa
- manajer kasus
- perawat triase dan evaluasi
- perawat utilization review
- pendidik pasien
- manajer resiko
- petugas peningkatan kualitas
- spesialis pengembangan dan pemasaran
- eksekutif dan manajer perusahaan
individu, keluarga, dan masyarakat terus mengalami masalah emosional yang signifikan sepanjang perubahan dalam lingkungan pelayanan kesehatan jiwa. Dengan demekian, kebutuhan akan perawat jiwa, seperti professional yang kompeten dan penuh perhatian, juga akan berlanjut. Namun, perawat harus proaktif dalam mengatur kembali posisi mereka dilingkungan yang berubah tersebut.

6.KONTEKS LEGAL-ETIK ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
Hospitalisai dan teraoi masyarakat
Proses hospitalisasi dapat menimbulka trauma atau dukungan, bergantung pada institusi, sikap keluara dan teman, respons staff, dan jenis penerimaan masuk rumah sakit, table memperlihatkan kareteristik yang membedakan dua jenis penerimaan masuk rumah sakit jiwa: sukarela dan paksaan.



Karateristik dua jenis penerimaan masuk rumah sakit jiwa
Masuk dengan sukarela Masuk dengan paksaan
Masuk

Pemulangan


Status hak warga Negara



Pembenaran
Pendaftaran tertulis oleh pasien
Dicetuskan oleh pasien


Dicapai kembali secara penuh oleh pasien


Sukarela mencari bantuan Pendaftaran tidak dilakukan oleh pasien
Dicetuskan oleh rumah sakit atau pengadilan tetapi bukan oleh pasien
Pasien mungkin tidak bias mencapai, sebagian, atau semua, bergantung hokum suatu Negara
Gangguan jiwa dan satu atau lebih yang berikut ini:
1. membahayakan diri sendiri
2. membutuhkan pengobatan
3. tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri

Hak-hak pasien
- hak untuk berkomunikasi dengan orang diluar rumah sakit.
- Hak terhadap barang pribadi
- Hak menjalankan keinginan
- Hak terhadap habeas corpus
- Hak untuk pemeriksaan psikiatri yang mandiri
- Hak untuk privasi
- Hak persetujuan tindakan
- Hak pengobatan
Peran legal perawat
Perawat jiwa memiliki hak dan tanggung jawab dalam tiga peran legal: perawat sebagai pemberi asuahan keperawatan, perawat sebagai pekerja dan perawat sebagai warga Negara. Perawat mungkin mengalami konflik kepentingan antara hak dan tanggung jawab ini. Penilaian keperawatan propsesinal memerlukan pemeriksaan yang teliti dalam konteks asuhan keperawatan, kemungkinan konsekuensi tindakan keperawatan, dan alternative yang mungkun dilakukan perawat.

7. IMPLEMENTASI STANDAR PRAKTI KLINIS
Definis standar praktik keperawatan
Pada tahun 1980, nursing: a social policy statement mendefinisukan keperawatan sebagai “diagnosis dan penanganan respons manusia terhadap masalah kesehatan actual atau potensial” pada tahun 1995, nursing’s social policy statement yang terbaru menambahkan definisi ini dengan menyatakan gambaran praktik keperawatan kontemporer sbb:
1. Perhatian pada rentang pehuh pengalaman dan respons manusia terhadap sehat dan sakit tanpa dibatasi oleh oerientassin yang berfokus pada masalh
2. Integrasi dat objektif pengetahuan yang diperoleh dan pemahaman tentang pengalaman subjektif pasien atau kelompok
3. Aplikasi ilmu pengetahuan pada proses diagnosis dan pengobatan
4. Penyediaan hubungan yang penuh kepedulian yang memfasilitasi kesehatan dan penyembuhan

Ruang lingkup dan standar praktik keperawatan klinis kesehatan jiwa menguraikan tingkat kompetensi asuhan keperawatan professional yang umum untuk perawat yang terlibat ditiap tatanan praktik keperawatan kesehatan jiwa.
Standar ini ditujukan kepada perawat yang memenuhi persyaratan pendidikan dan pengalaman praktik baik pada tingkat dasar atau tingkat lanjut keperawatan kesehatan jiwa.

Standar asuhan berhubungan dengan aktivitas keperawatan professional yang dilakukan oleh perawat sepanjang proses keperawatan. Standar tersebut mrliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, identifikasi hasil, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Proses keperawatan merupakan landasan pengambilan keputusan klinis dan mencakup semua tindakan yang penting dilakukan oleh perawat dalam memberikan asuhan kesehatan jiwa kepada semua pasien.

8.RENTANG ASUHAN KEPERAWATA JIWA
Perawat jiwa memberikan perawatan sepanjang rentang asuhan. Perawatan ini meliputi intervensi yang berhubngan dengan pencegahan primer, sukunder, dan tersier.
Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah intervensi biologi, social, atau psikologis yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahtraan atau menurunkan insiden penyakit dimasyarakat dengan mengubah factor-faktor penyebab sebelum membahayakan.
Pangkajian kebutuhan akan tindakan keperawatan preventif termasuk identifikasi:
1. Faktor resiko yang apabila ada pada diri seseorang membuatnya lebih cendrung mengalami gangguan
2. Faktor pelindung yang meningkatkan respos individu terhadap stress
3. Populasi target individu yang rentan meengalami gangguan jiwa atau yang mumgkin menunjukkan respon koping maladaptive terhadap stressor spesifik atau factor resiko.

Pencegahan sukunder
Pencegahan sukunder termasuk menurunkan prevalensi gangguan. Aktiviras pencegahan sukunder meliputi penemuan kasus dini, skrining, dan pengobatan efektif yang cepat. Intervebsi krisis adalah suatu modalitas yang terapi pencegahan sukunder yang penting.

Krisis adalah gangguan internal yang ditimbulkan oleh peristiwa yang menegangkan atau ancaman yang dirasakan pada diri seseorang.
Jebis krisis.
1. krisis maturasi
2. krisis situasi

Pencegahan Tersier
Aktivitas pencegahan tersier mencoba untuk mengurangi beratnya gangguan dan disabilitas yang berkaitan.

Rehabilitasi
Adalah oroses yang memungkinkan individu untuk kembali ketingkat fungsi setinggi mungkin. Rehabilitasi jiwa berkembang dari kebutuhan untuk menciptakan kesempatan bagi individu yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, agar dapat hidup, belajar dan bekerja dilingkungan masyarakat yang mereka pilih. Rehabilitasi mengajukan bahwa penderita gangguan jiwa harus dianggap sama seperti individu yang mengalami disabilatasi. Sama seperti disabilitasi yang mengalami gangguan fisik, individu yang mengalami disabilitas jiwa membutuhkan pelayanan dalam rentang yang luas, sering kali dalam waktu yang lam. Rehabilitasi jiwa menggunakan pendekatan berpusat pada individu, orang ke orang yang berbeda dengan model pelayanan medis tradisioanal.




BAB II.
PENERAPAN PRINSIP DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN

9.RESPONS ANSIETAS DAN GANGGUAN ANSIETAS
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan denga perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang sfesifik.
Ansietas dialami secara subjektif dan dikomunikasiakn secara interpersoanal. Ansietas berseda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian inteletual terhadap bahaya.ansietas adalh respos emosional terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat ansietas yang berat tidak sejalan dengan kehidupan .
Gangguan ansietas merupakan masalah psikiatri yang paling sering terjadi diamerika serikat .
Tingkat ansietas sebagai berukut.
1. Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari; ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapangan persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.
2. Ansietas sedang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu mangalami tidak perhaian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
3. Ansietas berat sangat mengurangi lapang persepsi individu, individu cendrung berfokus pada sesuatu yang rinci, dan spesifik serta tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersbut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
4. Tingkat panic dari ansietas berhubungan dengan terpengarah, ketakutan, dan terror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panic tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panic mencakup diosorganosasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan; jika berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian

Pengkajian
perilaku
Ansietas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan ansietas.

Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal ansietas.
1. dalam pandangan psikianalitis
2. menurut pandangan interpersonal
3. menurut pandangan perilaku
4. kajian keluarga
5. kajian biologis.

Stressor pencetus dapat berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori
1. ancaman terhadp integrittas fisik
2. ancaman terhadap system diri.

Intervensi pada ansietas tingkat berat dan panik.
Prioritas tertinggi tujuan keperawatan harus ditujukan untuk menurunkan ansietas tungkat berat atau panic pasien, dan intervensi keperawatan yang berhubungan harus sufortif dan protektif.
Lihat ringkasan rencana asuhan keperawatan yang berhubungan dengan ansietas tingkat berat dan panik.
Intervensi pada ansietas tingkat sedang
Saat ansietas pasien menurun sampai tingkat ringan atau sedang, perawat dapat mengimplementasikan intervensi keperawatan redukatif atau berorientasi pada pemahaman.

Gangguan : Gangguan ansietas umum
Pengobatan
- sebagian besar penelitian hasil pengobatanmenunjukkan bahwa pengobatan aktif lebih baik dari pada pendekatan tak langsung, dan secara keseluruhan lebih utama daripada tanpa pengobatan;namun,, sebagian besar penelitian tersebut gagal menunjukkan angka diferensia keefektifan diantara pengobatan aktif.
- Benzodiazepin mengurangi gejala ansietas dan kekhawatiran pada gangguan ansietas umum
- Buspiron tampak sebanding dengan benzodiazepine dalam mengurangi gejala gangguan ansietasumm.
- Antidepresan trisiklik menunjukkan manfaatnya dalam pengobatan gangguan ansietas umum.

Gangguan: gangguan stress pascatrauma
Pengobatan
-MAOI mengurangi pikiran intrusive, meningkatkan tidur, mengurangi ansietas,dan defresi pada pasien gangguan stre pascatrauma.
-antidefresan trisiklik mengurangi pikiran intrusive, obsesi,dan defresi pada pasien ini.
-SSRI secara nyata mengurangi pikiran intrusive, perilaku menghindar, dan masalah tidur.




10.RESPONS PSIKOFISIOLOGIS DAN GANGGUAN TIDUR SERTA GANGGUAN SOMATOFORM.

Rentang respons psiofisiologis
Tingkat hubungan anatar jiwa dan tubuh selalu menarik Bagi para ilmuwan dan filsafat. Untuk waktu yang lama dalam sejarah kedokteran, tubuh dan jiwa dipandang berbeda. Akhir-akhir ini, pehatian kembali ditujukan pada saling keterkaiatn antara dua aspek yang berbeda pada fungsi manusia tsb. Banyak penelitian yang telah dilakukan berfokus pada respons stress dan dampak stress, termasuk efek stress psikologis terhadap fungsi fisiologis, dan sebaliknya.
Salah seorang peneliti utama tentang respon stress, hans selye, menguraikan sindrom adaptasi umum, yang terdiri atas tiga tahap proses berepons terhadap stress.
1. reaksi alarm
2. tahap resistes
3. tahap kelelahan

Gangguan tidur diklasifikasikan kadalam empat kelompok besar.
1. gangguan memulai atau mempertahankan tidur, juga disebut dengan insomnia. Ansietas dan defresi merupakan penyebab utama insomnia.
2. gangguan samnolen yang berlebihan, juga disebut dengan hipersomnia. Kategori ini termasuk narkolepsi, apnea tidur, dan gangguan gerakan pada malam hari seperti kaki yang gekisah/bergerak terus.
3. gangguan jadwal tidur-bangun, ditandai oleh tidur normal tetapi pada waktu yang tidak tepat. Gangguan ini merupakan gangguan sementara yang dering dikaitkan fengan jet lag dan perubahan sif kerja. Biasanya bersifat individual dan dapat diatasi ketika tubuh menyesuaikan dengan jadwal tidur-bangun yang baru.
4. gangguan yang berhubungan dengan tahap tidur, juga disebut dengan parasomnia. Katagiri ini termasuk bermacam kondisi seperti jalan sambil tidur, mimpi buruk. Dan enuresis. Masalah tidur ini sering dialami oleh anak-anak dan dapat mempengaruhi fungsi dan kesejahtraan individu.
11.RESPONS KONSEP DIRI
Rentang respos kosep diri
Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia.
Konsep siri terdiri atas komponen-komponen berikut ini.
1. citra tubuh- kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubunhnya. Termasuk perspsi serta perasaan masa lalu dan sekarang tentang ukuran,fungsi penampilan, dan potensi. Citra tubuh dimodifikasi secara berkesinambungan dengan persepsi dan pengalaman baru..
2. ideal diri- persepsi individu tebtang bagaimana dia seharusnya berperilaku tentang asanasanstandar aspirasi, tujuan, atau nilai personal tertentu.
3. harga diri – penilaian individu tentang nilai personal yang di peroleh menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berasal dari penerimaan diri sendiri tanpa syarat , walaupun melakakukan kesalahan , kekalahan , dan kegagalan , tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga
4. performa peran- serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan social berhubungan dengan fungsi individu diberbagai kelompok social. Peran yang ditetapkan adalah peran yang dijalankan dan seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diambil adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu.
5. identitas pribadi-prisip pengorganisasiam kepribadian yang betanggung jawab terhadap kesatuan,kesinambngan,konsistensi dan keunikan individu. Prisip tersebut sama artinya denfan otonomi dan mencakup persepsi seksualitas seseorang, pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berkangsung sepanjang kehidupan, tetapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
Individu dengan kepribadian yang sehat akan mengalami hal-hal berikut ini.
1. citra tubuh yang positif
2. ideal diri yang realistis
3. konsep diri yang positif
4. harga diri yang tinggi
5. performa peran yang memuaskan
6. rasa identitas yang jelas

12.RESPONS EMOSIONAL DAN GANGGUAN ALAM PERASAAN
Rentang respons emosional
Alam perasaan(mood)adalah perpanjangan keadaan emosional yang mempengaruhi selurh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang.alam perasaan ini meliputi emosi seseorang yang kuat dan menyebar dan mempunyai arti yang sama dengan afek, keadaan perasaan dan cemas.jika memandang ekspresi emosi dalam suatu rentang sehat sakit, akan tampak beberapa parameter yang relevan.
1. Respons emosional termasuk dipengaruhi oleh dan berperan aktif dalam dunia internak dan eksternal seseorang. Tersirat bahwa orang tsb terbuka dan sadar akan perasaannya sendiri.
2. Reksi terbuka takterkomplikasi terjadi sebagai respon terhadap kehilangan dan tersirat bahwa seseorang sedang menghadapi suatu kehilangan yang nyata serta terbenam dalam proses berdukanya.
3. Supesi emosi mungkin tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap perasaan sendiri, terlepas dari perasaan tersebut, atau internalisasi terhadap semua aspek dari dunia afektif sekarang.
4. Penundaan reaksi berduka adlah ketiadaan yang persisten respons emosional terhadap kehilangan
5. Depresi, atau melankolia adalah suatu kesedihan dan perasaan duka yang berkepanjangan atanu abnormal.



Fakta mengenai gangguan alam perasaan
Gangguan depresi mayor
- defresi mayor adlah masalah paling lazim dari seluruh masalah klinis yang dihadapi oleh praktisi pelayanan kesehatan primer.
- Defresi mayor menuntut individu untuk torah baring lebih lama (individu harus berhenti bekerja dab tirah baring) daripada individu yang mengalami gangguan ‘fisik’ lain kecuali penyakit kardiovaskular. Defresi menguras biaya yang lebih besar dibandingkan penyakit pernapasan kronik,diabetes,arthritis, atau hepertensi.
- Hanya psikoterapi yang membantu beberapa pasien defresi, terutama pasien dengan gejala ringan sampai sedang.
- Enam puluh lima persen pasien defresi berhasil ditangani dengan antidepresan
- Angka keberhasilan pengogatan meningkat sampai 85% dengan pengobatan alternative dan tambahan psikoterapi Yng dikombinasikan dengan pengobatan lain.

Gangguan bipolar(manik-defresif)
- tanpa pengobatan modern, pasien dengan gangguan bipolar terutama menghabiskan seperempat masa dewasanya dirumah sakit dan separuh hidupnya dengan ketidakmampuan
- pengobatan yang efektif(litium,antikovulsan) sering kali diberikan dikombinasikan dengan psikoterapi suportif, yang memungkinkan 75% sampai 80% pasien manik-depresif menjalani kehidupan normalnya yang esensial.
- Pengobatan tersebut telah menghemat biaya pengobatan lebih dari $40 miliar sejak tahun 1970:$13 miliar untuk biaya pengobatan langsung dan $27 miliar untuk biaya tak langsung



13. RESPONS PROTEKTIF DIRI DN PERILAKU BUNUH DIRI
Rentang respons protektif diri
Perilaku destruktif yaitu setiap aktifitas yang jika tidak dicegah, dapat mengarah kepada kematian. Perilaku ini dapat diklasifikasikan sebagai langsung atau tidak langsung.perilaku destruktif diri langsung mencakup setiap bentuk aktifitas bunuh diri. Niatnya dalah kematian, dan individu menyadari hal ini sebagai hasil yag diinginkan. Lama perilaku berjangka pendek. Perilaku destruktif diri tidak langsung meliputi setiap aktivitas yang merusak kesejahtraan fisik individu dan dapat mengarah kepada kematian. Individu tersebut tidak menyadari tentang potensial terjadi kematian akibat perilakunya dan biasanya akan menyangkal apabila dikoprontasi. Durasi perilaku ini biasanya lebih lama dari pada perilaku bunuh diri. Perilaku destruktif-diri tidak langsung meliputi perilaku tersebut.
1. merokok
2. mengebut
3. berjudi
4. tindakan criminal
5. terlibat dalam aktifitas rekreasi berisiko tinggi
6. penyalagunaan zat
7. perilaku yang menyimpamg secara social
8. perilaku yang menimbulkan stress
9. gangguan makan
10. ketidak-patuhan pada pengobatan medis

Perilaku Bunuh Diri
Semua perilaku bunuh diri adalah serius, apa pun tujuannya. Dalam pengkajian perilaku bunuh diri, lebih ditekankan pada retalitas dari metode yang mengancam atau digunakan. Walaupun semua ancaman dan pencobaan bunuh diri harus ditanggapi secara serius, perhaian yang lebih waspada dan saksama ditunjukkan ketika seorang merencanakan atau mencoba bunuh diri dengan cara yang paling mematikan seperti dnga pistol, menggantung diri, atau melompat. Cara yang kurang mematikan seperti karbon monoksida dan overdosis obat, memberikan waktu untuk mendapatkan bantuan saat tindakan bunuh diri telah dilakukan

Perilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi tiga kategori:
1. ancaman bunuh diri-peringatan verbal atau nonverbal bahwa seseorang tsb mempertimbangkan untuk bunuh diri.
2. upaya bunuh diri-semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan oleh individu yang dapat menyebabkan kematian, jika tidak dicegah
3. bunuh diri-mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan diabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan yang tidak benar-benar ingin mati mungkin akan mati, jika mereka tidak ditemukan tepat pada waktunya.


14. RESPONS SOSIAL DAN GANGGUAN KEPRIBADIAN
Rentang respon social
Manusia adalah mahluk social. Untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan sementara adentitas pribadi yang tetap dipertahankan. Individu juga harus membina hubungan saling tergantung, yang merupakan keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan.
Perkembangan hubungan interpersonal yang dewasa
Kapasitas hubungan interpersonal berkembang sepanjang siklus kehidupan.
Gangguan kepribadian biasanya dapat dikenali pada masa remaja atau lebih awal dan berlanjut sepanjang masa dewasa. Gangguan tersebut merupakan pola respons maladaftif, tidak fleksibel, dan menetap yang cukup berat menyebabkan disfungsi perilaku atau distress yang nyata.
Gangguan kepribadian relative biasa terjadi diamerika serikat; sekitar 10% sampai 18% populasi secara umum mengalami gangguan tersebut. Namun, hanya seperlima dari populasi tersebut yang mendapatkan terapi. Sedikitnya beberapa gangguan ini juga dikaitkan dengan mortalitas yang tinggia akibat bunuh diri.
Factor predisposisi
Berbagi faktor bias menimbulkan respons social yang maladafif. Walaupun banyak penelitian telah dilakukan pada gangguan yang mempengaruhi hbungan interpersonal, belum ada suatu kesimpualan yang sfesifik tentang penyebab gangguan ini. Mungkin disebabkan oleh kombinasi dari berbagai factor yang meliputi.
1. factor perkembangan
2. factor biologis
3. factor sosiokultural

15. RESPONS KIMIAWI DAN GANGGUAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN ZAT
Rentang respons kimiawi
Walaupun terdapat suatu rentang dari pengguanaan obat atau alcohol yang jarang sampai penggunaan yang sering untuk penyalahgunaan dan ketergantungan, tidak semua orang yang menggunakan zat menjadi penyalah guna, dan tidak setiap penyalahguna menjadi ketergantungan.
Penyalahgunaan zat mengacu pada penggunaan zat secara terus menerus bahkan setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan biasanya dianggap sebagai penyakit.
Adiksi umumnya mengacu pada perilaku psikososial yang berhubungan dengan ketergantungan zat. Istilah adiksi dan ketergantungan sering tertukar penggunaanya. Diagnosis ganda mengacu pada adanya penylahgunaan zat dan gangguan jiwa dalam individu yang sama.
Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologis terhadap obat. Toleransi berarti bahwa memerlukan peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan. Gejala putu zat dan toleransi merupakan tanda ketergantungan fisik.
Zat yang disalahgunakan termasuk alcohol, opiate, obat yang diresepkan, psikotomimetik, kokain, mariyaun, dan inhalan. Masalah serius dan yang terus berkembang dalam penyalahgunaan zat adalah peningkatan yang cepat penggunaan lebih dari satu jenis zat secara bersamaan atau berurutan.
Individu dapat mengalami keadaan relaksasi, ueforia, stimulasi, atau perubahan kesadaran dengan berbagai cara.

Paktor presisposisi
1. factor biologis
- kecendrungan keluarga, terutama penyalahgunaan alcohol
- perubahan metabolisme alcohol yang mengakibatkan respons fisiologis yang tidak nyaman
- varien gen DRD2 yang tampak berkaitan dengan transmisi alkoholisme

2. factor fsikilogis
- tipe kepribadian ketergantungan oral
- HDR sering berhubungan dngan penganiyaan pada masa kanak-kanak
- Kebiasaan maladaftif yang dipelajari secara berlebihan
- Mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit
- Sifat keluarga, termasuk tidak stabil, tidak ada contoh peran posotif, kurang rasa percaya, tidak mampu memperlakukan anak sebagai individu, dan ortu yang adiksi

3. factor sosiokultural
- ketersediaan dan penerimaan social terhadap penggunaan obat
- ambivalensi social tentang penggunaan atau penylahgunaan berbagai zat, seperti tembakau, alcohol, dan mariyuana
- sikap, nilai, norma, dan sanksi budaya
- kebangsaan \, etnis, dan agama
- kemiskinan dengan keluarga yang tidak stabil dan keterbatasan kesempatan
Stressor Pencetus
Putus Zat
Perilaku umum yang berhubungan dengan putus zat.
Kewaspadaan perawat.
Gangguan putus alcohol yang serius dan secara potensial mengancam kehidupan adalh delirium putus alcohol, yang sebelimnya dikenal sebagai delirium tremens(DTs) biasanya terjadi pada hari kedua atau ketiga setelah minum terakhir dan berakhir 48 hingga 72 jam setelah awitan. Perilaku meliputi:
1. tremor
2. ansietas
3. waham paranoid
4. halusinasi penglihatan
5. disorientasi
6. suhu meningkat
7. taki kardia
8. hiperpnea
9. takipnea,muntah,diare.

16. RESPON PENGATURAN MAKAN DAN GANGGUAN MAKAN.
Sebagaimana suatu pola pengaturan diri, pengendalian makan yang tepat menunjang kesehatan dan kesejahtraan psikologis, biologis, dan sosiokultural. Respons makan yang adaftif ditandai dengan pola makan seimbang, asupan kalori yang tepat, dan berat badan yang sesuai dengan tinggi dan ukuran tubuh. Penyakit yang berhubungan dengan respons pengaturan makan yang maladaftif termasuk anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan berlebihan.gangguan ini dapat menyebabkan perubahan biologis termasuk perubahan laju metabolic,malnutrisi berat, dan kemungkinan kematian.




Anoreksia nervosa
Anoreksia nervosa terjadi pada lebih kurang 0,5 %sampai 3,7% populasi wanita dengan awitan sering terjadi antara usia 13 dan 20 tahun. Diperkirakan 1 dari 10 sampai 20 0rang yang mengalami anoreksia adalh pria,
Bulimia nervosa
Bulimia lebih sering terjadi dari pada anoreksia dengan perkiraan 1% sampai 4% pada populasi wanita serta prevalensi 4% hingga 15% pada wanita dengan pendidikan sekolah menengah atas dan mahasiswa. Awitan terutama terjadi pada usia 15 hingga 18 tahun. Diperkirakan 1 dari 10 orang yang mengalami bulimia adalah pria.

Makan berlebihan
Makan berlebihan adalah menghabiskan makanan dengan cepat dalam jumlah besar dan periode waktu tertentu walaupun tidak ada kesepakatan berapa jumlah kalori yang tepat sebagai makan berlebihan.
Penekanan pada persepsi individu tentang kehilangan kendali dan asupan kalori berlebihan yang dirasakan, merupakan hal yang lebih penting dalam pengkajian keperawatan dari pada jumlah total kalori yang dikonsumsi selama makan berlebihan. Oleh karna itu, perewat harus mengkaji dengan cermat dan tepat apa maksud tiap orang dengan makan berlebihan.

Komlikasi medis dan psikiatri
Hampir tiap orang dengan respons pengaturan makan yang maladaftif mengalami beberapa jenis masalah fisik karena semua system tubuh terpengaruh. Banyak pasien yang mencari bantuan untuk menangani gangguan makan juga mengalami gangguan jiwa lain seperti defresi, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan penyalahgunaan zat, dan gangguan kepribadian




17. RESPONS SEKSUAL DAN GANGGUAN SEKSUAL
Seksualitas didefinisikan secara luas sebagai suatu keinginan untuk menjalani hubungan, kehangtan, kemesraan atau cinta. Seksualitas meliputi memandand dan berbicara; berpegangan tangan,berciuman, atau memuaskan diri sendiri; dan sama-sama menimbulkan orgasme. Seksualitas merupakan bagian perasaan diri secara menyelurh pada individu..
Empat aspek seksualitas adalah sebagai berikut:
1. identitas genetic, merupakan gender kromosom individu
2. identitas gender, merupakan persepsi individu tentang kejantanan atau kewanitaan dirinya sendiri
3. peran gender, yang terdiri dari sifat peran budaya pada gender seseorang, seperti harapan tentang prilaku, kognisi, pekerjaan, nilai, dan respons emosional
4. orientasi seksual, merupakan gender yang tertarik secara romantis dengan gender kain.
Respons seksual yang paling adaptif terlihat pada perilaku yang memenuhi criteria sbb:
1. antara dua orang dewasa
2. saling memuaskan individu yang terlibat
3. secara fisik atau psikologis tidak membahayakan kedua pihak
4. tidak terdapat paksaan atau kekerasan
5. dilakukan ditempat tersendiri.

Respons seksual yang maladaftif termasuk perilaku yang tidak memenuhi satu atau lebih kriteria.
Harus berhati-hati ketika mencoba menyebut perilaku seksual sebagai perilaku adaptif atau maladaptive. Misalnya, perilaku seksual dapat memenuhi kreteria tetapi masih belum memuaskan bagi individu jika diubah oleh suatu dampak dari apa yang dikatakan masyarakat sebagai perilaku yang dapat diterima dan tidak diterima.
Pada tahun 1948 kinsey memeriksa preferensi dan berikut ini merupakan definisi istilah yang sering digunakan
1. heteroseksual- individu yang tertarik secara seksual dengan kelompok yang berlawanan jenis kelamin
2. homoseksual-individu yang tertatik secara seksual dengan kelompok jenis kelamin yang sama.
3. biseksual-individu yang tertarik secara seksual dengan kedua jenis kelamin
4. transvestite-individu yang mengenakan pakaian berlawanan dengan jenis kelaminnya
5. transeksual-individu yang secara genetic dan anatomis adalah pria atau wanita, tatapi mengekspresikan dirinya dengan keyakinan kuat bahwa ia memilki pikiran jenis kelamin yang berlawanan dan berusaha mengubah jenis kelaminnya secara legal melalui pengobatan hormonal dan pembedahan.

Stresor pencetus
Identitas seksual tidak dapat dipisahkan dari konsep diri atau citra tubuh seseorang. Oleh karna itu, apabila terjadi perubahan pada tubuh atau emosi seseorang, respons seksual juga berubah. Ancaman yang sfesifik meliputi:
1. penyaki fisik dan cedera
2. gangguan jiwa
3. pengobatan
4. HIV,sindorm imunodefesiensi didapat(AIDS)
5. proses penuaan

18.PSIKOFARMAKOLOGI
Peran perawat
Perawat harus mempunyai cukup pengetahuan tentang strategi psikofarmakologis yang tersedia, tetapi informasi ini harus digunakan sebagai satu bagian dari pendekatan holistic pada asuhan pasien. Peran perawat meliputi hal sbb:
1. pengkajian pasien
2. koordinasi modalitas terapi
3. pemberian agens psikofarmakologis.
4. pemantauan efek obat
5. penyuluhan pasien
6. program rumatan obat
7. partisipasi dalam penelitian
8. kewenagan untuk memberikan resep

Antiansietas dan hipnotik-sedatif dibagi menjadi dua kategori: benzodiazepine dan nonbenzodiazepen, yang mencakup beberapa kelas obat. Benzodiazepine merupakan obat yang paling banyak diresepkan diseluruh dunua, dan dalam 20 tahun terakhir ini obat tersebut hamper seluruhnya menggantikan barbiturate dalm pengobatan ansietas dan gangguan tidur. Obat ini terkenal karena keefektipan dan margin keamanan yang luas.
Benzodiazepine

Manfaat klinis
Benzodiazepine merupaka obat pilihan yang sering digunakan dalam penatalaksanaan ansietas, insomnia, dan konsisi yang berhubungan dengan stees.
Banyak ahli yakin bahwa terapi dengan benzodiazepine harus singkat, selam periode stress spesifik. Namun dengan pengawasan, obat ini sering diberikan dalam jangka panjang.
Indikasi utama dalam penggunaan benzodiazepine adalah:
1. gangguan ansietas umum
2. ansietas yang berhubungan dengan defresi
3. ansietas yang berhubungan dengan fobia
4. gangguan tidur
5. gangguan stress pascatrauma
6. putus obat dan alcohol
7. ansietas yang berhubungan dengan penyakit medis
8. relaksasi musculoskeletal
9. gangguan kejang
10. ansietas pra operasi

Kewaspadaan Perawat
Benzodiazepine pada umumnya tidak menjadi adiktif kuat jika penghentian pemberiannya dilakukan secara bertahap, jika obat ini digunakan untuk tujuan yang tepat, dan jika penggunaanya disertai dengan penggunaan zat lain, seperti penggunaan kronis barbiturate atau alcohol. Awast terutama terhadap:
1. sedasi
2. ataksia
3. iritabilitas
4. maslah memori
benzodiazepine mempunyai indeks terapeuti yang sangat tinggi, sehingga overdosis obat ini saja hamper yidak pernah menyebabkan fatalitas. Efek samping merupakan hal yang umum, berhubungan dengan dosis, dan hamper selalu tidak membahayakan

Nonbenzodiazepin
Sebagian besar digunakan oleh benzodiazepine walaupun obat tersebut kadang masih digunakan.
Kewaspadaan perawat.
Penggunaan barbiturate menyebabkan banyaj kerugian seperti beriku ini.
1. terjadi tolernasi terhadap afek antiansietas dari barbiturat
2. obat ini lenih adiktif
3. obat ini menyebabkan reaksi serius dan bahkan reaksi putus obat yang letal
4. obat ini berbahaya jika terjadi overdosis dan menyebabkan defresi SSP
5. obat ini mempimyai berbagai interaksi obat yang berbahaya.

No comments: