Monday, February 9, 2009

Iman & Islam

BAB 3
IMAN KEPADA ALLAH SWT

A. Pengertian Iman kepada Allah SWT
Rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah SWT, iman kepada Allah SWT merupakan rukun iman yang paling pokok dan melandasi rukun iman yang lainnya.

B. Ruang Lingkup Iman kepada Allah SWT
Iman kepada Allah SWT, menempati posisi pertama dan mendasari keimanan kepada yang lainnya. Selain itu iman kepada Allah SWT yang memiliki 3 ruang lingkup keimanan yang hendaknya ditanamkan dalam hati dan jiwa seorang muslim, ketiga ruang lingkup yaitu sbb :
1. Iman dan meyakini bahwa tidak ada selain Allah SWT
2. Iman dan meyakini bahwa tidak ada yang membuat, mengurus, dan mengatur semua mahluk / alam semesta selain Allah SWT
3. Iman dan menyakini bahwa tidak ada yang berhak disembah dan mendapatkan penghambaan selain Allah SWT.

C. Sifat-Sifat Allah SWT
Allah SWT memiliki sifat-sifat yang wajib diimani dan diyakini oleh setiap muslim. Dalam ilmu aqidul yang ditulis oleh ulama besar Abu Hasan Al-Asy’ary dan Abdu Mansur Al-Maturidy mengemukakan bahwa sifat wajib bagi Allah aaa 20 yang mustahil bagi Allah ada 20 dan sifat jaiz bagi Allah hanya ada 1/13 sifat wajib, 13 sifat wajib mustahil dan 1 sifat jaiz bagi Allah.
Untuk jelasnya bahwa sifat 20 itu dapat digolongkan kedalam 4 bagian yaitu :
1. Sifat nafsiyah
2. Sifat salbiyah
3. Sifat ma’ani
4. Sifat ma’nawiyah
1) Wujud
Artinya ada hal ini mengandung arti bahwa Allah SWT itu ada dan mustahil tidak ada.

2) Qidam
Artinya terdahulu. Maksudnya Allah SWT itu pendahulu, dialah maha awal dan maha akhir, tidak ada sesuatu apapun yang mendahului dirinya, tidak ada pula yang paling akhir selain dari padanya.

3) Baqa’
Artinya kekal abadi dengan baqa’nya Allah tidak akan pernah hancur waktu, sebab dia maha awal dan akhir artinya Allah maha kekal abadi.

4) Mukhlafatul Lilhawadisi
Artinya Allah berbeda sifat dengan semua makhluk ciptaannya.

5) Qiyamuhu Binafsihi
Artinya berdiri sendiri. Maksudnya bahwa Allah SWT, tidak memiliki ketergantungan kepada sesuatu apapun. Allah tidak mengantungkan sifat, zat dan perbuatannya kepada pihak lain diluar dirinya.

6) Wahdaniyah
Artinya satu atau esa. Maksudnya Allah maha esa, sifat, zat dan perbuatannya. Keesaan Allah dari segi perbuatannya dapat kita perhatikan dari fenomena alam yang ada.

7) Qudrat
Artinya kuasa. Hal ini mengandung makna bahwa Allah maha kuasa atas apapun yang dikehendakinya.

8) Iradat
Artinya kehendak. Maksudnya segala sesuatu akan terjadi dengan kehendaknya tidak ada kekuatan apapun yang mampu menghalangi kehendaknya.
9) Ilmu
Artinya pengetahuan. Maksudnya Allah SWT maha luas ilmunya. Semua ciptaannya mengandung ilmu pengetahuan yang tak terhingga.

10) Hayat
Artinya hidup. Maksudnya Allah SWT itu maha hidup, bahkan pemberi kehidupan kepada semua makhluknya.

11) Sama
Artinya mendengar. Maksudnya Allah SWT maha mendengar atas segala sesuatu, baik yang terucap maupun yang tidak.

12) Basar
Artinya mendengar. Maksudnya Allah SWT maha mendengar atas segala sesuatu, baik yang terucap maupun yang tidak.

13) Kalam
Artinya berfirman. Maksudnya Allah SWT maha pembicara, bahkan yang memberikan pembicaraan kepada setiap makhluknya.

D. Tanda-Tanda Penghayatan terhadap Sifat-Sifat Allah
Tanda-tanda penghayatan terhadap sifat-sifat Allah yang tampak dan dapat dikendalikan antaranya sbb :
1) Mencintai ilmu pengetahuan
2) Berjiwa mandiri
3) Memiliki motivasi yang tinggi

E. Al-Asmaul Husna
1. Pengertian Asmaul Husna
Asmaul Husna artinya nama-nama Allah baik yang agung / sifat-sifat kesempurnaan.
2. Jumlah Asmaul Husna
Asmaul Husna jumlahnya ada 99.
3. Makna lima Asmaul Husna
a. Al-Adlu
Artinya maha adil sesuai dengan namanya al-adlu berarti maha adil Allah tidak pernah membebani hambanya diluar batas kemampuan.
b. Al-Gaffar
Artinya maha pengampun. Maksudnya Allah SWT itu maha pengampun atas segala dosa hamba-hambanya kecuali dosa syirik.
c. Al Hakim
Artinya maha bijaksana. Selain maha pengampun Allah juga maha bijaksana.
d. Al-Malik
Artinya yang menguasai atau raja maksudnya Allah adalah maharaja dari segala kerajaan langit dan bumi.
e. El-Hisab
Artinya yang membuat perhitungan maksudnya Allah adalah yang maha mengawasi atas segala yang terjadi dijagad raya.

BAB 4
SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM DAN PEMBAGIANNYA

A. Al-Qur’an
1. Pengertian dan kedudukan Al-Qur’an
Al-Qur’an menurut bahasa berasal dari kata dasar Qara’a – yaqra’u – Qira’atan – wa qur’anan, yang artinya bacaan.
Al-qur’an adalah firman Allah SWT
2. Isi kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an terdiri atas 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat yang terbagi ke dalam ayat-ayat makkiyah dan ayat-ayat madaniyah. Ayat-ayat makkiyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah, sedangkan ayat-ayat madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.
Isi Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam tiga pembahasan pokok, yaitu sebagai berikut :
a. Pembahasan mengenai prinsip-prinsip aqidah (keimanan) yang meliputi :
1. Iman kepada Allah SWT dengan segala sifat-sifatnya
2. Iman kepada malaikat
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
4. Iman kepada rasul-rasul Allah
5. Iman kepada adanya akhirat
6. Iman kepada Qada dan Qadar
b. Pembahasan mengenai prinsip-prinsip ibadah yang meliputi
1. Kewajiban salat
2. Kewajiban zakat
3. Puasa di bulan ramadhan
4. Kewajiban melaksanakan haji

c. Pembahasan yang berkenaan dengan prinsip-prinsip syariat
1. Pembicaraan tentang manusia dan masyarakat
2. Sosial dan ekonomi
3. Musyawarah
4. Sejarah
5. Hukum-hukum seperti hukum perkawinan, hukum waris, hukum perjanjian dan hukum pidana.

3. Fungsi Al-Qur’an
a. Sebagai pedoman hidup manusia
Firman Allah surat Al-Maidah ayat 46



Artinya :
“Dan kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)”

b. Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa
Firmannya :
         
Artinya :
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah : 2)

c. Sebagai mukjizat atas kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW
d. Sebagai sumber hidayah dan syariah
Firman Allah :
             •  
Artinya :
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (Q.S. Al-A’raf : 3)

B. Al-Hadist
1. Pengertian dan kedudukan Hadis
Menurut bahasa, hadis artinya baru, dekat dan berita. Menurut istilah hadis adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan (takdir) Nabi Muhammad SAW.
Firmannya :
       
Artinya :
“Apa yang diberikan rosul kepadamu terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr : 7)

2. Fungsi Hadis
a. Al-Hadis sebagai penguat hukum yang sudah ada didalam Al-Qur’an
b. Al-Hadis berfungsi sebagai penjelas atas hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ada tiga fungsi yang diperankan Al-Hadis.
1. Menjelaskan dan merinci hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’an secara global (ijmali)
2. Memberi batasan atas hukum-hukum dalam al-Qur’an yang belum jelas batasnya.
3. Mengkhususkan hukum-hukum dalam al-Qur’an yang bersifat umum.
c. Menetapkan hukum-hukum tambahan atas hukum-hukum yang belum terdapat didalam al-Qur’an.
Sabda rasululah saw.

Artinya :
“Tidak boleh seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita dengan bibinya (adik bapak/ibu) dan seorang wanita dengan uwaknya (kakak bapak/ibu)” (H.R. Bukhari Muslim)
3. Kualitas hadis
a. Macam-macam kualitas hadis yaitu sebagai berikut :
1. Hadis mutawatir
2. Hadis ahad
b. Dari segi diterima dan ditolak sebagai sumber hukum
1. Yang dapat digunakan sebagai sumber hukum ada dua
a. Hadis sahid
b. Hadis hasan
2. Yang tidak dapat digunakan sebagai sumber hukum Islam adalah hadis Daif (hadis lemah)

C. Ijtihad
1. Pengertian Ijtihad
Ijtihad adalah mencurahkan segenap kemampuan untuk memperoleh sesuatu. Menurut istilah Ijtihad ialah usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan akal pikiran semaksimal mungkin untuk menemukan suatu hukum yang tidak ditetapkan secara jelas dalam al-Qur’an dna al-Hadis.
Contoh ijtihad rasulullah saw yang mendapat pembenaran wahyu adalah ijtihadnya tentang pembebasan tawanan perang Badr.
Adapun contoh ijtihad yang salah ialah keputusannya tentang pemberian izin orang-orang munafik untuk tidak ikut dalam peperangan.
2. Kedudukan dan dalil ijtihad :
Firman Allah :

Artinya :
“Maka ambillah (kejadian) itu untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Q.S. Al-Hasyr : 2)
Hadist rasulullah saw :

Artinya :
“Kamu telah mengerti dari pada mengenai urusan kehidupan duniamu”. (H.R. Muslim)
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sebagai berikut :
a. Harus memahami benar tentang Al-Qur’an dan Al-Hadis
b. Harus memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai tujuan hukum Islam
c. Memiliki kemampuan menggali (istimbat) hukum Islam dari dalil naqli untuk dikeluarkan menjadi hukum syari’i.

3. Fungsi Ijtihad
a. Sebagai upaya pembinaan dan pengembangan hukum Islam
b. Menjelaskan nas-nas yang masih bersifat zanni (keraguan / belum jelas)
c. Untuk menjawab tantangan zaman
d. Untuk menumbuhkan kreativitas berpikir umat Islam


Artinya :
“Apabila seorang hakim mengadili, lalu ia berjihad, ternyata ijtihadnya benar maka ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila ia mengadili, lalu berijitihad dan ijtihadnya salah maka ia mendapatkan satu pahala.” (H.R. Muslim)

4. Bentuk-Bentuk Ijtihad
Ijtihad dapat terbagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Ijtihad fardi (individual) yaitu ijtihad yang dilakukan oleh seorang mujtahid tanpa ada orang lain yang melakukan hal yang sama.
2. Ijtihad jam’i (kolektif) yaitu ijtihad yang dilakukan secara kelompok atau bersama-sama.
Dari segi caranya, ijtihad dapat dibagi menjadi beberapa bentuk antara lain :
1. Ijma
2. Qiyas
3. Istihsan
4. Masalihul mursalah

D. Pembagian Hukum Dalam Ilmu Fiqih dan Rasul Fiqih
1. Pembagian hukum dalam ilmu fiqih
Adalah ketentuan atau ketetapan atas suatu masalah, baik dalam ibadah maupun muamalah yang mempunyai implikasi bagi pemeluknya, baik berupa pahala atau dosa.
Fiqih membedakan hukum tersebut ke dalam lima macam yaitu :
a. Wajib
b. Haram
c. Sunnat
d. Mubah
e. Makruh
2. Pembagian hukum menurut Usul Fiqih
Ada dua macam hukum fiqih
a. Hukum taklifi
Adalah hukum yang menghendaki dilakukannya suatu perintah oleh seorang mukallaf, baik perintah melakukan, meninggalkan maupun perintah memilih antara melakukan dan meninggalkan.
Perintah yang terdapat dalam nas-nas antara lain sebagai berikut :
Firman Allah SWT
         
Artinya :
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S. Al-Isra : 32)
1. Wajib
Adalah suatu yang diperhatikan oleh syara’ agar dikerjakan oleh mukakif. Dari segi perintahnya, wajib dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu sebagai berikut :
a. Wajib dari segi waktu menunaikannya
Firman Allah SWT
•      • 
Artinya :
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Q.S.An-Nisa: 103)
b. Wajib dari segi sigat perintah
c. Wajib dari segi ukurannya
d. Wajib dari segi ketentuan memilih
2. Mandub (Sunnat)
Adalah sesuatu yang diperintahkan oleh syara’ agar dikerjakan oleh mukalaf secara tidak pasti.
Mandub dapat dibedakan tiga bagian yaitu :
a. Mandub (sunnat) yang mengandung perintah untuk menguatkan
b. Mandub (sunnat) yang dibolehkan oleh syara’ mengerjakannya
c. Mandub (sunnat) tambahan yaitu perbuatan yang dianggap sebagai pelengkap seorang muslim.
3. Haram
Adalah tuntutan yang tegas dari syara’ untuk tidak dikerjakan, dengan perintah secara pasti.
Fiqih membagi haram menjadi 2 bagian yaitu :
1. Haram karena zat asalnya
2. Haram karena sebab-sebab yang baru
4. Makruh
Adalah suatu yang diperintahkan oleh syara’ agar mukalaf mencegah dari mengerjakan sesuatu, dengan perintah yang tidak pasti.
Firman Allah SWT :
       
Artinya :
“janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu”. (Q.S. Al-Maidah : 101)

5. Mubah
Adalah suatu yang diperintahkan oleh syara’ agar seorang mukallaf dapat memilih diantara mengerjakan atau meninggalkannya.

b. Hukum Wad’i
Adalah hukum yang menghendaki diletakkannya sesuatu sebagai suatu sebab bagi yang lain, atau sebagai syarat bagi sesuatu yang lain (masyrut) atau sebagai penghalang (mad’i) bagi sesuatu itu.
1. Sebab bagi yang lain
Datangnya waktu sholat sebagai sebab diwajibkan mendirikan shalat.
Firman Allah SWT
   
Artinya :
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir”. (Q.S. Al-Isra : 78)

Terlibatnya bulan diakhir bulan sya’ban merupakan sebab diwajibkannya segera dilakukannya puasa dibulan ramadhan.
Firman Allah SWT
     
Artinya :
“Karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu.” (Q.S. Al-Baqarah : 185)

2. Syarat bagi yang lain
3. Al man’i (penghalang)
Adalah sesuatu yang dengan wujudnya itu dapat meniadakan hukum atau membatalkan sebab.
4. Ar-Rukhsah Wal Azimah
Azimah adalah hukum-hukum umum yang telah disyariatkan oleh Allah SWT sejak semula, yang tidak dikhususkan oleh kondisi dan oleh mukallaf. Perbedaan rukhsah dan azimah adalah jika rukhsah mengugurkan kewajiban atau larangan karena kondisi dan sebab tertentu, sedangkan azimah meskipun dalam kondisi darurat, kewajiban atau larangan tetap diberlakukan oleh mukallaf.
Bagi yang mengambil rukhsah juga tidak salah, sebab Allah telah memaafkan dosa mereka. Sebagaimana firman Allah SWT :
        •    
Artinya :
“Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Maidah : 3)



BAB 5
IBADAH SHALAT DAN HIKMAHNYA

A. Pengertian Shalat
Menurut bahasa shalat artinya doa, menurut syariat Islam, shalat adalah suatu ibadah yang terdiri atas ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam yang disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

B. Isi Kandungan Shalat
1. Menunjukkan ketaatan dan penghambaan sebagai makhluk khalik (pencipta) Nya, agar senantiasa taat dan patuh mengabdi kepadanya. Sebagaimana Firman Allah SWT.
      
Artinya :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Az-Dzariyat : 56)

2. Sarana pendidikan jiwa bagi diri dan keluarga muslim
3. Media permohonan bagi seorang hamba kepada khaliknya.
Kita dianjurkan untuk senantiasa memanjatkan doa dan permohonan sedangkan doa yang paling utama adalah shalat. Firman Allah SWT :
    •     
Artinya:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Q.S. Al-Baqarah : 45)


4. Menunjukkan jati diri seseorang mukmin
Salat adalah cirri pembeda antara orang yang beriman dan tidak beriman kepada Allah SWT.
5. Membentuk sikap jiwa disiplin, tekun dan rajin.
Firman Allah SWT
•      •
Artinya :
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisa : 103)

C. Perlunya Shalat bagi Manusia
1. Mendatangkan ketentraman dan ketenangan jiwa
2. Dilapangkan rizkinya dalam kehidupan
3. Terhindar dari penyakit hati dan kotoran jiwa
4. Terhapus dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil kecuali syirik.
5. Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar

D. Sikap Manusia terhadap Kewajiban Shalat
1. Kelompok orang awam adalah tidak berilmu
2. Kelompok orang lalai
3. Kelompok pengikut hawa nafsu
4. Kelompok orang munafik
5. Kelompok orang yang kufur nikmat kepada Allah
6. Kelompok orang yang beriman

E. Kedudukan dan Fungsi Shalat
1. Kedudukan shalat
Shalat mempunyai kedudukan yang amat penting dalam Islam sehingga shalat disebut tiang agama, sabda rasulullah saw :

Artinya :
“Pokok urusan ialah Islam, sedangkan tiangnya ialah shalat, dan puncaknya ialah shalat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah”. (H.R. Muslim)

2. Fungsi shalat
1. Sebagai alat penangkal yang mencegah dari seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, firman Allah SWT :
     
Artinya :
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (Q.S. Al-Ankabut : 45)
2. Sebagai alat pembeda antara seorang muslim dengan orang kafir.
3. Sebagai sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan. Firman Allah SWT :
   
Artinya :
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Mukminun : 1)
4. Sebagai alat untuk menumbuhkan sikap mental yang kuat dan rasa disiplin yang baik bagi orang yang taat mengerjakannya.
5. Sebagai bukti ketaatan hambanya kepada sang pencipta Allah SWT.
Firman Allah SWT :
 
Artinya :
Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (Q.S. Al-Alaq : 19)



Fungsi shalat berjamaah
1. Sebagai sarana untuk mewujudkan persamaan diantara sesama muslim dan sekaligus mencegah diskriminasi.
2. Sebagai sarana untuk menciptakan suatu barisan yang kuat dibawah seorang pemimpin (imam)

F. Tanda-Tanda Shalat yang Diterima
1. Selalu berbuat baik kepada orang lain dan alam lingkungannya
2. Menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar
3. Senantiasa bersikap tawadu’ (rendah hati) kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia.
4. Jauh dari sikap sombong, egois, dan besar kepala terhadap sesama makhluk Allah SWT.
5. Selalu taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangannya.

G. Perilaku yang Mencerminkan Ajaran Shalat
1. Sikap sabar
2. Sikap istiqomah
3. Sikap jujur
4. Sikap tawaduk
5. Sikap ikhlas









BAB 6
IBADAH PUASA DAN HIKMAHNYA

A. Pengertian syarat rukun puasa dan hal-hal yang membatalkan puasa wajib
1. Puasa atau saum adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan disertai niat untuk berpuasa.
Puasa wajib adalah puasa yang harus dikerjakan dan akan berdosa bagi yang meninggalkannya.
2. Syarat-syarat puasa
a. Syarat wajib puasa
1. Beragama Islam
2. Sudah baligh (dewasa)
3. Berakal sehat
4. Sanggup berpuasa
5. Menetap (bermukhim)
b. Syarat syhah puasa
1. Islam
2. Mumayyiz artinya dapat membedakan antara yang baik dan tidak baik.
3. Suci dari darah haid dan nifas (bagi wanita)
4. Dalam waktu yang dibolehkan berpuasa kepadanya
3. Rukun puasa
a. Niat untuk melaksanakan puasa
b. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dan pahalanya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
4. Hal-hal yang membatalkan puasa
1. Makan dan minum secara disengaja
2. Muntah dengan sengaja
3. Sengaja melakukan persetubuhan disiang hari
4. Keluar dari haid
5. Sedang dalam keadaan nifas

B. Macam-Macam Puasa
1. Puasa wajib
Yaitu puasa yang apabila dikerjakan berpahala dan jika ditinggalkan berdosa.
Puasa wajib terdiri dari :
a. Puasa ramadhan
Adalah puasa yang diwajibkan terhadap setiap muslim selama sebulan penuh pada bulan ramadhan.
1. Ketentuan awal dan akhir ramadhan
2. Amalan sunat pada bulan ramadhan
3. Orang yang dibolehkan berbuka puasa
Penggantian puasa dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Menggada puasa
Artinya mengerjakan puasa pada hari lain diluar bulan ramadhan sebanyak puasa yang ditinggalkan.
Cara menggada puasa, yaitu :
1. Niat menggada puasa ramadhan
2. Dikerjakan boleh kapan saja asal diluar bulan ramadhan
2. Membayar fidyah
Artinya member makanan fakir miskin setiap hari selama tidak puasa pada bulan ramadhan.
Firman Allah SWT dan hadist rasulullah SAW :
   
Artinya :
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah”. (Q.S. Al-Baqarah : 184)


3. Puasa nazar
Artinya puasa yang dijanjikan oleh seseorang karena telah mendapat nikmat dan rahmat dari Allah SWT. Puasa yang dinazarkan itu hukumnya wajib, firman Allah SWT.
 
Artinya :
“Hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka”. (Q.S. Al-Hajj : 29)
Hal-hal bila kita mau bernazar yaitu sebagai berikut :
a. Setelah harapannya dikabulkan Allah, segeralah nazarnya (setia terhadap janji)
b. Bernazarlah dengan apa-apa yang sekiranya mampu dilaksanakan (bersikaplah positif)
c. Jangan bernazar untuk kejahatan dan keburukan
4. Puasa kifarat
Adalah puasa yang dilakukan sebagai denda atas pelanggaran yang diperbuat.

2. Puasa Sunat
Yaitu puasa yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak akan mendapat dosa.
Macam-macam puasa sunat yaitu sbb :
a) Puasa enam hari pada bulan syawal setelah idul fitri, berdasarkan hadis nabi Muhammad SAW





Artinya :
“Dari Abu Ayub rasulullah SAW, telah bersabda : barang siapa puasa di bulan ramadhan kemudian ia puasa pula enam hari di bulan syawal adalah seperti puasa sepanjang tahun”. (H.R. Muslim)
b) Puasa Arafah, yaitu puasa yang dikerjakan setiap tanggal 9 Zulhijjah. Sabda Nabi Muhammad SAW.



Artinya :
“Dari Abu Qatodah, Nabi Muhammad SAW, telah bersabda : puasa hari arafah itu menghapuskan dosa dua tahun, satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang”. (H.R. Muslim)
c) Puasa hari Senin dan Kamis berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW

Artinya :
“Dari Aisyah katanya : Nabi SAW memilih puasa setiap hari Senin dan Kamis”. (H.R. Turmudzi)

3. Puasa Haram
Yaitu puasa yang apabila dikerjakan berdosa apabila ditinggalkan berpahala. Macam-macam puasa haram yaitu sebagai berikut :
a. Puasa pada dua hari raya, yaitu idul fitri (1 syawal) dan idul adha (10 zulhijjah)
b. Puasa pada hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 zulhijjah. Sabda Rasullah SAW :


Artinya :
“Dari Nubaisyah al-Hudzaili katanya : rasulullah bersabda : hari tasyrik itu hari makan dan minum serta mengingat Allah azza wa jalla”. (H.R. Muslim)
4. Puasa Makruh
Yaitu puasa yang apabila dikerjakan tidak berdosa dan apabila ditinggalkan (tidak berdosa) malahan berpahala. Puasa makruh antara lain sebagai berikut :
a. Puasa yang dilakukan pada hari Jum’at, kecuali beberapa hari sebelumnya telah berpuasa.
b. Puasa sepanjang tahun, artinya setiap hari sepanjang tahun melakukan puasa dan itu dilarang dalam Islam.
Sabda rasulullah SAW

Artinya :
“Tidak berarti puasa orang yang berpuasa sepanjang tahun” (H.R. Bukhari dan Muslim)
c. Puasa wisal, yaitu puasa yang tidak melakukan buka pada saatnya berbuka puasa tiba.

C. Tingkatan Orang Berpuasa
Puasa merupakan salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan selama satu bulan penuh dibulan ramadhan. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 183
              
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
(Q.S. Al-Baqarah : 83)

Imam Ghazali membagi orang yang berpuasa menjadi tiga tingkatan yaitu sebagai berikut :

1. Puasa orang awam
Artinya umum atau orang kebanyakan, maksudnya orang yang tidak memiliki banyak ilmu tentang sesuatu. Menurut para ulama dapat dikategorikan sebagai puasa yang kurang bermakna. Sabda Rasulullah saw :


Artinya :
“Orang yang tidak meninggalkan kata-kata bohong dan senantiasa berdusta tidak ada paidahnya, ia menahan diri dari makan dan minum dalam berpuasa.” (H.R. Bukhari)
2. Puasa orang khawas
Khawas dapat diartikan khusus atau tertentu. Jumlah kelompok ini tidak terlalu banyak, disbanding dengan kelompok awam.
3. Puasa orang khawas di khawas
Artinya dengan sangat khusus atau paling sedikit. Jumlah orang yang termasuk kelompok ini sangat sedikit, dan karenanya disebut juga kelompok minoritas. Demikian itulah sesungguhnya yang dimaksudkan oleh Allah SWT.

“Agar kamu menjadi orang yang bertakwa”

D. Hikmah Puasa
Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari yang disertai niat untuk berpuasa.
Puasa memiliki beberapa hikmah yang sangat bermanfaat antara lain sbb :
1) Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, bagi orang yang menjalankannya.
2) Dapat mengendalikan hawa nafsu, khususnya nafsu syaitaniah yang dapat menjerumuskan manusia kejurang binasaan.
3) Membiasakan orang yang berpuasa bersabar dan tabah menghadapi berbagai kesukaran dan ujian.
4) Mendidik agar senantiasa amanah, sebab puasa pada hakikatnya melaksanakan amanah tidak makan dan minum.
5) Melatih kedisiplinan yang tinggi sebab dalam puasa terdapat disiplin tidak makan dan minum pada waktu yang ditentukan.
6) Menjadi perisai atau benteng dari segala godaan hidup.
7) Mendidik orang yang puasa agar tidak serakah, tetapi memiliki jiwa social


BAB 7
BERPERILAKU DENGAN SIFAT-SIFAT TERPUJI

A. Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu
yang jamaknya kata akhlak tersebut mempunyai arti tingkah laku, pegawai, watak, moral, etika, dan budi pekerti. Hal itu didasarkan pada firman Allah SWT :
    
Artinya : “Dan Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam : 4)
Ada beberapa pengertian akhlak yaitu sbb :
1) Syaikh Muhammad Abduh mengatakan bahwa akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan, tanpa dipikir dan direnungkan lagi.
2) Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa akhlak adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan sebelumnya.
3) Imam Al-Ghazali memberikan definisi akhlak yaitu segala sifat yang tertanam dalam hati.
4) Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak sebagai suatu kehendak yang biasa dilakukan.

B. Husnuzzan
1. Pengertian Husnuzzan
a. Husnuzzan terhadap sesama manusia
Husnuzzan adalah sikap perbuatan terpuji, dan sebaiknya, suuzzan atau buruk sangka termasuk perbuatan tercela dan mendatangkan dosa besar.
Firman Allah SWT :
                 
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain”. (QS. Al-Hujurat : 12)
b. Husnuzzan terhadap Allah SWT
2. Sikap husnuzzan kepada Allah
Orang yang memiliki sikap husnuzzan kepada Allah akan menjalani kehidupannya dengan senang hati, menerima dengan lapang dada atas takdir yang diberikan Allah kepadanya.
3. Hikmah Husnuzzan
Sifat husnuzzan yang terdapat pada diri seseorang, memiliki berbagai hikmah antara lain sbb :
a. Menimbulkan sifat qanah’ah artinya merasa rela dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
b. Selalu optimis menghadapi seluruh permasalahannya
c. Tidak pernah putus asa dalam menjalani kehidupannya

C. Akhlak Karimah terhadap diri sendiri
Selain husnuzzan, setiap muslim harus memiliki sifat-sifat terpuji yang lain seperti :
a. Gigih adalah mempunyai kemampuan kerjas untuk memperjuangkan apa yang diinginkan dengan berusaha secara maksimal.
1. Hikmah atau manfaat berperilaku gigih
- Menjadi orang yang rajin berusaha
- Menjadi orang yang mandiri
- Selalu sukses dalam usahanya
2. Sikap berperilaku gigih
Firmannya :
   •   •    
Artinya :
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut : 69)
b. Berinisiatif
Agama Islam agama dinamis yang sesuai untuk segalam zaman :
- Hikmah atau manfaat berperilaku inisiatif
1) Selalu dinamis
2) Selalu kreatif
3) Selalu inovatif
- Sikap berperilaku inisiatif
Inisiatif akan mendorong seseorang untuk selalu berkreasi, agar apa yang sudah ada menjadi lebih baik.
Firman Allah SWT
          
Artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Ar-Ra’d : 11)
c. Rela berkorban
Salah satu sifat sangat terpuji adalah rela berkorban untuk kepentingan orang banyak. Rela berkorban adalah menyiapkan diri walau sesuatu yang sangat dicintai harus dikeluarkan untuk kepentingan bersama dan agama, baik berupa tenaga, pikiran, waktu maupun materi.
Firman Allah SWT :
            •   
Artinya :
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali Imran : 92)
- Hikmah atau manfaat rela berkorban
1) Dicintai Allah dan manusia
2) Tidak egois
3) Berjiwa sosial
- Sikap berperilaku rela berkorban
Sabda rasulullah saw

Artinya :
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain”. (HR. Tirmidzi)

D. Akhlak Karimah terhadap Lingkungan
Agama Islam menjunjung tinggi moral atau akhlak. Karena itu salah satu tujuan utama diutuskan rasulullah saw adalah untuk menyempurnakan akhlak karimah.
1. Sikap terpuji terhadap lingkungan
a. Sikap terpuji terhadap tumbuh-tumbuhan
b. Sikap terpuji terhadap binatang
Rasulullah saw memberikan berbagai tuntunan kepada kita tentang binatang, antara lain sbb :
1) Selakukannya dengan baik
Binatang itu dapat dimakan dagingnya maka sembelilah denga cara yang baik pula.

Artinya :
“Hendaklah kalian takut kepada Allah tentang binatang-binatang. Oleh sebab itu, tunggangilah dia dengan baik (Sopan) dan makanlah dengan baik.” (HR. Ahmad)
2) Jangan menyiksa binatang, baik dengan pukulan-pukulan yang tidak semestinya.
3) Jangan menjadikan yang bernyawa sebagai sasaran menembak / memanah
4) Jangan memisahkan anak dari induknya
c. Sikap terpuji terhadap lingkungan alam
d. Sikap-sikap terpuji terhadap makhluk gaib
Makhluk gaib adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT dan tidak tampak oleh panca indera manusia.
Malaikat adalah makhluk Allah yang gaib dan diciptakan dari cahaya (nur). Jin adalah mahluk Allah yang gaib dan diciptakan dari api. Syetan adalah makhluk Allah yang gaib dan diciptakan dari api.
Ada beberapa sikap terpuji kepada makhluk gaib adalah sebagai berikut :
1) Tidak menjadikan sebagai Tuhan
2) Gakin dan percaya akan keberadaannya
3) Tidak berteman dengan makhluk gaib (iblis dan syetan)
4) Tidak mengikuti jejak langkah syetan
2. Hikmah berperilaku baik terhadap lingkungan
a. Cinta terhadap lingkungan alam sekitar
b. Berlaku baik terhadap binatang
c. Mencintai tumbuh-tumbuhan





BAB 8
PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA UMAYYAH

A. Perkembangan Ajaran Islam
Umayyah adalah Mu’awiyah Ibn Abu Sufyan Ibn Hard Ibn Umayyah. Para khalifah yang pemimpin dinasti, Umayyah selama lebih kurang 90 tahun adalah sebagai berikut :
1. Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Mu’awiyah) yang memerintah pada tahun 41 – 64 H / 661 – 680 M.
2. Yazid I (60 – 64 H / 680 – 684 M)
3. Mu’awiyah II (64 – 65 H / 683 – 684 M)
4. Abdul Malik Bin Marwan (65 – 86 H / 685 – 705 M)
5. Walid bin Abdul Malik (86 – 96 H / 705 – 715 M)
6. Yazid II (126 H / 744 M)

B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Para khalifah dinasti Bani Umayyah banyak mencintai ilmu pengetahuan, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu sangat berarti.
Ilmu-ilmu yang berkembang pesat pada masa dinasti Bani Umayyah antara lain sbb :
1) Ilmu Qiraatul Qur’an adalah ilmu yang mempelajari tentang bacaan Al-Qur’an
2) Ilmu tafsir yaitu ilmu yang mempelajari makna dan maksud yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
3) Ilmu hadis yaitu ilmu yang mempelajari tentang sah tidaknya suatu hadis digunakan sebagai hujjah atau dalil, serta hubungannya dengan Al-Qur’an.
4) Ilmu tata bahasa, ialah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk bahasa, baik dari segi gramatika maupun segi pemaknaannya (segi balaghahnya)
5) Ilmu kimia, ilmu ini semula berasal dari orang-orang Yunani.
6) Ilmu seni arsitektur, yakni suatu ilmu yang mempelajari tentang keindahan suatu bangunan.
C. Perkembangan Kebudayaan
Kebudayaan yang mengalami perkembangan pada masa ini adalah sbb :
1) Seni Satra
Para seniman dan penyair terkenal pada waktu itu adalah sbb :
a. Nu’man bin Basyir Al-Anshari, wafat tahun 65 H
b. Ibn Mafragh Al-Hamri, wafat tahun 69 H
c. Miskin Addaramy, wafat tahun 90 H
d. Al-Akhtal, wafat tahun 95 H
e. Jarif, wafat tahun 111 H
f. Abul Aswad Adduali, wafat tahun 69 H
2) Seni Ukir
Salah satu bukti peninggalan seni ukir Al-Qur’an pada masa dinasti Umayyah ialah ukiran pada dinding Qushair Amrah (Istana mungil Amrah)
3) Seni Suara
Pada masa dinasti Umayyah telah berkembang seni suara, dan terpenting adalah seni baca Al-Qur’an, qasidah, music dan lagu-lagu lainnya dalam bentuk nasyid dan cinta kasih.
4) Seni Arsitektur (bangunan)
Corak arsitektur yang paling menonjol pada masa dinasti ini adalah seni pembangunan kota, sehingga banyak kota-kota yang dibangun dan memiliki nilai seni yang tinggi.

D. Manfaat yang dapat diambil dari sejarah perkembangan Islam pada masa Bani Umayyah
Manfaatnya antara lain sbb :
1. Menyebarkan dakwah Islam
Dakwah adalah mengajak kepada kebaikan dan menyeru meninggalkan keburukan, memang itulah yang dianjurkan Allah dalam Al-Qur’an.
  •  ••        
Artinya :
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah………”.(QS. Ali-Imran : 110)
2. Gigih dalam berjuang membela kebenaran dan keadilan
Mereka adalah para pejuang yang tidak mengharapkan imbalan apapun, kecuali hanya keridhaan Allah SWT.
3. Mencintai ilmu pengetahuan
Ilmu adalah cahaya bagi kehidupan, tanpa ilmu pengetahuan, kehidupan akan sebab Allah telah menjanjikan dalam firmannya :
              
Artinya :
Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadillah : 11)

E. Penghayatan terhadap manfaat sejarah perkembangan Islam pada massa Bani Umayyah
Kewajiban seorang siswa adalah belajar dengan tekun, ulet, dan rajin. Sebab tidak ada keberhasilan yang datang sendiri, dalam hal ini apa pun termasuk keberhasilan dalam belajar.





BAB 11
IMAN KEPADA MALAIKAT ALLAH

A. Pengertian Iman kepada Malaikat
Malaikat adalah mahluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari nur (cahaya). Malaikat itu ada, dan bersifat gaib. Beriman kepada malaikat, artinya meyakini dan membenarkan adanya malaikat sebagai makhluk yang diciptakan Allah SWT. Berbeda dengan manusia yang terdiri dari jasad dan ruh, malaikat adalah makhluk Allah yang terdiri dari semacam ruh, tidak memiliki jasad.
Malaikat didasarkan pada dalil-dalil naqli yang menunjukkan adanya makhluk yang bernama malaikat. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat : 98.
           
Artinya :
“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. (QS. Al-Baqarah : 98)

B. Asal Kejadian Malaikat
Malaikat adalah makhluk Allah yang terdiri dari semacam ruh, tidak memiliki jasad. Menjelaskan asal kejadian malaikat melalui sabdanya :

Artinya :
“Dari Aisyah Rodiyallahu’anha, sesungguhnya rasulullah saw bersabda : Malaikat diciptakan dari cahaya, bangsa jin diciptakan dari api yang bersih, dan manusia diciptakan sebagaimana yang dijelaskan kepadamu.” (H.R. Ahmad dan Nasa’i)

C. Ciri-ciri atau Sifat-sifat Malaikat
1. Malaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan dari nur (cahaya)
2. Malaikat selalu taat dan patuh kepada Allah, senantiasa melaksanakan segala perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak pernah menentang perintah Allah SWT.
3. Tidak berjenis laki-laki atau pun perempuan.
4. Tidak membutuhkan makan, minum, dan sarana fisik lainnya
5. Malaikat dapat berubah-rubah wujud dan menjelmakan dirinya dalam berbagai bentuk atas izin Allah, seperti menyerupai seorang laki-laki, hewan, dan lain sebagainya.
6. Malaikat suka bersujud kepada Allah
7. Malaikat tidak bersifat sombong atau takabur
8. Malaikat suka bertasbih dan memuji kepada Allah serta memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada dalam bumi.
9. Malaikat ikut berbahagia dan mendoakan orang yang mendapat lailatul qadar.
a. Asal kejadiannya
Malaikat diciptakan Allah dari nur (cahaya), sedangkan jin diciptakan dari nar (api). Sabda rasulullah :

Artinya :
“Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepadamu semua (dari tanah)” (HR. Muslim)

b. Sifatnya
• Malaikat
1. Makhluk yang selalu melaksanakan perintah Allah
2. Tidak berbuat maksiat
3. Selalu bertasbih kepada Allah, baik siang maupun malam
4. Memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman
5. Senantiasa membaca shalawat kepada para nabi dan rasul.

• Jin
1. Ada yang beriman dan ada yang kafir
2. Mereka memeluk Islam setelah mendengar bacaan Al-Qur’an
3. Mereka terdiri dari laki-laki, perempuan membutuhkan makan, minum, kawin, dan beranak.
4. Jin muslim bertabiat baik seperti layaknya orang Islam, sedangkan jin kafir banyak menyesatkan manusia.
• Iblis
1. Tidak ada satupun diantara mereka yang beriman kepada rasul
2. Makhluk yang selalu menyombongkan diri
3. Senantiasa berusaha untuk menjerumuskan manusia kejalan kejahatan
4. Menjadi musuh semua manusia khususnya orang yang beriman
5. Mereka adalah makhluk yang dipanjangkan umurnya sampai hari kiamat
6. Selalu membujuk manusia untuk melakukan perbuatan keji dan munkar

D. Fungsi dan Tugas Malaikat
a. Malaikat Jibril, disebut juga rasul qudus dan ruhul amin, bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul yaitu sejak nabi Adam as
b. Malaikat Mikail, bertugas mengatur hujan, angin, bintang-bintang dan mengatur pembagian rizeki
c. Malaikat Izrail bertugas mencabut nyawa
d. Malaikat Isrofil bertugas meniup sangkakala atau terompet pada saat terjadinya kiamat
e. Malaikat munkar dan nakir keduanya bertugas menanya manusia yang baru masuk ke dalam kubur.
f. Malaikat raqib dan atid keduanya bertugas mencatat amal perbuatan manusia
g. Malaikat Malik bertugas menjaga neraka
h. Malaikat Ridwan bertugas menjaga surge (jannah)
E. Kedudukan Manusia dan Malaikat
Manusia diciptakan Allah SWT dengan bentuk yang indah dan sempurna, manusia sebagai khalifah dimuka bumi mempunyai fungsi dan tugas-tugas untuk memakmurkan bumi dengan segala isinya.

F. Fungsi Iman kepada Malaikat
1. Menumbuhkan keimanan yang kuat
2. Membentuk pribadi-pribadi muslim yang jujur dan disiplin
3. Membentuk sikap rendah hati dan istiqomah (kukuh hati)
Hakikat kehidupan itu adalah untuk beramal saleh, yang kelak akan dipertanyakan oleh Allah SWT.
Firmannya :
            
Artinya :
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mulk : 2)

No comments: