Monday, February 9, 2009

Kepribadian

SOSIALISASI

A. Faktor- Faktor Yang Membentuk Kepribadian

Sosialisasi dimulai sejak individu masih bayi yang dibimbing oleh orangtuanya, hingga kelak ia siap menyesuaikan diri dalam kelompoknya, yaitu masyarakat. Beberapa definisi sosialisasi menurut para ahli antara lain sebagai berikut :
1. Karel J. Veeger
2. Charlotte Buehler
3. Soerjono Soekanto
4. Bruce J. Cohen
5. Robert M. Z. Lawang
Sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan social.

Dari pengertian para ahli dapat disimpulkan bahwa pengertian dari sosialisasi adalah suatu proses ketika anggota masyarakat aygn baru memepelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat tempat ia emnjadi anggota kelompoknya.
Menurut Bruce J. Cohen, sosialisasi memiliki tujuan pokok sebagai berikut :
1. Individu harus diberi keterampilan yang dibutuhkan bagi hidupnya kelak di masyarakat
2. Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya untuk membaca, menulis dan berbicara.
3. Pengendalian fungsi-fungsi organik harus dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
4. Setiap individu harus dibiasakan dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok pada masyarakat.


Sementara itu, menurut Robert M. Z. Lawang, proses sosialisasi terbagi dalam dua macam, yaitu sebagai berikut.
1. Sosialisasi Primer
2. Sosialisasi Sekunder
Sosialisasi sekunder merupakan proses sosialisasi yang terjadi setelah sosialisasi primer dan berlangsung sampai akhir hayatnya. Jika dalam sosialisasi primer yang berperan adalah keluarga, dalam sosialisasi sekunder yang berperan dalam mendidik adalah orang lain, seperti orang dan adat istiadat.
Media sosialisasi yang penting yaitu keluarga, kelompok sebaya, sekolah dan media massa.
Dalam sosialisasi pun dikenal istilah Enkulturasi. Menurut Koentjaraningrat, enkulturasi merupakan pembudayaan. Dalam enkulturasi, seseorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pemikiran dan sikapnnya dengan adat istiadat, system social, nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dan budayanya.
Enkulturasi berlangsung sesuai dengan makna budaya, yaitu spontan dan bebas. Seluruh kontrol terhadap budaya dapat dilakukan dengan protes, kritik, pujian atau bahkan dengan penghadiaan. Enkulturasi akan mencapai hasil yang maksimal apabila berjalan dengan lancer, luwes dan babas.
Menurut F. G. Robin , terdapat lima factor yang menjadi dasar perkembangan kepribadian tersebut, yaitu sebagai berikut :
1. Sifat Dasar
2. Lingkungan Pranatal
3. Perbedaan Perorangan
4. Lingkungan
Lingkungan yaitu kondisi disekitar individu yang mempengaruhi proses sosialisasinya.
Lingkungan dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Lingkungan alam, yaitu keadaan tanah, iklim, flora, dan fauna di sekitar individu.
b. Kebudayaan, yaitu cara hidup masyarakat tempat individu itu berada. Kebudayaan mempunyai aspek material (Rumah, perlengkapan hidup dan hasil teknologi lainnya) dan aspek nonmaterial (nilai-nilai dan pandangan hidup).
c. Manusia lain dan masyarakat di sekitar individu, pengaruh manusia lain dan masyarakat dapat member stimulasi atau membatasi proses sosialisasi.
5. Motivasi
Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dorongan dan kebutuhan. Dorongan adalah ketidakseimbangan dalam diri individu karena pengaruh yang dating dari dalam mapun luar individu, yang mempengaruhi dan mengerahkan perbuatan individu dalam rangka mencapai keseimbangan kembali.
Kebutuhan manusia yang penting menurut Louis Raths adalah :
a. Kebutuhan untuk bersama orang lain;
b. Kebutuhan untuk berprestasi;
c. Kebutuhan afeksi
d. Kebutuhan bebas dari rasa takut;
e. Kebutuhan bebas dari rasa bersalah;
f. Kebutuhan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan mengenai persoalan yang menyangkut hidupnya;
g. Kebutuhan akan kepastian ekonomi;
h. Kebutuhan akan terintegrasikannya sikap, keyakinan, dan nilai-nilai

B. Pembentukan Kepribadian sebagai hasil Sosialisasi.

Setiap individu dalam masyarakat adalah pribadi yang unik, tetapi karena mereka memperoleh tipe-tipe sosialisasi yang sangat mirip, baik yang berasal dari rumah maupun sekolah, akan banyak ciri kepribadian yang hamper serupa.
Kepribadian merupakan gabungan utuh dari sikap, sifat, emosi, dan nilai yang mempengaruhi seseorang agar berbuat sesuai dengan tata cara yng diharapkan.

Ada empat factor penting dalam menentukan kepribadian, yaitu sebagai berikut :
1. Kebudayaan

2. Warisan Biologis
Sifat-sifat biologis manusia yang bersifat warisan, seperti perbedaan laki-laki dan perempuan memberikan andil besar pada tahap pertama perkembangan kepribadian seseorang. Hal itu menentukan batas-batas yang tidak mungkin dilampaui oleh setiap individu. Batas-batas tersebut berpengaruh pada perkembangan sosialnya. Ada dua macam keragaman yang terdapat pada manusia, yaitu perbedaan yang nyata, misalnya pria dan wanita, serta perbedaan yang kontinu, misalnya tinggi dan berat badan. Hubungan yang terjadi antara keragaman dan pembentukan kepribadian dapat dilihat sebagai berikut.
a. Kecantikan atau ketampanan seseorang akan menempatkan seorang individu lebih beruntung daripada mereka yang kurang memperoleh kecantikan atau ketampanan.
b. Pada kebudayaan tertentu, terlihat bahwa cirri biologis tertentu yang lebih diinginkan dibandingkan cirri-ciri yang lainny. Misalnya pria dianggap lebih diutamakan daripada wanita serta mereka yang berkulit putih lebih diutamakan daripada yang berkulit hitam.

3. Pengalaman Kelompok Pribadi
Sebagian besar perkembangan kepribadian manusia merupakan produk pengalaman pribadi yang diperoleh dalam suatu kelompok. Nilai, norma dan kepercayaan yang ada dalam suatu kelompok juga membantu terbentuknya suatu kepribadian. Tanpa adanya pengalaman kelompok ini, kepribadian tidak akan berkembang. Meskipun para individu menjadi anggota kelompok yang sama namun pengalaman mereka dalam kelompok tersebut tidaklah sama. Perbedaan pengalaman inilah yang selanjutnya mempengaruhi dalam batas-batas tertentu variasi kepribadian.


4. Lingkungan
Lingkungan fisik mempengaruhi terhadap kepribadian seseorang karena dalam banyak hal lingkungan mempengaruhi tingkat kebutuhan yang harus dicapai seseorang jika ia ingin memiliki kebutuhan pokok untuk mempertahankan hidup.
Lingkungan geografis menimbulkan pengalaman yang berbeda bagi setiap individu dalam menyesuaikan diri dan membentuk kepribadian. Mereka yang tinggal dan berkembang di dalam perkotaan akan cenderung lebih berani menonjolkan dirinya dibandingkan mereka yang tinggal dan berkembang di daerah pedesaan. Individu yang berkembang dan hidup di lingkungan perkotaan dengan sifat individualistisnya akan berbeda perkembangannya dengan individu yang hidup danberkembang di daerah pedesaan yang mengutamakan kebersamaan dan gotong-royong.

No comments: