Monday, February 9, 2009

KONSEP DASAR KESEHATAN JIWA

BAB 1
KONSEP DASAR KESEHATAN JIWA

A. Pengertian Kesehatan Jiwa
1. A mind that grows and adjust, is in control and is free of stress. (Kondisi jiwa seseorang yang terus tumbuh berkembang dan mempertahankan keselarasan, dalam pengendalian diri serta terbebas dari stress yang serius). (Rosdahl, Textbook of Basic Nursing, 1999: 58)
2. Sikap yang positif terhadap diri sendiri, tumbuh, berkembang, memiliki aktualisasi diri, keutuhan, kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan dalam beradaptasi dengan lingkungan. (Stuart & Laraia, Principle and Practice Psychiatric Nursing, 1998) (Yahoda)
3. Fisik, intelektual, emosional secara optimal dari seseorang dan perkembangan ini berjalan selaras dengan orang lain. (UU Kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1996)

B. Kriteria Sehat Jiwa Menurut Yahoda
1. Sikap positif terhadap diri sendiri
2. Tumbuh kembang dan aktualisasi diri
3. Integrasi (keseimbangan/keutuhan)
4. Otonomi
5. Persefsi realitas
6. Environmental mastery (Kecakapan dalam adaptasi dengan lingkungan)

C. Rentang Sehat Jiwa
1. Dinamis bukan titik statis
2. Rentang dimulai dari sehat optimal mati
3. Ada tahap-tahap
4. Adanya variasi tiap individu
5. Menggambarkan kemampuan adaptasi
6. Berfungsi secara efektif sehat


D. Pengertian Keperawatan Kesehatan Jiwa
Keperawatan adalah ilmu dan kiat yang merupakan perpaduan dan integrasi dari area teori-teori yang berbeda: ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi dan sosiologi, ilmu-ilmu dasar seperti Anatomi, fisiologi, mikrobiologi, dan biokimia serta ilmu media tentang diagnose dan pengobatan terhadap penyakit.
Menurut Stuart Sundeen
Keperawatan mental adalah proses interpersonal dalam meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang berpengaruh pada fungsi integrasi.

E. Prinsip-Prinsip Keperawatan Kesehatan Jiwa
1. Peran dan fungsi keperawatan jiwa
2. Hubungan yang terapeutik antara perawat dengan klien
3. Konsep model keperawatan jiwa
4. Model stress dan adaptasi dalam keperawatan jiwa
5. Keadaan-keadaan biologis dalam keperawatan jiwa
6. Keadaan-keadaan psikologis dalam keperawatan jiwa
7. Keadaan-keadaan sosial budaya dalam keperawatan jiwa
8. Keadaan-keadaan lingkungan dalam keperawatan jiwa
9. Keadaan-keadaan legal etika dalam keperawatan jiwa
10. Penatalaksanaan proses keperawatan: dengan standar-standar keperawatan
11. Aktualisasi peran keperawatan jiwa: melalui penampilan standar-standar profesional

BAB 2
TREND CURRENT ISSUE DAN KECENDERUNGAN
DALAM KEPERAWATAN JIWA

Trend atau current issue dalam keperawatan jiwa adalah masalah-masalah yang sedang hangat dibicarakan dan dianggap penting. Masalah-masalah tersebut dapat dianggap ancaman atau tantangan yang akan berdampak besar pada keperawatan jiwa baik dalam tatanan regional maupun global. Ada beberapa trend penting yang menjadi perhatian dalam Keperawatan Jiwa di antaranya adalah masalah berikut :
- Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi
- Trend peningkatan masalah kesehatan jiwa
- Kecenderungan dalam penyebab gangguan jiwa
- Kecenderungan situasi di era globalisasi
- Globalisasi dan perubahan orientasi sehat
- Kecenderungan penyakit jiwa
- Meningkatnya post traumatik sindrom
- Meningkatnya masalah psikososial
- Trend bunuh diri pada anak
- Masalah AIDS dan Napza
- Pattern of parenting
- Presfektif life span history
- Kekerasan
- Masalah ekonomi dan kemiskinan
a. Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi
Dahulu bila berbicara masalah kesehatan jiwa biasanya dimulai pada saat onset terjadinya sampai klien mengalami gejala-gejala.

b. Trend peningkatan masalah kesehatan jiwa
Masalah jiwa akan meningkat di era globalisasi.



c. Kecenderungan Faktor Penyebab Gangguan Jiwa
Terjadinya perang, konflik, dan lilitan krisis ekonomi berkepanjangan merupakan salah satu pemicu yang memunculkan stress, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan jiwa pada manusia.

d. Kecenderungan situasi di Era Globalisasi
Era globalisasi adalah suatu era dimana tidak ada lagi pembatas antar Negara-negara khususnya di bidang informasi, ekonomi, dan politik.

e. Globalisasi dan Perubahan Orientasi Sehat
Globalisasi atau era pasar bebas disadari atau tidak telah berdampak pada pelayanan kesehatan.

f. Kecenderungan Penyakit
1. Meningkatnya post traumatic syndrome disorder
2. Meningkatnya masalah psikososial
3. Trend bunuh diri pada anak dan remaja
4. Masalah Napza dan HIV/AIDS

g. Trend dalam pelayanan keperawatan mental psikiatri
1. Sekilas tentang Sejarah
2. Trend pelayanan keperawatan mental psikiatri di Era Globalisasi

h. Issue Seputar Pelayanan Keperawatan Mental Psikiatri
1. Pelayanan keperawatan mental psikiatri yang ada kurang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah hal ini karena masih kurangnya hasil-hasil riset keperawatan tentang keperawatan jiwa klinik.
2. Perawat psikiatri yang ada kurang siap menghadapi pasar bebas karena pendidikan yang rendah dan belum adanya licence untuk praktek yang bias diakui secara internasional.
3. Pembedaan peran perawat jiwa berdasarkan pendidikan dan pengalaman seringkali tidak jelas dalam “Position Description”, job responsibility dan system reward di dalam pelayanan keperawatan dimana mereka bekerja (Stuart Sudeen, 1998).
4. Menjadi perawat psikiatri bukanlah pilihan bagi peserta didik (mahasiswa keperawatan)

i. Bagaimana profesi keperawatan mental psikiatri di Indonesia menghadapinya?
a. Sehubungan dengan trend masalah kesehatan utama dan pelayanan kesehatan jiwa secara global, maka fokus pelayanan keperawatan jiwa sudah saatnya berbasis pada komunitas (community based care) yang member penekanan pada preventif dan promotif.
b. Sehubungan dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat, perlu peningkatan dalam bidang ilmu pengetahuan dengan cara mengembangkan institusi pendidikan yang telah ada dan mengadakan program spesialisasi keperawatan jiwa.
c. Dalam rangka menjaga mutu pelayanan yang diberikan dan untuk melindungi konsumen, sudah saatnya ada “licence” bagi perawat yang bekerja di pelayanan.
d. Sehubungan dengan adanya perbedaan latar belakang budaya kita dengan narasumber, yang dalam hal ini kita masih mengacu pada Negara-negara Barat terutama Amerika, maka perlu untuk menyaring konsep-konsep keperawatan mental psikiatri yang didapatkan dari luar.






BAB 3
KONSEP STRESS DAN ADAPTASI

A. Konsep Dasar Stress
1. Pengertian stress
Stress merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin “stingere” yang berarti “keras” (stricus). Istilah ini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan penelaahan yang berlanjut dari waktu ke waktu dari straise, stresce, dan stress.
2. Model stress berdasarkan stimulus
3. Model stress berdasarkan respon
4. Model stress berdasarkan transaksional

B. Psikofisiologi Stress
Menurut Selye (1982) stress merupakan tanggapan non spesifik terhadap setiap tuntutan yang diberikan pada suatu organisme dan digambarkan sebagai GAS.
1. Penyebab stress dan stressor psikososial
Jenis stressor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Perkawinan
b. Problem orangtua
c. Hubungan interpersonal (Antarpribadi)
d. Pekerjaan
e. Lingkungan hidup
f. Keuangan
g. Hokum
h. Perkembangan
i. Penyakit fisik atau cidera
j. Faktor keluarga
k. Lain-lain



2. Tahapan stress
a. Stress tingkat I
b. Stress tingkat II
c. Stress tingkat III
d. Stress tingkat IV
e. Stress tingkat V
f. Stress tingkat VI



BAB 4
FAKTOR PENYEBAB DAN PROSES TERJADINYA
GANGGUAN JIWA

A. Skizofrenia sebagai bentuk gangguan jiwa
Skizofrenia merupakan bahasan yang menarik perhatian pada konferensi tahunan The American Psychiatric Association/APA di Miami, Florida, Amerika Serikat, Mei 1995 lalu.

B. Faktor Penyebab Skizofrenia
Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir antara lain :
1. Faktor genetik
2. Virus
3. Auto antibody
4. Malnutrisi

C. Penyebab Umum Gangguan Jiwa
Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh factor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :
1. Faktor-faktor somatik (somatogenik) atau organobiologis
2. Faktor –faktor psikologik (psikogenik) atau psikoedukatif
3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik) atau sosiokultural
- Faktor keturunan
- Faktor konstitusi
- Cacat kongenital
- Perkembangan psikologik yang salah
- Deprivasi dini
- Pola keluarga yang petagonik
- Masa remaja
- Faktor sosiologik dalam perkembangan yang salah
- Genetika
- Neurobiological
- Biokimiawi tubuh
- Neurobehavioral
- Stress
- Penyalahgunaan obat-obatan
- Psikodinamik
- Sebab biologik
- Sebab psikologik
- Sebab sosio kultural

D. Proses Perjalanan Penyakit
Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain :
1) Fase Promodal;
- Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun
- Gangguan dapat berupa self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi.
2) Fase Residual;
- Klien mengalami minimal 2 gejala: gangguan afek dan gangguan peran, serangan biasanya berulang.




BAB 5
TANDA GEJALA GANGGUAN JIWA

A. Gangguan Kognisi
Kognisi adalah suatu proses mental yang dengannya seseorang individu menyadari dan mempertahankan hubungan dengan lingkungannya baik lingkungan dalam maupun lingkungan luarnya (fungsi mengenal).
Proses kognisi meliputi :
- Sensasi dan persepsi
- Perhatian
- Ingatan
- Asosiasi
- Pertimbangan
- Pikiran
- Kesadaran

B. Gangguan Perhatian
Perhatian adalah pemusatan dan konsentrasi energi menilai dalam suatu proses kognitif yang timbul dari luar akibat suatu rangsang.

C. Gangguan Ingatan
Ingatan (kenangan, memori) adalah kesanggupan untuk mencatat, menyimpan, memproduksi isi dan tanda-tanda kesadaran.

D. Gangguan Asosiasi
Asosiasi adalah proses mental yang dengannya suatu perasaan, kesan atau gambaran ingatan cenderung untuk menimbulkan kesan atau gambaran ingatan respon/konsep lain, yang memang sebelumnya berkaitan dengannya.

E. Gangguan Pertimbangan
Pertimbangan (penilaian) adalah suatu proses mental untuk membandingkan/ menilai beberapa pilihan dalam suatu kerangka kerja dengan memberikan nilai-nilai untuk memutuskan maksud dan tujuan dari suatu aktivitas.
F. Gangguan Pikiran
Pikiran umum adalah meletakkan hubungan antara berbagai bagian dari pengetahuan seseorang.

G. Gangguan Kesadaran
Kesadaran adalah kemampuan seseorang untuk mengadakan hubungan dengan lingkungan serta dirinya melalui pancaindera dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungan serta dirinya sendiri.

H. Gangguan Kemauan
Kemauan adalah suatu proses dimana keinginan-keinginan dipertimbangkan untuk kemudian diputuskan untuk dilaksanakan sampai mencapai tujuan.

I. Gangguan Emosi dan Afek
Emosi aalah suatu pengalaman yang sadar dan memberikan pengaruh pada aktivitas tubuh dan menghasilkan sensasi organis dan kinetis. Afek adalah kehidupan perasaan atau nada perasaan emosional seseorang, menyenangkan atau tidak, yang menyertai suatu pikiran, biasa berlangsung lama dan jarang disertai komponen fisiologik.

J. Gangguan Psikomotor
Psikomotor adalah gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa.

BAB 6
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GANGGUAN
ALAM PERASAAN

A. Pengertian Mood
Perasaan suasana hati yang mewarnai seluruh kehidupan psikis seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam waktu yang lama. Misalnya seseorang yang sedih, malas untuk berkomunikasi, makan, bekerja, dan sebagainya.

B. Rentang Respon Emosi

Emotional Responsive Reaksi kehilangan yang wajar Supresi Supresi reaksi kehilangan yang memanjang Mania atau depresi

Rentang respon emosi bergerak dari emotional responsive sampai mania/ depresi dengan cirri-ciri sebagai berikut :
• Responsive
• Reaksi kehilangan yang wajar
• Supresi
• Depresi

C. Tipe Gangguan Alam Perasaan
Secara garis besar tipe gangguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: mood episode, depressive disorder, dan bipolar disorders.

D. Faktor Predisposisi Gangguan Mood
Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. Teori ini menunjukkan rentang faktor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi.
1. Genetic factor
2. Aggression turned inward theory
3. Object loss theory
4. Personality organization theory
5. Cognitive model
6. Learned helplessness model
7. Behavioral model
8. Biological model
9. Masalah dalam bounding and attachment dan genetic

E. Gejala Gangguan Mood Depresi
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan (afektif, mood) yang ditandai kemurungan, kesedihan, kelesuan, kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat, dan merasa tidak berdaya, perasaan bersalah atau berdosa, tidak berguna dan putus asa. Gejala lain yang sering menyertai gangguan mood adalah:
- Sulit konsentrasi dan daya ingat menurun
- Nafsu makan dan berat badan menurun
- Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebihan) disertai mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, misal mimpi orang yang sudah meninggal.
- Agitasi atau retardasi motorik (gelisah atau perlambatan gerakan motorik)
- Hilang perasaan senang, semangat, dan minat, meninggalkan hobi.
- Kreativitas dan produktivitas menurun
- Gangguan seksual (libido menurun)
- Pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri




BAB 7
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
POST PARTUM BLUES

A. Pengertian
Post Partum Blues merupakan Depresi yang terjadi setelah melahirkan (Post-Partum).

B. Tanda dan Gejala
Klien yang menderita post partum blues akan menunjukkan kesedihan mendalam, sering menangis, insomnia (susah tidur) atau tidur tidak nyenyak, mudah tersinggung, kehilangan minat terhadap bayi, kurang berminat terhadap kegiatan rutin sehari. Gejalanya adalah gelisah, sedih, dan ingin menangis tanpa sebab yang jelas.

C. Faktor Penyebab
- Masalah dalam pernikahan
- Kemiskinan atau tidak adanya dukungan sosial dari keluarga
- Adanya stress atau kejadian buruk selama masa kehamilan seperti kematian orang tua, atau orang terdekat atau perpindahan ke tempat baru, atau gangguan alam perasaan.
- Pengalaman melahirkan yang bersifat traumatis
Kelainan fisik yang dapat menyebabkan depresi :
1. Efek samping obat-obatan
2. Infeksi
3. Kelainan hormonal
4. Penyakit jaringan ikat
5. Kelainan neurologis
6. Kelainan gizi
7. Kanker



BAB 8
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
EKSPRESI MARAH

A. KonsepMarah
1. Pengertian
Kemarahan (anger) adalah suatu emosi yang terentang mulai dari iritabilitas sampai agresivitas yang dialami oleh semua orang. Biasanya, kemarahan adalah reaksi terhadap stimulus yang tidak menyenangkan atau mengancam (Widjaya Kusuma, 1992:423).
Kemarahan menurut Stuart dan Sunden (1987 : 363) adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Budi Ana Keliat, 1996:5)

2. Rentang Respon Kemarahan
Respon kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif maladaptif (lihat gambar berikut).

Respon adaptif Respons maladaptif

Pernyataan
(assertion) Frustasi Pasif Agresif Ngamuk

3. Proses Kemarahan
Stress, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Respon terhadap marah dapat diungkapkan melalui 3 cara yaitu :
1) Mengungkapkan secara verbal
2) Menekan; dan
3) Menantang



B. Peran Perawat pada Klien Marah
1. Pengkajian
2. Diagnose keperawatan
3. Intervensi dan implementasi keperawatan
4. Evaluasi
5. Fungsi positif marah
6. Respon perawat terhadap kemarahan klien

BAB 9
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
PERILAKU MENCEDERAI DIRI

A. Konsep Bunuh Diri
1. Pengertian bunuh diri
Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang dengan sengaja yang tahu akan akibatnya yang dapat mengakhiri hidupnya sendiri dalam waktu singkat.
2. Trend bunuh diri pada anak dan remaja
Bunuh diri sebagai masalah dunia
Bunuh diri merupakan masalah psikologis dunia yang sangat mengancam.
3. Faktor yang berkontribusi pada anak dan remaja
4. Stressor pencetus secara umum
5. Faktor yang mempengaruhi bunuh diri
- Faktor mood dan biokimiawi otak
- Faktor riwayat gangguan mental
- Faktor meniru, imitasi, dan pembelajaran
- Faktor isolasi sosial dan human relations
- Faktor hilangnya perasaan aman dan ancaman kebutuhan dasar
- Faktor religiusitas
6. Rentang respon
7. Jenis bunuh diri
Ada tiga jenis bunuh diri yang bisa diidentifikasi, yakni bunuh diri anomik, altruistik, dan egoistik.
8. Terapi lingkungan pada kondisi khusus bunuh diri (Suicide)
Ruangan aman dan nyaman, terhindar dari alat yang dapat digunakan untuk mencederai diri sendiri atau orang lain, alat-alat medis, obat-obatan dan jenis cairan medis di lemari dalam keadaan terkunci.


B. Peran Perawat dalam Perilaku Mencederai Diri
 Pengkajian
 Diagnoga keperawatan
 Intervensi dan rasional
 Intervensi klien bunuh diri



BAB 10
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
PERILAKU KEKERASAN

A. Konsep Perilaku Kekerasan
1. Pengertian perilaku kekerasan
Suatu keadaan emosi yang merupakan campuran perasaan frustasi dan benci atau marah.

2. Rentang respon marah
Adaptif Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk/PK
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol.

3. Faktor predisposisi
- Faktor psikologis
- Faktor sosial budaya
- Faktor biologis
- Faktor presipitasi

B. Peran Perawat dalam Perilaku Kekerasan
Asuhan keperawatan
Pengkajian
• Kesadaran diri
Perawat harus menyadari bahwa stress yang dihadapinya dapat mempengaruhi komunikasinya dengan klien.


• Pendidikan klien
Pendidikan yang diberikan mengenai cara berkomunikasi dan cara mengekspresikan marah yang tepat.
• Latihan asertif
Kemampuan dasar interpersonal yang harus dimiliki perawat :
- Berkomunikasi secara langsung dengan setiap orang
- Mengatakan ‘tidak’ untuk sesuatu yang tidak beralasan
- Sanggup melakukan complain
- Mengekspresikan penghargaan dengan tepat
• Komunikasi
Strategi berkomunikasi dengan klien perilaku agresif :
- Bersikap tenang
- Bicara lembut
- Bicara tidak dengan cara menghakimi
- Bicara netral dan dengan cara yang konkrit
- Tunjukkan respek pada klien
- Hindari intensitas kontak mata langsung
- Demonstrasikan cara mengontrol situasi tanpa kesan berlebihan
- Fasilitasi pembicaraan klien
- Dengarkan klien
- Jangan terburu-buru yang tidak dapat perawat tepati
• Perubahan lingkungan
Unit perawatan sebaiknya menyediakan berbagai aktivitas.
• Tindakan perilaku
Pada dasarnya membuat kontrak dengan klien mengenai perilaku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, konsekuensi yang didapat bila kontrak dilanggar, dan apa saja kontribusi perawat selama perawatan.
• Psikofarmakologi
Antianxiety dan sedative-hipnotics. Obat-obatan ini dapat mengendalikan agitasi yang akut.


• Managemen krisis
Bila pada waktu intervensi awal tidak berhasil, maka diperlukan intervensi yang lebih aktif.
• Seclusion
- Pengkajian fisik
- Pengekangan dengan sprei basah atau dingin
- Restrains
- Isolasi
- Kontraindikasi
- Evaluasi

BAB 11
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
PENYALAHGUNAAN NAPZA

A. Rentang Respon Gangguan Penggunaan Zat Adiktif
Rentang respon gangguan penggunaan NAPZA ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai yang berat.
Respon adaptif Respon maladaptif

Eksperimental Rekreasional Situasional Penyalahgunaan Ketergantungan

B. Pengenalan Zat Adiktif
Zat adiktif : suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat menimbulkan kecanduan atau ketergantungan.

C. Beberapa Faktor Pendukung Terjadinya Gangguan Penggunaan NAPZA
1. Faktor biologis
- Genetik (tendensi keturunan)
- Metabolik
- Infeksi pada organ otak
2. Faktor psikologis
- Tipe kepribadian
- Harga diri yang rendah
- Disfungsi keluarga
- Individu yang mempunyai perasaan tidak aman
- Cara pemecahan masalah individu yang menyimpang
- Individu yang mengalami krisis identitas dan kecenderungan untuk mempraktikkan homoseksual, krisis identitas.
- Rasa bermusuhan dengan keluarga atau dengan orantua.
3. Faktor sosial Cultural
- Masyarakat yang ambivalensi tentang penggunaan zat seperti tembakau, nikotin, ganja, dan alkohol.
- Norma kebudayaan pada suku bangsa tertentu, menggunakan halusinogen atau alkohol untuk upacara adat dan keagamaan.
- Lingkungan tempat tinggal, sekolah, teman sebaya banyak mengedarkan dan menggunakan zat adiktif.
- Persefsi dan penerimaan masyarakat terhadap penggunaan zat adiktif
- Remaja yang lari dari rumah
- Penyimpangan seksual pada usia dini
- Perilaku tindak kriminal pada usia dini, misalnya mencuri, merampok dalam komunitas.
- Kehidupan beragama yang kurang


BAB 12
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
KEHILANGAN DAN BERDUKA (LOSS AND GRIEF)

A. Definisi
Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan.

B. Proses Kehilangan
1. Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu memberi makna positif – melakukan kompensasi dengan kegiatan positif – perbaikan (beradaptasi dan merasa nyaman)
2. Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu memberi makna – merasa tidak berdaya – marah dan berlaku agresi – diekpresikan ke dalam diri – muncul gejala sakit fisik.
3. Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu memberi makna – merasa tidak berdaya – marah dan berlaku agresi – diekspresikan ke luar diri individu – kompensasi dengan perilaku konstruktif – perbaikan (beradaptasi dan merasa nyaman)
4. Stressor internal dan eksternal – gangguan dan kehilangan – individu memberi makna - merasa tidak brdaya – marah dan berlaku agresi diekspresikan ke luar diri individu – kompensasi dengan perilaku destruktif – merasa bersalah – ketidakberdayaan.

C. Fase-Fase Kehilangan
1. Fase peningkatan (denial)
2. Fase marah (anger)
3. Fase tawar menawar (bargaining)
4. Fase depresi (depression)
5. Fase penerimaan (acceptance)


BAB 13
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
MASALAH PSIKOSEKSUAL

A. Pengertian Psikoseksual
Seksualitas dalam arti yang luas ialah semua aspek badaniah. Psikologik dan kebudayaan yang berhubungan langsung dengan seks dan hubungan seks manusia.
Kita membedakan beberapa pengertian yang berkaitan dengan psikoseksual yang meliputi :
1) Sexual identity (identitas kelamin)
2) Gender identity (identitas jenis kelamin)
3) Gender role behavior (perilaku peranan jenis kelamin)

B. Teori Psikoseksual
1) Menurut teori Libido Freud
2) Teori interpersonal
3) Teori biologis
4) Teori psikoanalitik

C. Seksualitas Normal dan Penyesuaian Seks yang Sehat
Normal dalam hal ini diartikan sehat atau tidak patologik dalam hal fungsi keseluruhan.

D. Tingkatan Respon Faaliyah Seksual
1) Tingkat I (perangsangan)
2) Tingkat 2 (dataran)
3) Tingkat 3 (orgasme)
4) Tingkat 4 (resolusi)

E. Organ Seksualitas
Klitoris merupakan organ seksualitas utama pada wanita di samping vagina, labia, putting susu dan mulut.


F. Dorongan Seksual dan Transmutasi Seksual
Dorongan seksual, seperti dorongan lain pada manusia, merupakan kejadian yang normal dan netral.

G. Disfungsi Seksual
Disfungsi seksual adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami suatu perubahan dalam fungsi seksual yang digambarkan sebagai ketidakpuasan, merasa tidak dihargai, tidak adekuat.

H. Deviasi Seksual dan Seksual Abnormal
Deviasi seksual adalah gangguan arah tujuan seksual.

I. Faktor Predisposisi Penyimpangan Seksual
1. Faktor biologis
2. Faktor psikososial
3. Pandangan psikoanalitis
Disini kita melihat fase-fase psikoseksual yang pasti dilalui setiap individu sesuai dengan tahap perkembangannya. Fase-fase tersebut adalah :
a. Fase oral/mulut (0-18 bulan)
b. Fase anal (1 ½ - 3 tahun)
c. Fase uretral
d. Fase phallus (3-5 tahun)
e. Fase latensi (5/6 tahun 11/13 tahun)
f. Fase genital (11/13 tahun – 18 tahun)
4. Pandangan perilaku
Perspektif ini memandang perilaku seksual sebagai suatu respon yang dapat diukur dengan komponen fisiologis maupun psikologis terhadap stimulus yang dipelajari atau kejadian yang mendukung.

J. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi spesifik meliputi :
1. Penyakit fisik dan emosional
2. Efek samping dari pengobatan
3. Kecelakaan atau pembedahan
4. Perubahan karena proses penuaan
BAB 14
TERAPI MODALITAS

I. TERAPI KOGNISI
A. Konsep Gangguan Kognisi
Secara garis besar gejala gangguan jiwa dikelompokkan menjadi empat kelompok besar.
Gangguan Kognisi adalah adanya masalah dalam proses mental yang dengannya seseorang individu menyadari dan mempertahankan hubungan dengan lingkungannya baik lingkungan dalam maupun lingkungan luarnya (fungsi mengenal).

1. Pengertian Cognitive Behavioral Therapy
Cognitive behavioral therapy : Apikasi dari berbagai variasi teori belajar dalam kehidupan. Tujuannya adalah untuk menolong seseorang keluar dari kesulitannya dalam berbagai bidang kehidupan dan pengalaman.

B. Peran Perawat Jiwa dalam Kognitif Terapi
Secara umum kognitif terapi meliputi beberapa teknik dengan tujuan sebagai berikut :
- Meningkatkan aktivitas yang diharapkan (increasing activity)
- Menurunkan perilaku yang tidak dikehendaki (reducing unwanted behavior)
- Meningkatkan rekreasi (increasing pleasure)
- Meningkatkan dan memberi kesempatan dalam kemampuan sosial (enchancing social skill)
1. Teknik restrukturisasi kognisi (Rectucturing Cognitive)
Perawat berupaya untuk memfasilitasi klien dalam melakukan pengamatan terhadap pemikiran dan perasaan yang muncul.
2. Teknik penemuan fakta-fakta (Questioning the evidence)
3. Teknik penemuan alternatif (Examing Alternative)
Banyak klien melihat bahwa masalah terasa sangat berat karena tidak adanya alternative pemecahan lagi.

4. Dekatastropik (Decatastrophizing)
Teknik dekatastropik dikenal juga dengan teknik bila dan apa (the what-if then).
5. Reframing
Reframing adalah strategi dalam berubah persepsi klien terhadap situasi atau perilaku.
6. Thought Stopping
Kesalahan berpikir seringkali menimbulkan dampak seperti bola salju bagi klien.
7. Learning New Behavior with Modeling
Modeling adalah strategi untuk merubah perilaku baru dalam meningkatkan kemampuan dan mengurangi perilaku yang tidak dapat diterima.
8. Membentuk pola (Shaping)
Membentuk pola perilaku baru oleh perilaku yang diberikan reinforcement.
9. Token Economy
Token economy adalah bentuk reinforcement positif yang sering digunakan pada kelompok anak-anak atau klien yang mengalami masalah psikiatrik.
10. Role Play
Role play memungkinkan klien untuk belajar menganalisa perilaku salahnya melalui kegiatan sandiwara yang bisa dievaluasi oleh klien dengan memanfaatkan alur cerita dan perilaku orang lain.
11. Social Skill Trining
Teknik yang didasari oleh sebuah keyakinan bahwa keterampilan apapun diperoleh sebagai hasil belajar. Beberapa prinsip untuk memperoleh baru bagi klien adalah :
- Bimbingan
- Demonstrasi
- Praktik
- Feedback
12. Aversion Therapy
Aversion therapy bertujuan untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk klien dengan cara mengaversikan kegiatan buruk tersebut dengan sesuatu yang tidak disukai.

13. Contingency Contracting
Contingency contracting berfokus pada perjanjian yang dibuat antara therapist dalam hal ini perawat jiwa dengan klien.

II. LOGOTERAPI
A. Konsep Logoterapi
B. Peran Perawat dalam Logoterapi
Keperawatan adalah ilmu dan kiat yang merupakan perpaduan dan integrasi dari area teori-teori yang berbeda: Ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi dan sosiologi, ilmu-ilmu dasar seperti anatomy, fisiologi, mikrobilogi, dan biokimia serta ilmu medis tentang diagnose dan pengobatan terhadap penyakit.

III. TERAPI KELUARGA
A. Konsep Terapi Keluarga
B. Peran perawat dalam terapi keluarga

IV. TERAPI LINGKUNGAN
A. Konsep terapi lingkungan
B. Peranan perawat dalam terapi lingkungan

V. TERAPI PSIKORELIGIUS
A. Pendahuluan
B. Religius sebagai kebutuhan dasar dan God Spot pada otak manusia
C. Riset epidemologis, korelasi antara kesehatan dan religiusitas
D. Riset religiusitas pada klien jiwa
E. Pendapat para ahli ilmu jiwa
F. Pandangan beberapa ahli ilmu jiwa
G. Pengaruh do’a terhadap penyakit kejiwaan
H. Penerapan psikoreligius terapi di Rumah Sakit Jiwa
I. Kaitan antara shalat dengan ilmu keperawatan


VI. TERAPI KELOMPOK
a. Tujuan terapi kelompok
b. Sasaran dan keanggotaan
c. Mekanisme dalam terapi kelompok
d. Pelaksanaan terapi kelompok

VII. PROGRAM PERENCANAAN PULANG
a. Pengertian
b. Tujuan dan prinsip
c. Jenis-jenis pemulangan pasien
d. Standar keperawatan perencanaan pulang


DAFTAR ISI

BAB I
KONSEP DASAR KESEHATAN JIWA 1
A. Pengertian kesehatan jiwa 1
B. Kriteria sehat jiwa 1
C. Pengertian keperawatan kesehatan jiwa 1
D. Tentang sehat jiwa 2
E. Prinsip-prinsip keperawatan kesehatan jiwa 2

BAB II
TREND CURRENT ISSUE DAN KECENDERUNGAN DALAM KEPERAWATAN JIWA 3

BAB III
KONSEP STRESS DAN ADAPTASI 6
A. Konsep dasar stress 6
B. Psikofisiologi stress 6

BAB IV
FAKTOR PENYEBAB DAN PROSES TERJADINYA GANGGUAN JIWA
A. Skizofrenia sebagai bentuk gangguan jiwa 8
B. Faktor penyebab skizofrenia 8
C. Penyebab umum gangguan jiwa 8
BAB V
TANDA GEJALA GANGGUAN JIWA 10
A. Gangguan Kognisi 10
B. Gangguan Perhatian 10
C. Gangguan ingatan 10
D. Gangguan asosiasi 10
E. Gangguan pertimbangan 10
F. Gangguan pikiran 11
G. Gangguan kesadaran 11
H. Gangguan kemauan 11
I. Gangguan emosi dan efek 11
J. Gangguan Psikomotor 11
BAB VI
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GANGGUAN ALAM
PERASAAN 12
A. Pengertian Mood 12
B. Rentang respon emosi 12
C. Tipe gangguan alam perasaan 12
D. Faktor predisposisi gangguan mood 12
E. Gejala gangguan mood depresi 13
BAB VII
ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM BLUES 14
A. Pengertian 14
B. Tanda dan Gejala 14
C. Faktor penyebab 14
BAB VIII
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EKSPRESI MARAH 15
A. Konsep Marah 15
B. Peran perawat pada klien marah 16
BAB IX
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PRILAKU
MENCEDERAI DIRI 17
A. Konsep bunuh diri 17
B. Peran perawat dalam perilaku mencederai diri 18
BAB X
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN PERILAKU KEKERASAN 19
A. Konsep perilaku kekerasan 19
B. Peran perawat dalam perilaku kekerasan 19

BAB XI
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN PENYALAHGUNAAN NAPZA 22
A. Rentang respon gangguan penggunaan zat adiktif 22
B. Pengenalan zat adiktif 22
C. Faktor pendukung terjadinya gangguan penggunaan NAPZA 22
BAB XII
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN KEHILANGAN DAN BERDUKA 24
A. Definisi 24
B. Proses kehilangan 24
C. Fase-fase kehilangan 24
BAB XIII
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MASALAH
PSIKOSEKSUAL 25
A. Pengertian psikoseksual 25
B. Teori psikoseksual 25
C. Seksualitas normal 25
D. Tingkatan respon 25
E. Organ seksualitas 25
F. Dorongan seksual 26
G. Disfungsi seksual 26
H. Defisiasi seksual 26
I. Faktor predispon penyimpangan seksual 26
J. Faktor Presipitasi 26
BAB XIV
TERAPI MORALITAS 27
1. Terapi Kognisi 27
2. Terapi logo terapi 29
3. Terapi keluarga 29
4. Terapi lingkungan 29
5. Terapi psikoreligius 29
6. Terapi kelompok 30
7. Program perencanaan pulang 30

KATA PENGANTAR

Assalamaulaikum Wr. Wb
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan Ridhonya jualah, maka Penulis dapat menyelesaikan resume yang berjudul Keperawatan Jiwa.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan resume ini jauh dari kesempurnaan karena masih banyak kekurangan baik teknik penulis maupun isinya. Hal ini karena keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna perbaikan dimasa yang akan datang.
Semoga Allah SWT berkenan melimpahkan segala rahmat dan karunianya kepada kita semua.

Wassalamualaikum Wr. Wb.



Sekayu, Februari 2009



Penulis

No comments: