Monday, February 9, 2009

Pendidikan Islam

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Sebelum membicarakan tentang pendidikan Islam, maka terlebih dahulu penulis akan menjelaskan tentang definisi pendidikan secara umum. Menurut Hasan Hafidz Al Badawi bahwa sesungguhnya pendidikan itu ialah “Proses pertumbuhan atau perkembangan kepribadian seorang anak dari segala aspek tingkah lakunya”.
Setelah dikemukakan pengertian pendidikan, maka sekarang penulis akan mengemukakan pengertian pendidikan Islam yang dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya, menurut Abdurrahman Shaleh bahwa pendidikan Islam ialah :
“Usaha serupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (Way of life) sehari-hari”.

Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan Agama Islam ialah “Bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut hukum Islam”.
Menurut Muhammad Athiyah Al Abrasyi :
“Pendidikan Islam ialah mendidik akhlak dan jiwa mereka (anak), menanamkan rasa fadhilah (keutamaan) membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur”.

Berdasarkan keterangan dan pendapat para ahli diatas dengan ringkas dapat dikemukakan bahwa pendidikan Islam itu adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan ajaran-ajaran Islam agar terbentuknya kepribadian muslim.
Syari’at Islam tidak akan dihayati dan diamalkan setiap orang kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan Nabi yang telah mengajak orang untuk beriman dan beramal serta berakhlak baik sesuai dengan ajaran Islam serta berbagai metode dan pendekatan.
Dari satu segi penulis lihat, bahwa pendidikan Islam itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap dan mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, bagi segi lainnya pendidikan Islam hanya bersifat teoritis saja, tetapi juga praktis, serta ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan amal shaleh, telah dikemukakan oleh ahli pendidikan Islam bahwa pendidikan Islam ialah “Sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal”.
Dan ajaran Islam berisi tentang sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, sesuai yang dikatakan oleh Zakiah Darajat dkk. Pendidikan Islam adalah “Pendidikan individu dan masyarakat”.
Jadi pendidikan Islam merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menanamkan dan mengembangkan ajaran Islam kepada setiap penganutnya, sehingga semua tingkah laku dan kepribadian diwarnai oleh ajaran Islam.
2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
a. Dasar Pendidikan Islam
Diatas telah dibicarakan tentang beberapa pengertian pendidikan secara umum maupun pengertian pendidikan Islam. Maka untuk selanjutnya penulis akan membahas mengenai dasar pendidikan Islam. Dasar pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang mana pendidikan bagi orang Islam adalah dinyatakan dalam wahyu Allah yaitu Al-Qur’an yang dilengkapi secara rinci dalam pribadi kehidupan Nabi Muhammad Saw, untuk itu harus ditaati dan dipatuhi oleh setiap insane yang beriman, sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :





Artinya : “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasulnya dan Ulil Amri diantara kamu kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah (Qur’an) dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikianlah yang lebih utama dan lebih baik akibatnya”.

Dari ayat tersebut diatas dapatlah disimpulkan bahwa Al-Qur’an itu merupakan sumber hukum bagi umat Islam, dengan demikian ayat tersebut sesuai bila dijadikan dasar pendidikan Islam karena didalam ayat sudah diatur segala aspek kehidupan lengkap dan jelas, demikian juga dengan sunnah Rasul yang fungsinya sebagai penjelas dari Al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya penulis akan mengemukakan pengertian sunnah sebagai berikut :
Sunnah menurut istilah muhadditsin ialah :
“Segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir, sifat kelakuan, perjalanan hidup, baik yang demikian itu sebelum Nabi dibangkitkan menjadi Rasul maupun sesudahnya”.
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa sunnah Nabi Muhammad SAW juga dasar pendidikan Agama Islam yang menyangkut segala perkataan dan tingkah laku Rasul yang patut dicontoh bila kita berjalan diatas garis-garis yang telah ditentukan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits. Mudah-mudahan akan mencapai tujuan apa yang diharapkan seperti untuk mendapatkan kebahagiaan dalam arti yang luas, maksudnya kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai dengan sabda Rasulullah :


Artinya : “Dan telah diceritakan kepadaku dari Malik, sesungguhnya telah sampai kepadanya, sungguh Rasulullah bersabda : Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya yakni kitabullah dan sunnah Nabi-Nya”

Dari uraian diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dasar pendidikan Islam itu adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, keduanya merupakan sumber kebenaran bagi agama Islam secara mutlak. Disamping harus menyesuaikan pada peraturan undang-undang yang berlaku setempat.
b. Tujuan Pendidikan Islam
Setiap langkah tujuan manusia tentunya disertai dengan tujuan, begitu pula halnya dengan dunia pendidikan, karena tujuan pendidikan adalah sangat penting dalam rangka menentukan arah yang hendak dicapai atau ditempuh dalam masyarakat tertentu. Disini penulis akan mengemukakan pendapat tentang tujuan pendidikan Islam, yakni sebagai berikut :
“Tujuan pendidikan Islam adalah mendidik anak-anak, pemuda pemudi dan orang dewasa supaya menjadi seorang muslim sejati, beriman teguh, beramal shaleh dan berakhlak mulia. Sehingga ia menjadi seorang anggota masyarakat yang sanggup hidup diatas kaki sendiri, mengabdi kepada Allah dan berbakti kepada bangsa dan tanah air, bahkan sesama manusia”.

Sedangkan menurut M. Athiyah Al Abrasyi, tujuan pendidikan Islam adalah :
“1. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia
2. Untuk mempersiapkan anak didik di dunia dan akhirat
3. Menumbuhkan roh ilmiah
4. Menyiapkan para pelajar dari segi professional
5. Persiapan untuk mencari rizki dalam hidup dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan”.

Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam ialah “Untuk mencapai kecakapan jasmani, pengetahuan membaca dan menulis serta pengetahuan tentang ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan dan keagamaan, kedewasaan rohani menuju terbentuknya kepribadian muslim yang sejati”.
Dari uraian diatas bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk memberikan bimbingan kepada anak didik sehingga mencapai dewasa, supaya cakap menyelesaikan tugas hidupnya yang diridhoi oleh Allah SWT sehingga terbentuklah kepribadian muslim yang sejati.
Sesungguhnya tujuan pendidikan agama Islam identik dengan tujuan hidup umat Islam, karena tujuan hidup umat Islam adalah membina manusia yang bertanggung jawab yang senantiasa bertindak dan bersikap sesuai dengan ajaran Islam dan akhirnya terciptalah manusia sejati yang benar-benar taqwa kepada Allah SWT dan perlu ditekankan sekali lagi bahwa tujuan pendidikan agama Islam bukanlah semata-mata untuk akhirat saja.
Sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariat ayat 56 yang berbunyi :
     
Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan mereka mengabdi menyembah-Ku”.
Dalam surat Ali Imran ayat 102 yang berbunyi :
     •   •   
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam”.
3. Fungsi Pendidikan Islam
Salah satu diantara fungsi pendidikan Islam ialah untuk membentuk akhlak manusia, sesuai dengan ajaran Islam ialah terbentuknya kepribadian muslim yang sikap dan tingkah lakunya mencerminkan ajaran Islam atau dengan kata lain salah satu dari fungsi pendidikan Islam adalah sebagai salah satu alat untuk membentuk moral manusia, sebagaimana kita ketahui bahwa Islam dengan ajarannya yang bersifat universal dengan tiadanya batas oleh waktu dan tempat merupakan alat kontrol bagi tindak tanduk sikap manusia.
Banyaknya ayat dalam Al-Qur’an isinya bermaksud untuk membina moral dan akhlak manusia atau dengan kata lain perkataan didalam membimbing dan mengarahkan tingkah laku serta dapat menjaga diri dari perbuatan yang tercela.
Hal ini tampak jelas karena pendidikan Islam mengandung dan menganjurkan manusia berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl yang berbunyi:


Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat adil dan selalu berbuat baik dan kebaikan, memberi kepada kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Dengan demikian nyatalah bahwa tidak dapat disangsikan lagi pendidikan Islam dapat membina atau membentuk moral serta kepribadian muslim yang utama.
Kemudian sebagaimana kita ketahui, bahwa manusia diciptakan Allah SWT berbeda dengan ciptaan yang lainnya, misalnya binatang ayam, apabila anak ayam tersebut keluar dari sangkarnya dia bisa mencari makanannya sendiri, akan tetapi anak manusia yang baru dilahirkan tidak berdaya sama sekali karena itu ia memerlukan bantuan orang lain terutama orang tuanya dalam masa yang cukup lama agar anak tersebut dapat hidup.
Lama kelamaan anak tersebut mengetahui mana ayahnya dan mana ibunya serta mengetahui lingkungannya. Dalam masa pertumbuhan tersebut, maka usaha orang tua, keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat sangat berperan dalam membimbing dan memberi bantuan serta mengajari anak sehingga anak tersebut tumbuh serta dapat mengenal lingkungan sekitarnya, seperti perkataan, perbuataan sehingga anak tersebut berkembang menjadi besar dan dewasa.
Menurut Abdurrahman Shaleh pendidikan agama Islam ialah harus berfungsi sebagai berikut :
“1. Menumbuhkan habit forming (pembentukan kebiasaan) dalam melakukan amal ibadah serta akhlak yang mulia.
2. Mendorong iman supaya tumbuh dengan kuat
3. Mendorong tumbuhnya semangat untuk mengolah alam sekitarnya sebagai anugerah Allah SWT kepada manusia”.

Di Indonesia fungsi pendidikan agama Islam selaras dengan tujuan pendidikan nasional yaitu berfungsi untuk membentuk manusia pembangunan yang bertaqwa kepada Allah SWT yang memiliki kemampuan dalam pengetahuan, terampil, bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan.
4. Faktor-Faktor Pendidikan Islam
Sebagaimana yang telah penulis kemukakan diatas bahwa pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan dalam menuju terbentuknya kepribadian muslim sejati. Berbicara mengenai faktor-faktor pendidikan Islam tentunya kita tidak bisa melepas faktor-faktor yang terdapat dalam dunia pendidikan pada umumnya.
Pada hakekatnya para ahli pendidikan berpendapat bahwa didalam pelaksanaan pendidikan ini ada lima faktor yang harus ada. Antara yang satu dengan yang lainnya saling berpengaruh dan tidak mungkin masing faktor berdiri sendiri.
Sebagai gambaran penulis kemukakan rumusan tentang faktor pendidikan dari para ahli pendidikan.
Menurut Siti Meichati merumuskan sebagai berikut :
“1. Faktor tujuan
2. Faktor anak didik
3. Faktor pendidik
4. Faktor alat-alat
5. Faktor sekitar.”

Berdasarkan rumusan diatas, maka dapatlah penulis menyimpulkan bahwa faktor penting dalam pendidikan itu harus mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
- Adanya pendidik
- Adanya anak didik
- Adanya kegiatan yang harus mempunyai tujuan
- Adanya alat pendidikan yang diperlukan
- Adanya lingkungan
Ad. 1. Faktor Pendidik
Berbicara mengenai pendidik, sebenarnya harus dilihat dari tugas dan fungsi, hal ini dikarenakan tidak semua guru pendidik bahkan orang tua sekalipun tidak dapat dikatakan pendidik, bila ia tidak mengenal anak-anaknya.
Dalam pelaksanaan pendidikan Islam, peranan pendidik sangat penting artinya dalam proses pendidikan, karena dia yang bertanggung jawab dan menentukan arah pendidikan tersebut. Tanggung jawab pendidikan diselenggarakan dengan kewajiban mendidik. Secara umum mendidik ialah membantu anak didik dalam perkembangan dan penetapan nilai-nilai.
Sedangkan Abu Ahmadi berpendapat bahwa pendidik adalah “Setiap orang dewasa yang memberikan pertolongan kepada anak yang sedang berkembang dengan penuh rasa tanggung jawab”.
Jadi yang dikatakan pendidik ialah orang yang mampu melaksanakan pendidikan yang penuh rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan pendidikan.
Ad. 2 Faktor anak didik
Anak didik adalah orang yang senantiasa mengalami perkembangan sejak ia lahir hingga meninggal. Perkembangan disini diartikan ada perubahan-perubahan yang selalu terjadi dalam diri anak secara wajar, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun kearah penyesuaian dengan lingkungan.
Anak didik didalam mencari nilai-nilai hidup harus mendapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik karena menurut ajaran Islam saat anak dilahirkan dalam keadaan suci atau fithrah, sedangkan kedua orang tuanya (pendidik) yang memberikan warna terhadap nilai didik, atas pendidikan agama pada anak didik.
Hal ini sesuai sabda rasulullah saw yang berbunyi :


Artinya : “Dari Abi Hurairoh bahwasanya ia berkata : setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”. (HR. Bukhari Muslim).
Dengan demikian anak didik merupakan sasaran pendidikan, mereka yang akan membimbing dan membina supaya menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang utama. Dasar-dasar pendidikan agama Islam ini harus sudah ditanamkan sejak dini anak didik itu masih usia muda, karena kalau tidak demikian halnya kemungkinan mengalami kesulitan kelak untuk mencapai pendidikan Islam yang diberikan pada usia dewasa.
Pandangan yang tepat mengenai sifat-sifat anak merupakan faktor yang menentukan dalam keberhasilan usaha pendidikan. Pandangan-pandangan yang salah mengenai anak didik menimbulkan kesalahan dalam melaksanakan pendidikan dan kesalahan mendidik akan membawa hasil yang tidak baik.
Ad. 3. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu masalah yang cukup menentukan dalam pembinaan pribadi anak, serta menentukan corak pendidikan Islam, maka setiap pendidik dalam melaksanakan pendidikan hendaknya memperhatikan lingkungan anak didik, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang dialami anak.
Menurut team Ditbinpertais Dep. Agama lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap anak didik ini dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :
“1. Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama, kadang-kadang anak mempunyai apresiasi unilitis, untuk itu ada kalanya berkeberatan terhadap pendidikan agama dan ada kalanya menerima agak sedikit mengetahui masalah.

2. Lingkungan yang berperan teguh kepada tradisi agama tetapi tanpa keinsafan bathin, biasanya lingkungan yang demikian itu menghasilkan anak-anak beragam secara tradisional tanpa kritik, atau dia beragama secara kebetulan.
3. Lingkungan yang mempunyai tradisi agama dengan sadar dan hidup di lingkungan agama”.

Bagi lingkungan yang kurang kesadarannya, anak-anak akan mengunjungi tempat ibadah dan dorongan orang tua, tetapi tidak kritis dan tidak ada bimbingan. Sedangkan bagi suatu lingkungan agama yang kuat, kemungkinan akan lebih baik dan bergantung kepada baik buruknya pimpinan dan kesempatan yang diberikan. Dengan faktor-faktor yang ada dalam lingkungan yang menyangkut pendidikan agama perlu anak didik diberi pengertian dan pengarahan dasar-dasar keimanan. Oleh karena itu perlu dibina dan dipelihara kemurniaan ajaran agama yang sudah melekat dalam hati anak didik demi untuk mencapai pendidikan Islam yang terbentuknya kepribadian muslim.
Ad. 4 Faktor Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan adalah tempat-tempat dimana pendidikan itu dilaksanakan, berbicara tentang pendidikan maka menyangkut masalah siapa yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan di lembaga itu.
Pada garis besarnya lembaga pendidikan itu dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu :
“1. Keluarga
2. Sekolah

3. Masyarakat”.
Ad. 1 Keluarga
Lembaga pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama, tempat anak didik pertama-tama menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau keluarga lainnya.
E.G. White mengemukakan “Rumah tangga (keluarga) adalah sekolah pertama dan ibu bapak menjadi gurunya, didalam rumah tangga dimulai pendidikan anak-anak”.
Didalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik, pada usia dini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikannya (orang tuanya dan anggota keluarga lainya).
Justru karena itu rumah tangga dan keluarga diusahakan adanya suasana yang hidup, aman, tentram dan damai. Kesemuanya ini akan membantu perkembangan dan pembentukan kepribadian anak. Jadi keluarga adalah sebagai pust pertama untuk meletakkan dasar-dasar keagamaan.
Ad. 2 Sekolah
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang sangat penting setelah keluarga, ketika anak meningkat usia 6 tahun perkembangan intelek dan daya pikir mereka telah berkembang sehingga membutuhkan dasar-dasar ilmu pengetahuan seperti : ilmu pengetahuan alam, kemasyarakatan, ilmu bahasa dan ilmu pengetahuan agama dan lain sebagainya.
Sekolah berfungsi sebagai bantuan kepada keluarga dalam mendidik anak, sekolah memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik mengenai apa saja yang tidak dapat atau tidak ada kesempatan orang tua untuk memberikan pendidikan dan pengajaran dalam keluarga.
Pendidikan budi pekerti dan keagamaan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah, haruslah merupakan lanjutan dan tidak bertentangan dengan apa-apa yang diberikan dalam keluarga, sekolah dan keluarga harus sepaham, oleh sebab itu orang tua (keluarga) muslim harus memasukkan anak-anak ke sekolah agama Islam, atau ke sekolah umum yang dapat mengadakan secara regiler beberapa jam seminggu untuk pendidikan masing-masing agama secara terpisah.
Jadi sekolah harus banyak membantu keluarga dalam usaha pembentukan kepribadian, pembentukan budi pekerti dan keagamaan, kerja sama antara rumah dan sekolah sangat perlu bagi pembentukan kepribadian anak.
Ad. 3 Masyarakat
Lembaga pendidikan masyarakat merupakan lembaga pendidikan yang ketiga sesudah keluarga dan sekolah. Pendidikan dalam masyarakat ini dapat dikatakan pendidikan secara tidak langsung, pendidikan yang dilaksanakan secara tidak sadar oleh masyarakat. Dan anak didik sendiri secara sadar atau tidak sadar mendidik dirinya sendiri, mencari pengetahuan sendiri serta pengalaman, mempertebal keimanan serta keyakinan sendiri akan nilai-nilai kesusilaan dan keagamaan dalam masyarakat.
Pendidikan dalam masyarakat akan berfungsi sebagai berikut :
“a. Pelengkap (Complement)
b. Pengganti (Substitude)
c. Tambahan (Supplement)”.
Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa pendidikan di lingkungan masyarakat sebagai pelengkap, pengganti dan tambahan apa yang belum mereka peroleh di sekolah atau dalam keluarga. Oleh karena itu bagi anak-anak didik Islam diharapkan memasuki lembaga-lembaga masyarakat yang bernafaskan Islam, karena dengan organisasi yang bernafaskan Islam ini anak-anak akan mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Ad. 4 Faktor alat pendidikan
Segala sesuatu yang diperlukan dalam mencapai tujuan dapat disebut dengan alat. Oleh karena itu pendidikan Islam merupakan sarana dalam usaha menanamkan dan mengembangkan ajaran Islam kepada setiap penganutnya, maka pendidikan Islam merupakan alat dalam mencapai tujuan hidup setiap orang muslim agar selamat dunia dan akhirat.
Alat pendidikan adalah segala sesuatu yang dipakai dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Sehubungan dengan hal yang tersebut diatas dapat dikatakan bahwa “Alat pendidikan ialah segala sesuatu yang membantu terlaksananya pendidikan didalam mencapai tujuannya, baik berupa benda atau pun bukan benda”.
Dalam menggunakan alat pendidikan ini, maka pribadi orang yang menggunakan sangat menentukan sebab penggunaan alat pendidikan itu bukan sekedar persoalan teknis belaka, tetapi menyangkut pula persoalan pribadi pendidik itu sendiri.
Alat pendidikan yang dipergunakan itu ada bermacam-macam, seperti hukuman dan ganjaran, perintah dan larangan celaan dan pujian, contoh kebiasaan dan lain-lain. Alat tersebut yang bermacam-macam itu bukan pula dapat dipergunakan pada sembarang tempat dan waktu, serta pada semua tingkatan perkembangan anak, oleh karena itu tiap-tiap alat yang digunakan harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya supaya alat itu berfungsi menurut semestinya.
Dalam mempergunakan dan memilih alat yang patut dipakai dalam melaksanakan pendidikan, maka si pendidik harus pula memperhatikan beberapa hal yaitu :
- Tujuan apa yang hendak dicapai dengan alat itu
- Siapa yang menggunakan alat itu
- Terhadap siapa alat itu dipergunakan
B. Motivasi
1. Pengertian dan fungsi motivasi
Aktifitas manusia tidak terlepas dari keinginan memenuhi kebutuhan hidup, bila seseorang tidak berbuat seperti seharusnya, maka harus diselidiki apa sebabnya, sebab ini bermacam-macam mungkin disebabkan karena sakit atau lapar, benci kepada pekerjaan sehingga ia lalai dalam mengerjakan tugas yang telah diberikan.
Dengan motivasi yang dimaksudkan usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga para remaja mau melakukannya, bila ia tidak suka ia mengelak. Suatu contoh seorang anak yang mengerjakan PR anak tersebut sangat tekun dan teliti dalam mengerjakan PR-nya, tentu ada motif yang melatar belakangi anak tersebut dalam melaksanakan tugasnya. Karena pekerjaan rumah suatu yang harus dikerjakan yang apabila tidak dikerjakan nilainya akan dikurangi dan dimarahi oleh guru. Kalau kita perhatikan uraian diatas, timbul pertanyaan dalam diri kita, mengapa mereka melakukan atau bekerja seperti itu ……….atau dengan kata lain apa yang mendorong mereka untuk berbuat demikian atau apakah motif mereka itu.
Dari contoh tersebut diatas maka penulis mengungkapkan beberapa pengertian motivasi menurut para ahli, diantaranya ialah : Nasution S. motivasi ialah “Segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu”.
Memperhatikan pengertian tersebut diatas bahwa motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar, karena di sekolah sering kali terdapat anak yang malas belajar terutama putra. Dalam hal ini berarti bahwa guru tidak berhasil memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong agar ia bekerja sesuai dengan apa yang kita harapkan. Pada umumnya suatu motivasi atau dorongan adalah suatu pernyataan yang komplek dalam suatu organism yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan atau rangsangan. Memberikan suatu motivasi bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, motivasi yang berhasil bagi seorang anak atau suatu kelompok memerlukan suatu pembinaan yang intensif dari guru, makin tepat motivasi yang diberikan makin berhasil pembinaan yang diberikan, oleh karena itu motivasi mempunyai fungsi sebagaimana dikemukakan oleh Nasution S. bahwa motivasi itu mempunyai tiga fungsi yaitu :
“1. Mendorong manusia untuk berbuat
2. Menentukan arah perbuatan
3. Menyeleksi perbuatan”.


Ad. 1 Mendorong manusia untuk berbuat
Motivasi itu mendorong manusia untuk berbuat ataupun bertindak kepada seseorang untuk menyelesaikan tugas dalam pekerjaan.
Ad. 2 Menentukan arah perbuatan
Yaitu menentukan arah perbuatan-perbuatan kea rah perwujudan ke suatu tujuan atau cita-cita dan untuk mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.
Ad. 3 Menyeleksi perbuatan
Yaitu menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi sebagai penggerak, pengarah, penyeleksi tingkah laku yang akan diperbuat seseorang dan untuk tujuan menemukan cara-cara yang efektif dan efisien dalam meningkatkan kwalitas dan kuantitas tingkah laku seseorang.
2. Tujuan dan jenis-jenis motivasi
Suatu tingkah laku yang akan dilakukan seseorang tentu mempunyai tujuan tertentu menurut kebutuhannya, menurut E. Usman Effendi, tujuan motivasi ialah “Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahankan existensinya”.
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa tujuan motivasi adalah berusaha melakukan tindakan dan perbuatan tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan akan hidup, sehingga individu memperoleh kepuasan dan dapat menjaga dirinya untuk tetap melaksanakan kegiatan atau pekerjaan secara efektif, maka perlu adanya motif yang kuat, dan perlu adanya usaha untuk membangkitkan atau dorongan sehingga terpenuhi apa yang diinginkannya.
Para ahli psyikologi dalam penelitiannya membagi motivasi menjadi tiga jenis :
“1. Motif dasar (basic motif) atau dorongan-dorongan biologis
2. Motif sosial (social motive)
3. Motif obyektif”.
Ad. 1 Motif dasar ini merupakan motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan biologis, oleh karena itu tidak perlu dipelajari, artinya motif yang dibawa anak sejak lahir, misalnya :
a. Motif dasar untuk minum, makan dan bernafas, untuk memenuhi motif dasar ini harus memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
b. Motif dasar untuk perlindungan diri atau rasa nyaman, motif tersebut dilatarbelakangi oleh dorongan-dorongan yang didasari atas kebutuhan seseorang untuk melindungi dirinya dari bahaya rasa aman serta menyesuaikan terhadap aturan yang ditetapkan masyarakat.
c. Motif dasar untuk beristirahat dan bergerak. Setiap individu tidak selamanya melakukan kegiatan melainkan harus istirahat, apabila kegiatan yang dilakukan akan menimbulkan kelelahan, untuk itu membutuhkan istirahat, istirahat yang paling baik adalah tidur, tapi tidak selamanya tidur itu baik, mungkin juga melakukan kegiatan lain yang sifatnya menyenangkan misalnya bermain.
d. Motif dasar untuk mengembangkan keturunan
Motif ini erat hubungannya dengan kebutuhan hormon-hormon yang berasal dari kelenjar sex atau gonad. Pada masyarakat yang telah mempunyai peradaban yang tinggi dalam memenuhi dorongan-dorongan seksual ini diatur oleh norma-norma yang ada dalam masyarakat, misalnya harus melakukan pernikahan terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan.
Ad. 2 Motif sosial (social motive)
Motif sosial adalah jenis motif yang dipelajari, seperti dorongan untuk mengejar suatu kedudukan dalam masyarakat dan lain sebagainya, motif sosial dalam masyarakat pada umumnya dibagi :
a. Motif ingin dikenal, yaitu melakukan kegiatan atau aktifitas agar dikenal oleh orang lain dan ingin memperoleh kepuasan pada dirinya.

b. Motif untuk dibutuhkan
Setiap makhluk hidup tidak bias dilepaskan begitu saja melainkan ia harus berkelompok, oleh karena itu setiap individu selalu berbuat baik terhadap orang lain, misalnya menepati janji, memberikan sesuatu yang dibutuhkan.
c. Motif untuk memperoleh penghargaan dan perlakuan yang sama dengan orang lain. Individu sebagai anggota masyarakat atau organisasi tidak mau dianak-tirikan dan ingin mendapat perlakuan yang sama, berarti ia tidak mau disisihkan dari masyarakat.
d. Motif untuk berkelompok
Secara kodrati setiap manusia selalu ingin hidup secara bersama-sama dengan manusia lain, tidak ingin hidup menyendiri.
Ad. 3 Motif obyektif
Menurut Sardiman “Menyangkut kebutuhan untuk melakukan explorasi, manipulasi, untuk menaruh minat”.
Motif ini timbul karena dorongan untuk menghadapi lingkungan yang termasuk jenis motif ini adalah :
a. Motif exploration motive yaitu motif untuk menyeleksi suatu kebenaran yang lebih obyektif.
b. Motif manipulation motive yaitu yang bertujuan untuk memanfaatkan sesuatu yang ada dari lingkungan sehingga berguna bagi kelangsungan hidup.
c. Motif instiret atau minat yaitu memusatkan kegiatan mental dan perhatian terhadap suatu obyek yang bersangkut paut dengan dirinya.
C. Kepribadian
1. Pengertian Kepribadian
Kepribadian suatu bentuk yang abstrak sulit untuk didefinisikan karena kepribadian dapat dicerminkan hanya dengan perwujudan tingkah laku ataupun perkataan. Untuk mengetahui yang konkrit tentang kepribadian penulis akan mengutip beberapa pengertian menurut pendapat beberapa ahli sebagai berikut :
a. M. Ja’far mengatakan bahwa “Kepribadian adalah sekumpulan dari berbagai sifat tertentu yang membedakan seseorang dari pada orang lain”.
b. Sedangkan Ngalim Poerwanto mengatakan bahwa “Kepribadian ialah organisasi dinamis dari system spesifik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas) dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya”.
c. Sumadi Suryabrata mengatakan bahwa “Kepribadian ialah sesuatu yang mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan menentukan”.
Sedangkan pengertian kepribadian muslim adalah “Kepribadian yang seluruh apseknya yakni baik tingkah laku luarnya kegiatan-kegiatan jiwanya maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan penyerahan diri kepada-Nya”.
2. Aspek-aspek kepribadian
Dalam kenyataan bahwa kepribadian adalah system yang dapat dipengaruhi oleh sumber-sumber dari luar, ini berarti bahwa jiwa itu tidak pernah mencapai kemampuan yang sempurna yang dicapai hanya kemantapan yang selalu berubah-ubah, oleh karena jiwa mempunyai prinsip mengatur diri sendiri, yang berlangsung atas dasar hukum-hukum tertentu. Dengan demikian pada garis besarnya aspek-aspek kepribadian dapat digolongkan dalam tiga bagian yaitu sebagai berikut :
“1. Aspek-aspek kejasmanian; meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar, misalnya; cara-cara berbuat, cara-cara berbicara.

2. Aspek-aspek kejiwaan; meliputi aspek-aspek yang tidak segera dapat dilihat dan ketahuan dari luar, misalnya: cara-cara berpikir, minat dan sikap.

3. Aspek-aspek kerohanian yang luhur; meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu hidup dan kepercayaannya”.
Dari keseluruhan inilah kepribadian seseorang dapat kita lihat, bahwa kepribadian itu baik atau buruk, tercela atau tidak, senang atau tidak senang. Hal ini tentu saja menurut ukuran si penilai berdasarkan nilai-nilai tertinggi yang diyakininya, yakni sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian maka akan muncul kepribadian mulia atau kepribadian muslim.
Bertitik tolak dari uraian diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa aspek-aspek kepribadian mulia atau muslim yang seluruhnya, yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan jiwanya maupun filsafat hidupnya selalu menunjukkan pengabdian kepada Allah SWT.
3. Proses Pembinaan Kepribadian
Kepribadian anak terbentuk dari hasil kerja sama yang terus menerus antara pembawaan anak dan pengaruh lingkungannya, oleh karena itu pembinaan kepribadian merupakan proses yang berlangsung secara berangsur-angsur, bukan hal yang seringkali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang. Apabila proses perkembangannya itu berlangsung dengan baik dan seimbang dengan kekuatan anak, maka akan menghasilkan suatu kepribadian yang harmonis, yaitu kepribadian yang mantap yang sanggup memproduksi hal-hal yang rasional selaras dengan batas-batas kemampuan bakatnya dan sanggup mempererat hubungan yang sehat dengan segala lapisan masyarakat, sanggup menanggung beban kehidupan dengan tenggang rasa tanpa adanya kontradiksi didalam tingkah lakunya.
Untuk membentuk kepribadian anak yang harmonis diperlukan proses pembinaan kepribadiannya, antara lain :
a. Pembiasaan
b. Pembentukan pengertian, sikap dan minat
Ad. a Pembiasaan
Dalam pembiasaan kepribadian anak sangat diperlukan pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dengan perkembangan jiwanya, karena pembiasaan bertujuan membentuk segi jasmani dan sikap tertentu pada diri anak, yang lambat laun sikap itu akan nampak lebih jelas dan kuat, yang akhirnya tidak tergoyahkan lagi karena menjadi bagian dari pribadinya.
Taraf pembiasaan ini dilaksanakan pada anak-anak yaitu “……….. pada masa vital, masa kanak-kanak dan separoh masa sekolah”.
Pada masa vital dan masa kanak-kanak pembentukan kepribadian barulah berupa pembiasaan hidup teratur dan dasar-dasar kebersihan. Pada masa sekolah mulailah diterapkan suatu pembiasaan berupa latihan-latihan, seperti: Latihan Shalat, berpuasa dan lain sebagainya.
Adapun alat-alat yang dipergunakan dalam pembiasaan itu terdiri dari alat-alat langsung dan alat-alat tidak langsung.
Alat-alat langsung yang digunakan dalam pembiasaan antara lain :
“1. Teladan
2. Anjuran-anjuran, suruhan, perintah dan sejenisnya
3. Latihan-latihan
4. Hadiah dan sejenisnya”.
Ad. 1 Teladan
Anak-anak seringkali meniru tingkah laku dan cara orang lain. Oleh karena itu dengan teladan akan menimbulkan gejala indivikasi positif, yaitu penyamaan diri dengan orang lain yang ditiru. Penyamaan itu penting sekali dalam pembinaan kepribadian anak, karena nilai-nilai yang dikenal si anak masih melekat pada orang-orang yang disenanginya dan dikaguminya, seperti anak-anak menganggap shalat itu baik karena ayah dan ibu atau gurunya sering melakukan shalat.
Ad. 2 Anjuran-anjuran, suruhan, perintah dan sejenisnya
Dalam anjuran-anjuran, suruhan, perintah dan sejenisnya si anak mendengar apa-apa yang harus dilakukan, oleh karena itu anjuran-anjuran, suruhan, perintah dan sejenisnya merupakan alat pembentuk disiplin yang positif, sangat diperlukan dalam membina kepribadian anak.
Ad. 3 Latihan-latihan
Latihan-latihan dilakukan agar anak dapat menguasai gerakan-gerakan dan hafalan-hafalan berupa ucapan yang bersifat ilmu pengetahuan, seperti gerakan-gerakan dalam shalat hafalan-hafalan ayat Al-Qur’an dan sebagainya.

Ad. 4 Hadiah dan sejenisnya
Pemberian hadiah pada anak-anak setelah ia melakukan sesuatu yang baik adalah besar sekali pengaruhnya pada pribadi anak, karena dengan hadiah si anak merasa gembira dan percaya kepada diri sendiri.
Hadiah tidak selalu berupa barang, dapat saja dengan anggukan kepala dan wajah berseri-seri ataupun dengan mengacungkan jempol, itu semua merupakan hadiah.
Adapun alat-alat yang tidak langsung untuk pembiasaan itu antara lain:
“1. Koreksi (pemeriksaan) pengawasan
2. Larangan-larangan dan sejenisnya
3. Hukuman dan sejenisnya”.
Ad. 1 Koreksi (pemeriksaan) dan pengawasan
Kemungkinan berbuat salah atau penyimpangan dari anjuran, suruhan dan perintah selalu ada pada diri anak, karena anak-anak kadang-kadang bersifat pelupa, sehingga ia melupakan perintah yang baru saja diberikan kepadanya, oleh karena itu untuk menjaga kesalahan-kesalahan yang berlangsung lebih jauh diperlukan usaha koreksi (pemeriksaan) dan pengawasan.
Ad. 2 Larangan-larangan dan sejenisnya
Larangan-larangan dan sejenisnya merupakan usaha untuk menghentikan perbuatan-perbuatan yang ternyata salah dan larangan-larangan itu pun bertujuan membentuk disiplin dalam diri anak.
Ad. 3 Hukuman dan sejenisnya
Apabila larangan dan sejenisnya tidak mampu untuk menghentikan perbuatan-perbuatan anak salah maka diperlukan hukuman badan yang penting hukuman tersebut dapat membuat anak tidak mau lagi berbuat salah.
Ad. b Pemebntukan pengertian, minat dan sikap
Pembentukan pengertian, minat dan sikap merupakan lanjutan dari taraf pembiasaan yaitu : Dengan memberikan pengertian kepada anak tentang faedah dan manfaatnya perbuatan ia lakukan.
Setelah anak-anak mengerti faedah dan manfaat dari apa-apa yang ia laksanakan, maka tumbuhlah dalam diri anak minat dan sikap untuk selalu melaksanakan perbuatan tersebut seperti anak memahami faedah dari ibadah shalat maka anak akan merasa enggan untuk meninggalkan shalat walaupun hanya satu waktu.
Dalam pembentukan pengertian, minat dan sikap anak diperlukan dasar-dasar kesusilaan yang dipautkan dengan kepercayaan agama, yang meliputi antara lain :
“1. Mencintai Allah
2. Mencintai dan membenci karena Allah
3. Mencintai Rasul
4. Ikhlas dan benar
5. Taubat dan nadam
6. Taubat akan Allah
7. Harap akan Allah
8. Syukur
9. Menepati janji
10. Sabar
11. Ridho akan qodho
12. Tawakal
13. Menjauhkan ujub dan takabbur
14. Rahmat dan syafaat
15. Tawadhu’ dan malu
16. Menjauhkan dendam
17. Menjauhkan dengki
18. Menjauhkan marah dan memberi maaf
19. Menjauhkan kicuhan dan tipuan”.

Dari uraian pembentukan pengertian diatas serta minat dan sikap, maka akan tumbuh nilai-nilai kesusilaan, seperti: rasa cinta terhadap kebaikan dan benci kepada kejahatan sehingga menimbulkan minat anak untuk selalu bersikap baik dan menjauhi kejahatan.

No comments: