Saturday, February 14, 2009

Resume Agama

BAB 1
AL-QUR’AN TENTANG TUGAS MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DIBUMI

A. Surat Al-Mukmin Ayat 67
                      •          
Artinya :
“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)”. (QS. Al-Mukmin : 67)

- Kandungan ayat
Ayat diatas menjelaskan proses penciptaan manusia yang terdiri dari beberapa tahapan. Manusia pertama, Nabi Adam as diciptakan dari tanah atau dalam ayat ini disebut debu.
Proses penciptaan manusia melalui beberapa tahapan Al-Qur’an menjelaskan ada empat tahapan proses penciptaan manusia. Tahap pertama berupa nuftah (sperma) hasil pembuahan dari sperma laki-laki dan perempuan selama 40 hari. Tahap kedua berubah menjadi “alaqah” (segumpal darah) juga dalam waktu 40 hari. Tahap ketiga berupa mudgah (segumpal daging) juga dalam waktu 40 hari. Tahap keempat Allah memberikan bentuk yang lain yaitu janin (dalam bentuk manusia) dan ditiupkan ruh ke dalam janin tersebut. Jadi Allah memberikan ruh ke dalam jasad janin dalam kandungan ketika berumur 120 hari (4 bulan).

B. Surat Al-Baqarah Ayat 30
                     •         
Artinya :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah : 30)

- Kandungan Ayat
Surat Al-Baqarah diatas menjelaskan tentang tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Pemahaman dan penghayatan diatas dapat membuktikan kesadaran kepada manusia bahwa sebagai khalifah dibumi, manusia memiliki beberapa tugas yang harus dilaksanakan.
1) Sebagai hamba Allah, manusia berkewajiban untuk menyembah dan mengabdi kepadanya, dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
2) Sebagai khalifah dibumi manusia berkewajiban sebagai memakmurkan bumi ini dan menjaga dari hal-hal yang merusak bumi. Misalnya penebangan hutan secara liar, sehingga menyebabkan banjir, atau mendirikan bangunan-bangunan di tanah resapan air yang dapat menyebabkan tanah longsor, dan sebagainya.
3) Sebagai khalifah dibumi ini berkewajiban untuk memajukan kehidupan dunia ini dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan ketentuan Allah.

C. Surat Az-Zariyat ayat 56
      
Artinya :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat : 56)

- Kandungan ayat
Tugas utama manusia hidup didunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Jadi apapun yang dilakukan manusia harus diniatkan untuk beribah kepada Allah SWT.
Para ulama membagi ibadah menjadi dua, yaitu ibadah mahdah (murni) dan ibadah gairu mahdah (tidak murni). Ibadah mahdah yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT, seperti salat, puasa, haji, dan sebagainya. Pada umumnya, tata cara ibadah ini sudah ditentukan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadisnya. Ibadah gairu mahdah yaitu ibadah yang berkaitan dengan kehidupan sesame manusia, misalnya silahturahmi, membantu saudara yang membutuhkan, membangun sarana untuk umum, dan sebagainya.



























BAB 2
AL-QUR’AN TENTANG PRINSIP-PRINSIP BERIBADAH


A. Surat Al-An’am ayat 162 – 163
 •                •  
Artinya :
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Al-An’am : 162 – 163)

- Kandungan ayat
Ayat di atas menjelaskan bahwa semua kehidupan kita ini hanyalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Salat yang kita dirikan, ibadah yang kita lakukan setiap saat, baik ibadah mahdah maupun ibadah gairu mahdah, hidup yang kita jalani di dalam dunia ini. Dan mati yang akan tiba menjemput kita, semuanya kita serahkan kepada Allah SWT. Artinya, apapun yang kita lakukan, tujuannya semata-mata untuk mendapatkan rida Allah SWT.

B. Surat Al-Bayyinah ayat 5
            •     
Artinya :
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

- Kandungan ayat
Ibadah yang kita lakukan harus disertai dengan niat iklas semata-mata karena Allah SWT bukan karena keinginan pujian manusia. Ikhlas adalah ruh (nyawa)dari seluruh amal. Amal ibadah yang tidak disertai dengan ikhlas tidak ada nilainya, ibarat jasad tanpa ruh, tidak berfungsi sama sekali.
Selain itu ayat diatas juga memerintahkan kita untuk menjalankan perintah agama dengan sebenar-benarnya. Pemahaman dan penghayatan ayat ini dapat memotivasi seorang muslim untuk selalu meniatkan seluruh ibadah dilakukan benar-benar ikhlas karena Allah semata.











BAB 3
IMAN KEPADA ALLAH SWT

A. Pengertian Iman kepada Allah SWT
Rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah SWT, iman kepada Allah SWT merupakan rukun iman yang paling pokok dan melandasi rukun iman yang lainnya. Sebab dengan memahami makna iman kepada Allah secara benar maka iman kepada yang lainnya akan dapat dengan mudah dilaksanakan.
Dengan demikian, makna beriman kepada Allah SWT yang sesungguhnya adalah meyakini dengan sepenuh hati, menyatakan dengan sepenuh jiwa dan mengamalkannya segala perintah dan larangan-Nya sebagai wujud pengakuan akan keberadaan-Nya. Jika hal itu tidak tampak dilakukan oleh seorang muslim yang beriman maka makna keimanan baginya belum dikatakan sempurna. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Artinya :
“Tidak sempurna keimanan seseorang yang tidak ta’at kepada Perintah Allah SWT” (HR. An-Nasai)

B. Ruang Lingkup Iman kepada Allah SWT
Iman kepada Allah SWT, terdiri dari tiga unsur keimanan yang harus terpenuhi, yaitu adanya pengakuan yang diucapkan dengan lisan, adanya keyakinan (pembenaran) yang dilakukan oleh hati, dan adanya perbuatan sebagai wujud pengamalan dari keyakinan dan pengakuan itu.
Selain itu, iman kepada Allah SWT juga memiliki tiga ruang lingkup keimanan yang hendaknya ditanamkan dalam hati dan jiwa seorang muslim, ketiga ruang lingkup yaitu sbb :
1. Iman dan meyakini bahwa tidak ada selain Allah SWT
Sebagaimana firman Allah SWT :
          
Artinya :
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 163)
Jelaslah sifat Allah SWT itu berbeda dengan sifat makhluk-Nya, termasuk manusia. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman-Nya :
        

Artinya :
“Maha suci Tuhan yang Empunya langit dan bumi, Tuhan yang Empunya 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.” (QS. Az-Zukhruf : 82)

2. Iman dan meyakini bahwa tidak ada yang membuat, mengurus, dan mengatur semua mahluk / alam semesta selain Allah SWT
Firman Allah SWT :
              •          
Artinya :
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], Padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 22)
3. Iman dan menyakini bahwa tidak ada yang berhak disembah dan mendapatkan penghambaan selain Allah SWT.
Firman Allah SWT :
                ••   
Artinya :
“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf : 40)

C. Sifat-Sifat Allah
Dalam ilmu aqidul iman yang ditulis oleh ulama besar Abu Hasan Al-Asy’ary dan Abdu Mansur Al-Maturidy mengemukakan bahwa sifat wajib bagi Allah aaa 20 yang mustahil bagi Allah ada 20 dan sifat jaiz bagi Allah hanya ada 1/13 sifat wajib, 13 sifat wajib mustahil dan 1 sifat jaiz bagi Allah.
Untuk jelasnya bahwa sifat 20 itu dapat digolongkan kedalam 4 bagian yaitu :
1. Sifat nafsiyah, artinya sifat mengenai zat Allah yang terdiri dari :
2. Sifat salbiyah, artinya sifat-sifat yang dapat meniadakan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat yang wajib bagi Allah. Sifat ini terdiri dari :
a) Qidam
b) Baqa
c) Mukhlafatul lil Hawadisi
d) Qiyamuhu bi Nafsihi
e) Wahdaniyyah

3. Sifat ma’ani artinya yang memiliki makna tentang perbuatan-perbuatan Allah yang terdiri dari:
a) Qudrat (Maha Kuasa)
b) Iradat (Maha Kehendak)
c) Ilmu (Maha Mengetahui)
d) Hayat (Maha Hidup)
e) Sama’ (Maha Mendengar)
f) Basar (Maha Melihat)
g) Kalam (Berfirman)

4. Sifat ma’nawiyah, merupakan pengaktifan dari sifat ke-7 sampai ke-13, yaitu :
a) Qadiran (Yang Berkuasa)
b) Muridan (Yang Berkehendak)
c) Aliman (Yang Mengetahui)
d) Hayyan (Yang Menghidupkan)
e) Sami’an (Yang Mendengar)
f) Basiran (Yang Melihat)
g) Mutakalliman (Yang Berfirman)

1) Wujud
Artinya ada hal ini mengandung arti bahwa Allah SWT itu ada dan mustahil tidak ada. Adanya Allah dengan sendiri-Nya, tidak boleh sebab lain yang menjadikan-Nya, tidak ada yang menciptakan Allah. Perhatikan firman Allah SWT :
                            
Artinya :
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (QS. AL-An’am : 73)

2) Qidam
Artinya terdahulu. Maksudnya Allah SWT itu pendahulu, dialah maha awal dan maha akhir, tidak ada sesuatu apapun yang mendahului dirinya, tidak ada pula yang paling akhir selain dari padanya. Perhatikan firman Allah SWT :
 •         
Artinya :
“Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Hadid : 3)

3) Baqa’
Artinya kekal abadi dengan baqa’nya Allah tidak akan pernah hancur waktu, sebab dia maha awal dan akhir artinya Allah maha kekal abadi. Firman Allah SWT :
           
Artinya :
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman : 26-27)

4) Mukhlafatul Lilhawadisi
Artinya Allah berbeda sifat dengan semua makhluk ciptaannya. Memang secara akal sehat dapat kita katakan, setiap yang diciptakan akan berbeda dengan penciptanya.

5) Qiyamuhu Binafsihi
Artinya berdiri sendiri. Maksudnya bahwa Allah SWT, tidak memiliki ketergantungan kepada sesuatu apapun. Allah tidak mengantungkan sifat, zat dan perbuatannya kepada pihak lain diluar diri-Nya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya :
                                                          

Artinya :
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (QS. Al-Baqarah : 255)

6) Wahdaniyah
Artinya satu atau esa. Maksudnya Allah maha esa, sifat, zat dan perbuatannya. Perhatikan firman-Nya :
                •  
Artinya :
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas : 1-4)

7) Qudrat
Artinya kuasa. Hal ini mengandung makna bahwa Allah maha kuasa atas apapun yang dikehendaki-Nya. Perhatikan firman-Nya :
                      •     
Artinya :
“Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali-Imran : 26)

8) Iradat
Artinya kehendak. Maksudnya segala sesuatu akan terjadi dengan kehendaknya tidak ada kekuatan apapun yang mampu menghalangi kehendaknya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya :
          
Artinya :
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia”. (QS. Yasin : 82)
9) Ilmu
Artinya pengetahuan. Maksudnya Allah SWT maha luas ilmunya. Semua ciptaannya mengandung ilmu pengetahuan yang tak terhingga, mulai dari kuman dan bakteri sampai gajah dan badak mengandung ilmu Allah jika dipelajari dan diteliti. Sebagaimana firman-Nya:
               

Artinya :
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra’ : 85)

10) Hayat
Artinya hidup. Maksudnya Allah SWT itu maha hidup, bahkan pemberi kehidupan kepada semua makhluk-Nya.
             • 
Artinya :
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Furqan ; 58)

11) Sama
Artinya mendengar. Maksudnya Allah SWT maha mendengar atas segala sesuatu, baik yang terucap maupun yang tidak. Firman-Nya :
         •  •    
Artinya :
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-Baqarah : 127)

12) Basar
Artinya melihat. Hal ini mengandung makna bahwa Allah Maha Melihat, dan mustahil Allah itu buta. Firman Allah SWT :
•           
Artinya :
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hujurat : 18)

13) Kalam
Artinya berfirman. Maksudnya Allah SWT maha pembicara, bahkan yang memberikan pembicaraan kepada setiap makhluknya. Firman Allah SWT :
               
Artinya :
“Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (QS. An-Nisa : 164)

D. Tanda-Tanda Penghayatan terhadap Sifat-Sifat Allah
Tanda-tanda penghayatan terhadap sifat-sifat Allah yang tampak dan dapat dikendalikan antaranya sbb :
1) Mencintai ilmu pengetahuan
Allah SWT memiliki sifat ‘Alim’ atau ‘Ilmu’, yang artinya Allah SWT maha mengetahui atas segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Mencintai ilmu pengetahuan, sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Bahkan Rasulullah saw menganjurkan umatnya agar mulai belajar dan mencintai ilmu sejak usia dini.

2) Berjiwa mandiri
Dengan memahami dan menghayati sifat Allah Qiyamuhu Binafsihi maka didalam diri seseorang akan terbentuk jiwa dan sikap mental yang mandiri. Sikap mandiri sangat dianjurkan dalam ajaran Islam, bahkan Rasulullah saw menganjurkan umatnya agar senantiasa hidup dan berusaha dengan tangannya sendiri.

3) Memiliki motivasi yang tinggi
Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa hidup penuh semangat, sehingga akan terus berupaya untuk bekerja dan beribadah kepada Allah SWT. Jika ada suatu pekerjaan atau tugas yang telah selesai, hendaknya pekerjaan atau tugas yang baru segera dipersiapkan untuk dikerjakan.


E. Al-Asmaul Husna
1. Pengertian Asmaul Husna
Asmaul Husna artinya nama-nama Allah yang baik dan agung atau sifat-sifat kesempurnaan. Karena itu, dianjurkan untuk berdo’a dengan menggunakan asmaul husna. Perhatikan firman Allah SWT.
                
Artinya :
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya[. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)

2. Jumlah Asmaul Husna
Asmaul Husna jumlahnya ada 99.

3. Makna lima Asmaul Husna
a. Al-Adlu
Artinya maha adil sesuai dengan namanya al-adlu berarti maha adil Allah tidak pernah membebani hambanya diluar batas kemampuan. Firman Allah :
 •                 
Artinya :
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl : 90)
b. Al-Gaffar
Artinya maha pengampun. Maksudnya Allah SWT itu maha pengampun atas segala dosa hamba-hambanya kecuali dosa syirik (menyekutukan-Nya). Firman Allah SWT :
       

Artinya :
“Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Sad : 66)

c. Al Hakim
Artinya maha bijaksana. Selain maha pengampun Allah juga maha bijaksana. Kebijaksanaan Allah dapat dirasakan oleh segenap makhluk-Nya.
Firman Allah :
            
Artinya :
“Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui”.

d. Al-Malik
Artinya yang menguasai atau raja maksudnya Allah adalah maharaja dari segala kerajaan langit dan bumi. Firman Allah SWT :
            
Artinya :
“Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia”. (QS. Al-Mukminun : 116)

e. Al-Hisab
Artinya yang membuat perhitungan maksudnya Allah adalah yang maha mengawasi atas segala yang terjadi dijagad raya ini untuk diperhitungkan di kemudian hari, termasuk amal perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk. Firman Allah SWT :
  •       •      • 
Artinya :
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. (QS. An-Nisa : 86)











BAB 4
SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM DAN PEMBAGIANNYA

A. Al-Qur’an
1. Pengertian dan kedudukan Al-Qur’an
Al-Qur’an menurut bahasa berasal dari kata dasar Qara’a – yaqra’u – Qira’atan – wa qur’anan, yang artinya bacaan. Menurut istilah Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang merupakan mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan disampaikan kepada manusia secara mutawatir yang diperintahkan untuk membacanya.
Allah SWT menetapkan Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama bagi hukum Islam. Sebagaimana firman-Nya :
       ••         
Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (QS. An-Nisa : 105)

2. Isi kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi pegangan bagi mereka yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Al-Qur’an terdiri atas 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat yang terbagi ke dalam ayat-ayat makkiyah dan ayat-ayat madaniyyah. Ayat-ayat makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah, sedangkan ayat-ayat madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.
Isi Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam tiga pembahasan pokok, yaitu sebagai berikut :
a. Pembahasan mengenai prinsip-prinsip aqidah (keimanan) yang meliputi :
1. Iman kepada Allah SWT dengan segala sifat-sifatnya
2. Iman kepada malaikat
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
4. Iman kepada rasul-rasul Allah
5. Iman kepada adanya akhirat
6. Iman kepada Qada dan Qadar

b. Pembahasan mengenai prinsip-prinsip ibadah yang meliputi
1. Kewajiban salat
2. Kewajiban zakat
3. Puasa di bulan ramadhan
4. Kewajiban melaksanakan haji

c. Pembahasan yang berkenaan dengan prinsip-prinsip syariat
1. Pembicaraan tentang manusia dan masyarakat
2. Sosial dan ekonomi
3. Musyawarah
4. Sejarah
5. Hukum-hukum seperti hukum perkawinan, hukum waris, hukum perjanjian dan hukum pidana.

2. Fungsi Al-Qur’an
a. Sebagai pedoman hidup manusia
Al-Qur’an berisi aturan-aturan yang seharusnya ditaati oleh orang yang beriman, baik aturan mengenai ibadah kepada Allah SWT. Firman Allah surat Al-Maidah ayat 48 :
         

Artinya :
“Dan kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)”

b. Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa
Firmannya :
         
Artinya :
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah : 2)

c. Sebagai mukjizat atas kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW
Hal ini dikarenakan banyak di antara orang-orang kafir Quraisy yang menuduh bahwa Al-Qur’an bukan wahyu dari Allah, tetapi hasil karya Muhammad. Allah membantah tuduhan mereka dengan firmannya :




d. Sebagai sumber hidayah dan syariah
Firman Allah :
             •  
Artinya :
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (Q.S. Al-A’raf : 3)

e. Sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil
       ••     
Artinya :
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah : 185)

B. Al-Hadist
1. Pengertian dan kedudukan Hadis
Menurut bahasa, hadis artinya baru, dekat dan berita. Menurut istilah hadis adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan (takdir) Nabi Muhammad SAW. Yang berkaitan dengan hukum. Hadis disebut juga sunnah yang menurut bahasa berarti jalan yang terpuji atau cara yang dibiasakan. Menurut istilah, sunnah sama dengan pengertian segala ucapan, perbuatan, ketetapan Nabi Muhammad SAW.
Firmannya :
       
Artinya :
“Apa yang diberikan rosul kepadamu terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr : 7)
Ayat diatas menunjukkan dengan tegas bahwa Al-Hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.

2. Fungsi Hadis
Sebagai sumber hukum Islam yang kedua, Al-Hadis mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting bagi ditegakkannya hukum Islam, diantaranya sebagai berikut :
a. Al-Hadis sebagai penguat hukum yang sudah ada didalam Al-Qur’an Firman Allah SWT :
          •     
Artinya :
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.
(QS. Al-Isra : 78)

b. Al-Hadis berfungsi sebagai penjelas atas hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ada tiga fungsi yang diperankan Al-Hadis.
1. Menjelaskan dan merinci hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’an secara global (ijmali)
2. Memberi batasan atas hukum-hukum dalam al-Qur’an yang belum jelas batasnya.
3. Mengkhususkan hukum-hukum dalam al-Qur’an yang bersifat umum.

c. Menetapkan hukum-hukum tambahan atas hukum-hukum yang belum terdapat didalam al-Qur’an.
Sabda rasululah saw.


Artinya :
“Tidak boleh seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita dengan bibinya (adik bapak/ibu) dan seorang wanita dengan uwaknya (kakak bapak/ibu)” (H.R. Bukhari Muslim)

3. Kualitas hadis
Al-Hadis memiliki beberapa macam kualitas, yaitu sebagai berikut :
a. Dari segi sedikit dan banyaknya Rawi (orang yang meriwayatkan) :
1. Hadis mutawatir, yaitu hadis yang merupakan hasil pengamatan panca indera, yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang menurut adat kebiasaan mereka mustahil untuk berdusta.
2. Hadis ahad, yaitu hadis yang tidak memiliki syarat-syarat hadis Mutawatir.

b. Dari segi diterima dan ditolak sebagai sumber hukum
1. Yang dapat digunakan sebagai sumber hukum ada dua
a. Hadis sahid, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, kuat ingatannya, sanadnya bersambung, tidak cacat, dan tidak janggal.
b. Hadis hasan, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, meskipun kurang kuat ingatannya, sanadnya bersambung, tidak cacat, dan tidak janggal.
2. Yang tidak dapat digunakan sebagai sumber hukum Islam adalah hadis Daif (hadis lemah), yaitu hadis yang kehilangan salah satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadis Mutawatir dan Hadis Hasan.

C. Ijtihad
1. Pengertian Ijtihad
Ijtihad adalah mencurahkan segenap kemampuan untuk memperoleh sesuatu. Menurut istilah Ijtihad ialah usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan akal pikiran semaksimal mungkin untuk menemukan suatu hukum yang tidak ditetapkan secara jelas dalam al-Qur’an dna al-Hadis.
Contoh ijtihad rasulullah saw yang mendapat pe mbenaran wahyu adalah ijtihadnya tentang pembebasan tawanan perang Badr.
Adapun contoh ijtihad yang salah ialah keputusannya tentang pemberian izin orang-orang munafik untuk tidak ikut dalam peperangan. Lalu turun surat At-Taubah ayat 43-45 yang menyatakan kekeliruan ijtihad Rasulullah SAW.

2. Kedudukan dan dalil ijtihad :
Selain itu, nas Al-Qur’an dan Al-Hadis sendiri juga mengharuskan kaum muslimin yang memiliki kemampuan pengetahuan dan pikiran untuk berijtihad. Perhatikan Firman Allah :

Artinya :
“Maka ambillah (kejadian) itu untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Q.S. Al-Hasyr : 2)
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sebagai berikut :
a. Harus memahami benar tentang Al-Qur’an dan Al-Hadis
b. Harus memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai tujuan hukum Islam
c. Memiliki kemampuan menggali (istimbat) hukum Islam dari dalil naqli untuk dikeluarkan menjadi hukum syari’i.
d. Harus memiliki ketetapan dari (istiqamah), agar mampu mengeluarkan hukum Islam dengan penuh keyakinan atas kebenarannya.
e. Memiliki akhlak yang mulia dan terpuji, sehingga hasil ijtihadnya dapat dipercaya oleh umat Islam lainnya.
f. Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Arab.

3. Fungsi Ijtihad
a. Sebagai upaya pembinaan dan pengembangan hukum Islam
b. Menjelaskan nas-nas yang masih bersifat zanni (keraguan / belum jelas)
c. Untuk menjawab tantangan zaman
d. Untuk menumbuhkan kreativitas berpikir umat Islam

4. Bentuk-Bentuk Ijtihad
Dilihat dari segi orang yang melakukan (mujtahid), ijtihad dapat dibagi menjadi dua yaitu ijtihad
Ijtihad dapat terbagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Ijtihad fardi (individual) yaitu ijtihad yang dilakukan oleh seorang mujtahid tanpa ada orang lain yang melakukan hal yang sama.
2. Ijtihad jam’i (kolektif) yaitu ijtihad yang dilakukan secara kelompok atau bersama-sama.
Dari segi caranya, ijtihad dapat dibagi menjadi beberapa bentuk antara lain :
1. Ijma
Ijma berarti menghimpun, mengumpulkan, dan menyatukan pendapat. Menurut istilah ijma adalah kesepakatan para ulama tentang hukum suatu masalah yang tidak tercantum di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.

2. Qiyas
Menurut bahasa Qiyas berarti mengukur sesuatu dengan contoh yang lain, kemudian menyamakannya. Menurut istilah Qiyas, adalah menentukan hukum suatu masalah yang tidak ditentukan hukumnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist dengan cara menganalogikan suatu masalah dengan masalah yang lain karena terdapat kesamaan ‘illat (alasan).

3. Istihsan
Menurut bahasa Istihsan, berarti menganggap baik terhadap suatu hal. Menurut istilah, Istihsan adalah menetapkan hukum suatu masalah ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam, seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain.

4. Masalihul mursalah
Menurut bahasa, Masalihul Mursalah berarti pertimbangan untuk mengambil kebaikan. Menurut istilah Musalihul Marsalah yaitu penetapan hukum yang didasarkan atas kemaslahatan umum atau kepentingan bersama.

D. Pembagian Hukum Dalam Ilmu Fiqih dan Rasul Fiqih
1. Pembagian hukum dalam ilmu fiqih
Adalah ketentuan atau ketetapan atas suatu masalah, baik dalam ibadah maupun muamalah yang mempunyai implikasi bagi pemeluknya, baik berupa pahala atau dosa.
Fiqih membedakan hukum tersebut ke dalam lima macam yaitu :
a. Wajib, menurut bahasa wajib berarti harus. Menurut istilah ilmu fiqih, wajib adalah suatu perbuatan yang apabila dilaksanakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan mendapat dosa.
Firman Allah SWT :
       •      
Artinya :
“Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisa : 14)

b. Haram, menurut bahasa berarti larangan. Menurut istilah, haram adalah sesuatu yang apabila dikerjakan berdosa, dan apabila ditinggalkan berpahala.
               
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 90)

c. Sunnat, menurut bahasa adalah kebiasaan. Menurut istilah adalah perbuatan yang apabila dilakukan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa.

d. Mubah, artinya boleh. Menurut istilah mubah yaitu perbuatan yang apabila dilakukan atau ditinggalkan tidak memperoleh dosa atau pahala. Perbuatan mubah ini boleh ditinggalkan dan boleh dilakukan, tergantung kebutuhan, misalnya makan, tidur, mandi dan sebagainya.

e. Makruh, artinya tidak disenangi. Menurut istilah, makruh adalah perbuatan yang apabila dilakukan tidak mendapat dosa, dan apabila ditinggalkan mendapat pahala. Pada umumnya, hal-hal yang dimakruhkan mengandung mudarat (bahaya) atau menjadikan orang lain kurang nyaman. Merokok misalnya, dapat menimbulkan berbagai penyakit bagi pengisapnya dan juga bagi orang lain yang terkena asapnya.

2. Pembagian hukum menurut Usul Fiqih
Ada dua macam hukum fiqih
a. Hukum taklifi
Adalah hukum yang menghendaki dilakukannya suatu perintah oleh seorang mukallaf, baik perintah melakukan, meninggalkan maupun perintah memilih antara melakukan dan meninggalkan.
Firman Allah SWT :
          •        
Artinya :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka”. (QS. At-Taubah : 103)
Hukum taklifi yang menuntut mukallaf meninggalkannya, seperti yang terdapat dalam nas-nas berikut :
Firman Allah SWT :
            
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka”.(QS. Al-Hujurat : 11)
Firman Allah SWT
         
Artinya :
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S. Al-Isra : 32)
Hukum taklifi yang menghendaki mukallaf memilih antara mengerjakan atau meninggalkannya, seperti yang terdapat dalam nas-nas berikut ini.
Firman Allah SWT :
               
Artinya :
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah : 10)

1. Wajib
Adalah suatu yang diperhatikan oleh syara’ agar dikerjakan oleh mukakif. Dari segi perintahnya, wajib dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu sebagai berikut :
a. Wajib dari segi waktu menunaikannya ialah suatu perintah Syara’ yang harus dilkerjakan oleh mukallaf pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Firman Allah SWT
•      • 
Artinya :
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Q.S.An-Nisa: 103)
b. Wajib dari segi sigat perintah. Dilihat dari segi sigat perintahnya, ada dua macam perintah, yaitu ada yang menunjuk pada individu (wajib ‘aini) dan ada pula perintah yang menunjuk pada kelompok (wajib kifayah)
Wajib aini ialah kewajiban yang diperintahkan syara’ untuk dikerjakan oleh masing-masing individu mukallaf, seperti kewajiban salat lima waktu, zakat fitrah dan mal, ibadah haji, menghindari khamar dan sebagainya. Wajib kifayah ialah kewajiban yang diperintahkan syara’ untuk dikerjakan oleh kelompok mukallaf, bukan oleh masing-masing individu. Misalnya, kewajiban mengurus jenazah.
c. Wajib dari segi ukurannya. Dalam hal ini wajib terbagi dua, yaitu muhadad (yang dibatasi ukurannya) dan gair muhadad (yang tidak dibatasi). Wajib muhadad, yaitu perintah syara’ yang menghendaki mukallaf melaksanakannya sesuai ukuran yang telah ditentukankannya. Wajib gair mahdad, ialah wajib yang diperintahkan syara’ dan tidak ditentukan batasan dan ukurannya.
d. Wajib dari segi ketentuan memilih. Dari aspek ini, wajib terbagi menjadi dua bagian, yaitu wajib mu’ayyan (tertentu) dan wajib mukhayyar (memilih).
Firman Allah SWT :
                                       
Artinya :
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar).” (QS. Al-Maidah : 89)

2. Mandub (Sunnat)
Menurut para ulama Ushul Fiqih, mandub ialah sesuatu yang diperintahkan oleh syara’ agar dikerjakan oleh mukalaf secara tidak pasti. Firman Allah SWT :
          
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al-Baqarah : 282)

Mandub dapat dibedakan tiga bagian yaitu :
a. Mandub (sunnat) yang mengandung perintah untuk menguatkan
b. Mandub (sunnat) yang dibolehkan oleh syara’ mengerjakannya
c. Mandub (sunnat) tambahan yaitu perbuatan yang dianggap sebagai pelengkap seorang muslim.

3. Haram
Adalah tuntutan yang tegas dari syara’ untuk tidak dikerjakan, dengan perintah secara pasti. Artinya, bentuk larangan tersebut tersebut berupa sigat yang tegas tentang haramnya sesuatu. Misalnya yang terdapat dalam beberapa nas berikut ini:
Firman Allah SWT :
       •       •                
Artinya :
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maidah : 3)
Firman Allah SWT :
                      

Artinya :
“Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan”. (QS. Al-An’am : 151)

Fiqih membagi haram menjadi 2 bagian yaitu :
1. Haram karena zat asalnya
2. Haram karena sebab-sebab yang baru

4. Makruh
Adalah suatu yang diperintahkan oleh syara’ agar mukalaf mencegah dari mengerjakan sesuatu, dengan perintah yang tidak pasti.
Firman Allah SWT :
       
Artinya :
“janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu”. (Q.S. Al-Maidah : 101)
Firman Allah SWT :
  
Artinya :
“Dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jum’ah : 9)

5. Mubah
Adalah suatu yang diperintahkan oleh syara’ agar seorang mukallaf dapat memilih diantara mengerjakan atau meninggalkannya. Artinya, Syara’ tidak memerintahkan mukallaf untuk mengerjakan sesuatu tersebut, namun juga tidak meminta untuk meninggalkannya.
Firman Allah SWT :
                          •            •         •    



Artinya :
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma'ruf. dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”.

b. Hukum Wad’i
Adalah hukum yang menghendaki diletakkannya sesuatu sebagai suatu sebab bagi yang lain, atau sebagai syarat bagi sesuatu yang lain (masyrut) atau sebagai penghalang (mad’i) bagi sesuatu itu.
1. Sebab bagi yang lain
Maksudnya sesuatu yang oleh syara’ dijadikan pertanda atau sebab atas sesuatu yang lain yang menjadi akibatnya. Jadi, sebab ialah sesuatu hal yang nyata dan pasti, yang oleh syara’ dijadikan pertanda atas terjadinya hukum yang lain sebagai akibatnya. Datangnya waktu sholat sebagai sebab diwajibkan mendirikan shalat.
Firman Allah SWT
   
Artinya :
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir”. (Q.S. Al-Isra : 78)

2. Syarat bagi yang lain
Maksudnya sesuatu yang ada dan tidak adanya sesuatu hukum sangat tergantung pada ada dan tidak adanya sesuatu tersebut. Artinya, adanya suatu yang menjadi syarat itu sangat berpengaruh pada ada dan tidak adanya hukum. Misalnya hubungan suami isteri menjadi syarat untuk menjatuhkan talak (cerai). Jika tidak ada hubungan suami istri maka tidak bisa dilakukan pertalakkan (perceraian).

3. Al man’i (penghalang)
Adalah sesuatu yang dengan wujudnya itu dapat meniadakan hukum atau membatalkan sebab. Man’i atau penghalang itu timbul setelah tampak dengan nyata dan syarat telah sempurna.

4. Ar-Rukhsah Wal Azimah
Rukhsah ialah keringanan yang telah disyariatkan oleh Allah atas orang mukallaf dalam kondisi-kondisi tertentu yang menghendaki keringanan. Rukhsah dapat berlaku karena adanya uzur, atau kondisi darurat tertentu. Firman Allah SWT :
                  •      
Artinya :
“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. An-Nisa : 101)
Sedangkan Azimah adalah hukum-hukum umum yang telah disyariatkan oleh Allah SWT sejak semula, yang tidak dikhususkan oleh kondisi dan oleh mukallaf. Perbedaan rukhsah dan azimah adalah jika rukhsah mengugurkan kewajiban atau larangan karena kondisi dan sebab tertentu, sedangkan azimah meskipun dalam kondisi darurat, kewajiban atau larangan tetap diberlakukan oleh mukallaf.
Dengan demikian, perbedaan rukhsah dengan ‘azimah adalah jika rukhsah menggugurkan kewajiban atau larangan karena kondisi dan sebab tertentu, sedangkan ‘azimah’ meskipun dalam kondisi darurat, kewajiban atau larangan tetap diberlakukan oleh mukallaf.

BAB 5
IBADAH SHALAT DAN HIKMAHNYA

A. Pengertian Shalat
Menurut bahasa shalat artinya doa, menurut syariat Islam, menurut Islam shalat adalah suatu ibadah yang terdiri atas ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam yang disertai niat dan syarat-syarat tertentu.
Dalam Al-Qur’an, perintah salat selalu menggunakan kata aqim atau aqimu yang artinya dirikan. Mengapa tidak menggunakan kata i'mal atau if’al yang artinya kerjakan? Sebab, salat tidak hanya cukup dilaksanakan, melainkan didirikan. Maksudnya salat dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan kekhusyukan serta dihayati seluruh gerakan dan bacaannya, sehingga memiliki dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

B. Isi Kandungan Shalat
1. Menunjukkan ketaatan dan penghambaan sebagai makhluk khalik (pencipta) Nya, agar senantiasa taat dan patuh mengabdi kepadanya. Sebagaimana Firman Allah SWT.
      
Artinya :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Az-Dzariyat : 56)

2. Sarana pendidikan jiwa bagi diri dan keluarga muslim
Salat dapat mensucikan hati dan pikiran dari kotoran-kotoran batin yang senantiasa melekat dalam kehidupan umat manusia. Firman Allah SWT :
              
Artinya :
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha : 132)

3. Media permohonan bagi seorang hamba kepada khaliknya.
Oleh sebab itu, salat menurut para ulama adalah doa yang artinya suatu permohonan. Kita dianjurkan untuk senatiasa memanjatkan doa dan permohonan, sedangkan doa yang paling utama adalah salat. Firman Allah SWT :
    •     

Artinya:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Q.S. Al-Baqarah : 45)

4. Menunjukkan jati diri seseorang mukmin
Salat adalah cirri pembeda antara orang yang beriman dan tidak beriman kepada Allah SWT. Keimanan seseorang memang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata, dan susah pula diukur dengan alat apapun. Firman Allah SWT :
                     
Artinya :
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”. (QS. Ibrahim : 31)

5. Membentuk sikap jiwa disiplin, tekun dan rajin.
Dengan kata lain, pelaku salat harus memiliki sikap disiplin dan taat asas, sebab dalam melaksanakan salat telah ditentukan waktu dan tata caranya.
Firman Allah SWT
•      •
Artinya :
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisa : 103)

C. Perlunya Shalat bagi Manusia
1. Mendatangkan ketentraman dan ketenangan jiwa
Salat yang didirikan dengan baik dan benar, serta dengan khusyuk dan dengan sepenuh hati mengingat Allah SWT akan menentramkan jiwa dan menenangkan hati pelakunya. Firman Allah SWT :
            
Artinya :
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d : 28)
2. Dilapangkan rizkinya dalam kehidupan
Bagi seorang muslim yang taat beribadah akan dilapangkan rizkinya dan jalan kehidupannya oleh Allah SWT sesuai dengan kehendak-Nya. Firman Allah SWT :
              
Artinya :
“(Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan Balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (QS. An-Nur : 38)

3. Terhindar dari penyakit hati dan kotoran jiwa
Seorang muslim yang rajin mendirikan salat, hidupnya akan tampak tenteram dan damai. Firman Allah SWT :
 •   •                    


Artinya :
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya” (QS. Al-Ma’rij : 19-23)

4. Terhapus dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil kecuali syirik.
Firman Allah SWT :
   •     •        
Artinya :
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Hud : 114)

5. Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar
Salat yang dilakukan seorang muslim dengan khusyuk dan benar, akan membimbing dirinya menuju jalan yang lurus, jalan yang di ridai Allah SWT. Firman Allah SWT :
                        
Artinya
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut : 45)

D. Sikap Manusia terhadap Kewajiban Shalat
1. Kelompok orang awam adalah tidak berilmu
Kelompok ini sebenarnya mengetahui bahwa salat lima waktu itu hukumnya wajib, namun pengetahuan mereka tentang salat tidak begitu banyak.
2. Kelompok orang lalai
Mereka ini sesungguhnya mengetahui tentang kewajiban salat lima waktu. Bahkan kadang-kadang mereka mengerjakan ilmu tentang ibadah salat dan ibadah-ibadah lainnya kepada orang lain melalui dakwah dan ceramah.
3. Kelompok pengikut hawa nafsu
Kelompok ini sesungguhnya mengetahui kewajiban shalat lima waktu, namun mereka lebih memperturutkan hawa nafsu daripada panggilan Allah SWT.
4. Kelompok orang munafik
Mereka adalah orang-orang yang mengetahui dengan baik tentang kewajiban salat, bahkan ada yang mengetahuinya langsung dari sumber Al-Qur’an dan hadis yang mereka baca dengan baik. Meskipun demikian, mereka selalu berpura-pura tidak mengetahui tentang kewajiban salat lima waktu.
5. Kelompok orang yang kufur nikmat kepada Allah
Mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang berkecukupan, harta mereka melimpah, hidup mereka bergelimang kebahagiaan, penuh dengan foya-foya dan penghamburan. Namun mereka tidak pernah bersyukur, hidupnya jauh dari ajaran agama dan cahaya Illahi.
6. Kelompok orang yang beriman
Mereka ini adalah orang-orang yang imannya kuat, dan menjalankan dengan khusyuk. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang mengerjakan salat dengan khusyuk.
Firman Allah SWT :
               
Artinya :
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”. (QS. Al-Mukminun : 1-3)

E. Kedudukan dan Fungsi Shalat
1. Kedudukan shalat
Salat termasuk rukun Islam yang kedua. Shalat mempunyai kedudukan yang amat penting dalam Islam sehingga shalat disebut tiang agama, sabda rasulullah saw :

Artinya :
“Pokok urusan ialah Islam, sedangkan tiangnya ialah shalat, dan puncaknya ialah shalat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah”. (H.R. Muslim)

2. Fungsi shalat
a. Sebagai alat penangkal yang mencegah dari seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, firman Allah SWT :
     
Artinya :
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (Q.S. Al-Ankabut : 45)
b. Sebagai alat pembeda antara seorang muslim dengan orang kafir.
c. Sebagai sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan. Firman Allah SWT :
   
Artinya :
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Mukminun : 1)
d. Sebagai alat untuk menumbuhkan sikap mental yang kuat dan rasa disiplin yang baik bagi orang yang taat mengerjakannya.
e. Sebagai bukti ketaatan hambanya kepada sang pencipta Allah SWT.
Firman Allah SWT :
 
Artinya :
Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (Q.S. Al-Alaq : 19)
f. Sebagai sarana untuk mengajak seseorang senantiasa mengingat Allah SWT dengan segala keagungannya
Perhatikan firman Allah SWT :
  
Artinya :
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”. (QS. Taha : 14)
g. Sebagai sarana komunikasi langsung antara hamba-Nya dengan sang pencipta, Allah SWT.

Fungsi shalat berjamaah
1. Sebagai sarana untuk mewujudkan persamaan diantara sesama muslim dan sekaligus mencegah diskriminasi.
2. Sebagai sarana untuk menciptakan suatu barisan yang kuat dibawah seorang pemimpin (imam)
3. Sebagai sarana untuk menciptakan suatu barisan yang kuat di bawah seorang pemimpin (imam).
4. Sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap tolong menolong dalam kebajikan, yaitu yang kuat membantu yang lemah dan yang kaya membantu yang miskin.
5. Sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap disiplin yang tinggi. Sebab, para jamaah dituntut harus selalu hadis ke masjid tepat pada waktunya, sebelum salat dimulai.

F. Tanda-Tanda Shalat yang Diterima
Para ulama mengatakan bahwa sekedar untuk mengetahui fenomena atau tanda-tanda salat yang diterima, dapat dilihat dari sikap perilaku kehidupan sehari-hari. Diantaranya dapat dilihat dari beberapa sikap perilaku berikut ini :
1. Selalu berbuat baik kepada orang lain dan alam lingkungannya
2. Menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar
3. Senantiasa bersikap tawadu’ (rendah hati) kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia.
4. Jauh dari sikap sombong, egois, dan besar kepala terhadap sesama makhluk Allah SWT.
5. Selalu taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangannya.
6. Selalu berzikir (ingat) kepada Allah SWT dalam setiap jejak langkahnya
7. Bersikap kasih saying kepada orang lemah, dan orang terlantar di perjalanan.
8. Mengasihi anak yatim dan janda yang ditinggalkan suami.
9. Bersedia membantu orang susah yang sedang terkena musibah.

G. Perilaku yang Mencerminkan Ajaran Shalat
Di antara sikap terpuji yang merupakan cerminan dari ibadah salat adalah sebagai berikut:
1. Sikap sabar
Salat mendidik seseorang yang melakukannya untuk senantiasa bersikap sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai problema kehidupan Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk melaksanakan salat dan sekaligus juga agar bersabar dalam menjalankan kehidupan.



2. Sikap istiqomah
Salat mengajarkan umat manusia agar memiliki sikap istiqomah, yaitu sikap teguh pendirian dalam beragama dan dalam menegakkan keadilan dan membela kebenaran.

3. Sikap jujur
Salat mengajarkan kita untuk senantiasa bersikap jujur dan terbuka. Sebab dalam mengerjakan salat tidak ada yang mengawasi selain Allah SWT dan dirinya sendiri. Karena itu, kejujuran memiliki peran penting dalam mengerjakan salat. Orang lain tidak tahu tentang salat yang kita lakukan itu benar sesuai dengan syarat dan rukunnya atau tidak, apalagi dalam salat munfarid (sendirian).

4. Sikap tawaduk
Orang yang rajin mengerjakan salat dalam kehidupannya, akan tampak dalam sikap perilakunya sebagai orang yang tawaduk. Tawaduk artinya rendah hati, tidak sombong dan angkuh, baik terhadap Allah SWT maupun terhadap sesama manusia.

5. Sikap ikhlas
Ikhlas artinya suatu keinginan atau kesadaran yang mendorong seseorang melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Ikhlas dalam beribdah, artinya melakukan suatu ibadah atas dasar mengharap rida Allah SWT.

BAB 6
IBADAH PUASA DAN HIKMAHNYA

A. Pengertian syarat rukun puasa dan hal-hal yang membatalkan puasa wajib

1. Puasa atau saum adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan disertai niat untuk berpuasa.
Puasa wajib adalah puasa yang harus dikerjakan dan akan berdosa bagi yang meninggalkannya.
2. Syarat-syarat puasa
a. Syarat wajib puasa
1. Beragama Islam
2. Sudah baligh (dewasa)
3. Berakal sehat
4. Sanggup berpuasa
5. Menetap (bermukhim)
b. Syarat syhah puasa
1. Islam
2. Mumayyiz artinya dapat membedakan antara yang baik dan tidak baik.
3. Suci dari darah haid dan nifas (bagi wanita)
4. Dalam waktu yang dibolehkan berpuasa kepadanya
3. Rukun puasa
a. Niat untuk melaksanakan puasa
b. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dan pahalanya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
4. Hal-hal yang membatalkan puasa
1. Makan dan minum secara disengaja
2. Muntah dengan sengaja
3. Sengaja melakukan persetubuhan disiang hari
4. Keluar dari haid
5. Sedang dalam keadaan nifas

No comments: