Monday, April 13, 2009

analisa puisi

MATINYA SEORANG PEJUANG
Kami masih terus terjaga usai kau pergi
Tak lelah menghadang ujung senapan
Mengusung panji-panji hingga pagi datang dari timur
Menyongsong keyakinan dengan dada seorang satria

Kami akan terus berjaga ditapal batas demokrasi
Mengeja mimpimu dengan butir-butir darah laksana zikir
Menyusun baris baru dari perjuangan yang belum usai
Meski ajal mengintai dari balik selimut

Kini kau telah pergi tanpa sempat kami antar dermaga baka
Tapi satu musim nanti
Kami akan berlari dibawah hujan peluru sambil berteriak
“Cak…satu generasi telah lahir atas kematianmu”


• Gaya Bahasa (Konotatif)
1. Panji-panji : Bendera yang berbentuk segitiga memanjang
2. Ajal : Mati
• Rima
Sajaknya tidak beraturan.
• Diksi atau Pilihan Kata
1. Ajal, penyair lebih memilih kata lenyap dari pada mati karena ajal lebih menengkram.
2. Panji-panji, penyair lebih memilih kata panji-panji daripada Bendera, karena kata panji-panji lebih pahlawan.
• Maknanya
Mengenang pahlawan kita Munir. Ketika Munir telah meninggal generasi baru telah lahir atas kematiannya.




TINGGAL TELANJANG


Apakah kau marah
Ketika cat hitam tumpah
Dilangit ?

Aku menciummu pada hitam
Tak lagi meredam geram
Seluruhmu aum liar pengabai dendam

Kau gerak kau teriak kau memuncak ekor-ekor ular
Ditubuhmu melibas-libas buas kepala-kepala
Mereka menganga lepas desis tak lagi desis
Rrwhaa…………..

Aku terpaku dipasirmu
Beradabkah perih ?
Lalu kesumat itu datang dari zaman mana ?
O, kau yang gelora

Apakah kau parang
Yang seluruhmu mata
Pada gelap macam begini?

• Gaya Bahasa (Konotatif)
1. Gelora : Gejolak
2. Parang : Pisau besar
• Rima
Pada bait ke-2 persamaan bunyi huruf mati yakni bersajak m-m.
Pada bait ke-5 tidak ada persamaan bunyi sehingga disini sajaknya tidak beraturan.
• Diksi atau pilihan kata
1. Gelora, penyair lebih memilih kata gelora daripada gejolak. Karena gelora lebih cocok dengan puisi tersebut.
2. Parang, penyair lebih memilih kata parang daripada pisau besar. Karena pada puisi pahlawan tersebut lebih cocok memakai parang.

• Maknanya
Kemarahan seseorang yang tidak bias diungkapkan.

1 comment:

Samalona said...

Tabik, Bapak.

Bolehkah saya tahu penulis kedua sajak/puisi tersebut? Kalau berkenan, mungkin sebaiknya dicantumkan. Terima kasih sebelumnya.