Saturday, April 11, 2009

drama kakak adik

Ada cerita kakak dan adik yang bernasib malang ditinggal sebuah kampung
Nuniek : Bagaiman, Tien, Tonny mu? Apa dia dating dari Jakarta?
Hastien : Datang sih sudah! Tapi dasar lelaki, bosan aku berurusan dengan dia lagi orang tuanya yang bawel itu, malah menyalahkan saya.
Nuniek : Lho! Emangnya yang salah siapa?
Hastien : Yah jelas dia dong. Kalau aku gak di kasih tau, kan nggak begini jadinya.
Nuniek : Kalau kamu nggak mau diajak begitu, pasti nggak begini
Hastien : Kau juga menyalahkan aku?
Nuniek : (Tersenyum)
Hastien : Kau juga menyalahkan aku!

Lebih keras dialognya, karena Hastien sedikit marah pada Nuniek, dan Hastien belum yakin apa yang diucapkannya tadi.

Nuniek : Tonny memang begitu? Dia sulit untuk dapat dipercaya.
Hastien : Tidak (suara Hastien lemah)
Nuniek : Karena kekayaannya itulah! Dan kau mengejar kekayaannya itu kan?
Hastien : Aku sama sekali tidak mengejar kekayaannya
Nuniek : Ketampanannya ?
Hastien : (Mengangguk)
Nuniek : Sama saja
Hastien : Ya beda! Terus terang saja, Niek kau membela Tonny.
Nunik : Jangan putus asa, saya dan mas Burhan sedang mengusahakan.
Hastien : Pertemuan ku dengan Tonny?
Nuniek : Ya!
Hastien : Dan kemudian akan menjatuhkan namaku seperti ketika di Dieng itu?
Nuniek : Jelas beda dong.
Hastien : Tapi aku? Apakah kau hanya hidup kedalam tidak tentuan belaka?
Nuniek : Aku dan mas Burhan sedang mengambil jalan tengah!
Hastien : Dimana mas Burhan sekarang.

“Nuniek belum sempat menjawab, Burhan telah masuk bersama Eddy, mereka saling bersalaman”
Burhan : Sukses! Eh, hendaknya. Ed ditulis dengan huruf besar : SUKSES

“Nuniek dan Hastien tak mengerti, Eddy sedikit tersenyum”.
Nuniek : Apa shim as?
Hastien : Apa?
“Burhan masih tertawa lembut, Hastien dan Nuniek masih saling berpandangan tak mengerit”
Burhan : Baik, inilah dia orangnya, (sambil menunjuk Eddy)
Hastien & Nuniek : Eddy?
Burhan : Tepat! Oke, Ed, gentian engkau yang bicara
Eddy : Bicara apa Bur?
Burhan : Terserah asal bicara apa yang kita bicarakan tadi
Eddy : Soal Tonny?
Burhan : Apa lagi kalau bukan.
Eddy : Baik, terima kasih!
Hastien : Ya siapa yang tidak kenal dengan Eddy.
Eddy : (tertawa). Itu kan dulu. Sekarang lain lho, Tien!
Burhan : Sudah sekarang kita bicara yang sekarang bukan yang dulu. Oke?

“Hastien memandang tajam pada Eddy”
Nuniek : Sekarang kita mau bicara apa sih?
Burhan : Membicarakan keadaan Hastien?
Hastien : Membicarakan aku?
Burhan : Aku tahu keadaan mu Hastien.
Hastien : Aku kan dikawinkan dengan Eddy…….
Eddy : Tidak! Aku tidak berani. (Hening sejenak mereka saling berpandangan)
Burhan : Ayo, kita mulai bicara lagi.
Eddy : Begini Hastien, aku menolong mu aku pernah berhutang budi kepadamu.
Hastien : Kau akan menolong ku?
Eddy : Ya!
Hastien : Dengan cara bagaimana, kau akan menolongku?
Eddy : Menyeret Tony kehadapanmu
Hastien : Hah! (agak terkejut)
Eddy :Tonny harus bersumpah dihadapan Hastien bahwa dia bersedia mengawinimu.
Hastien : Bisakah begitu?
Eddy : Inilah Eddy dulu naka dan bejad akan mulai dengan kebaikan.
Hastien : Eddy…
Nuniek : Sudahlah Tien kita tunggu aja kapan Eddy mencarinya?

“Tiba-tiba Eddy keluar meninggalkan mereka”
Nuniek : Mas Burhan, dapat kalo kau percaya dengan ucapan Eddy tadi?
Burhan : Aku percaya sekarang.
Hastien : Terdesak?
Burhan : Dia itu orang tuanya miskin
Hastien : Sekarang kok bias kaya? Pakai mobil, pakaian necis.
Burhan : Dulu dia bekerja sebagai penjaga di toko. Ketika toko itu dirampok dialah yang menyelamatkannya.
Nuniek : Eddy?
Hastien : Hingga tidak terjadi lagi perampokan?
Burhan : Ya. Dialah yang menyelematkannya. Hingga akhirnya pemilik toko mengambil Eddy sebagai menantu.
Hastien : Jadi dia sudah kawin?
Burhan : Malah dia sudah punya anak.
Hastien : Aku akan meminta maaf padanya nanti…….

“Ucapan itu tidak jadi dilanjutkan karena pintu tiba-tiba sudah terbuka”
Eddy : Ton, kau jangan coba-coba lari dari kenyataan ini.
Tonny : Aku tidak diperkenankan oleh orang tua ku!
Eddy : Itu bukan alasan yang kuat untuk menolak! Di catatan sipil juga bias.
Tonny : Kalau aku melepas orang tuaku aku kan belum bekerja.
Eddy : Lihat Burhan apa dia sudah bekerja? Toh dia juga mengawini Nuniek.

“Pelan-pelan Tonny memandangi Hastien, pertama yang dilihatnya adalah perutnya yang tanpa sedikit besar. Lalu dengan pelan-pelan pula Tonny melangkah kearah Hastien, kemudian berjabat tangan”.

Tonny : Hastien, aku berjanji dalam waktu dekat ini aku akan mengajakmu ke catatan sipil.
Hastien : Terima kasih
Eddy : Ton kalau cuma janji kosong yang kau berikan kepada Hastien jangan harap kau bisa hidup tenang.

“Tonny tak berani memandang Eddy yang memucat kemarahannya”
Burhan : Terima kasih atas usahamu Ed.
Eddy : (mengangguk) sama-sama.

No comments: