Wednesday, July 29, 2009

Filsafat Pendidikan Islam

BAB I
LATAR BELAKANG MUNCULNYA
FILSAFAT PENDIDIKAN

A. PENGANTAR
Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother ofsciences) yang mampu menjawab segala pertanyaan dan perma¬salahan. Mulai dari masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala probtema¬tika dan kehidupannya. Namun karena banyak, permasalahan yang tidak dapat dijawab lagi oleh filsafat, maka lahirlah cabang ilmu pengetahuan lain yang membantu menjawab segala macam permasalahan yang timbul.
Di antara permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh filsa¬fat adalah permasalahan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Padahal menurut John Dewey, seorang filosof Amerika, filsa¬fat merupakan teori umum dan landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan (Barnadib, 1990: 15). Tugas filsafat adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-¬faktor reality dan pengalaman yang banyak terdapar dalam lapangan pendidikan.

B. PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT SPRITIUALISME KUNO
Sejarah menunjukkan bahwa kini filsafat tidak lagi membawa pemikiran mengenai adanya subjek besar sebagaimana masa lalu. Kemajuan ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahu¬an alam, telah menggoyahkan dasar-dasar pemikiran filsafat. Banyak hal yang semula menjadi bagian dari filsafat yang membahas tentang ilmu asal (epistemologi), kini menjadi topik pokok perhatian dari ilmu-ilmu fisiologis dan psikologis.
Kosmologi telah berhasil meneliti dalam astronomi, fisika dan logika dengan cemerlang berhasil memodifikasikan diri lewat karya-karya tokoh- tokoh ahli matematika. Begitu juga metafisika dan etika, tanpa meninggalkan cacat sedikit pun tidak terhindar dari kemajuan ilmu pengetahuan. Banyak para ahli filsafat modern menolak sama sekali seluruh pernyataan-pernyataan metafisika sebagai omong kosong, karena keyakinan terhadap pernyataan-pernyataan itu tidak didasarkan pada penelitian yang biasa digunakan. Dengan kata lain, pernyataan-pernyataan etis filosofi tidak berdasarkan fakta, tetapi hanyalah berbentuk kalimat-kalimat yang tidak bisa dibuktikan.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa filsafat mulai berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi semacam pendekatan dan perekat kemba¬li berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan lainnya. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa filsafat berkembang sesuai dengan perputaran dan perubahan zaman. Paling tidak, sejarah filsafat lama membawa manusia untuk mengetahui salah satu cerita dalam kategori filsa¬fat spiritualisme kuno. Kira-kira 1200-1000 SM sudah terdapat cerita-cerita lahirnya Zararhusthra, dari keluarga Sapitama, yang lahir di tepi sebuah sungai, yang ditolong oleh Ahura Mazda dalam masa pemerintahan raja-raja Akhmania (550-530 SM).

1. Timur Jauh
Yang termasuk dalam wilayah timur jauh ialah China, India, dan Jepang. Di India, berkembang filsafat spiritualism Hinduisme dan Buddhisme. Sedangkan di Jepang berkembang Shintoisme. Begitu juga di China, berkembang Taoisme dan Konfusianisme (Gazalba, 1986: 60).
a. Hindu
Pemikiran spiritualisme Hindu adalah konsep karma yang berarti setiap individu telah dilahirkan kembali secara berulang dalam bentuk manusia atau binatang sehingga menjadi suci dan sempurna sebagai bagian dari jiwa universal (reinkarnasi). Karma tersebut pada akhirnya akan menentukan status seseorang sebagai anggota suatu kasta. Poedjawijacna (1986: 54) mengatakan, bahwa para filosof Hindu berpikir untuk mencari jalan lepas dari ikatan duniawi agar bisa masuk dalam kebebasan (yang menurut mereka) sempurna.

b. Buddha
Pencetus ajaran Buddha ialah Sidarta Gautama (kira-kira 563 – 483 SM) sebagai akibat dari ketidakpuasannya terhadap penjelasan para guru Hinduisme tentang kejahatan yang sering menimpa manusia. Setelah melakukan hidup bertapa dan meditasi selama enam tahun, secara tiba-tiba dia menemukan gagasan dan jawaban dari pertanyaannya. Gagasan-gagasan itulah yang kemudian menjadi dasar-dasar agama Hindu (Samuel Smith, 1986: 12).
Kitab Buddha, Tripitaka, banyak menceritakan tentang kehidupan daripada pembawa agama ini, yaitu Sidharta Buddha Gautama. Dalam pemurnian keadaan menjadi sempurna, Buddha menyebarkan 8 jalur yang mulia (the noble eighfold path) :
a. Pandangan yang benar (pengetahuan tentang apa-apa yang jahat dan bagaimana caranya menghindarkannya);
b. Aspirasi yang benar (motivasi yang benar untuk menaklukkan perbuatan-perbuatan yang baik hati);
c. Berbicara yang benar (menjauhi bohong, fitnah, gunjingan, dan kata-kata yang hina);
d. Berbuat yang benar (menjauhi pencurian, mabuk, melukai makhluk-makhluk hidup dan moral seksual)
e. Mata pencaharian yang benar (menghindari pekerjaan yang berbahaya, perbudakan dan karier milieter)
f. Berusaha yang benar (usaha untuk menghapuskan emosi-emosi yang jahat, untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang baik;
g. Kesadaran yang benar (menghapuskan kekuasaan, ambisi, dan rasa kekesalan);
h. Renungan yang benar (rasa terpesona perenungan yang tercapai melalui Yoga)
8 ajaran tersebut dipelajari, maka manusia akan menjadi mulia dan sempurna. Sebaliknya, apabila manusia cenderung melakukan pelanggaran, ia akan menjadi sengsara. Karena filsafat Buddha berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terliputi oleh sengsara yang disebabkan oleh “cinta” terhadap suatu yang berlebihan.

c. Taoisme
Pendiri Taoisme ialah Lao Tse, lahir pada tahun 604 SM. Tulisannya yang mengandung makna filsafat adalah jalan Tuhan atau sabdaTuhan, Tao ada di mana-mana, tetapi tidak berbentuk dan tidak dapat pula diraba, tidak dapat dilihat dan didengar. Manusia harus hidup selaras dengan Tao dan harus bisa menahan nafsunya sendiri. Peperangan, menurut Lao Tse, hanya memusnahkan manusia saja, kebahagiaan hidup sulit dicapai dengan peperangan (Jumhur & Danasaputra, 1979: 18). Karenanya, dalam buku tentang Tao, dijelaskan bahwa kekuatan yang selalu berubah disebut Tao, yang jelas bekerja di seluruh jagat raya, sedangkan kekuatan pribadi yang berasal dari kebersesuaian dengan Tao disebut Tei (Wing, 1987)
Pengertian Tao dalam filsafat Lao Tse tersebut dapat dimasukkan dalam aliran spiritualisme.
Taoisme menenganggap bahwa alam semesta sebagai sistem yang sempurna dan ideal berjalan menurut kekuatan bertuhan. Surga pun mempunyai hukum alam sendiri. Tetapi hukum rentang manusia dan dunia semacam itu di bawah kekuasaan dan kendali Tao, yang memberi petunjuk dan merupakan hukum yang memerintah alam semesta ini.

d. Shinto
Shinto merupakan salah satu kepercayaan yang banyak dipeluk masyarakat Jepang. Shinto merupakan agama (keper¬cayaan) yang utama di jepang, di samping Buddhisme. Sejak abad ke-19 Shinto telah mendapat status sebagai agama resmi negara, yang menitikberatkan pemujaan alam dan pemujaan leluhur.
Agama Shinto tumbuh dan berkembang di Jepang, yang sangat respek terhadap alam (nature) disebabkan ajaran-ajarannya mengandung nilai antara lain kreasi (sozo), generasi (sizi), dan pembangunan (hatten), sehingga ia menjadi jalan hidup dan kehidupan, dan mengandung nilai optimis. Agama Shinto memiliki ajaran-ajaran moral sebagai berikut :
1. Jangan melanggar keinginan (kecintaan) terhadap Tuhan
2. Jangan lupa kewajiban
3. Jangan melanggar pernyataan (peraturan) Negara
4. Jangan lupa atas kebaikan yang mendalam dari Tuhan, di mana kesalahan kesempatan dihindari dan menyakitkan diakhiri (diobati)
5. Jangan lupa bahwa alam ini merupakan satu keluarga besar
6. Jangan lupa atas keterbatasan-keterbatasan diri
7. Meskipun orang lain marah, kamu jangan menjadi marah
8. Jangan malas dalam urusan bisnismu
9. Jangan menjadi seseorang yang melakukan kesalahan dalam mengajar
10. Jangan terbuai dengan ajaran-ajaran luar negeri (Dixen, 1988: 64)
Kepuasan yang mereka miliki bukan diukur dengan materi. Keyakinan itulah yang mendorong mereka untuk bekerja sama dan menghasilkan yang lebih baik.

2. Timur Tengah
a. Yahudi
Yahudi berasal dari nama seorang putra Ya’kub, Yahuda, putra keempat dari 12 orang bersaudara. 12 orang inilah yang kelak menjadi nenek moyang bangsa Yahudi, yang terdiri dari 12 suku bangsa. Bangsa Yahudi dinamakan, bangsa Israel. Agama Yahudi pada prinsipnya sama dengan agama Nasrani dan agama Islam, karena itu agama Yahudi (disebut juga agama kitab (samawi), yang berarti agama yang mempunyai kitab suci dari nabi.
Kaum Yahudi sangat mementingkan pendidikan bagi generasinya. Pendidikan merupakan hal yang pokok dan lebih utama ketimbang kekuatan militer. Rasa cinta kepada anak-anak, kepercayaan terhadap keadilan, kebenaran dan potensi masyarakat beserta ganjaran-ganjarannya di surga, tentunya bisa dicapai hanya dengan pendidikan.
Untuk selanjutnya, ajaran Yahudi tersebut mengalami penyesuaian dengan filsafat Helenismenya Philo (30-50). Philo adalah keluarga iman kelahiran Alexandria. la membedakan tafsiran lahiriah dan tafsiran batiniah. Menurutnya, Allah merupakan figur adikodrati yang berbeda dengan kosmos atau dengan lainnya. Karena Allah adalah ruh yang transenden, tidak tampak di dunia ini. Allah tidak dijadikan oleh sesuatu, tidak memenuhi sifat-sifat duniawi, tidak dibatasi ruang, waktu dan tidak berwujud sebagaimana halnya makhluk dan benda lain. Philo berpendapat bahwa sangat dapat menjelaskan Allah. Terutama tentang keesaan, tidak tersusun dari bagian-bagian, tentang kesempurnaan yang tertinggi, keindahan yang azali, kebaikan yang mutlak dan mahakuasa (Hadiwijono, 1986: 62-64).
Lebih kurang 200 tahun SM, di Palestina telah tumbuh berbagai lembaga pendidikan yang membahas dan mempelajari syariat dan hukum-hukum Torah (Rifa’i, 1987 : 80). Lembaga pendidikan itu muncul dalam rangka untuk mengimbangi pengaruh ajaran filsafat dan kebudayaan Yahudi, yang sudah mengalami kemajuan di bidang pendidikan.'I'erbukti, banyak berdiri sekolah dasar bagi para anak laki-laki di setiap desa dan program pendidikan khusus bagi wanita di rumah. Program pendidikan mereka sudah bersifat universal. Tak heran jika doktrin-doktrin monotoisme dan pengajaran-pengajaran etis telah meresapi pikir-pikiran kaum Yahudi.

b. Kristen
Pengikut agama Kristen pada waktu itu tidak ubahnya seperti pengikut agama lain, yaitu dari golongan rakyat jelata. Setelah berkembang, pengikutnya pun merambah ke kalangan atas, ahli pikir (filosof) dan kemudian para pemikir. Atas kemajuannya, zaman ini disebut zaman Patristik. Pater berarti bapa, yaitu para bapa gereja. Zaman Patristik adalah zaman rasul (pada abad periama) sampai abad kedelapan. Para filosof Kristen pada masa itu mempunyai identitas yang bervariasi dan mempunyai banyak aliran pemikiran. Namun dalam hal-hal tertentu mereka mempunyai persa¬maan dalam bertindak, antara lain: (a) semua mengajarkan adanya penetapan mutlak ruh sebagai asas segata yang baik dan benda sebagai asas bagi segala yang jahat; (b) penciptaan bukan dilakukan oleh Allah, namun oleh kaum ruhaniwan yang lebih rendah; dan (c) kelepasan hanya terbatas pada sekelompok kecil orang yang berhasil naik dari iman ke pengetahuan (uposis) karena iman ditafsirkan penting bagi orang-orang sederhana, kaum psikis, dan kaum somatic (Hadiwijono, 1991 : 72)

Pertumbuhan agama Kristen ini unik. Dari situ sekte Yahudi, agama ini telah menjadi suatu agama dunia (hn menjadi agama utama di bagian dunia sebelah barat (Roham, 1993: 3). Perkembangan agama ini sangatlah pesat berkat keberanian, ketabahan dan ketekunan para pengikutnya. Meskipun mereka mengalami berbagai macam rintangan baik dari orang-orang Yahudi, yang tidak mau memercayai agama mereka, maupun dari kerajaan Romawi. Penyebar agama Kristen di luar orang- orang Yahudi mula-mula dilakukan oleh Paulus, bekas pendetaYahudi yang berbalik menjadi penyiar di Eropa.
Agama Kristen ini mempunyai kitab suci yang dikenal dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama (Old Testament) diperkirakan sudah ada sejak abad 40 SM. Bahasa yang dipakai yaitu bahasa Ibrani. Kitab agama Kristen ini bernama Injil, yang diturunkan kepada Isa Al-Masih guna dijadikan tuntunan bagi Bani Israil. Injil yang dianggap sal oleh gereja itu ada 4.
1. Injil karangan Markus ditulis tahun 60
2. Injil karangan Matins ditulis tahun 70
3. Injil karangan Lukas dituliS tahun 95
4. Injil karangan Yahya ditulis tahun 100.
Agama Kristen ini juga mempunyai ajaran-ajaran. Pokok ajarannya adalah mengajarkan konsep Tuhan dalarn arti monoteisme murni. Dasar kepercayaan keagamaan yang dijadikan sumber ajaran-ajaran agama kristen ini kemudi¬an dikembangkan oleh Paulus mengenai pokok keyakinan yang hares diimani dan dipegang, yang tersimpul dalam, doktrin-doktrin, yang diajarkan Paulus dalam lingkungan jemaat-jemaat acing di Asia Kecil (Sou'yab, 1993: 329).
Di antara tokoh-tokoh Kristen adalah Martin Luther. Ia anak seorang pekerja tambang, yang dibesarkan di salah satu desa di Jerman. Ia seorang yang cerdas dan ayahnya memasukannya ke universitas di Erfurt, hingga akhirnya ia menjadi biarawan. Kedua, John Calvin, ia dibesarkan dalam keluarga yang cukup terkenal. Ayahnya adalah sekretaris seorang uskup di Prancis. la belajar di Paris dan tamat sebagai Doktor Hukum tahun 1531. Tetapi tidak lama kemudian, ia mengalami perubahan besar dalam hidupnya. la menyadari keadaannya sebagai orang yang berdosa di hadapan Allah, dan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan Calvin mendirikan universitas di Jenewa yang menjadi pusat ajaran Kristen Protestan untuk seluruh Eropa, yang memancarkan sinarnya sampai ke seluruh dunia. Dan yang ketiga adalah John Wesley, di Inggris. Ia adalah anak ke-15 dari 19 bersaudara, lahir pada tahun 1707. Ayahnya adalah seorang pendeta miskin dan banyak orang yang memusuhinya. Mereka pernah membakar rumahnya di tengah malam.
3. Romawi dan Yunani : Antromorpisme
Antromorpisme merupakan suatu paham yang menyamakan sifat-sifat Tuhan (pencipta) dengan sifat-sifat yang ada pada manusia (yang diciptakan). Misalnya tangan Tuhan disamakan dengan tangan manusia. Paham ini muncul pada zaman Patristik dan Skolastik, pada akhir zaman kuno atau zaman pertengahan filsafat yarat yang dikuasai oleh pemikiran Kristiani. Pada periode ini filsafat diajarkan di sekolah-sekolah, biara-biara, dan universitas.
Aliran-aliran filsafat yang mempunyai pengaruh sangat besar di Roma adalah, pertama, epistemologi,- yang dimotori oleh Epicurus (341-270). Epicurus mengatakan bahwa rasa suka akan dimiliki apabila hidup secara relevan dengan alam manusia. Menurutnya, anggaplah rasa suka itu sebagai sifat yang hendaknya selalu dimiliki. Sementara rasa duka merupakan yang terburuk, dan hendaklah dihindari. Mengingat dunia ini terdapat banyak dengan kedukaam maka manusia hendaknya memiliki sifat khali (sunyi atau sendirian) agar dapat merasakan kehidupan yang sempurna, yakni kesepian jiwa atau ketenangan hidup. Kedua, aliran Stoa, yang dipelopori oleh Zeni (336-246). Aliran ini mempunyai pendapat bahwa adanya manusia hidup sesuai dengan alam (Poedjawijatna, 1986: 22).
Perlu diketahui bahwa pengikut aliran Stoa mempun,,-i¬keyak-irian bahwa semua manusia itu sama. Aliran ini tidak mengenal atau tidak menghendaki perbedaan: tidak ada perbe¬daan antara bangsa Romawi dengan bangsa Barbar atau antara orang merdeka dengan budak-budak belian. Tidak dijelaskan lebih jauh dalam hal apa perbedaan itu tidak ada.
Yunani dikenal dengan nama polis (negara kota). Orang- orang Yunani tidak mau terikat pada satu pemerintahan yang bersifat sentralistik dan menentukan segala-galanya untuk setiap orang Yunani. Tiap-tiap polis mempunyai pemerintahan sendiri dan merupakan pusat penghidupan politik, ekonomi dan kebudayaan (Smith, 1986: 84). Karena tiap kota mempunyai pemerintahan, akibatnya terjadilah kesalahpahaman yang mengakibatkan perpecahan di antara mereka. Yang bisa menimbulkan persatuan di antara mereka adalah sastra dan olahraga. Kedua faktor ini merupakan faktor yang penting dalam pendidikan Yunani keno. Oleh karena di Yunani sering terjadi perpecahan, maka setiap pemuda diharuskan untuk mengadakan latihan-latihan tentara, untuk menjaga polis-polis mereka.
Masa keemasan Yunani merupakan puncak peradaban Yunani Pada masa ini hasil-hasil filsafat Yunani memberikan warna terhadap peradaban dunia dewasa ini, bukan hanya pada perkembangan filsafat, tetapi juga perkembangan ilmu penge¬tahuan (Salam, 1988: 110). Ini juga, berarti bahwa di Yunani perkembangan filsafat dan kemajuan ilmu pengetahuan berkembang dengan baik sampai seantero dunia. Pada masa ini juga muncul filosof-filosof yang membantu perkembangan dunia pendidikan.
Selain di Yunani, antromorpisme juga berkembang di Romawi. Namun demikian, sifat-sifat persamaan manusia dengan Tuhan dalam paham antromorpisme Yunani dan Romawi itu tidak sama dengan paham yang dianut oleh aliran teologi dalam Islam semisal Qadariah.
Sejarah Romawi kuno bersumber pada legenda yang dikisahkan dalam bentuk syair karya seorang, pujangga besar Romawi Vergelius yang berjudul Aenied (Aeneis). Aenied karya Vergelius seolah-olah merupakan sumbangan dari Illiat karya pujangga besar Yunani, Homeros. Jika Illiat mengisahkan peperangan dan kejatuhan Troya, maka Aenied menceritakan petualangan Aeneis, salah seorang pahlawan Troya, yang bisa menyelamatkan diri saat kota Troya telah menjadi puing-puing sesudah dibakar habis oleh orang-orang Yahudi (Rapar, 1989: 5-6).
Bagi orang Romawi, kemanusiaan telah membuat kemajuan besar dalam bidang-bidang etis sosial dan kultural. Pada pendidikan lama Romawi, anak-anak laki-laki maupun perempuan dididik di rumah hingga umur tujuh tahun, untuk membiasakan yang baik dalam hal pembicaraan dan perbuatan. Setelah bertambah umur, mereka diajarkan berburu, berlari, melompat, bergumul, melempar bola dan tombak, berkuda, menunggang kuda, dan juga berenang. Saat itu, pendidikan yang penting bagi anak Romawi adalah yang berguna, yang menguntungkan negara, menjaga agama dan kesusilaan. Kegiatan pendidikan itu berlangsung di rumah masing-masing dan yang menjadi pendi¬dik adalah orangtua mereka sendiri. Pendidikan tidak menjadi tugas negara, yang dipentingkan adalah jasmani dan kesusilaan. Tujuannya adalah untuk membentuk manusia yang selalu siap sedia berkorban membela kepentingan tanah airnya; membentuk warga negara menjadi tentara.
Adapun tokoh-tokoh Romawi yang termasyhur adalah Cicero dan Quintilianus. Selain ahli pidato, keduanya juga telah banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada pendidikan dan filsafat. Gagasan dan pemikiran Cicero tentang pendidik¬an banyak sekali, dan salah satunya dijadikan sebagai contoh untuk mengajarkan pemakaian bahasa secara efektif dan filsa¬fat oleh para cendekiawan di seluruh Eropa. Dia jugalah yang telah memberikan dorongan yang hebat untuk mempelajari tulisan-tulisan Yunani dan Romawi keno terhadap unsur-unsur kebudayaan Renaisance.


C. REAKSI TERHADAP SPIRITUALISME DI YUNANI
Manusia adalah benda kompleks, karena manusia merupakan kesatuan diversitas dan diversicas kesatuan (Poespoprojo, 1987 : 1). Dengan kesempurnaan yang, dimiliki, manusia selalu berusaha untuk menemukan dan menanamkan sesuatu. Usaha itu biasanya dilakukan manusia dengan menganalisis alam (Anion, 1990: 21). Dari usaha inilah manusia mendapatkan ide dan kesadaran.
Manusia menerima pengaruh lingkungannya dan mengungkapkannya dengan akal dan pikiran yang lazim disebut pengetahuan. Pembacaan manusia terhadap alam itu menimbulkan kesan bahwa alam mempunyai bentuk dan nama. Pembacaan itu biasanya berkisar pada tumpahan pemikiran dan pengindraan yang difungsikan olch manusia (Poespoprojo, 1990: 3) untuk kehidupannya yang difokuskan pada pemenuhan kekayaan rohani dan jasmani.
Spirirualisme merupakan suatu aliran filsafat yang memen¬tingkan keruhanian, lawan dari materialisme (Poerwadarminta, 1984: 963). Karena itu, spiritualisme mendasari semua yang ada di alam ini terdiri dari ruh, sukma, jiwa yang tidak berbentuk dan tidak menempati ruangan. Jiwa mempunyai kekuatan dan dapat melakukan tanggapan (voorsteling) atau sesuatu yang bukan berasal dari tangkapan pancaindra, yang datang secara tiba-tiba berbentuk gambaran. Dengan kata lain, jiwa adalah alat untuk menerima sesuatu yang bersifat non-materi yang tidak bercam¬pur dengan tangkapan-tangkapan pancaindra lahiriah. Jiwa ini menangkap angan-angan yang murni dan alami pada lapangan metafisis (Suryadipura, 1994: 105). Matra dari itu, yang hendak dicapai olch jiwa adalah menentukan sesuatu yang nyata dengan melalui alam metafisis yang keberadaannya di luar jangkauan rasio dan yang bersifat material.
1. Idealisme
Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM). Ia adalah murid Socrates (Ali, 1996: 23). Aliran idealisme merupakan suatu aliran filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurut aliran ini, cita adalah gambaran yang bersifat-ruhani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayang-bayang dunia yang ditangkap oleh pancaindra (Suryadipura, 199.1 133). Dari pertemuan jiwa dan cita, lahirlah suatu angan-angan, yaitu dunia idea. Aliran ini memandang dan menganggap yang nyata hanya idea. Idea selalu tetap, tidak mengalami perubuhan dan pergeseran yang mengalami gerak yang tidak dikategorikan idea (Poedjawijatna, 1987: 23). Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, dan gambaran aslinya hanya dapat dipotrer oleh jiwa murni. Menurut pandangan idealisme, alam adalah gambaran dari dunia idea disebabkan posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli di mana keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material (Ali, 1986: 29). Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk, Sedangkan jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh (idea).
Kadang dunia idea adalah pekerjaan ruhani berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita dalam lapangan metafisik. Menurut Berguson, ruh merupakan sasaran untuk mewujudkan suatu visi yang jauh jangkauannya, yaitu intuisi, dciip,.m melihat kenyataan bukan sebagai materi yang beku maupun dunialuar yang tak dapat dikenai,-melainkan dunia Jaya hidup yang kreatif (Peursen, 1978: 36).
Aliran idealisme sangat identik dengan alam dan lingkungan, karena itu aliran ini melahirkan dua macam realita. Pertama, yang tampak yaitu apa yang dialami oleh kita selaku makhluk hidup dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada yang mati, demikian seterusnya. Kedua, realitas sejati, yang merupakan sifat yang kekal dan sempurna (idea). Gagasan dan pikiran yang utuh di dalamnya memiliki nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak, karena idea merupakan wujud yang hakiki (Ibid., 1978: 6 1.
Inti yang terpenting dari ajaran ini adalah bahwa manusia menganggap ruh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi bagi kehidupan manusia. Ruh merupakan hakikat yang sebenarnya, sementara benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari ruh atau sukma. Aliran idealisme berusaha menerangkan secara alami pikiran yang keadaannya secara metafisis yang baru berupa gerakan-gerak¬an ruhaniah, dan dimensi gerakan tersebut untuk menemukan hakikat yang mutlak dan murni pada kehidupan manusia. Demikian juga hasil adaptasi individu dengan individu lainnya, sehingga terbentuklah kebudayaan dan peradaban baru (Bakry,1992:56).
Proses dan perjalanan aliran idealisme telah banyak membe¬rikan pengaruh pada kehidupan filsafat sesudahnya, seperti J. Fichte (Jerman, 1762), yang sependapat dengan Kant bahwa filsafat merupakan ilmu tentang batas-batas kemungkinan pengetahuan kita; maksud ruang lingkup dunia filsafat sebatas kemampuan yang ada pada manusia. Demikian juga, lanjutnya, bahwa pengamatan berawal dari benda-benda menuju aliran materialisme. Benda-benda atau objek diberi bentuk oleh akal kata yang disebutnya idealisme (Hamersma, 1986: 35).
Begitulah bahasan aliran idealisme yang menjelaskan bahwa dunia bertubuh dengan dunia yang tidak bertubuh ini terpisah sama sekali. Begitu pula perbedaan antara pandang¬an dan pikiran atau pengetahuan dengan pengertian, keduanya hanya mengenal dunia yang ada tetapi tidak berwujud (Harty, 1986: 101). Dunia yang bertubuh itu tidaklah berdiri sendiri, ada hubungannya dengan dunia yang tidak mempunyai tubuh. Sementara dunia ide akan memberikan makna dan tujuan pada dunia lahir, inspirasi yang melahirkan suatu kehidupan hanya reaksi dunia luar.

2. Materialisme
Aliran materialisme merupakan aliran filsafat yang berisikan tentang ajaran kebendaan. Menurut aliran ini, benda merupa¬kan sumber segalanya (Poerwadarminia, 1984: 683). Aliran ini berpikiran sederhana, bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini dapat dilihat atau diobservasi, baik wujudnya, gerakannya, maupun peristiwa-peristiwanya.
Berdasarkan persepsi itu, maka realita semesta ini pastilah sebagaimana yang tampak di hadapan kita. Semuanya adalah: materi, serbazat, serbabenda. Manusia merupakan makhluk ilmiah yang tidak memiliki perbedaan dengan alam semesta, karena itu tingkah laku manusia pada prosesnya sejalan dengan sifat dan gerakan peristiwa alamiah; menjadi bagian hukum alam. Dengan demikian, gerakan manusia adalah bagian dari gerakan alam semesta dan merupakan suatu pola mekanisme atau perjalanan menurut aturan yang mengikat dan terkait. Dengan kata lain, manusia tunduk dan terlibat dengan peristiwa hukum alam, hukum sebab akibat (kausalitas), hukum yang objektif, di mana manusia bergerak karena menerima akibat sesuatu. Reaksi manusia tersebut merupakan stimulus response (Muhammad Noor Syam, 1986: 162-163).
Fokus aliran materialisme adalah benda, dan segala berawal dari benda. Karena itu yang nyata hanya dunia materi. Segala kenyataan yang didasarkan pada zat atau unsur dan jiwa, ruh, sukma (idealisme), oleh aliran materialisme dianggap materi. Meskipun mempunyai sifat yang berbeda dengan sifat materi, jiwa, ruh, dan sukma itu mempunyai naluri untuk bergerak sendiri, yang mempunyai gerakan yang terbatas sehingga tidak bebas atau kaku.
Tokoh-tokoh aliran meterialisme di antaranya adalah Leukipos dan Demokritus (460-370 SM). Mereka berpendapat bahwa kejadian seluruh alam terjadi karena atom kecil, yang mempunyai bentuk dan bertubuh. Jiwa pun dari atom kecil yang mempunyai bentuk bulat dan mudah bereaksi untuk mengadakan gerak (Suryadipura, 1994: 130). Atom-atom tersebut membentuk satu kesatuan yang dikuasai oleh hukum-hukum fisis kimiawi, dan atom-atom yang tertinggi nilainya dapat membentuk manusia, dan kemungkinan yang dimili¬ki manusia tidak melebihi kemungkinan kombinasi-kombinasi atom. Oleh karena itu, atom tidak pernah melampaui potensi¬-potensi jasmani, karena keduanya memiliki sumber yang sama. Demikian juga dengan keberakhiran atau kematian disebabkan karena hancurnya struktur atom-atom, peleburan dan kombina¬si atom-atom yang ada pada manusia atau alam lainnya.
Pada kenyataannya, isi pemikiran Hobbes banyak diilhami oleh proses alami. Karena filsafat ini banyak dihubungkan dengan kejadian-kejadian dan proses interaksi manusia dengan alam, di mana prosesnya disebabkan oleh adanya pergeseran dan perubahan atom, antara dimensi atom alam dengan atom manusia. Keterpaduan keduanya disebabkan karena manusia dan alam mempunyai dasar yang sama, yaitu sama-sama terbentuk oleh sekumpulan atom-atom.
Dengan memerinci pendapat-pendapat dan pemikiran dari filosof-filosof aliran materialisme diatas, dapatlah diambil pengertian bahwa adanya alam dan struktur kehidup¬an disebabkan adanya kesatuan-kesatuan materi yang terdiri dari atom-atom. Gerakan atom-atom itu merupakan gerakan-¬gerakan yang teratur dan secara berkala menurut hukum alam materi. Di satu sisi, pendapat aliran ini sangat berlebihan, karena ia membicarakan jiwa, sukma, dan ruh, yang meruapakan materi ¬dan proses terjadinya tidak berbeda dengan materi.

3. Rasionalisme
Berbagai ahli pikir telah berusaha menyajikan sebuah gambaran mengenai pengetahuan manusia. Aliran ini berpenda¬pat bahwa sumber pengetahuan itu terletak pada akal. Sedangkan kesadaran terbentuk dalam wadah-wadah pengetahuan, yaitu ide-ide. Penganut aliran ini yakin bahwa kebenaran dan kesesdi¬an terletak di dalam ide kita, bukannya di dalam diri sesuatu. Pengetahuan tersebut menjadi suatu hal yang hidup karena mereka terus-menerus menumpahkan pemikiran mereka untuk mencari atau menentukan hakikat di balik hakikat (Peursen, 1987: 58). Dan untuk mencari atau menemukan hakikat di balik hakikat tersebut, aliran ini menentukan satu alat tunggal yang bisa digunakan untuk menganalisis dan membaca sesuatu yakni akal. Sementara pengalaman (eksperimen), bagi aliran ini, merupakan perangsang bagi pikiran untuk menentukan kebenaran dalam menganalisis suatu objek.
Pelopor aliran rasionalisme adalah Rene Descartes (1595¬1650). Ia juga penggerak dan pembaru pemikiran modern abad ke-17 (Salam, 1988: 78). Menurutnya, sumber pengetahuan yang dapat dijadikan patokan dan dapat diuji kebenarannya adalah rasio, sebab pengetahuan yang berasal dari proses akal dapat memenuhi syarat-syarat ilmiah. Dengan demikian, akal dianggap sebagai perantara khusus untuk menentukan kebenar¬an dalam ilmu pengetahuan. Hal senada juga dinyatakan filosof Blaise Pascal (1632-1662), bahwa akal adalah tumpuan utama dalam menjelajahi pengetahuan untuk menemukan kebenar¬an dan dapat memberikan kemampuan dalam menganalisis bahan (objek).Tetapi, di sisi lain, akal tidak dapat menemu¬kan pengertian yang sempurna tanpa adanya keterkaitan dengan pengalaman. Karena dalam mengambil suatu keputusan yang; berfungsi tidak saja akal, tetapi hati juga turut menentukan.
Demikian halnya dengan Spinoza (1632-1677). la berpen¬dapat bahwa akal adalah tumpuan dari segala sesuatu, tidak ada pengetahuan yang terlepas dari akal, bahkan Tuhan pun menjadi sasaran akal dengan interpretasi religius. Alasannya, kekuasaan dan kebesaran Tuhan hanya dapat dibuktikan dengan berfungsinya akal. Dengan catatan, akal merupakan jalur utama dalam menghadapi substansi-substansi yang ada (Mamersma, 1986: 11).
Memang akal merupakan karunia Tuhan yang tertinggi. Akallah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Demikian juga derajat manusia, ditentukan oleh akalnya. Dan sebagai makhluk hidup, manusia dilengkapi dengan empat hidayah Tuhan yang paling berhubungan satu sama lain. Perta-ma, hidayah indriawi, berupa alat tubuh vital yang menjadi komponen pertama yang diterima oleh akal atau pikiran. Kedua, hidayah naluri, merupakan suatu kehendak untuk menggerakkan manusia sehingga menimbulkan rangsangan yang akan diterima oleh indra. Ketiga, hidayah akliah, yang bisa disebut dengan rasio atau respons yang masuk dengan perantara naluri dan indra. Keempat, hidayah agama, yaitu bimbingan agama untuk meluruskan pekerjaan akal dengan memproses bahan-bahan yang masuk. Dalam hal ini, agama menyeimbangkan dan mengontrol pelaksanaan akal yang menyimpang.

D. PEMIKIRAN FILSAFAT YUNANI KUNO HINGGA ABAD PERTENGAHAN
Suatu pandangan teoretis itu mempunyai hubungan erat dengan lingkungan di mana pemikiran itu dijalankan, begitu juga lahirnya filsafat Yunani pada abad ke-6 SM. Bagi orang Yunani, filsafat merupakan ilmu yang meliputi semua penge¬tahuan ilmiah. Di Yunanilah pemikiran ilmiah mulai tumbuh terutama di bidang filsafat pendidikan.

Menurut Poedjawijawa (1983: 23-25), filsuf-filsuf alam yang terkenal pada masa ini adalah :
1. Thales (624-548 SM), yang berpendapat bahwa intisari alam ini ialah air.
2. Anaximandros, yang menyatakan bahwa dasar pertama alam itu ialah zat yang tak tertentu sifat-sifatnya, yang dinamakan to aperiron.
3. Anazimenes (590-528 SM), yang mengatakan bahwa intisari alam adalah udara, karena udaralah yang meliputi alam dan udara pula yang menjadi dasar hidup bagi manusia untuk bernafas.
4. Pitagoras, yang menyatakan bahwa dasar segala sesuatu ialah bilangan. Orang yang tahu dan mengerti betul akan bilangan, maka ia akan mengetahui segala sesuatu. Ia juga berpendapat bahwa pada manusia ada sesuatu non-jasmani yang tidak dapat mati jika manusia sudah mati, yaitu jiwa. Menurutnya, jiwa itu sekarang terhukum dan terkurung dalam badan. Manusia harus membersihkan diri, karena dengan membersihkan diri (katarsis) jiwa manusia dapat melepaskan dirinya dari kurungan sehingga ia mendapatkan kebahagiaan.
5. Heraklitos, yang mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini berubah. Tak ada sesuatu yang tetap. Menurutnya, intisari dunia adalah api, karena sifat api itu selalu bergerak dan berubah, tidak tetap. Bahwa yang menjadi sebab itu ialah gerak, perubahan atau menjadi.
6. Parmenides, ia dilahirkan di Elea. Penganutnya biasa disebut kaum Elea. Pendapatnya merupakan kebalikan dari filsafat Heraklitos. Parmenides mengakui adanya pengetahuan yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah, serta pengetahuan mengenai yang tetap pengetahuan budi dan pengetahuan indra. Pengetahuan semu itu keliru. Karenanya, realitas bukanlah yang menjadi, yang berubah, bergerak, dan beralih dan bermacam-macam, melainkan yang tetap.

E. PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT SOCRATES (470-399 SM)
Dalam sejarah filsafat, Socrates adalah seorang pemikir besar kuno (470-399 SM) yang gagasan filosofis dan metode pengajarannya sangat memengaruhi teori dan praktik pendidikan di seluruh dunia Barat. Socrates, lahir di Athena, merupakan putra seorang pemahat dan seorang bidan yang tidak begitu dikenal, yaitu Sophonicus dan Phaenarete (Smith, 1986 : 19).
Prinsip dasar pendidikan, menurut Socrates, adalah metode dialektis. Metode ini digunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seseorang belajar berpikir secara cermat, untuk menguji-coba diri sendiri, dan untuk memperbaiki pengetahuannya. Seorang guru tidak boleh memaksakan gagasan-gagasan atau pengetahuannya kepada seorang siswa, karena seorang siswa dituntut untuk bisa mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis. Metode ini tidak lain digunakan untuk meneruskan intelektualitas, mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan kekuatan mental seseorang. Dengan kata lain, tujuan pendidikan yang benar adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan standar moral yang tinggi (Smith, 1986 : 25).

F. PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT PLATO (427-347 SM)
Plato dilahirkan dalam keluarga aristrokrasi di Athena, sekitar 427 SM. Ayahnya, Ariston adalah keturunan dari raja pertama Athena yang pernah berkuasa pada abad ke-7 SM. Sementara ibunya, Perictions, adalah keturunan keluarga Solon, scorang pembuat Undang-Undang, pcnyair, memimpin militer dari kaum ningrat dan pendiri dari demokrasi Athena terkemu¬ka (Smith, 1986: 29).
Menurut Plato, pendidikan itu sangat perlu, baik bagi dirinya selaku individu maupun sebagai warga negara. Negara wajib memberikan pendidikan kepada setiap warga negaranya. Namun demikian, setiap peserta didik harus diberi kebebas¬an unruk mengikuti ilmu sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing sesuai jenjang usianya. Sehingga pendidikan itu sendiri akan memberikan dampak dan perubahan¬ bagi kehidupan pribadi, bangsa, dan negara.
Dengan demikian, Jelaslah bahwa peranan pendidikan yang paling utama bagi manusia adalah membebaskan dan memperba¬rui. Pembebasan dan pembaruan itu akan membentuk manusia utuh, yakni manusia yang berhasil menggapai segala keutamaan dan moralitas jiwa yang mengantarkannya ke idea yang tinggi yaitu kebajikan, kebaikan, dan keadilan. Cita-cita agung Plato itu terus digenggamnya sampai akhir hayat.
Menurut Plato, tujuan pendidikan adalah untuk menemukan kemampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan melatihnya sehingga ia menjadi seorang warga negara yang baik, masyarakat yang harmonis, yang melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien sebagai seorang anggota masyarakat. Plato juga menekankan pendidikan direncanakan dan diprogramkan sebaik¬-baiknya agar mampu mencapai sasaran yang diidamkan. Dengan kata lain, pendidikan yang baik haruslah direncanakan dan dipro¬gramkan dengan baik agar dapat berhasil dengan baik. Karena itu dalam menanamkan program pendidikan itu, pemerintah harus mengadakan motivasi, semangat loyalitas, kebersamaan dan kesatuan cinta akan kebaikan dan keadilan.
Menurut Plato, pendidikan direncanakan dan deprogram menjadi tiga tahap sesuai tingkat usai. Pertama, pendidikan yang diberikan kepada taruna hingga sampai dua puluh tahun. Kedua, dari usia dua puluh tahun sampai tiga puluh tahun. Ketiga, dari tiga puluh tahun sampai usia empat puluh tahun. Sayangnya,

G. PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT ARISTOTELES (367 – 345 SM)
Aristoteles adalah murid Plato. Dia adalah seorang cendekiawan dan intelek terkemuka, mungkin sepanjang masa. Umat manusia telah berutang budi padanya oleh karena banyaknya kemajuan pemikirannya dalam filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan, khususnya logika, metafisika, politik, etika, biologi, dan psikologi. Aristoteles lahir tahun 394 SM, di Stagira, sebuah kota kecil di semenanjung Chalcidice di sebelah barat laut Egea. Ayahnya, Nichomachus, adalah dokter perawat Amyntas II, raja Macedonia. Ayahnyalah yang mengatur agar Aristoteles menerima pendidikan lengkap pada awal masa kanak-kanak dan mengajarinya ilmu kedokteran dan teknik pembedahan. Ayah dan ibunya, Phaesta, mempunyai nenek moyang terkemuka.
Menurut aristoteles, agar orang dapat hidup baik maka ia harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal memberi bimbingan pada perasaan-perasaaan yang lebih tinggi yaitu akal, guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, sehingga ia memerlukan dukungan-dukungan perasaan yang lebih tinggi agar diarahkan secara benar. Aristoteles mengemukakan bahwa pendidikan yang baik itu yang mempunyai tujuan untuk kebahagiaan. Dan kebahagiaan tertinggi adalah hidup spekulatif (Barnadib, 1994: 72).

DAFTAR ISI



Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab 1
Latar Belakang munculnya Filsafat Pendidikan 1
A. Pengantar 1
B. Perkembangan pemikiran filsafat spiritualisme kuni 1
C. Reaksi terhadap spiritualisme Yunani 9
D. Pemikiran filsafat Yunani Kuno hingga abad pertengahan 13
E. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Socrates (470 – 399 SM) 14
F. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Plato (427 – 347 SM) 15
G. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Aristoteles (367 – 345 SM) 16
Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

- Departemen Agama. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta. 2002.

No comments: