Sunday, July 10, 2011

Anggaran dan Penjualan

1 Pengertian Anggaran
Dalam mengelola perusahaan manajemen perlu menetapkan tujuan dan sasaran. Tujuan dan sasaran tersebut akan dicapai apabila ditunjang oleh kebijakan-kebijakan yang terarah dan perencanaan matang. Perencanaan merupakan pedoman tentang kegiatan yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Perencanaan dirumuskan untuk menggambarkan apa yang ingin dicapai dan bagaimana mencapai tujuan tersebut. Perusahaan dalam perencanaan yang digambarkan dalam angka-angka dan ukuran tertentu disebut dengan istilah anggaran.
Anggaran (budget) merupakan alat pengawasan dibidang keuangan yang digunakan oleh perusahaan yang berorientasi pada laba maupun non laba. Bagi suatu perusahaan, penyusunan anggaran merupakan alat yang dipakai untuk membantu aktivitas kegiatannya agar lebih terarah, misalnya untuk alat perencanaan, alat pengendalian, dan lainnya. Dengan menggunakan data-data anggaran, maka perkembangan perusahaan akan dapat dipelajari dengan teliti dan berkesinambungan. Anggaran dapat berjalan dengan baik apabila dalam organisasi perusahaan tersebut ada dukungan aktif, baik pelaksanaan tingkat atas maupun tingkat bawah.
Berdasarkan hal tersebut, selanjutnya penulis akan mengemukakan pendapat para ahli mengenai pengertian anggaran secara umum yaitu:
Menurut Nafarin (2008:11):
Mengatakan bahwa Anggaran (budget) adalah suatu rencana keuangan periode yang disusun berdasarkan periode yang telah disahkan. Anggaran atau budget merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu.

Menurut Munandar (2000:1):
Mendefinisikan anggaran adalah suatu rencana atau target yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.

Berdasarkan definisi parah ahli diatas penulis menyimpulkan bahwa anggaran adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis, dinyatakan dalam satuan ukuran, mencakup jangka waktu tertentu. Anggaran dibuat oleh manajemen perusahaan yang digunakan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan.

2 Metode dan Faktor Pertimbangan dalam Penyusunan Anggaran
2.1 Metode Penyusunan Anggaran
Penyusunan anggaran dapat menggunakan berbagai metode, hal ini tergantung pada kondisi dan keinginan menajemen perusahaan yang bersangkutan. Menurut Harahap (2001:83) metode yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
Otoriter atau top down
Dalam metode ini, anggaran disusun dan ditetapkan sendiri oleh atasan dan anggaran inipun dilaksanakan oleh bawahan tanpa adanya keterlibatan bawahan dalam penyusunannya. Metode ini ada baiknya digunakan bila karyawan tidak mampu menyusun anggaran atau dianggap terlalu lama dan tidak tepat kalaudiserahkan kepada bawahan. Hal ini terjadi dalam perusahaan yang bawahannya tidak memiliki cukup keahlian untuk menyusun anggaran.
Bottom up
Dalam metode ini, anggaran disusun berdasarkan keputusan karyawan. Anggaran disusun mulai dari bawahan sampai atasan. Bawahan diserahkan sepenuhnya menyusun anggaran yang ditargetkan pada masa yang akan datang. Metode ini digunakan jika karyawan sudah memiliki kemampuan dalam menyusun anggaran dan tidak dikhawatirkan akan menimbulkan proses yang lama dan berlarut.
Campuran antara top down dan bottom up
Dalam metode campuran ini, penyusunan anggaran dimulai dari atas dan selanjutnya diserahkan untuk dilengkapi dan dilanjutkan oleh karyawan bawahan. Jadi ada pedoman dari atasan atau pimpinan dan kemudian dijabarkan oleh bawahan sesuai dengan arahan dari atasan.

2.2 Faktor Pertimbangan dalam Penyusunan Anggaran
Menurut Nafarin (2008:11) menjelaskan bahwa dalam penyusunan anggaran perlu dipertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
Pengetahuan tentang tujuan dan kebijaksanaan umum perusahaan.
Data-data waktu lalu.
Kemungkinan perkembangan kondisi ekonomi.
Pengetahuan tentang taktik, strategi persaingan, gerak-gerik pesaing.
Kemungkinan adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah.
Penelitian untuk pengembangan perusahaan.

Dengan memperhatikan beberapa poin diatas sebagai pertimbangan dalam penyusunan anggaran, maka dapat dihasilkan anggaran yang mendekati kesesuaian dengan realisasinya. Selain itu juga penyimpangan yang terjadi pada pelaksanaan anggaran tersebut dapat diminimalisir.
Lebih lanjut menurut Nafarin (2008:11) dalam penyusunan anggaran perlu diperhatikan pula perilaku pelaksana anggaran dengan cara mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

Anggaran harus dibuat serealitas dan secermat mungkin sehingga tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi. Anggaran yang dibuat terlalu rendah tidak menggambarkan kedinamisan, sedangkan anggaran yang dibuat terlalu tinggi hanyalah angan-angan.
Untuk memotivasi manajer pelaksana diperlukan partisipasi manajemen puncak (direksi).
Anggaran yang dibuat harus mencerminkan keadilan, sehingga pelaksana tidak merasa tertekan tapi justru termotivasi.
Untuk membuat laporan realisasi anggaran diperlukan yang akurat dan tepat waktu, sehingga apabila terjadi penyimpangan yang merugikan dapat segera diantisipasi lebih dini.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa anggaran harus dibuat dengan cermat dan mendekati realitas. Dibutuhkan juga partisipasi dari direksi agar lebih memotivasi manajer pelaksana, dan tidak membuat pelaksana merasa bekerja dibawah tekanan. Terakhir laporan anggaran harus akurat dan tepat waktu.
Menurut Nafarin (2008:12) juga mengemukakan bahwa anggaran yang dibuat akan mengalami kegagalan bila hal-hal berikut ini tidak diperhatikan :
Pembuat anggaran tidak cakap, tidak mampu berpikir kedepan, dan tidak memiliki wawasan yang luas.
Wewenang dalam membuat anggaran tidak jelas.
Tidak didukung oleh masyarakat.
Dana tidak cukup.

Dari beberapa poin di atas diambil kesimpulan bahwa kecermatan dalam penyusunan anggaran, dukungan dari manajer puncak, keadilan, dan keakuratan serta ketepatan waktu merupakan faktot-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan anggaran khususnya yang berkaitan dengan perilaku pelaksana anggaran. Selain itu, ketidakcakapan pembuat anggaran, wewenang yang tidak tegas, tidak adanya dukungan dari masyarakat, dan tidak cukupnya dana akan menjadi faktor penyebab kegagalan suatu anggaran sehingga bila salah satu faktor tersebut terjadi maka akan menghambat jalannya pelaksanaan realisasi anggaran nantinya.
Menurut Munandar (2000:10) terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun anggaran ( budget), faktor-faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu:
Faktor intern, yaitu data, informasi, dan pengalaman yang terdapat dalam perusahaan sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa:
Penjualan tahun-tahun yang lalu.
Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah harga jual, syarat pembayara n barang yang dijual, pemilihan saluran distribusi dan sebagainya.
Kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan.
Tenaga kerja yan g dimiliki perusahaan, baik jumlah (kuantitatif) maupun keterampilan dan keahlian (kualitatif).
Modal kerja yang dimiliki perusahaan.
Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan.
Kebijaksanaan-kebijaksanaan perusahaan yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perusahaan, baik di bidang pemasaran, di bidang produksi, di bidang pembelanjaan, di bidang administrasi maupun di bidang personalia.
Faktor ekstern, yaitu , informasi, dan pengalaman yang terdapat diluar perusahaan, tetapi dirasa mempunyai pengaruh terhadap kehidupan perusahaan. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa:
Keadaan persaingan.
Tingkat pertumbuhan penduduk.
Tingkat penghasilan masyarakat.
Tingkat pendidikan masyarakat.
Tingkat penyebaran penduduk.
Agama, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat.
Berbagai kebijaksanaan pemerintah, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan.
Keadaan perekonomian nasional maupun internasional kemajuan teknologi dan sebagainya.

Dalam membuat maupun menyusun suatu anggaran, setidaknya terdapat dua hal secara garis besar yang harus diperhatikan oleh perusahaan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi data tahun lalu, kebijakan perusahaan mengenai harga, kapasitas produksi, tenaga kerja, modal kerja, fasilitas lainnya, dan kebijakan perusahaan berkaitan dengan fungsi-fungsi perusahaan. Faktor ekstern antara lain persaingan, pertumbuhan penduduk, penghasilan masyarakat, pendidikan masyarakat, penyebaran penduduk, budaya masyarakat, kebijakan pemerintah, dan keadaan perekonomian. Jika kesemuanya itu telah dipertimbangkan dan sejalan dengan rencana pembuatan anggaran perusahaan, maka pembuatan anggaran dapat berjalan dengan lancar, akurat, efektif, dan efisien.

3 Tujuan, Manfaat dan Kelemahan Anggaran
3.1 Tujuan Anggaran
Tujuan anggaran menurut Nafarin (2008:19) adalah sebagai berikut:
Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dari investasi dana.
Memberikan batasan atas jumlah dana yang dicari dan digunakan.
Merinci sumber dana yang dicari maupun jenis investasi dana, sehingga dapat memudahkan pengawasan.
Merasionalkan sumber dan investasi dana agar dapat mencapai hasil yang maksimal.
Menyempurnakan rencana yang telah disusun, karena dengan anggaran lebih jelas dan nyata terlihat.
Menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap usulan yang berkaitan dengan keuangan.

3.2 Manfaat Anggaran
Manfaat anggaran menurut Nafarin (2008:19) yaitu:
Segalah kegiatan dapat terarah pada pencapaian tujuan bersama.
Dapat digunakan sebagai alat menilai kelebihan dan kekurangan pegawai.
Dapat memotivasi pegawai.
Menghindari pemborosan dan pembayaran yang kurang perlu.

Sumber daya seperti tenaga kerja, peralatan dan dana dapat dimanfaatkan seefisien mungkin.
Alat pendidikan bagi para manajer.

Manfaat dalam penyusunan anggaran tersebut yaitu, dapat memotivasi pegawai untuk memikirkan masa yang akan datang. Selain itu, anggaran dapat mendorong terjadinya koordinasi antar individu dan bagian untuk dapat berpartisipasi memanfaatkan sumber daya seefisien mungkin untuk tujuan bersama.

3.3 Kelemahan Anggaran
Selain memiliki banyak manfaat anggaran juga memiliki banyak kelemahan. Kelemahan anggaran menurut Nafarin (2008:20) sebagai berikut:
Anggaran dibuat berdasarkan taksiran dan asumsi sehingga mengandung unsur ketidakpastian.
Menyusun anggaran yang cermat memerlukan waktu, uang, dan tenaga yang tidak sedikit.
Pihak yang dipaksa untuk melaksanakan anggaran dapat mengakibatkan mereka menggerutu dan menentang sehingga anggaran tidak akan efektif.

Kelemahan Anggaran menurut Gunawan (2003:53) yaitu:
Karena anggaran disusun berdasarkan estimasi (potensi penjualan, kapasitas produksi dan lain-lain) maka terlaksananya dengan baik kegiatan-kegiatan tergantung pada ketepatan estimasi tersebut.
Anggaran hanya merupakan rencana, dan rencana tersebut baru berhasil apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Anggaran hanya suatu alat yang dipergunakan untuk membantu manajer dalam melaksanakan tugasnya, bukan menggantinya.
Kondisi yang terjadi tidak seratus persen sama dengan yang diramalkan sebelumnya, karena itu anggaran perlu memiliki sifat yang luwes.


4 Fungsi Anggaran
Fungsi anggaran sesuai dengan fungsi manajemen, anggaran berfungsi sebagai fungsi perencanaan, fungsi perencanaan, serta fungsi pengawasan. Anggaran sebagai alat perencanaan karena anggaran menggambarkan rencana perusahaan di masa yang akan datang, yang dinyatakan dalam satuan. Sebagai fungsi pelaksanaan, maksudnya pekerjaan harus diotorisasi terlebih dahulu oleh yang berwenang. Anggaran sebagai fungsi pengawasan artinya anggaran digunakan untuk menilai hasil dari palaksanaan pekerjaan. Menurut Munandar (2000:10) menyatakan bahwa anggaran mempunyai tiga fungsi, yaitu:
Sebagai pedoman kerja
Anggaran berfungsi sebagai pedoman kerja dan memberikan arahan serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan perusahaan diwaktu yang akan datang.
Sebagai alat pengkoordinasian kerja
Anggaran berfungsi sebagai alat pengkoordinasian kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat di dalam perusahaan dapat saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik untuk menuju sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian kelancaran jalannya perusahaan akan lebih terjamin.
Sebagai alat pengawasan kerja
Anggaran berfungsi pula sebagai tolak ukur, sebagai alat pembanding untuk menilai (evaluasi) realisasi kegiatan perusahaan nantinya.

Setelah melihat penjelasan diatas mengenai fungsi anggaran, dapat diketahui bahwa selain digunakan sebagai pedoman kerja, anggaran juga berfungsi sebagai alat pengkoordinasian kerja dan juga sebagai alat pengawasan kerja. Ketiga fungsi anggaran tersebut saling berkaitan sehingga anggaran yang dibuat dicapai dengan hasil yang memuaskan sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya.
Selanjutnya, menurut Nafarin (2008:28) mengemukakan terdapat tiga fungsi anggaran, sebagai berikut:
Fungsi perencanaan
Arti penting perencanaan dengan menggunakan anggaran adalah perencanaan dana yang seefisien mungkin. Anggaran merupakan alat perencanaan tertulis yang menuntut pemikiran teliti, karena anggaran memberikan gambaran yang lebih nyata/jelas dalam unit dan uang.
Fungsi Pelaksanaan
Anggaran sebagai pedoman pelaksanaan kerja, sebelum pekerjaan terlebih dahulu mendapat persetujuan yang berwenang (terutama dalam hal keuangan). Pekerjaan disetujui untuk dilaksanakan bila ada anggarannya atau tidak menyimpang dari anggaran. Anggaran bertujuan agar pekerjaan dilaksanakan secara selaras dalam mencapai tujuan (laba).
Fungsi Pengawasan
Anggaran merupakan alat pengawasan atau pengendali (controlling). Pengawasan berarti mengevaluasi (menilai) terhadap pelaksanaan pekerjaan, dengan cara:
Membandingkan realisasi dengan rencana (anggarannya)
Melakukan tindakan perbaikan bila dipandang perlu (atau bila terdapat penyimpangan yang merugikan).


5 Jenis-Jenis Anggaran
Menurut Nafarin (2008:13) anggaran dapat dikelompokkan dari beberapa segi berikut ini:
Segi dasar penyusunan
Segi cara penyusunan
Segi jangka waktu
Segi bidang
Kemampuan menyusun
Segi fungsi
Segi penentuan harga pokok produk

Anggaran yang dikelompokkan diatas adalah sebagai berikut:
Segi dasar penyusunannya, anggaran terdiri atas:
Anggaran variabel, anggaran yang disusun berdasarkan interval (kisaran) kapasitas (aktivitas) tertentu dan pada intinya merupakan suatu seri anggaran yang dapat disesuaikan pada tingkat interval (kegiatan) yang berbeda. Anggaran variable disebut juga anggaran fleksible.
Anggaran tetap, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan suatu tingkat kapasitas tertentu. Anggaran tetap disebut juga dengan anggaran statis.
Segi cara penyusunannya, anggaran terdiri dari:
Anggaran produk adalah anggaran yang disusun untuk suatu periode tertentu umumnya satu tahun yang disusun setiap akhir periode anggaran.
Anggaran kontinu adalah anggaran yang dibuat untuk memperbaiki anggaran yang telah dibuat.
Segi jangka waktu, anggaran terdiri dari:
Anggaran jangka pendek (anggaran taktis) adalah anggaran yang dibuat dengan jangka waktu paling lama sampai satu tahun.
Anggaran jangka panjang (anggaran strategis) adalah anggaran yang dibuat dengan jangka waktu lebih dari satu tahun. Anggaran jangka panjang ini diperlukan untuk dasar penyusunan anggaran jangka pendek.
Segi bidang, anggaran terdiri dari anggaran anggaran operasional dan anggaran keuangan. Kedua anggaran ini bila dipadukan disebut “anggaran induk (master budget)”. Anggaran induk merupakan konsolidasi rencana keseluruhan perusahaan untuk jangka pendek yang biasanya disusun atas dasar tahunan.
Anggaran operasional adalah anggaran untuk menyusun laporan laba rugi. Anggaran operasional antara lain terdiri dari:
Anggaran penjualan
Anggaran biaya pabrik yang terdiri dari anggaran biaya bahan baku, anggaran biaya tenaga kerja langsung, dan anggaran biaya overhead pabrik.
Anggaran beban usaha
Anggaran laporan laba rugi
Anggaran keuangan adalah anggaran untuk menyusun anggaran neraca. Anggaran keuangan terdiri dari:
Anggaran kas
Anggaran piutang
Anggaran persediaan
Anggaran utang
Anggaran neraca
Segi kemampuan menyusun, anggaran terdiri dari:
Anggaran komprehensif adalah rangkaian dari berbagai macam anggaran yang disusun secara lengkap. Anggaran komprehensif merupakan perpaduan dari anggaran operasional dan anggaran keuangan secara lengkap.
Anggaran parsial adalah anggaran yang disusun tidak secara lengkap, anggaran yang hanya menyusun bagian anggaran tertentu saja. Misalnya karena keterbatasan kemampuan, maka yang dapat disusun hanya anggaran operasional.
Segi fungsinya, anggaran terdiri dari:
Anggaran tertentu (apropriasi) adalah anggaran yang dibentuk bagi tujuan tertentu dan tidak boleh digunakan untuk tujuan lain. Misalnya anggaran untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Anggaran kinerja adalah anggaran yang disusun berdasarkan fugsi kegiatan yang dilakukan dalam organisasi (perusahaan).
Segi penentuan harga pokok produk, terdiri atas:
Anggaran tradisional atau disebut pula anggaran konvensional terdiri atas anggaran berdasar fungsional dan anggaran berdasar sifat.
Anggaran berdasar fungsional adalah anggaran yang dibuat dengan menggunakan metode penghargapokokan penuh (full costing) dan berfungsi untuk menyusun anggaran induk atau anggaran tetap.
Anggaran berdasar sifat adalah anggaran yang dibuat dengan menggunakan metode penghargapokokan variabel (variable costing) dan berfungsi untuk menyusun anggaran variabel.
Anggaran berdasar kegiatan adalah anggaran yang dibuat dengan menggunakan metode penghargapokokan berdaskan kegiatan dan berfungsi untuk menyusun anggaran variabel dan anggaran induk.
Berdasarkan uraian jenis-jenis anggaran diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa jenis-jenis anggaran merupakan pengelompokan dari beberapa segi seperti, segi dasar penyusunan, segi cara penyusunan, segi jangka waktu, segi bidang, ke mampuan menyusun , segi fungsi, segi penentuan harga pokok produk.

6 Penjualan

Penjualan merupakan sumber hidup suatu perusahaan dan dari penjualan juga perusahaan dapat memperoleh laba. Perusahaan akan melakukan pendekatan untuk mengetahui minat suatu produk yang diinginkan masyarakat. Menurut Marwan (1991), “ penjualan adalah suatu usaha yang terpadu untuk mengembangkan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada usaha pemuasan kebutuhan dan keinginan pembeli, guna mendapatkan penjualan yang menghasilkan laba”. Penjualan menurut Winardi (1982), “penjualan adalah suatu transfer hak atas benda-benda. Untuk melakukan kegiatan penjualan diperlukan orang yang bekerja dibidangnya seperti pelaksanaan dagang, agen, wakil pelayanan dan pemasaran”.

7 Anggaran Penjualan

7.1 Pengertian Anggaran Penjualan

Anggaran penjualan merupakan langkah awal dalam menyiapkan anggaran induk, karena volume penjualan yang diestimasikan mempengaruhi hampir seluruh item-item lainnya dalam anggaran induk. Anggaran penjualan harus menunjukkan total penjualan dalam jumlah maupun nilainya. Total penjualan dapat berupa penjualan impas, target berdasarkan produk, wilayah, konsumen serta pola musiman dari penjualan yang diharapkan. Menurut Nafarin (2008:166) anggaran penjualan merupakan rencana tertulis yang dinyatakan dalam angka produk yang akan dijual perusahaan pada periode tertentu.
Sebelum menyusun anggaran penjualan (sales budget) biasanya membuat forecast (taksiran) untuk penjualan terlebih dahulu. Selain taksiran penjualan menurut Munandar (2000:50), ada beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan karena dapat berpengaruh terhadap penjualan, yatu:
Faktor-faktor intern, yaitu data, informasi dan pengalaman yang terdapat didalam perusahaan sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa:
Penjualan tahun-tahun yang lalu meliputi kualitas, kuantitas, harga, waktu maupun tempat (daerah) penjualannya.
Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah penjualan, seperti misalnya tentang pemilihan saluran distribusi, pemilihan media-media promosi, cara (metode) penetapan harga jual dan sebagainya.
Kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan, serta kemungkinan perluasannya diwaktu yang akan datang.
Tenaga kerja yang tersedia, baik jumlahnya (kuantitif) maupun keterampilan dan keahlian (kualitatif), serta pengembangannya dimasa yang akan datang.
Modal kerja yang dimiliki perusahaan, serta kemungkinan penambahannya diwaktu yang akan datang.
Fasilitas-fasilitas lain yang dimilki perusahaan, serta kemungkinan perluasannya diwaktu yang akan datang.
Faktor-faktor ekstern, yaitu data, informasi dan pengalaman yang terdapat di luar perusahaan, tetapi mempunyai pengaruh terhadap budget penjualan perusahaan. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa:
Keadaan persaingan di pasar.
Posisi perusahaan dalam persaingan.
Tingkat pertumbuhan penduduk.
Tingkat penghasilan masyarakat.
Elastisitas permintaan terhadap harga barang yang dihasilkan perusahaan (demand elasticity), yang terutama akan mempengaruhi dalam merencanakan harga jual dalam budget penjualan yang akan disusun.
Agama, adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat.
Berbagai kebijakan pemerintah, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan.
Keadaan perekonomian nasional maupun internasional.
Kemajuan teknologi, barang-barang subtitusi, selerah konsumen serta kemungkinan perubahannya, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas mengenai faktor penting yang berpengaruh terhadap penjualan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum membuat suatu rencana kita harus dapat memperhatikan berbagai pertimbangan yang dapat mempengaruhi taksiran dalam penjualan baik faktor intern maupun ekstern, sehingga hasil perhitungan kuantitatif nantinya lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga benar-benar menjadi pedoman kerja bagi perusahaan.

7.2 Target Penjualan

Dalam operasional target adalah tujuan, perjalanan suatu unit usaha tidak akan berjalan dengan baik bila tidak memiliki target yang jelas. Dengan adanya target suatu perusahaan akan menjalankan kegiatan yang realistis dan perusahaan dapat meningkatkan kinerja untuk mencapai tujuan. Merujuk pada (http://scribd.com) cara menyusun target penjualan adalah sebagai berikut:
Target penjualan untuk tiga bulan dan menentukan angka yang diinginkan dicapai selama tiga bulan kedepan. Setelah itu, perusahaan menentukan target bulan pertama dan bulan kedua. Dalam menentukan target haruslah realistis dan tidak boleh membuat target yang tidak mungkin dicapai perusahaan. Target realisitis dicapai dan membutuhkan dukungan dari seluruh pihak.

Kinerja yang berhubungan dengan bonus dan insentif sangat penting untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari tenaga penjual perusahaan. Keuntungan dari sales roles adalah efektitivitas masing-masing penjual dapat diukur dan ditentukan dengan jelas dan sasaran harus ditetapkan untuk memberikan indikasi yang jelas tentang kinerja seperti yang harus dicapai perusahaan. Merujuk pada (http://marketingminefield.co.uk) salah satu aspek dari proses target penjualan yang patut dicatat adalah bahwa staf penjualan perusahaan harus terlibat dalam proses penentuan target yang tepat dan peningkatan kinerja.

7.3 Metode Penaksiran dalam Penyusunan Anggaran Penjualan
Menurut Nafarin (2008:96) taksiran atau ramalan penjualan (sales forecast) adalah:
Merupakan proses kegiatan memperkirakan produk yang akan dijual pada waktu yang akan datang dalam keadaan tertentu dan dibuat berdasarkan data yang pernah terjadi dan atau dapat mungkin akan terjadi. Teknik taksiran atau ramalan penjualan dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif atau perpaduan antara keduanya.

Taksiran atau ramalan merupakan perkiraan penjualan pada suatu waktu yang akan datang dalam keadaan tertentu dan dibuat berdasarkan data yang pernah terjadi dan atau dapat mungkin akan terjadi. Metode-metode forecast penjualan menurut Munandar (2005:52), adalah sebagai berikut:
Yang bersifat kualitatif, ialah cara penaksiran yang menitik beratkan pada pendapat seseorang. Beberapa cara penaksiran yang bersifat kualitatif ini antara lain:
Pendapat pimpinan bagian perusahaan (excecutive opinion)
Pendapat para petugas penjualan (salesman)
Pendapat lembaga-lembaga penyalur.
Pendapat konsumen (melalui penelitian pasar)
Pendapat para ahli yang dipandang memahami (konsultan)
Yang besifat kuantitatif, ialah cara penaksiran yang menitik beratkan pada perhitungan-perhitungan angka dengan menggunakan berbagai metode statistika. Cara penaksiran yang bersifat kuantitatif ini antara lain:
Cara yang mendasarkan diri pada data historis dari satu variabel saja, yaitu variabel yang akan ditaksir itu sendiri, misalnya:
Metode trend moment (moment method)
Metode trend least-square (least-square method)
Metode kuadratik (parabolic method)
Cara yang mendasarkan diri pada data historis dari variabel yang akan ditaksir serta hubungannya dengan data historis dari variabel lain yang diduga mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap perkembangan variabel yang akan ditaksir tersebut. Cara penaksiran seperti ini adalah sebagai berikut:
Metode regresi tunggal
Metode regresi ganda
Cara penaksiran yang menggunakan metode-metode statistika (trend maupun regresi) yang diterapkan pada berbagai analisa khusus, seperti:
Analisa industri atau analisa market-share
Analisa jenis-jenis produk yang dihasilkan perusahaan.
Analisa pemakai akhir dari produk.

Lebih lanjut menurut Nafarin (2008:96-110) terdapat dua metode dalam membuat ramalan penjualan, yaitu:
Metode kualitatif, ramalan penjualan yang dibuat secara kualitatif dapat menggunakan metode pendapat para tenaga penjualan, metode pendapat para manajer divisi penjualan, metode pendapat eksekutif, metode pendapat para pakar dan metode pendapat survei konsumen.
Metode kuantitatif, ramalan penjualan yang dibuat secara kuantitatif dapat menggunakan analisis lini produk, metode distribusi probabilitas, analisa tren, dan analisis regresi.
Analisis trend garis lurus, meliputi metode sebagai berikut:
,Metode least-square (trend garis lurus)
Rumus yang digunakan adalah:
Y= a + bx

∑Y ∑X
a = b
n n

n ∑XY-(∑X)(∑Y)
b =
n ∑X2 - (∑X)2
keterangan:
Y = variabel terikat
X = variabel bebas
a = nilai konstan
b = koefisien arah regresi
Metode least-square (trend garis lurus) dapat juga dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, dengan syarat ∑X = 0

Y = a + bx

∑Y
a =
n

∑XY
b =
∑X2

Metode moment
Rumus yang digunakan:
Y = a + bx
∑Y = na + b ∑x
∑XY = a ∑x + b ∑x^2
Analisi trend bukan garis lurus
Metode trend parabola kuadrat (garis melengkung)
Y = a + bx + c (x)2
∑Y = na + c ∑x^2
∑x^2y = a ∑x^2 + c ∑x^4
∑xy = b ∑x^2

Dari beberapa metode di atas yang penulis gunakan dalam laporan akhir ini adalah metode kuadrat terkecil, metode moment, dan metode trend garis lengkung.



8 Analisis Varians
Merujuk pada (http://marikuliah.blogspot.com) standar varians menurut Shim (2000:507) beberapa pendekatan utama yang dapat digunakan adalah, “varians yang lebih kecil dari 5% dianggap tidak material (immaterial). Varians sebesar 10% mungkin lebih dapat diterima untuk perusahaan yang menetapkan standar yang ketat dibandingkan varians 25% untuk perusahaan yang menetapkan standar yang longgar ”.
Untuk mengkaji atau menyelidiki penyimpangan agar dapat menentukan penyebabnya, merujuk pada (http://marikuliah.blogspot.com), menurut welsch (2000:507) beberapa pendekatan utama yang dapat digunakan adalah:
Mengadakan pembicaraan dengan manajer dan supervisor pusat pertanggung jawaban yang bersangkutan.
Analisis pekerjaan termasuk arus pekerjaan, koordinasi kegiatan, efektivitas pengawasan, dan hal lain yang mungkin terjadi.
Pengawasan langsung.
Penelitian ditempat oleh manajer lini.
Penelitian oleh kelompok staf ( dengan teliti harus ditentukan tanggung jawabnya).
Audit intern.
Pengkajian khusus.
Analisis penyimpangan.

Dapat disimpulkan bahwa penyimpangan atau varians merupakan selisi dari hasil aktual dengan rencana atau sasaran anggaran yang telah ditetapkan. Setiap penyimpangan yang terjadi harus diteliti dan dianalisis untuk menetukan penyebabnya. Tindakan kolektif dari seorang manajer sangat diperlukan untuk memberikan umpan balik atas analisa tersebut.

No comments: