Wednesday, June 26, 2013

Pengantar Fluktuasi Ekonomi



The modern world regards business cycles much as the ancient Egyptians regaeded the overflowing of the Nile.the phenomenon recurs at intervals, it is of gread importence to everyone, and natural causes of it are not in sight.
-                    John Bates Clarm, 1898
Fungsi ekonomi menunjukkan masalah yang sedang terjadi bagi para ekonomi dan pembuat kebijakan. Secara rata-rata, GDP riil AS tumbuh sekitar 3,5% per tahun. Tapi rata-rata jangka panjang ini menyembunyikan bahwa output barang dan jasa dalam perekonomian tidak tumbuh dengan stabil. Pertumbuhan lebih tinggi di beberapa tahun; terkadang perekonomian memburuk, dan pertumbuhan menjadi negatif. Fluktuasi dalan output perekonomian terkait erat dengan flukuasi tingkat kerja ketika perekonomian mengalami penurunan dalam jumlah output dan peningkatan dalam jumlah pengangguran, perekonomian dikatan berada dalam masa resesi.

 
Resesi terakhir terjadi pada tahun 2002. Pada kuartal pertama dan ketiga di tahun tersebut, GDP rill turun dari kuartal sebelumnya, mengindikasikannya adanya penurunan pada produksi output barang dan jasa dalam perekonomian. Meskipun resesi berakhir pada akhir tahun, perekonomian lambat dalam pemulihkan kondisinya. Dari kuartal keempat tahun 2000 hingga kuartal keempat tahun 2000, rata-rata pertumbuhan hanya 1,2%. Tingkat penganguran naik dari 3,9% pada bulan Desember 2000 menjadi 6,3% pada bulan juni 2013. Resesi dan akibatnya mendominasi berita ekonomi selama waktu tersebut dan resesi hanya dinyatakan ringan dibandingkan seluruh resesi yang perna ada dalam sejarah.
Ekonomi menyebut fluktuasi jangka pendek pada output dan pengangguran sebagai siklus bisnis (business cyle). Meskipun istilah ini mengesahkan fluktuasi perekonomian bersifat teratur dan dapat di prediksi, kenyataan tidak demikian. Resesi terjadi secara tidak teratur. Kadang-kadang resesi berdekatan dan terkadang resesi terjadi rentang yang panjang. Di tahun 1982, hanyan dua tahun setelah resesi sebelumnya, perekonomian kembali mengalami resesi . pada akhir tahun 1982, tingkat pengangguran mencapai angka
 



















10,8% angka tertinggi semenjak Depresi Besar pada tahun 1930-an. Namun baru 8 tahun setelah 1982, perekonomian kembali mengalami resesi
Fakta tentang Siklus Bisnis
GDP dan Komponennya
Produk Domestik Bruto (GDP) mengukur pendapatan dan pengeluaran total pada perekonomian. Karena GDP adalah ukuran paling luas untuk kesesluruhan kondisi perekonomian,GDB merupakan tempat alamiah untuk memulai analisis tentang siklus bisnis. Gambar 9-1 menunjukan pertumbuhan pada GDB rill semenjak tahun 1970. Garis horizontal memperlihatkan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,5% per tahun. Anda dapat melihat pertumbuhan ekonomi tidak selalu tetap, terkadang bisa saja menjadi negatif. Area yang di siarkan pada gambar tersebut menunjukkan periode terjadinya resesi. Lembaga penentu resmi yang menyatakan kapan resesi dimulai dan kapan resei berakhir adalah National Bureau of Ekonomic Research, sebuah lembaga penelitian ekonomi nirlaba. Komite Penanggalan Siklus Bisnis NBER (di mana pengarang buku ini perna menjadi anggotanya) menentukan kapan resesi di mulai dan kapan resesi berakhir. Menurut aturan yang berlaku, resesi adalah sebuah periode dimana sekurang-kurangnya dua kuartal berturut-turut terjadi penurunan pada  GDB riil. Namun demikian, aturan ini tidak selalu di terapkan. Contohnya, pada banyak data revisi terbaru, resesi selama tahun 2001 terjadi akibat dua kuartal yang menunjukkan pertumbuhan negatife, meskipun tidak berurutan. Faktanya, Komite Penanggalaan Siklus Bisnis NBER tidak memiliki aturan buku, namun komite ini me kuartal keempat tahun 2000l terjadi akibat dua kuartal yang menunjukkan pertumbuhan negatife, meskipun tidak berurutan. Faktanya, Komite Penanggalaan Siklus Bisnis NBER tidak memiliki aturan buku, namun komite ini melihat keragaman kondisi ekonomi selama.


Pertumbuhan GDP Riil di Amerika Serikat Pertumbuhan GDP Riil rata-rata 3,5 persen pertahun , tetapi ada flukasi yang cukukp besar di sekitar rata-rata ini. Daerah yang di asir menunjukkan periode terjadinya resesi.
sumber : departemaen Perdagangan AS.

Pengagguran dan Hukum Okum
Siklus bisnis tidak hanya terlihat pada data penghitungan pendapatan nasional tapi juga pada data yang menggambarkan kondisi di pasar tenaga kerja. Gambar 9-3 menunukkan tingkat pengangguran sejak tahun 1970, kembali dengan area berbayang mengggambarkan periode selama terjadinya resesi.  Anda dapat melihat pengguran meningkat sejak terjadinya resesi. Pengukuran pasar tenaga kerja lainnya menunjukkan cerita yang tidak jauh berbeda. Misalnya
 
Pertumbuhan pada Konsumsi dan Investasi kita perekonomian berada dalam resesi, peretumbuhan pada konsumsi riil dan belanja investasi menurun. Belanja investasi pada panel (b) jauh lebih bergejolak dari pada belanja konsumsi pada panel (a) Area yang berbayang menggambarkan periode resesi.
sumber : departemaen Perdagangan AS.
            Relasi apa yang kita harapkan antara pengguran dan GDP riil? Karena tenaga kerja yang dipekerjakan menghasilkan barang dan jasa sementara tenaga kerja yang tidak di pekerjakan tidak menghasilkan apa-apa, kenaikan tingkat pengguran mestinya terasosiasi dengan penurunan GDP riil. Relasi negative antara pengangguran dan GDP ini disebut Hukum Oknum, sesuai Athur Okun, Ekonomi yang pertama mempelajarinya.2
                   Kita bisa lebih mencermati besarnya relasi hukum Okun. Garis yang digambarkan sepnjang sebaran titik itu mengatakan.
                   Perubahan Persentase GDP riil
                        = 3,5% - 2 x Perubahan pada tingkat pengguran.
Jika tingkat pengguran tetap sama, GDP riil tumbuh sebesar 3,5 persen; pertumbuhan normal produksi barang dan jasa di sebabkan pertumbuhan tenaga kerja, akumulasi modal, dan kemajuan teknologi. Selanjutnya, untuk setiap persentase tingkat kenaikan pengguran dari 5 ke 8 persen, pertumbuhan GDP riil menjadi
                   Persentase perubahan GDP riil = 3,5% - 2 x (8% - 5%)
                                                                    = -2,5%
Pada kasus ini, hukum Okun menyatakan penurunan GDP sebesar 2,5%, mengindikasikan perekonomian resesi.
              Hukum Okun merupakan pengingat bahwa faktor-faktor yang menentukan siklus bisnis pada jangka-pendek sangat berbeda dengan faktor-faktor yang membentuk pertumbuhan ekonomi jangka-panjang. Seperti yang telah kita lihat pada Bab 7 dan 8, pertumbuhan
Jangka-panjang pada GDP hanya ditentukan oleh teknologi. Tren jangka-panjang menuju pada standar hidup yang lebih tinggi dari satu generasike generasi berikutnya tidak berkaitan dengan tren jangka panjang tingkat pengguran. Sebaliknya, pergerakan jangka-pendek pada GDP sangat berkorelasi dengan pemamfaatan angkatan kerja. Penurunan pada produksi barang dan jasa yang terjadi selama resesi selalu berkaitan dengan peningkatan jumlah pengguran.
Banyak ekonom, terutama yang bekerja di perusahaan dan pemerintah, memliki tugas melakukan peramalan terhadap fluktuasi jangka-pendek di perekonomian. Para ekonom di dunia bisnis melakukan peramalan untuk membantu perusahaan mereka merencanakan perubahan di lingkungan ekonomi.ekonom yang bekerja di pemerintahan melakukan peramalan untuk dua alasan. Pertama, lingkungan ekonomi mempengaruhi pemerintahan; contohnya, kondisi ekonomi mempengaruhi beberapa banyak penerimaan pajak yang akan dikumpulkan pemerintah. Kedua, pemerintah dapat mempengaruhi perekonomian melalui kebijakan moneter dan fisi yang di pilihnya. Karena itu, ramalan ekonomi adalah masukan bagi perencanaan kebijakan.
              Salah satu cara bagi ekonom agar dapat meramalkan kondisi ekonomi adalah dengan melihat indicator pertama (leading indicators), yaitu variable yang cendrung berfluktuasi mendahului perekonomian secara keseluruhan. Ramalan dapat berbeda sebagian karena ekonom menggunakan opini yang berbeda tentang mana indicator utama yang paling dapat di andalkan.
              Setiap bulan Dewan Konferensi (Conference Board), lembaga swasta yang bergerak di bidang ekonomi, menggunakan indeks dari indicator ekonomi utama (index of leading economic indicators.) indeks ini berisi sepuluh seri data yang biasanya digunakan untuk meramalkan perubahan aktivitas perekonomian untuk sekitar enam sampai sepuluh bulan ke depan. Berikut daftar data tersebut.
Ø  Rata-rata minggu kerja produksi bagi pekerja di sektor menufaktor (Average workweek of production workers in manufacturing.) karena perusahaan biasanya menyesuaikan jumlah jam kerja dari pekerja yang ada sebelum mengkontrak atau memecat pekerja, rata-rata jam kerja mingguan adalah indicator utama dari perubahan pegawai. Minggu kerja yang lebih panjang menandakan bahwa perusahaan memintah pegawainya untuk bekerja lebih lama karena mengalami permintaan yang cukup banyak pada produk mereka; hal ini menandakan bahwa perusahaan akan menambah jumlah pekerja dan meningkatkan produksi di masa depan. Minggu kerja yang lebih pendek dan permintaan yang menurun, menyiratkan perusahaan akan memberhentikan pekerjaan dan menurunkan produksi.
Ø  Rata-rata klaim mingguan pada asuransi pengguran (Average initial weekly claims for unemployment insurance.) jumlah penduduk yang mengajukan klaim baru pada sistem asuransi pengangguran alalah sala satu indicator tercepat yang dapat menjelaskan kondisi pasar tenaga kerja. Seri data ini dibuat terbalik dalam penghitungan indeks indicator petunjuk, sehingga meningkatkan pada jumlah data menurunkan indeks. Peningkatan jumlah penduduk yang mengajukan klaim baru pada asuransi pengangguran menandakan bahwa perusahaan memberhentikan pekerjaanya dan menurunkan jumlah produksi, ini taklama lagi akan muncul pada data tenaga kerja dan produksi.
Ø  Pesanan barang-barang konsumen dan matrial baru, disesuaikan dengan inflasi (New orders for consumer goods and materials, adjusted for niflaction). Data ini merupakan ukuran paling jelas dari permintaan perussahaan. Karena pesanan perusahaan dapat diartikan sebagai terjadinya kekosongan pada persediaan perusahaan, biasanya diramalkan terjadi peningkatan produksi dan tenaga kerja.
Ø  Pesanan baru, barang-barang modan non pertahanan (New orders, nondefense capial goods). Data ini serupa dengan data diatas, tetapi lebih buruk untuk barang-barang investasi dari pada barang-barang konsumsi, dan menjelaskan indicator yang sama.
Ø  Kinerja produsen (Vedor Performance). Data ini mengukur jumlah perusahaan yang menerima kiriman lebih lambat  dari penjual. Kinerja produsen adalah indukator utama karena lambatnya kiriman yang datang ketika perusahaan mengalami penigkatan permintaan terhadap produk-produknya. Karena itu, kiriman yang lebih lambat mengidikasikan menigkatnya aktivitas perekonmian.
Ø  Pemberian izin untuk mendirikan bangunan-banguna baru (New building permits issued). Pembangunan gedung baru adalah bagian dari investasi komponen yang cukup bergejolak pada GDP. Peningkatan pemberian izin bangunan berarti bahwa pemilik bangunan merencanakan penambahan jumlah bangunan yang menandakan peningkatan pada perekonomian secara keseluruhan.
Ø  Indeks harga saham (Indeks of stock price).  pasar saham mencerminkan ekspektasi masa depan terhadap kondisi perekonomian karena invertor pada pasar modal melakukan penawaran harga ketika mereka merasa perusahaan akan mendapatkan keuntungan. Peningkatan harga saham menandakan bahwa investor menduka perekomian akan tumbuh dengan cepat dan penurunan haraga saham menandakan bahwa investor menduga akan terjadinya kelesuan pada perekonomian.
Ø  Jumlah uang beredar (M2), disesuaikan dengan inflsi. Karena jumlah uang beredar berkaitan dangan jumlah belanja total, lebih banyak uang mengisyaratkan  peningkatan belanja yang selanjutnya berarti peningkatan produksi dan tenaga kerja.
Ø  Perbedaan tingkat bunga; perbedaan tingkat bunga antara trausy notes 10 tahun dan Treausy bills 3 bulan. Perbedaan ini, disebut juga kemiringan dari kurva hasil (yield curve), mencerminkan ekspektasi pasar terhadap tingkat suku bunga di masa depan yang selanjutnya mencerminkan kondisi perekonomian. Perbedaan yang besar adanya harapan bahwa tingkat bunga akan naik, ini biasanya terjadi ketika aktivitas perekonomian meningkat.
Ø  Indeks ekspektasi konsumen (Indek of consumer expectations). Data ini merupakan pengukuran lansung terhadapa ekspektasi, bedasarkan surpei oleh Pusat penelitian survey Universitas Michigan. Meningkatknya optimisme kondisi ekonomi dimasa depan diantara konsumen berarti meningkatkan permintaan dan jasa, yang selanjutnya mendorong perusahaan untuk meningkatkan produksi dan tenaga kerja untuk memenuhi permintaan.

Horison Waktu dalam Makroekonomi
Setelah mendapatkan pemahaman tentang fakta yang menjelaskan fluktuasi perekonomian pada jangka-pendek, ini kta dapat beralih ketugas dasar yang terdapat pada bagian ini: membangun teori untuk menjelaskan fluktuasi tersebut. Tugas tersebut tampaknya bukanlah tugas termudah. Tugas tersebut tidak hanya membawa kita kebagian-bagian lain dari Bab ini tetapi juga ke empat bab berikutnya, demi membangun model dan fluktuasi jangka-pendek secara keseluruhan.

Bagaimana Jangka Pendek dan Jangka Panjang Berbeda
Sebagian besar ahli makroekonomi percaya bahwa perbedaan penting antara jangka pendek dan jangka panjang adalah prilaku harga. Dalam jangka panjang, harga bersifat fleksibel dan bisa menanggapi perubahan dalam penawaran atau permintaan. Dalam jangka pendek, banyak haraga bersifat “kaku” pada tingkat yang ditentukan sebelumnya. Karena harga ber prilaku secara berbeda dalam jangka pendek dibandingkan dalam jangka panjang, maka kebijakan ekonomi memiliki dampak yang berbeda pada selang waktu yang berbeda.
              Untuk melihat bagai mana jangka pendek dan jangka panjang berbeda, mari perhatikanlah dampak perubahan kebijakan moneter. Anggaplah Bank Sentral AS (Fed) secara tiba-tiba mengurangi jumlah uang beredar sebesar 5 persen. Menurut model klasik, di mana hampir seluruh ekomom spakat menjelaskan perekonomian dalam jangka panjang, jumlah uang beredar mempengaruhi variabel-variabel riil. Dalam jangka panjang, pengurangan 5 persen dalam jumlah uang beredar mengurangi seluruh harga (termasuk upah nominal) sebesar 5 persen sedangkan seluruh variable riil tetap sama. Jadi, dalam jangka panjang perubahan jumlah uang beredar tidak menyebabkan fluktuasi dalam output atau kesempatan kerja.
              Model fluktuasi ekonomi harus memperhitungkan kekuatan harga jangka-pendek ini, kita akan melihat bahwa kegagalan harga untuk menyesuaikan dengan cepat dan utuh berarti bahwa, dalam jangka pendek, output dan kesempatan kerja harus melakukan beberapa penyesuaian. Dengan kata lain, selama horizon waktu ketika harga bersifat kaku, dikotomi klasik tidak lagi berlaku : variable-variabel nominal bisa mempengaruhi variable-variabel riil, dan perekonomian yang menyimpang dari ekuilibrium yang di prediksi oleh model klasik.

Model Penawan Agregat dan Permintaan Agregat
Mengapa asumsi harga yang kaku dapat mengubah pandangan kita tentang kinerja perekonomian? Kita bisa menjawab pernyataan ini dengan memperhatikan dua kata favorit para ekonom penawaran dan permintaan.
              Dalam teori makroekonomi klasik, jumlah outut bergantung pada kemapuan perekonomian menawarkan barang dan jasa, yang sebaliknya bergantung pada suplai modal dan tenaga kerja serta pada ketersedian teknologi produksi. Ini adalah esensi dari model klasik dasar yang dikembangkan pada Bab 3, dan juga model pertumbuhan Solow dalam Bab 7 dan 8. Harga fleksibel adalah asumi penting dari teori klasik. Teori klasik menyatakan, yang kadang-kandang secar implisit, bahwa harga disesuaikan untuk menjamin bahwa kuantitas output yang diinginkan sama dengan kuantitas yang ditawarkan.
              Perekonomian bekerja cukup berbeda apabila harga bersifat kaku. Dalam hal ini, sebagi mana kita lihat, output juga bergantung pada permintaan terhadap barang dan jasa. Permintaan, sebaliknya, dipengaruhi oleh pandangan konsumen tentang prospek ekonomi, pandangan perusahaan tentang keuntungan dari investasi baru serta kebijakan moneter dan fisikal. Karena kebijakan fisikal dan moneter bisa mempengaruhi output perekonomian selama horizon waktu ketika harga bersifat kaku, kekuatan harga menyediakan dasar pemikiran mengapa kebijakan ini berguna dalam menstabilkan perekonomian jangka pendek.
              Pada sisa bab ini, kita mengembangkan model yang membuat gagasan ini lebih tepat. Model penawaran dan permintaan, yang digunakan pada Bab 1 untuk membahas pasar pizza, menawarkan sebagian pandangan yang paling mendasar dalam ilmu ekonomi. Model ini menunjukkan bagai mana penawaran dan permintaan untuk setiap barang secara bersama-sama menetukan harga barang serta jumlah yang dijual, dan bagaimana pergeseran dalam penawaran dan permintaan ini mempengaruhi harga serta jumlahnya. dalam sisa bab ini, kita akan memperkenalkan eversi “ukuran-ekonomi” in-model penawaran dan permintaan agregat

Permintaan Agregat.
Permitaan Agregat (aggregate demand, AD) adalah hubungan antara output yang diminta dan tingkat harga agregat menyatakan jumlah barang dan jasa yang ingin dibeli orang pada setiap tingkat harga. Kita akan bahas teori permintaan agregat ini secar rinci pada Bab 10 sampai 12. Disini kita guanakan teori kuantitas uang untuk memberikan turunan sederhana, meskipun tidak lengkap, dari kurva permintaan agregat.
Persamaan Kuantitas sebagai Permintaan Agregat
Ingat kembali dari Bab 4 bahwa teori kuantias menyatakan.
                                                MV = PY,
Dima M adalah jumlah uang beredar, V adalah perputaran uang, P adalah tingkat harga, dan Y adalah jumlah output. Jika perputaran uang adalah konstan, maka persamaan ini menyatakan bahwa jumlah uang beredar menentukan nilai nominal ouput, yang pada akhirnya merupakan produk dari tingkat harga dan jumlah output.
              Anda tentu masih ingat bahwa persamaan kuantitas bisa ditulis kembali dalam bentuk penawaran dan permintaan untuk keseimbangan uwang riil:
                                                M /P = (M / P)d = Ky,
Diman k = 1 / V adalah primenter yang menentukan berapa banyak uang yang orang ingin pegang untuk setiap dolar pendapatan. Dalam bentuk ini, persamaan kuantitas menyatakan bahwa penawaran dari keseimbangan uang riil M / P sama dengan permintaan (M/P)d  dan bahwa permintaan adalah proporsional terhadap output Y. perputaran uang v adalah “sisi lain” dari parementer permintaan uang k. Asumsi perputaran uang konstan sama dengan asumsi bahwa permintaan untuk keseimbangan uang riil untuk tiap satuan output adalah konstan.
              Diasumsikan untuk setiap jumlah uang beredar M dan perputaran V tetap, persamaan kuantitas menghasilkan hubungan negative antara tingkat P dan output Y. Gambar 9-5 menunjukan kombinasi P dan output Y yang memenuhi persamaan kuantitas yang mempertahankan M dan V konstan. Kurva menurut kebawah ini disebut kurva permintaan agregat.


Mengapa Kurva Permintaan Agregat Miring ke Bawah
Sebagai pembahasan matemis murni, persamaan kuantintas menjelaskan kemiringan ke bawah dari kurva permintaan agregat dengan sangat sederhana. Jumlah uang beredar M dan perputaran uang V menentukan nominal output PY. Sekali PY ditetapkan, jika P naik, Y haarus turun.
              Apakah yang berada di belakang hubungan matematis ini? Untuk jawaban yang lengkap atas pernyataan mengapa kurva permintaan agregat miring kebawah, kita harus menunggu beberapa bab. Namun untuk saat ini, perhatikan logika berikut: karena kita telah mengasumsikan bahwa perputaran uang adalah tetap, maka jumlah uang beredar menentukan nialai dolar dari seluruh transaksi dan perekonomian.(Kesimpulan ini seharusnya sudah kita ketahui dari Bab 4). Jika tingkat harga meningkat, setiap transaksi membutuhkan lebih banyak dolar, maka jumlah barang serta jasa yang dibeli harus turun.

Pergeseran dalam Kurva Permintaan Agregat
Kurva permintaan agregat dibuat untuk nilai dari jumlah uang beredar yang tetap. Dengan kata lain, kurva tersebut menyatakan kombinasi yang mungkin dari P dan Y untuk nilai M tertentu. Jika Fed mengubah jumlah uang beredar, maka kombinasi yang mungkin dari P dan Y berubah, yang berarti kurva permintaan agregat bergeser.
              Bagian contoh, perhatikanlah apa yang terjadi jiak Fed mengurangi jumlah uang beredar. Persamaan kuantitasm MV = PY, menyatakan bahwa pengurangan jumlah uang beredar menyebabkan pengurangan proporsional dalam nilai nominal output PY. Untuk setiap tingkat harga, jumlah output adalah lebih rendah, dan untuk jumlah output berapapun, tingkat harga adalah lebih rendah. Sebagai mana terlihat dalam Gambar 9-6 (a), kurpa permintaan agregat yang menghubungkan P dan Y bergeser ke kiri.


Penawaran Agregat
Dengan sendirinya, kurva permiontaan agregat tidak menyatakan tingkat harga atau jumlah output yang berlaku di perekonomian; kurva itu itu hanya memberikan hubungan antara kedua
 




Variable ini. Untuk menemani  kurva permintaan agregat, kita membutuhkan hubungan antara P dan Y yang lain memotong kurva permintaan agregat-kurva penawaran agregat. kurva permintaan agregat dan kurva penawaran agregat bersama-sama membentuk tingkat harga dan jumlah output perekonomian.
              Penawaran agregat (aggregate supply, AS) adalah hubungan antara jumlah barang dan jasa yang ditawarkan dan tingkat harga. Karena perusahaan yang menawarkan barang dan jasa memiliki harga memiliki harga yang fleksibel dalm jangka panjang tetapi harga yang kaku dalam jangka pendek, hubungan penawaran agregat bergantung pada horizon waktu. Kita perlu membahas dua kurva penawaran agregat yang berbeda: kurva penawaran agregat jangka-panjang (short-run aggregate supply) LRAS dan kurva penawaran agregat  jangka-pendek (short-run aggregate supply) SRAS. Kita juga perlu membahas bagaimana perekonomian melakukan transisi dari jangka pendek ke jangka panjang.

Jangka Panjang: Kurva Penawaran Agregraf Vertikal

Karena model klasik menjelaskan bagaimana perekonomian berprilaku dalam jangka panjang, kita turunkan kurva penawaran agregat jangka-jangka dari model klasik. Dari Bab 3 kita ketahui bahwa jumlah output yang diproduksi tergantung pada jumlah modal dan tenaga kerja yang tetaap serta pada teknologi yang tersedia. Untuk menunjukkan hal ini, kita menulis
                        Y = F(K,L)
                            = Y

Menurut model klasik, output tidak bergantung pada tingkat harga. Untuk menunjukkan bahwa output sama untuk semua tingkat harga, kita gambar kurva penawaran agregat vertikal, sebagaimana terlihat dalam Gambar 9-7. Pada jangka panjang, perpotongan antara kurva permintaan agregat dengan kurva penawaran agregat vertikal menetukan tingkat harga.


Jangka Pendek: Kurva Penawaran Agregal Horisontal

Model klasik dan kurva penawaran agregatvertikal hanya berlaku dalam jangka panjang. Daalam jangka pendek, sebagian harga itu, tidak menyesuaikan dengan perubahan permintaan. Karena keakuan harga ini, penawaran agregat jangka pendek tidak vertikal.
              Pada Bab ini, kita akan menyederhanakan permasalahan dengan menggunkan contoh ekstrem. Anggaplah seluruh perusahaan menerbitkan catalog harga dan menerbitkan catalog baru diperlukan banyak biaya. Jadi, seluruh harga tertahan pada tingkat yang sudah ditentukan sebelumnya. Pada harga ini, perusahaan ingin menjual produk sebanyak yang ingin dibeli oleh konsumen, dan mereka mempekerjakan tenaga kerja yang cukup untuk memproduksi jumlah yang diminta. Karena tingkat harga adalah tetap, maka kita tampilkan situasi ini dalam Gambar 9-9 dengan kurva penawaran agregat horizontal.
              Ekuilibrium jangka-pendek dari perekonomian adalah perpotongan kurva permintaan agregat dan kurva penawaran agregat jangka-pendek horizontal ini. Dalam hal ini, perubahan permintaan agregat mempengaruhi tingkat output.
              Sekali lagi, perlu diingat bahwa kenyataan yang sesungguhnya lebih rumit dari yang diilustrasikan di sini.
Sekali lagi, perlu di ingat bahwa kenyataan yang sesungguhnya lebih rumit dari yang diilustrasikan disini. Meskipin kebanyakan harga kaku dan jangka pendek, beberapa harga

Dari Jangka Pendek ke Jangka Panjang

Kita bisa meringkat analisis kita sejauh ini sebagai berikut: selama waktu yang panjang, harga-harga adalah fleksible, kurva penawaran agregat adalah vertikal, dan perubahan permintaan agregat mempengaruhi output barang dan jasa perekonomian.
              Bagaimana perekonomian melakukan transisi dari jangka pendek ke jangka panjang? Mari kita telusuri dampak dari penurunan permintaan agregat sepanjang waktu. Anggaplah perekonomian pada awalnya berada dalam ekuilibrium jangka panjang, seperti ditunjukkan dalam Gambar 9-11. Dalam gambar ini, ada tiga kurva: kurva permintaan agregat, kurva penawaran agregat jangka panjang dan kurva penawaran agregat jangka pendek. Ekuilibrium jangka panjang adalah titik dimana permintaan agregat memotong kurva penawaran agregat jangka panjang. Harga-harga telah disesuaikan untuk mencapai ekuilibrium ini. Karena itu, ketika perekonomian berada dalam ekuilibrium jangka panjangnya, kurva penawaran agregat jangka pendek harus memotong titik ini.
              Sekarang anggaplah bahwa Fed mengurangi jumlah uang beredar dan kurva permintaan agregat bergeser ke bawah, sebagaimana terlihat dalam Gambar 9-12. Dalam jangka pendek, harga adalah kaku, sehingga perekonomian bergerak dari titik A ke titik B. Output dan kesempatan kerja turun di bawah tingkat alaniah, yang berarti perekonomian mengalami resesi. Selama itu, dalam menanggapi permintaan yang rendah, upah dan harga turun. Penurunan tingkat harga yang berangsur-angsur ini menggerakkan perekonomian ke bawah sepanjang kurva permintaan agregat ke titik C, yang merupakan ekuilibrium jangka panjang yang baru. Pada ekuilibrium jangka panjang yang baru itu (titik C), output dan kesempatan kerja kembali ketingkat alamiah.

9-5 Kebijakan Stabilisasi

Fluktuasi dalam keseluruhan perekonomian berasal dari perubahan agregat atau permintaan agregat. Para ekonom menyebut perubahan eksogen dalam kurva ini sebagai guncangan (shock) terhadap perekonomian. Guncangan yang menggeser kurva permintaan agregat disebut guncangan permintaan (demand shock), dan guncangan yang menggeser kurva penawaran agregat disebut guncangan penawaran (supply shock). Guncangan ini mengurangi kesejahteraan ekonomi dengan mendorong output dan kesempatan kerja jauh dari tingkat alamiah. Salah satu tujuan dari model penawaran agregat dan permintaan agregat adalah menunjukkan bagaimana guncangan menyebabkan menyebabkan fluktuasi ekonomi.
              Tujuan lain dari model tersebut adalah mengevaluasi bagaimana kebijakan makroekonomi dapat menanggapi guncangan ini. Para ekonom menggunakan istilah kebijakan stabilisasi (stabilization policy) untuk mengacu tindak kebijakan yang bertujuan mengurangi tekanan fluktuasi ekonomi jangka pendek. Karena terjadi fluktuasi output dan kesempatan kerja di sekeliling ekonomi tingkat alami jangka panjangnya, kebijakan stabilisasi memperkecil siklus bisnis dengan mempertahankan output dan kesempatan kerja sedekat mungkin pada tingkat alamiah.
              Pada bab-bab selanjutnya, kita kaji secara rinci bagaimana kebijakan stabilisasi bekerja dan masalah-masalah praktis apa yang muncul dalam penggunaannya. Di sini kita mulai menganalisis kebijakan stabilisasi menggunkan model permintaan agregat dan penawaran agregat dalam bentuk yang sederhana. Khususnya dengan menelaah bagaimana kebijakan moneter menanggapi guncangan yang sederhana. Khususnya dengan menelaah bagaimana kebijakan stabilisasi karena sebagaimana kita lihat, jumlah uang beredar memiliki dampak yang sangat kuat terhadapt permintaan agregat.

Guncangan pada Permintaan Agregat

Perhatikan contoh dari guncangan permintaan: peluncuran dan penyebaran kartu kredit. Karena merupakan cara yang lebih nyaman untuk melakukan pembelian daripada menggunkan uang tunai, kartu kredit mengurangi jumlah uang yang ingin dipegang orang. Penurunan permintaan uang ini ekuivalen dengan kenaikkan perputaran uang. Ketika setiap orang memegang lebih sedikit uang, parameter permintaan uang k turun. Artinya, setiap dolar beralih dari tangan ke tangan dengan cepat, sehingga perputaran V (= 1/k) meningkat.
              Jika jumlah uang beredar tetap konstan, maka kenaikan perputaran menyebabkan pengeluaran nominal meningkat dar kurva permintaan agregat bergeser ke kanan, seperti terlihat dalam Gambar 9-13. Dalam jangka pendek, kenaikan permintaan meningkat output perekonomian yang menyebabkan perekonomian mengalami booming. Dengan harga lama, perusahaan sekarang menjual lebih banyak output. Karena itu, perusahaan memperkerjakan lebih banyak pekerja, meminta para pekerja untuk lembur, dan menggenjot penggunaan pabrik serta peralatan mereka.


Guncangan pada Penawaran Agregat

Guncangan pada penawaran agregat, sebagaimana guncangan dalam permintaan agregat, dapat menyebabkan fluktuasi ekonomi. Guncangan penawaran adalah guncangan pada perekonomian yang bisa mengubah biaya produksi barang serta jasa dan akibatnya, mempengaruhi harga yang dibebankan perusahaan kepada konsumen. Karena memiliki dampak yang langsung terhadapt tingkat harga, guncangan penawaran kadang-kadang disebut guncangan harga. Berikut ini adalah beberapa contoh :
Ø  Hama yang menghancurkan pertanian. Penurunan penawaran makanan mendorong harga makanan naik.
Ø  Undang-undang perlindungan lingkungan baru yang menuntut perusahaan mengurangi emisi polusinya. Perusahaan membebankan tambahan biayan pada pelanggan dalam bentuk harga yang lebih tinggi.
Ø  Kenaikkan agresivitas serikat pekerja. Ini mendorong kenaikan upah dan harga barang-barang yang diproduksi oleh pekrja serikat pekerja.
Ø  Organisasi kartel minyak internasional. Dengan membatasi persaingan, produsen minyak utama bisa meningkatkan harga minyak dunia.

Opsi kedua, yang digambarkan dalam Gambar 9-15, adalah memperluas permintaan agregat untuk membawa perekonomian kea rah tingkat alami secara lebih cepat. Jika kenaikan permintaan agregat bersamaan dengan guncangan penawaran agregat, perekonomian akan segera bergerak titik A ketitik C. Dalam hal ini, Fed dikatakan mengamodasi guncangan penawaran.

No comments: