Wednesday, June 26, 2013

Permintaan Agregat I: Membangun Model IS-LM



I shall argue that postulates of thecllassical are applicable to a special case only and not to the general case….Moreover, the characteristics of the special case assumed by the classical theory happen not to be those of the economic society in which we actually live, with the  result that its teaching is misleading and disastrous if we attempt to apply it to the facts of experience
                              - John Maynard Keynes, The General Theory


Dari seluruh fluktuasi ekonomi dalam sejarah dunia, salah satu yang dianggap sebagai fluktuasi ekonomi yang besar, menyengsarakan, dan signifikan secara intelektual adalah Defresi Besar (Great Depression) pada tahun 1930-an. Selama waktu ini Amerika Serikat dan banyak Negara lain mengalami pengangguran besar-besaran dan penurunan pendapatan yang sangat besar. Pada tahun yang terburuk, 1933, seperempat dari angkatan kerja AS menganggur, dan GDP riil adalah 30 persen dibawah tingkat GDP pada tahun 1929.
Episode yang menyengsarakan ini  menyebabkan banyak ekonom mempertanyakan keabsahan teori ekonom mempertanyakan keabsaan teori ekonimi klasik-teori yang kita kaji pada bab 3 sampai bab 6. Teori klasik tampaknya tidak mampu menjelaskan depresi tersebut. Menurut teori itu, pendapat nasional tergantung pada penawaran faktor dan ketersediaan teknologi, yang tidak berubah  secara substansial dari model tahun 1929 sampai 1933. Setelah serangan Depresi, banyak ekonomi percaya bahwa sebuah modal baru dibutuhkan untuk menjelaskan kemerosotan ekonomi yang dahsyat dan tiba-tiba itu, serta untuk menyarankan kebijakan pemerintah yang bisa mengurangi kesulitan ekonomi yang dihadapi banyak orang,
Pada tahun 1936, ekonom di Inggris John Maynard Keynes melakukan revolusi terhadap ilmu ekonomi melalui bukunya The General Theory of Employment, and Money. Keynes menawarkan cara baru untuk menganalisis perekonomian, yang ia tunjukkan sebagai alternative dari teori klasik. Visinya tentang bagaimana perkonomian bekerja, dengan cepat menjadi pusat kontroversi. Tetapi, ketika ekonomi memperdebatkan  The General Theory, pemahaman baru tentang  fluktuasi ekonomi secara bertahap mulai berkembang.
Keynes menyatakan bahwa permintaan agregat yang rendah bertanggung jawab terhadap rendahnya pendapatan  dan tingginya pengangguran  yang menjadi  karateristik kemerosotan  ekonomi.
Dua bagian dari model IS-LM adalah kuva IS dan kurva LM. IS meyatakan “investasi” dan “tabungan” serta kurva IS menyatakan apa yang terjadi pada pasar barang dan jasa (yang pertama kali kita bahas pada bab 3) LM menyatakan “likuiditas” dan “uang”, serta kurva LM menunjukkan apa yang terjadi pada penawaran dan permintaan terhadap uang  (yang kita bahas pertama kali pada bab 4). Karena mempengaruhiinvestasi dan permintaan uang.


 
















Tingkat  bunga merupakan  variable yang menghubungkan kedua bagian dari  model IS-LM model tersebut menunjukkan bagian interaksi diantara pasar-pasar ini menentukan posisi serta kemiringan kurva permintaan agregat dank arena itu tingkat pendapatan nasional dalam jangka pendek.

10.1 Pasar Barang dan Kurva IS

Kurva IS menyatakan hubungan antara tinglat bunga serta tingkat pendapat yang muncul dipasar barang dan jasa. Untuk mengembangkan hubungan ini, kita mulai dengan model dasar yang disebut perpotongan Keynesian (Keynesian croos). Model ini adalah interpretasi paling mudah dari teori pendapatan nasional Keynes dan merupakan kerangka untuk model IS-LM yang lebih kompleks dan realistis.

Perpotongan Keynesian
Dalam The General Theory, Keynes menyatakan bahwa  pendapat total perkonomian, dalam jangka pendek, sangat ditentukan oleh keinginana rumah tangga, perusahaan dan pemerintah untuk membelanjakan pendapatanya. Semakin banyak orang yang mengeluarkan pendapatnya  semakin banyak barang  dan jasa yang bisa dijual perusahaan. Semakin banyak perusahaan menjual, semakin banyak output yang akan mereka produksi dan semakin banyak pekerjaan  yang akan dikaryakan. Jadi, masalah selama masa  resesi dan depresi, menurut Keynes adalah pengeluaran yang tidak cukup. Perpotongan Keynes adalah sebuah upaya untuk  membuat sebuah model dari pandangan ini.

Pengeluaran yang direncanakan kita awali derivasi dan perpotongan Keynesian dengan mengambarkan perbedaan  antara pengeluaran actual dan pengeluaran yang direncanakan Pengeluaran actual (actual expenditure) adalah jumlah uang yang dikeluarkan rumah tangga  perusahaa, dan pemerintah atas barang serta jasa, sebagaimana  kita ketahui pada bab 2, yang sama dengan produk domestik bruto (GDP). Pengeluaran yang direncanakan (panned expenditure) adalah jumlah uang yang akan dikeluarkan rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah atas barang dan jasa.
Sekarang perhatikan determinin dari pengeluaran yang direncanakan. Dengan mengasumsikan bahwa perekonomian adalah tertutup, sehingga ekspor neto adalah nol, kita menulis pengeluaran yang direncanakan E sebagai jumlah konsumsi C, investasi yang direncanakan I dan sebagai pemerintah G

E=C+I=G
untuk persamaan ini, kita tambahkan fungsi  konsumsi

C=C(Y-T)
persamaan ini menyatakan bahwa  konsumsi tergantung pada disposable income (Y-T), yang merupakan pendapatan total Y dikurangi pajak T, untuk menyederhanakan masalah, sekarang kita anggap investasi yang direncanakan sebagai tetap secar oksegen:
I=I
Dan sebagaimana dalam bab 3, kita asumsikan bahwa kebijakan fiscal-tingkat pembelian dan pajak pemerintah – adalah tetap :
G=G
T=T
Dengan mengkombinasikan lima persamaan ini, kita perlu peroleh

E=C(Y-T)=I=G
Persamaan ini menunjukkkan bahwa pengeluaran yang direncanakan adalah funsi-fungsi pendapatan Y, tingkat investasi yang direncanakan I, serta variable kebijakan fiscal G dan T.
            Gambar 10-2 menunjukan pengeluaran yang direncanakan sebagai funsi dan tingkat pendapatan yang lebih tinggi menyebabkan konsumsi yang lebih tinggi dan, dengan demikian, pengeluaran direncanakan yang lebih tinggi. Kemiringan garis ini merupakan kecenderungan mengonsumsi marjinal, MPC : hal itu menunjukkan berapa banyak pengeluaran yang direncanakan meningkat ketika pendapatan meningkat sebesar S1.fungsi pengeluaran yang direncanakan ini adalah potongan pertama dari model yang disebut perpotongan Keynesian.

Perekonomian dalam Ekuilibrium bagian berikutnya dari perpotongan Keynesian adalah asumsi bahwa perekonomian berada dalam ekuilibrum (equilibrium) ketika pengeluaran actual.


Sama dengan pengeluaran yang direncanakan. Asumsi ini di dasrkan pada gagasan bahwa ketiak rencana orang-orang telah direalisasikan, mereka tidak mempunyai alasan untuk mengubah apa yang mereka lakukan. Dengan mengingat kembali bahwa Y sebagai GDP tidak hanya sama dengan pendapat total tetapi juga dengan pengeluaran aktual total atas barang dan jasa kita, kita bisa menuliskan kondisi ekuilibrium ini sebagai
Pengeluaran Aktual = pengeluaran yang direncanakan
Y=E

Demikian pula, anggaplah GDP berada pada tingkat yang lebih rendah daripada tingkat ekuilibrium, sebagimana tingkat Y2 dalam gambar 10-4. Dalam kasus ini pengeluaran yang




Direncanakan E2 lebih besar dari pada produksi Y2
 Perusahaan  mencapai tingkat penjualan yang tinggi dengan mengurangi persediaan. Tetapi ketika perusahaan melihat persediaan menyusut. Mereka memperkerjakan lebih banyak karyawan dan meningkatkan produksi. GDP meningkat dan perekonomian mendapat ekuilibrium.

Kebijakan Fiskal dan Pengagandaan : Belanja Pemerintah perhatikan bagaimana perubahan-perubahan dalam belanja pemerintah mempengaruhi perekonomian. Karena belanja pemerintah adalah salah satu komponen pengeluaran, maka belanja pemerinatah yang lebih tinggi mengakibatkan pengeluaran yang direncanakan yang lebih tinggi maka semua tingkat pendapatan. Jika belanja pemerintah naik sebesar  G, maka kurva pengeluaran yang direncanakan bergeser ke atas sebesar     G, seperti dalam gambar 10-5.
Ekuilibrium perekonomian bergerak dan titik A ke titik B.
            Grafik ini menunjukkan bahwa kenaikan belanja pemerintah mendorong adanya kenaikan dalam pendapatan yang lebih besar, yaitu    Y adalah lebih besar dari   G. rasio       Y   /   G disebut pengadaan belanja pemerintah (government-purchases multiplier): rasio ini menyatakan seberapa besar pendapatan meningkat dalam menagapi kenaikan SI dalam belanja pemerintah. Implikasi dari perpotongan Keynesian adalah bahwa penggandaan belanja pemerintah lebih besar dari 1.


 












Untuk menjawab pertanyaan ini kita telusuri setiap langka perubahan pendapatan. Proses bermula ketika pengeluaran meningkat besar    G. kenaikan pendapatan ini akan meningkat konsumsi sebasar MPC x   G, dimana MPC adalah kecenderungan mengonsumsi marjinal. Kenaikan konsumsi ini meningkatkan pengeluaran dan pendapatan sekali lagi. Kenaikan pendapatan yang kedua sebesar MPC x (MPC x   G), yang sekali lagi meningkatkan pengeluaran serta pendapatan, dan seterusnya. Umpan-balik dari konsumsi ke pendapatan ke konsumsi ini terus menerus terjadi. Pengaruh totalnya terhadap pendapatan adalah :
Perubahan awal dalam belanja pemerintah                 =          G
Perubahan pertamadalam konsumsi                            = MPC  x     G
Perubahan kedua dalam konsumsi                              = MPC2 x    G
Perubahan ketiga dalam konsumsi                              = MPC3  X    G                                    


 
                     Y = (1 + MPC + MPC2 + MPC3 +….)   G

Pengada belanja pemerintah adalah :
Y/   G + 1 + MPC + MPC2 + MPC3 +….
Persamaan untuk pengganda ini adalah contoh dari seri geometri tidak terhingga (infinite geometric series). Hasil dari aljabar membolehkan kita menulis pengganda sebagai 2
Y /   G     = 1/(1-MPC)
Misalnya, jika kecenderungan mengonsumsi marjinal adalah 0.6, penggandanya adalah
Y/   G              =1+0,6 +0.62 = 0,63 +….
                                                                                =1/(1-0.6)
                                                                                = 2.5

Dalam hal ini, kenaikan sebesar S 1,00 dalam belanja pemerintah meningkatkan pendapatan ekuilibrium sebesar S2, 50 3.
Kebijakan Fisikal dan Pengganda : Pajak   Sekarang mari kita perhatikan bagaimana perubahan pajak mempengaruhi pendapatan ekuilibrium. Penurunan pajak sebesar    T secara langsung akan menaikkan disposable income Y – T sebesar    T dan, dengan demikian, menaikkan konsumsi sebesar MPC x    T. pada setiap tingkat pendapatan Y, pengeluaran yang direncanakan sekarang akan lebih tinggi. Seperti diperhatikan pada gambar 10-6, kurva pengeluaran yang direncanakan bergeser ke atas sebesar  MPC x    T. Ekuilibrium perekonomian bergerak dari titik A ke titik B.
Sebagaimana kenaikan belanja pemerintah memiliki dampak pengganda terhadap pendapatan, begitu pula pengurangan pajak. Seperti sebelumnya, perubahan awal dalam pengeluaran, yang sekarang MPC x    T, dikalikan dengan 1/(1 – MPC). Dampak keseluruhan terhadap pendapatan dari perubahan pajak tersebut adalah
                                                Y/   T = - MPC/(1 – MPC.
Persamaan ini adalah pengganda pajak (tax multiplier), jumlah perubahan pendapatan yang disebabkan oleh perubahan sebesar $1 dalam pajak. (Tanda negative mengindikasikan pendapat yang bergerak kea rah berlawanan dari pajak) sebagaimana contoh, jika kecendrungan mengkonsumsi marjinal adalah 0,6, maka pengganda pajak adalah
                                                Y/   T = -0,6/(1 – 0,6) = -1,5.
Dalam contoh ini, pemotongan pajak sebesar $1,00 meningkat pendapatan ekulibrium sebesar $1,50.
 











Tingkat Bunga, Investasi, dan Kurva IS
Perpotongan Keynesian adalah satu-satunya batu loncatan untuk jalan menuju model IS-LM. Perpotongan Keynesian berguna karena menunjukkan bagaimana rencana pengeluaran rumah tetangga, perusahaan, dam pemerintah menetukan pendapatan perekonomian. Tetapi perpotongan Keynesian membuat asumsi yang menyederhanakan bahwa investasi yang direncanakan I adalah tetap. Sebagaimana kita bahas pada Bab 3, hubungan makroekonomi yang penting adalah bahwa investasi ini ke dalam model, kita tulis tingkat investasi yang direncanakan sebagai
                                                I = I(r).
Fungsi investasi ini diperlihatkan dalam bagian (a) Gambar 10-7. Karena tingkat bunga adalah biaya pinjaman untuk mendanai proyek-proyek investasi, maka kenaikan tingkat bunga akan mengurangi investasi yang direncanakan. Akibatnya, fungsi investasi miring ke bawah.
Untuk menentukan bagaimana pendapatan berubah ketika tingkat bunga berubah, kita bisa mengkombinasikan fungsi investasi dengan diagram perpotongan Keynesian. Karena investasi berhubungan terbalik dengan tingkat bunga, maka kenaikan tingkat bunga dari r1 ke r2 mengurangi jumlah investasi dari I(r1) ke I(r2). Pengurangan investasi yang direncanakan
 













, akan menggeser fungsi pengeluaran yang direncanakan ke bawah, sebagaimana terlihat bagian (b) Gambar 10-7. Pergeseran dalam fungsi pengeluaran yang direncanakan menyebabkan tingkat pendapatan turun dari Y1 dan Y2. Dengan demikian, kenaikan tingkat bunga mengurangi pendapatan.

Bagaimana Kebijakan Fiskal Menggeser Kurva IS

Kurva IS menunjukkan pada kita, untuk tingkat bunga berapapun, tingkat pendapatan mendorong pasar barang ekuilibrium. Sebagaimana kita pelajari dari perpotongan Keynesian, tingkat pendapatan juga tergantung pada belanja pemerintah G dan pajak T. Kurva IS di gambar untuk kebijakan fisikal tertentu; yaitu, ketika kita membangun kurva IS, kita mempertahankan G dan T tetap. Ketika kebijakan fisikal berubah, kurva IS.
Gambar 10-8 menggunkan perpotongan Keynesian untuk menunjukkan bagaimana kenaikan belanja pemerintah sebesar   G menggeser kurva IS. Gambar ini disajikan untuk tingkat bunga tertentu r dan juga untuk tingkat investasi yang direncanakan tertentu. Perpotongan Keynesian menunjukkan bahwa perubahan kebijakan fiscal ini meningkatkan pengeluaran yang direncanakan dan dengan demikian meningkatkan pendapatan ekuilibrium dari Y1 ke Y2. Karena itu, kenaikan belanja pemerintah menggeser kurva IS ke kanan.
Kita bisa menggunakan perporongan Keynesian untuk melihat bagaimna perubahan-perubahan lain dalam kebijakan fiscal menggeser kurva IS. Karena penurunan pajak juga memperbesar pengeluaran dan pendapatan, maka hal itu juga menggeser kurva IS ke kanan. Penurunan belanja pemerintah atau kenaikan akan mengurangi pendapatan; karena itu, perubahan dalam kebijakan fiskal menggeser kurva IS ke kiri.

Interpretasi Dana Pinjaman dari Kurva IS

Ketika kita pertama kali mempelajari pasar untuk barang dan jasa pada Bab 3, kita menyatakan kesamaan (equivalence) antara penawar serta permintaan terhadap barang dan jasa, serta penawaran dan permintaan terhadap dana pinjaman (loanable funds). Kesamaan ini memerikan cara lain untuk menginterpresentasikan kurva IS.
Ingatlah bahwa identitas perhitungan pendapatan nasional bisa ditulis sebagai
                                                Y – C – G = I
                                                              S = I
 



























Untuk melihat bagaimana pasar untuk dana pinjaman memproduksi kurva IS, gantilah fungsi konsumsi dengan C dan fungsi investasi dengan I:
                                    Y – C(Y – T) – G = I(r).

Sisi kiri dari persamaan ini menunjukkan bahwa penawaran atas dana pinjaman tergantung pada pendapatan dan kebijkan giskal. Sisi kanannya menunjukkan bahwa permintaan terhadap dana pinjaman tergantung pada tingkat bunga. Tingkat bunga disesuaikan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan terhadap pinjaman.





10-2 Pasar Uang dan Kurva LM

Kurva LM menyatakan hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul di pasar uang. Untuk memahami hubungan ini, kita mulai dengan melihat teori tingkat bunga yang disebut teori prefensi likuiditas (theory of liquidity preference).

Teori Prefensi Likuiditas

Dalam buku klasiknya The General Theory, Keynes menjabarkan pandangannya tentang bagaimana tingkat bunga ditentukan dalam jangka pendek. Penjelasan itu disebut teori preferensi likuiditas, karena teori itu menyatakan bahwa tingkat bunga disesuaikan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan untuk asset perekonomian yang paling liquid-uang. Sebagaimana perpotongan Keynesian merupakan kerangka untuk kurva IS, teori prfensi likuiditas adalah kerangka untuk kurva LM.
Untuk mengembangkan teori ini, kita mulai dengan penawaran keseimbangan uang riil. Jika M menyatakan jumlah uang beredar dan P menyatakan tingkat harga, maka M/P adalah penawaran keseimbangan uang riil. Teori prefensi likuiditas mengkonsumsi adanya penawaran keseimbangan uang riil yang tetap. Yaitu,
                                                (M/P)s =M  /  P.
Jumlah uang beredar M adalah variable eksogen kebijakan yang dipilih oleh bank sentral, seperti Bank Sentral Amerika (Fed). Tingkat harga P juga merupakan variable eksogen dalam model ini. Sentral Amerika (Fe). Tingkat harga P juga merupakan variable eksogen dalam model ini. (Kita menganggap tingkat harga adalah tertentu karena model IS-LM – tujuan akhir dari bab ini – menjelaskan kondisi jangka pendek ketika tingkat harga adalah tetap dan, biasanya, tidak tergantung pada tingkat bunga. Jadi, ketika menempatkan interaksi antara penawaran keseimbangan uang riil dengan tingkat bunga dalam Gambar 10-10, kita dapatkan kurva penawaran vertikal.
Selanjutnya, perhatikanlah permintaan terhadap keseimbangan uang riil. Teori likuiditas menegaskan bahwa tingkat bunga adalah salah satu determinan dari beberapa banyak uang yang ingin dipegang orang. Alasannya adalah bahwa tingkat bunga merupakan biaya oportunitas (opportunity cost) dari memegang uang: biaya yang harus anda tanggung karena memegang sebagian asset anda dalam bentuk uang. Ketika tingkat bunga naik, orang-orang hanya ingin memegang lebih sedikit uang. Jadi, kita bisa menulis permintaan terhadap keseimbangan uang riil sebagai
                                                            (M/P) d= L(r),
Dimana fungsi L( ) menunjukkan bahwa jumlah uang yang diminta tergantung pada tingkat bunga. Jadi, permintaan dalam Gambar 10-10 miring ke bawah karena tingkat bunga yang lebih tinggi mengurangi jumlah keseimbangan uang riil yang diinginkan.5

 
















Menurut teori preferensi likuiditas, penawaran dan permintaan akan keseimbangan uang riil menentukan tingkat bunga yang akan muncul di perekonomian. Yaitu tingkat bunga disesuaikan untuk menyeimbangkan pasar uang. Seperti terlihat pada gambar, pada tingkat bunga ekuilibrium, jumlah keseimbangan uang riil yang diminta sama dengan jumlah penawarnnya.
Setelah kita mengubah bagaimana tingkat bunga ditentukan, kita bisa menggunkan teori prefensi likuiditas untuk menunjukkan bagaimana tingkat bunga menanggapi perubahan jumlah uang beredar. Anggaplah bahwa Fed tiba-tiba mengurangi jumlah uang beredar. Penurunan dalam M mengurangi M/P , karena P adalah tetap dalam model. Penawaran keseimbangan uang riil bergeser ke kiri, karena P adalah tetap dalam model. Penawaran keseimbangan uang riil bergeser ke kiri, sebagaimana terlihat dalam Gambar 10-11. Tingkat bunga ekuilibrium naik dari r1 ke r2, dan tingkat bunga yang lebih tinggi membuat orang-orang merasa puas untuk memegang jumlah uang beredar. Jadi menurut teori prefensi Likuiditas, penurunan jumlah uang beredar menaikan tingkat bunga, dan kenaikan uang beredar menurun tingkat bunga.

Pendapatan, Permintaan Uang, dan Kurva LM

Setelah mengembangkan teori preferensi likuiditas penjelasan atau apa yang menetukan tingkat bunga, kita bisa menggunakan teori tersebut untuk menderivasi kurva LM. Kita mulai dengan mempertimbangka pertanyaan berikut. Bagaimana pengaruh perubahan tingkat pendapatan perekonomian Y terhadap keseimbangan uang riil? Jawabannya (yang seharusnya sudah diketahui dari Bab 4) adalah bahwa tingkat pendapatan mempengaruhi permintaan terhadap uang. Ketika pendapatan tinggi, pengeluaran juga tinggi, sehingga orang terlibat dalam lebih banyak transaksi yang mensyaratkan penggunaan uang. Jadi, pendapatan yang lebih besar menunjukkan permintaan uang yang lebih besar. Kita bisa menyatakan gagasan ini dengan menulis fungsi permintaan uang sebagai
                                                (M/P)3 = L(r, Y).
Kuantitas keseimbangan uang riil yang diminta berhubungan negative dengan tingkat bunga dan berhubungan positif dengan pendapatan.
Dengan menggunakan teori preferensi likuiditas, kita bisa menggambarkan apa yang terjadi dengan tingkat bunga ekuilibrium ketika tingkat pendapatan berubah. Sebagai contoh, perhatikanlah apa yang terjadi pada Gambar 10-12 ketika pendapatan meningkat dari Y1

 ke Y2. Sebagaimana ditunjukkan pada bagian (a), kenaikan pendapatan ini menggeser kurva permintaan uang ke kanan. Dengan penawaran keseimbangan uang riil tidak berubah, tingkat bunga hasrus naik dari r1 untuk menyeimbangkan pasar uang. Karena itu, menurut teori preferensi likuiditas, pendapatan yang lebih tinggi menyebabkan tingkat bunga yang lebih tinggi.
Kurva LM pada panel (b) Gambar 10-12 menerangkan hubungan antara tingkat pendapatan dan tingkat bunga.

Bagaimana Kebijakan Moneter Menggeser Kurva LM

Kurva LM menyatakan tingkat bunga yang menyeimbangkan pasar uang pada setiap tingkat pendapatan. Namun, seperti kita lihat sebelumnya, tingkat bunga ekilibrium juga tergantung pada penawaran keseimbangan uang riil, M/P. Ini berarti bahwa kurva LM gambar untuk pebnawaran keseimbangan uang riil tertentu. Jika keseimbangan uang riil berubah-misalnya, jika Fed mengubah jumlah uang beredar-kurva LM bergeser.
Kita bisa menggunakan teori proferensi lukuiditas untuk memahami bagaimana kebijakan moneter bergeser kurva LM. Anggaplah bawha Fed mengurangi jumlah uang beredar dari M, ke M2, yang menyebabkan penawaran keseimbangan uang riik turun dari M,/ P ke M2 / P. gambar 10-13 menunjukkan apa yang terjadi. Dengan mempertahankan jumlah pendapatan dan kurva permintaan terhadap keseimbangan uang riil, kita melihat penurunan penawaran keseimbangan riil, kita melihat bahwa penurunan penawaran keseimbangan uang rill menaikkan tingkat bunga yang menyeimbangkan pasar uang. Jadi, penurunan jumlah uang beredar menggeser kurva LM  ke atas.


Interpretasi Persamaan-Kuantitas dari Kurva LM
Ketika pertama kali membahas permintaan agregat dan faktor-faktor yang menentukan pendapatan dalam jangka pendek pada Bab 9, kita menderivasi kurva permintaan agregat dari teori kuantitas uang. Kita menguraikan pasar uang dengan persamaan kuantitas.
MV = PY,
Dan di asumsikan bahwa perputaran uang V adalah konstan. Asumsi ini menunjukkan bahwa, untuk setiap tingkat harga P, jumlah uang beredar M dengan sendirinya menentukan tingkat pendapatan Y. karena tingkat pendapatan tidak tergantung pada tingkat bunga, maka teori kuantitas ekuivalen dengan kurva LM vertikal.
            Kita bisa menderivasi kurva LM yang berbentuk miring keatas secara lebih realities dari persamaan kuantitas dengan menghilangkan asumsusi bahwa perputaran uang adalah konstan. Asumsi perputaran uang yang konstan didasarkan pada asumsi bahwa permintaan terhadap keseimbangan uang riil hanya tergantung pada tingkat pendapatan. Namun, sebagai mana kita menyatakan diskusi tentang model preferensi-likuiditas, permintaan terhadap uang riil ini juga tergantung pada tingkat bunga: tingkat bunga yang lebih meningkatkan biaya memegan uang dan mengurangi permintaan uang. Ketika masyarakat menanggapi tingkat bunga yang lebih tinggi dan memegan lebih sedikit uang, setiap rupiah mereka pegang harus digunakan lebih sering mendukung volume transaksi tertentu-yaitu, perputaran uang harus naik. Kita bisa menulis ini sebagai
MV(R) = PY.
Funsi perputaran uang V(R) menunjukkan bahwa perputaran uang berhubungan positif dengan tingkat bunga.
            Bentuk persamaan kuantitas ini menghasilka kurva LM yang miring ke atas. Karena meningkatkan perputaran uang, kenaikan dalam tingkat bunga mendongkrak tingkat pendapatan untuk jumlah uang beredar dan tingkat harga apapun. Kurva LM  menunjukkan hubungan positif diantara tingkat bunga dan pendapatan.
            Persamaan ini juga menunjukkan mengapa jumlah peredaran uang menggeser kurva LM. Untuk setiap tingkat bunga dan tingkat harga, jumlah uang beredar dan tingkat pendapatan harus bergerak bersama-sama. Jadi, kenaikan jumlah uang beredar mengeser kurva LM ke kanan, dan penurunan jumlah uang beredar mengeser kurva LM  ke kiri.
            Iingatlah bahwa persamaan kuantitas hanyalah cara lain untuk menunjukkan teori yang berada di belakang kurva LM. Interpretasi teori-kuantitas dari kurva LM  ini secara substantive adalah sama seperti initerpretasi yang diberikan oleh teori proferensi likuiditas. Dalam kedua kasus, kurva LM  menunjukkan hubungan positif antara pendapatan dan tingkat bunga yang muncul dari pasar uang.
            Terakhir, ingatlah bahwa kurva LM  dengan sendirinya tidak menetukan pendapatan Y atau tingkat bunga r yang berlaku dalam perekonomian. Seperti kurva IS, kurva LM  hanya merupakan hubungan diantara kedua variable endogen ini. Untuk memahami keseimbangan perekonomian keseluruhan pada tingkat harga tertentu, kita harus memperhatikan keseimbangan pasar barang dan keseimbangan pasar uang. Karena itu, kita harus menggunakan kurva IS dan LM bersama-sama.

Kesimpulan: Ekuilibrium Jangka-Pendek
Sekarang kita memiliki seluruh bagian dari model IS-LM. Dua persamaan dari model tersebut adalah

Y = C(Y - T) + I(r) + G    IS,
M / P = L (r, Y)                     LM.
Model tersebut menganggap kebijakan fisikal, G dan T, kebijakan moneter M, dan tingkat harga P sebagai variable oksigen. Bedasarkan variable- variable oksigen ini, IS memberikan kombinasi antara r dan Y  yang memenuhi persamaan yang menunjukkan pasar uang. Kedua kurva ini ditampilkan bersama-sama dalam Gambar 10-14.
            Ekuilibrium perekonomian adalah titik dimana kurva IS dan kurva LM berpotongan. Titik ini memberikan tingkat bunga r dan tingkat pendapatan Y yang memnuhi kondisi untuk keseimbangan, baik dalam pasar barang maupun pasar uang. Dengan kata lain, pada potongan ini, pengeluaran actual sama dengan pengeluaran yang direncanakan, dan permintaan terhadap keseimbangan uang riil  sama dengan pengeluarannya.
Dalam meringkas bab ini, ingatlah bahwa tujuan akhir kita dalam mengembangkan model IS- LM adalah untuk menganalisis fluktuasi jangka pendek dalam aktivitas perekonomian. Gambar 10-15 menunjukkan bagaimana bagaian-bagian yang berbeda dari teori kita disatukan. Pada bab ini kita mengembangkan perpotongan Keynesian dan teori preferensi likuiditas sebagai

  

Kerangka untuk model IS-LM. Sebagaimana akan kita kaji lebih lengkap pada bab berikutnya, model IS-LM  membantu menjelaskan posisi dan kemiringan kurva permintaan agregat, pada akhirnya adalah bagian dari model penawaran agregat dan permintaan agregat, dan digunakan para ekonom untuk menjelaskan dampak perubahan kebijakan dalam jangka pendek dan pristiwa-pristiwa lain yang berkaitan dengan pendapatan  nasional.

No comments: